<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majalah Suara Hidayatullah</title>
	<atom:link href="http://majalah.hidayatullah.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majalah.hidayatullah.com</link>
	<description>Jaringan Masyarakat Bertauhid</description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 May 2013 06:33:21 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bersyukur Tiga Putranya Syahid</title>
		<link>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3897</link>
		<comments>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3897#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 06:33:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah.hidayatullah.com/?p=3897</guid>
		<description><![CDATA[Ummu Nidhal Farhat
Mendengar kabar putranya syahid, ia keluar rumah membagi-bagikan  cokelat dan manisan sebagai tandai syukur
Apa yang akan dilakukan seorang ibu jika mendapati anak kesayangannya mati terbunuh? Marah, menangis sejadi-jadinya, atau minimal sedih berkelanjutan.
Tapi yang demikian tidak berlaku bagi Ummu Nidhal Farhat. Seorang ibu  yang tinggal di kawasan Syuja&#8217;iyyah, Gaza ini malah bersyukur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/gaza-children.jpg"><img src="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/gaza-children-300x238.jpg" alt="" title="gaza-children" width="300" height="238" class="alignnone size-medium wp-image-3898" /></a>Ummu Nidhal Farhat</p>
<p>Mendengar kabar putranya syahid, ia keluar rumah membagi-bagikan  cokelat dan manisan sebagai tandai syukur</p>
<p>Apa yang akan dilakukan seorang ibu jika mendapati anak kesayangannya mati terbunuh? Marah, menangis sejadi-jadinya, atau minimal sedih berkelanjutan.</p>
<p>Tapi yang demikian tidak berlaku bagi Ummu Nidhal Farhat. Seorang ibu  yang tinggal di kawasan Syuja&#8217;iyyah, Gaza ini malah bersyukur saat mendapati tiga putranya tewas diberondong tentara Zionis Israel.</p>
<p>Saat berkunjung ke Gaza Desember 2012 lalu, Suara Hidayatullah dan tim Sahabat Al-Aqsha sempat diantar berkunjung ke rumah Ummu Nidhal yang berlokasi di kawasan padat penduduk. Rumahnya terletak di ujung gang buntu yang pas-pasan untuk dilalui satu mobil saja. </p>
<p>Sebagai seorang anggota parlemen, rumah Ummu Nidhal sangat jauh berbeda dibanding dengan umumnya wakil rakyat di Indonesia yang tinggal di rumah megah dan kompleks mewah. Bangunan rumahnya bangunan kotak bertingkat yang sederhana tanpa pilar-pilar dan balkon nan megah.<br />
Ketiga putra Ummu Nidhal keluar untuk menyambut. Sementara Ummu Nidhal menunggu di ruang tamunya. Ruangan berukuran sekitar 3,5 x 4 meter dengan satu set sofa berbentuk letter “U”. Di dinding tempat dia bersandar terpanjang lukisan kaligrafi dan sepucuk senapan tua.</p>
<p>Ummu Nidhal duduk berseberangan dengan Suara Hidayatullah dan tim Sahabat Al-Aqsha, dia memakai pakaian terusan abaya hitam dan jilbab besar warna putih. Kakinya dibalut selimut. &#8220;Rumah ini pernah diroket oleh Israel hingga rata dengan tanah,&#8221; bisik seseorang yang menemani Suara Hidayatullah dan tim Sahabat Al-Aqsha waktu itu. </p>
<p>Rasanya tidak heran, jika rumah Ummu Nidhal jadi sasaran Zionis – Israel. Seperti diakui oleh Ummu Nidhal sendiri, rumahnya memang tempat berkumpul para mujahid Palestina. Imad ‘Aqil, Panglima Brigade ‘Izzuddin al-Qassam pertama yang syahid –insya Allah – pada tahun 1994, juga kerap berkumpul di sini bersama putra-putra Ummu Nidhal dan mujahidin yang lain untuk merencanakan serangan. Bahkan di rumah ini pula ‘Aqil dibunuh Zionis. </p>
<p>Membagikan Manisan dan Coklat<br />
Nama asli Ummu Nidhal adalah Maryam Muhammad Yusuf Farhat. Dia lahir di Gaza, pada tahun 1950. Dia juga dikenal dengan julukan Khansa&#8217; dari Palestina. Khansa&#8217; adalah seorang sahabat Rasulullah Muhammad SAW dari kalangan wanita yang seluruh anaknya syahid di medan jihad dan dia ridha terhadap kematian semua anaknya.</p>
<p>Hal serupa juga terjadi pada Ummu Nidhal. Tiga putranya, Nidhal Farhat, Muhammad Fathi Farhat, dan Rawad Farhat gugur di medan jihad melawan penjajahan Zionis Israel. </p>
<p>Pada Maret 2002, Muhammad Fathi Farhat melakukan penyerangan seorang diri ke sebuah sekolah semi-militer di bekas pemukiman Yahudi di Gaza, Atzmona. Muhammad yang saat itu berumur 17 tahun menembaki siswa-siswa tersebut dengan senapan otomatis AK 47 dan granat tangan. Serangan itu menewaskan 10 orang dan 23 luka-luka. </p>
<p>Dalam wawancaranya dengan Dream2 TV, Ummu Nidhal bercerita, Muhammad menembaki orang-orang Yahudi itu dari ruangan ke ruangan selama 22 menit sampai dia kehabisan aminusi dan ditembak mati Zionis. “Jika dia masih punya amunisi, tentunya dia tetap akan menyerang,” ujar Ummu Nidhal yang suaminya juga gugur di medan jihad ini.</p>
<p>&#8220;Ketika mendapat kabar Muhammad syahid, Ummu Nidhal keluar rumah dan membagi-bagikan manisan dan coklat. Sebagai tanda syukur putranya mati syahid di jalan Allah,&#8221; kata sumber tadi.<br />
Pada pertemuan itu, Ummu Nidhal memang tidak menyinggung soal ketiga putranya yang syahid. Dia juga tidak mengeluhkan perjuangan berat yang tengah dihadapi negerinya itu.</p>
<p>Dia lebih banyak memberikan kata sambutan kepada tim dan menasehati agar selalu ikhlas dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan berbagai kelezatan dunia. &#8220;Kita tinggalkan kelezatan dunia, Allah akan ganti,&#8221; katanya.</p>
<p>Mulia dengan Jihad dan Ribath<br />
Dalam buku Inside Hamas : The Untold Stories of Militants, Martyrs, and Spies, ditulis, setelah kehilangan suami pertamanya di medan jihad, Ummu Nidhal menikah dengan seorang polisi. Dia mempunyai enam anak laki-laki dan empat anak perempuan. </p>
<p>Tiga anak laki-lakinya tewas di medan jihad. Satu orang putranya lagi, Wissam Farhat, pernah dipenjara selama kurang lebih 11 tahun oleh Zionis. Wissam ditangkap saat berusaha meledakkan bom isytisyhadi (meledakkan diri) di sebuah pemukiman Yahudi di Beer Sheva, di daerah Gurun Negev, selatan Hebron.<br />
Dalam buku itu diceritakan, Wissam mendapat dukungan penuh dari ibunya untuk melakukan aksi-aksi jihad melawan Zionis, termasuk melakukan aksi istisyhadi. Dalam wawancaranya dengan media-media usai gugurnya Muhammad, Ummu Nidhal juga mengaku dialah yang menyiapkan dan anak-anaknya berperang.<br />
Tapi, bukan berarti dia tidak sayang dengan anak-anaknya. Dalam buku itu dia mengaku sempat menangis mengetahui Muhammad mendapat misi penyerangan seorang diri. Sedangkan Muhammad tertawa melihat reaksi sang ibu. </p>
<p>Segera saja Ummu Nidhal berkata padanya, “Aku ibumu! Tidak mudah bagiku melepasmu,  aku menangisimu siang dan malam. Jangan salah artikan air mataku. Itu adalah tangis seorang ibu yang akan melepas putranya untuk menikah dengan bidadari. Kau harus jalankan tugasmu, dan tetaplah menyerang sampai waktunya engkau bertemu Allah.”</p>
<p>Dalam wawancara denga Iqra TV Arab Saudi, Ummu Nidhal mengatakan, orang-orang Palestina beriman kepada takdir Allah, kalau sudah bertemu dengan ajal dia pasti akan mati biarpun dia berusaha sembunyi.<br />
Katanya, ada perbedaan antara jenis kematian satu dengan yang lain. “Lalu, kenapa kami tidak pilih saja mati sebagai syuhada,” ujar Ummu Nidhal. “Alhamdulillah,” kata Ummu Nidhal,  “Allah telah pilih kami di antara semua manusia, dan telah memuliakan kami dengan jihad dan ribath membebaskan Palestina.”<br />
“Jadi, lebih baik kami yang mencari kematian sebagai syuhada, sebelum maut  datang sedang kami duduk di rumah.” </p>
<p>Berjuang Bersama<br />
Kepada Suara Hidayatullah dan tim Sahabat Al-Aqsha, Ummu Nidhal mengatakan, kemenangan mujahidin Gaza dalam perang delapan hari melawan Zionis pada Nopember 2012 lalu bukanlah kemenangan Gaza sendiri. Katanya, penduduk Gaza yang  sedikit telah dibantu saudara-saudara seiman sedunia.<br />
“Kemenangan ini adalah saham-saham kalian juga,” kata Ummu Nidhal.</p>
<p>Dia melanjutkan, perang terbaru dengan Zionis itu adalah perang yang penting. Setelah itu, katanya, akan ada perang berikutnya. &#8220;Yakni perang untuk kemerdekaan seluruh Palestina dan al-Quds,&#8221;  katanya.<br />
Untuk itu Ummu Nidhal mengajak semua umat untuk bergabung bersama mujahidin Gaza di shaf depan perjuangan merebut kembali al-Quds. “Memang benar kami di shaf depan dalam jihad, tapi kalian juga bisa bersama kami di depan,” kata perempuan yang terbiasa memengang senapan ini.* Surya Fachrizal Ginting/Suara Hidayatullah PEBRUARI 2013</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalah.hidayatullah.com/?feed=rss2&amp;p=3897</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Bekas yang Menguntungkan</title>
		<link>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3894</link>
		<comments>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3894#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 06:30:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah.hidayatullah.com/?p=3894</guid>
		<description><![CDATA[Pernah setelah jatuh bangun dalam berbisnis. Lalu sukses berkat banyak ibadah
Rumah yang terletak di jalan Bima Sakti No 71 Yogyakarta itu berukuran sekitar 5 x 7 meter. Tampak barang-barang elektronik bekas tumplek blek di sistu. Tak pelak, di ruang depan hanya tersisa tempat untuk penjual dan pembeli. Itu pun sempit. Di depan toko ada spanduk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/Kerajinan-Tangan-Bekas-Kertas-Koran.jpg"><img src="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/Kerajinan-Tangan-Bekas-Kertas-Koran-300x193.jpg" alt="" title="Kerajinan Tangan Bekas Kertas Koran" width="300" height="193" class="alignnone size-medium wp-image-3895" /></a>Pernah setelah jatuh bangun dalam berbisnis. Lalu sukses berkat banyak ibadah</p>
<p>Rumah yang terletak di jalan Bima Sakti No 71 Yogyakarta itu berukuran sekitar 5 x 7 meter. Tampak barang-barang elektronik bekas tumplek blek di sistu. Tak pelak, di ruang depan hanya tersisa tempat untuk penjual dan pembeli. Itu pun sempit. Di depan toko ada spanduk usang yang bertuliskan: “Dibeli hidup/mati laptop, LCD Proyektor, CPU, Monitor, TV satuan, dan borongan.” Usaha jual-beli elektronik yang bernama Cumbo Computer itu tidak sepi pelanggan. Saat itu saja, ada pelanggan yang sedang memperbaiki Stick Play Station.</p>
<p>“Alhamdulillah, kami sudah punya mitra dan banyak pelanggan. Tempat ini sudah tidak asing bagi orang yang hunting barang elektronik bekas,” ujar Pasaribu, pemilik Cumbo Computer di sela-sela kesibukannya kepada Suara Hidayatullah, pada suatu kesempatan.</p>
<p>Bagi sebagian orang, bisnis seperti ini boleh dibilang kurang familiar. Kendati begitu, bukan berarti prospeknya suram. Buktinya usaha yang telah dilakoni lelaki kelahiran Sibolga, Sumatera Utara ini telah menghasilkan profit yang menggiurkan. Per bulan ia bisa mengantongi omset lebih dari Rp 100 juta. Lelaki yang berjenggot tipis dan memiliki dua titik hitam di keningnya karena bekas sujud itu biasa mempekerjakan 10 orang karyawan. Kini, ia juga memiliki satu toko di daerah Bimokerto. Bahkan, beberapa bekas karyawanannya sekarang ada yang telah membuka usaha serupa dan terbilang sukses. “Yang penting bisa memberikan lapangan kerja untuk orang lain,” tuturnya.</p>
<p>Model usaha suami dari Sofia ini boleh dibilang sederhana: jual-beli barang. Hanya bermodal iklan di berbagai media lokal di kota budaya itu, para pelanggan pun tahu ke mana harus menjual atau memperbaiki barang elektronik yang rusak. Namun, katanya, dari jumlah prosentase antara jual-beli dan servis, sekitar 20 persen hanya servis.</p>
<p>Tidak hanya itu, ia juga melayani jual beli mebel bekas. Bidikannya para mahasiswa yang kos atau kontrak. </p>
<p>Kelihatannya  simpel, namun tidak mudah melakoni bisnis yang satu ini. Pasalnya, bisnis barang second yang terpenting adalah kepercayaan. Karena itu, ia begitu menjaga kepercayaan pelanggan. “Kepercayaan pelanggan adalah aset berharga bagi usaha kami. Karena itu benar-benar (kami) jaga,” tuturnya.</p>
<p>Bersakit-sakit Dahulu</p>
<p>Debut bisnis Pasaribu dilakoni saat ia masih mahasiswa di jurusan komputer di Kota Gudeg itu. Ketika itu ia sempat pindah kampus hingga tujuh kali. Alasannya, akunya, untuk mencari teman sebanyak-banyaknya. Meski boleh dibilang orangtua cukup mampu, tapi ia tidak mau mengandalkan kiriman orangtua. Untuk memenuhi biaya hidup, ia melakukan usaha apapun. Dari menjadi loper koran hingga tukang juru parkir di sebuah swalayan.</p>
<p>Hobinya di dunia komputer menginspirasinya untuk terjun dibisnis komputer. Awalnya, teman kuliahnya menawarinya untuk membuka rental komputer yang kemudian disebut Ababil. Ada sekitar empat orang yang bergabung. Sayangnya, usahanya itu tak tahan lama. Ia kemudian mendirikan usaha baru: jual-beli elektronik bekas.</p>
<p>Bisnis ini boleh dibilang nekad. Pasalnya, ia hanya memiliki uang Rp 300 ribu. Untuk menyewa ruko saja tidak cukup, apalagi membeli komputer bekas. Pertolongan Allah selalu datang kepada orang yang mau berusaha. Pemilik rumah yang dikontraknya mau dicicil. Padahal, waktu itu biaya kontraknya sekitar Rp 3 juta setahun. Namun, ia bisa melunasinya tiga bulan kemudian.</p>
<p>Tempat berjualan sudah ada. Kini tinggal barangnya. Pasaribu tidak memiliki barang satu pun yang hendak dijual. Ia tidak mau menyerah begitu saja. Di etalase depan kontrakanya dipasang bok atau wadah komputer dan perlengkapanya: speaker, mouse, flashdisk, dan sebagainya. Sayang, usahanya belum dilirik orang. Tak ada yang tertarik datang dan membelinya.</p>
<p>Ia lalu membuat leaflet yang berisijual-beli komputer. Selebaran iklan itu ia sebar dan tempel di tempat umum. Selama semalam ia menyebarnya dan hanya berjalan kaki. “Berangkat selepas isya hingga dini hari,” ujarnya. Usahanya itu berhasil. Beberapa hari kemudian ada orang yang kepepet karena hendak ikut sebuah Multi Level Marketing (MLM) lalu menjual seperangkat komputer seharga Rp 800 ribu. Cukup murah. Dua bulan kemudian ada orang yang membelinya seharga Rp 1.500.000. “Itu kesan paling indah di awal masa-masa sulit,” ujarnya sambil mengenang.</p>
<p>Uang sebesar itu ia gunakan untuk membeli perlengkapan komputer. Namun, tentunya masih sangat sedikit. Ia masih menyiasatinya dengan memasang bungkus bekas di etalase. Dan ketika itu ia ditemani seorang lagi yang bertugas menjaga tokonya. “Jadi, kalau ada orang beli dan tidak ada barangnya, maka saya yang mengambilkan di toko lain, sedangkan yang satunya mengajaknya ngobrol agar tidak pergi,” tuturnya.</p>
<p>Karena tiap kali ada pembeli Pasaribu harus menggenjot sepeda dan mencari barang, lambat-laun para pembeli akhirnya tahu. Untung saja, mereka tidak pergi ke toko lain dan tetap sabar menunggu. “Mungkin karena kasihan atau memang sudah nyaman,” selorohnya.</p>
<p>Resep dari Seorang Ustadz</p>
<p>Tak ada gading yang tak retak. Sekuat-kuatnya semangat bisnis Pasaribu, ternyata pernah kandas juga. Di saat badai putus asa menghantamnya, ia pergi kepada seorang ustadz yang biasa mengisi ceramah di sebuah masjid. Sang ustadz memberinya resep untuk kesuksesan usahanya. “Kalau mau sukses berbisnis harus disertai ibadah yang kuat kepada Allah. Kerja keras saja tidak cukup,” tutur Pasaribu menirukan petuah sang ustadz.</p>
<p>Resep itu adalah shalat Dhuha, Tahajud, dan sedekah. Sejak itu, ia pun mengamalkan wejangan itu setiap hari. Ia juga diajarkan sang ustadz agar tidak sungkan meminta rezeki sebanyak-banyaknya dari Allah. Allah maha kaya dan akan sanggup memberikan rezeki seberapapun hamba memintanya. “Sejak itu pula, saya berdoa minta rezeki yang banyak tapi barakah,” ucapnya.</p>
<p>Nasihat sang ustadz manjur. Perlahan tapi pasti, usahanya terus berkembang. Meski perkembangannya belum begitu signifikan, tapi paling tidak ia bisa memutar roda usahanya dan mempekerjakan beberapa karyawan.</p>
<p>Meski usahanya telah berbuah manis, tapi Pasaribu bukan tipe habis manis sepah dibuang. Petuah sang ustadz masih dijalankan, hanya terkadang shalat Tahajud yang bolong-bolong. Namun, untuk sedekah, ia mengaku masih rutin. Bahkan, kini makin bertingkat.</p>
<p>“Kalau sedekah sih banyak tempatnya. Yang tetap di Baitul Mal Hidayatullah, beberapa Yayasan Panti Asuhan, dan yang lainnya,” ujarnya. Uniknya, dalam bersedekah ia mengkhususkan untuk beberapa hal. Ada yang untuk sedekah khusus tahfidz al-Qur`an, wakaf gedung, dan lain sebagainya.* Syaiful Anshor/Suara Hidayatullah PEBRUARI 2013</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalah.hidayatullah.com/?feed=rss2&amp;p=3894</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Penyakit Para Ibu</title>
		<link>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3891</link>
		<comments>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3891#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 06:27:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mar'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah.hidayatullah.com/?p=3891</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Kartika Trimarti*
Penyebab terbesarnya adalah pola hidup, emosi, dan asupan nutrisi.
‘Aini, ibu tiga anak itu mengaku sudah kehilangan beberapa giginya semenjak melahirkan. Ternyata setelah bercerita dengan beberapa ibu tetangga, mereka pun mengalami nasib yang sama. Penyakit yang diderita, sebagian besar memang bukan penyakit yang “aneh-aneh” tetapi tetap menurunkan kualitas hidup seorang ibu.  
Nah, agar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/bayi-21.jpg"><img src="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/bayi-21-300x132.jpg" alt="" title="bayi-21" width="300" height="132" class="alignnone size-medium wp-image-3892" /></a>Oleh Kartika Trimarti*</p>
<p>Penyebab terbesarnya adalah pola hidup, emosi, dan asupan nutrisi.</p>
<p>‘Aini, ibu tiga anak itu mengaku sudah kehilangan beberapa giginya semenjak melahirkan. Ternyata setelah bercerita dengan beberapa ibu tetangga, mereka pun mengalami nasib yang sama. Penyakit yang diderita, sebagian besar memang bukan penyakit yang “aneh-aneh” tetapi tetap menurunkan kualitas hidup seorang ibu.  </p>
<p>Nah, agar kita semakin mencintai ibu yang melahirkan kita dan semakin mencintai peran kita kini sebagai seorang ibu, ada baiknya kita mengenali beberapa penyakit yang biasa menghinggapi para ibu. </p>
<p>Pertama, sakit yang seringkali diderita para ibu adalah migrain. Penyebabnya bisa bermacam-macam seperti stress, kurang tidur, kebiasaan meminum teh atau kopi, perubahan cuaca, jelang haid, atau kurang asupan nutrisi. Bila kita telah dapat mendeteksi apa yang biasanya menyebabkan timbulnya migrain, maka penyakit ini akan lebih mudah dihindari. </p>
<p>Saat migrain menyerang, cobalah untuk sejenak beristirahat. Lebih baik jika dilakukan dalam kamar gelap, tenangkan pikiran, dan tempelkanlah kompres dingin pada kepala untuk menormalkan pembuluh darah. Meminum obat sakit kepala biasa juga dapat digunakan untuk meredakan migrain. Namun, bila kita ingin menggunakan obat herbal, maka jahe, pegagan, bangle, atau daun ginko dapat menjadi pilihan.  </p>
<p>Kedua, sakit gigi. Ada anekdot yang mengatakan “satu gigi untuk satu anak”. Dapat dibayangkan bila anekdot ini benar-benar nyata. Apabila seorang ibu memiliki lebih dari lima anak, maka tentu dapat dibayangkan tidak nikmatnya kehidupan seorang ibu dengan gigi yang bermasalah di sana-sini. </p>
<p>Selama masa kehamilan, banyak ibu yang mengalami sakit gigi padahal sebelumnya tidak pernah mengalami sakit gigi. Hal ini biasanya disebabkan oleh dua hal. Pertama, pada masa kehamilan seorang ibu biasanya mengalami rasa mual dan kadar asam yang meningkat di rongga mulut. Hal ini kemudian meningkatkan kerja toksin yang dikeluarkan kuman sehingga menyebabkan kerusakan jaringan gigi. Kedua, rasa mual biasanya membuat ibu hamil enggan menyikat gigi. Ada kecenderungan bahwa menggosok gigi memicu mual yang sangat dan seringkali berakhir dengan muntah. Padahal, sebuah fakta ditemukan di North Calorina bahwa bakteri streptococcus yang menyebakan gigi berlubang dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah. Sehingga, tak tertutup kemungkinan dapat mencapai jantung sang ibu dan menyebabkan gangguan jantung pada ibu hamil.</p>
<p>Bila dalam masa kehamilan gusi kita bermasalah, lebih baik segera mengonsultasikannya pada dokter.  Namun, bila gigi kita berlubang dalam masa kehamilan, obat-obatan herbal seperti bawang putih yang dikunyah, daun sirih, maupun minyak cengkeh akan lebih baik; dibandingkan mengkonsumsi analgesik maupun antibiotik yang dijual bebas. </p>
<p>Untuk pencegahan, sabda Rasul-Nya yang mulia memang luar biasa, “Siwak adalah pembersih bagi mulut; sesuatu yang membuat Allah ridha.” (Riwayat Ahmad). Penelitian terbaru membuktikan bahwa siwak dapat mencegah bakteri, infeksi, dan menghentikan pendarahan pada gigi. Siwak juga dapat memutihkan gigi, menyegarkan nafas, dan mencegah pembentukan plak. Jadi, bila menyikat gigi dengan menggunakan pasta akan memicu rasa mual, maka ibu hamil dapat<br />
menggantinya dengan siwak. </p>
<p>Ketiga, sakit yang biasa menjangkiti para ibu adalah sakit pinggang. Ketegangan otot biasanya adalah penyebab utamanya. Biasanya terjadi ketika kita mengangkat benda berat dengan cara yang salah atau melakuan gerakan mendadak pada saat berolahraga. Juga dapat terpicu oleh tekanan emosional, duduk yang terlalu lama, masuk angin, terlalu banyak makan makanan berlemak dan asam urat.  </p>
<p>Cara mencegahnya adalah dengan melakukan Sunnah Rasulullah yaitu tidur dengan posisi miring ke sebelah kanan, sebagaimana sabdanya, “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim). Serta, beralaskan kasur yang tak terlalu empuk. Juga lakukan peregangan otot sebelum melakukan aktivitas berat, berdirilah dan duduklah dengan tegak, mengurangi konsumsi makanan berlemak, dan berbekam, terutama bila sudah terserang penyakit ini.    </p>
<p>Keempat, penyakit osteoporosis. Penyakit ini disebabkan ketidakseimbangan antara kerusakan tulang yang terjadi dengan kemampuan tubuh untuk membentuk jaringan tulang yang baru sehingga massa tulang merosot tajam dan membuatnya mudah patah. Sementara yang kerap terjadi pada kaum ibu adalah menurunnya kadar hormon esterogen ketika mengalami menopause. Esterogen berfungsi untuk melindungi tulang, maka ibu yang telah mengalami penurunan esterogen akan lebih mudah menderita osteoporosis.</p>
<p>Cara mencegahnya adalah dengan melakukan olahraga rutin untuk memperkuat tulang, memperhatikan asupan yang mengandung kalsium dan vitamin D. Kadar kalsium yang tinggi dapat diperoleh pada sayuran hijau, tahu, buah, dan yogurt. Berolahraga di pagi hari dengan sinar matahari yang mengandung vitamin D yang berlimpah, juga merupakan aktivitas yang bermanfaat untuk tulang.</p>
<p>Kelima, depresi. Penyakit yang satu ini kadang tak terlihat dengan jelas. Namun, jumlah penderita dari kaum ibu, dua kali lipat jumlahnya dari kaum bapak. Depresi dapat dipicu oleh peristiwa buruk dalam hidup tetapi juga dapat berasal dari tekanan emosi terus-menerus yang tak terselesaikan dengan baik. </p>
<p>Depresi tidak dapat dianggap remeh karena dapat memicu kepikunan, mudah bingung, bahkan kematian karena serangan jantung. Namun, depresi dapat dikelola dengan baik jika kita dapat mengetahui gejalanya. Beberapa di antaranya adalah cemas yang terus-menerus, pesimis, merasa tidak berharga, merasa bersalah, timbulnya penyakit yang tidak dapat sembuh oleh pengobatan (psikosomatik), cepat merasa lelah, sulit berkonsentrasi, sulit tidur, atau berpikir untuk mati.</p>
<p>Selain mengunjungi dokter, kita dapat mencoba untuk menerima setiap kenyataan dengan berlapang dada. Memaafkan kesalahan dan memahami kelemahan diri kita, akan membuat depresi lebih ringan. Terimalah fakta bahwa kita sedang depresi dan berdamailah dengan kenyataan ini. Mencoba menyangkalnya hanya membuat kita semakin tertekan. </p>
<p>Jika terjadi sesuatu yang meresahkan jiwa, berdoalah sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, “Tiada Tuhan melainkan Allah Yang Mahaagung lagi Mahalembut. Tiada Tuhan melainkan Allah; Engkaulah Tuhan ‘arasy yang agung. Tiada Tuhan selain Engkau; Tuhan seluruh langit, bumi, dan ‘arasy yang mulia.” (Riwayat Ahmad). *Ibu rumah tangga tinggal di Bekasi, Jawa Barat. SUARA HIDAYATULLAH PEBRUARI 2013</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalah.hidayatullah.com/?feed=rss2&amp;p=3891</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sujud Tilawah</title>
		<link>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3888</link>
		<comments>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3888#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 06:24:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah.hidayatullah.com/?p=3888</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakaatuh
Beberapa kali saya melihat orang yang secara tiba-tiba bersujud ketika mendengarkan bacaan ayat suci al-Qur`an tertentu. Sesekali saya ingin ikut melakukan sujud itu pula, tetapi masih bingung, sebenarnya sujud apakah itu dan apa yang harus dibaca ketika sedang bersujud?
Jawab :
Wa’alaikumussalam wa Rahmatullahi wa Barakaatuh
Yang dimaksud bersujud ketika mendengar ayat-ayat al-Qur`an tertentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/SUJUD.jpg"><img src="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/SUJUD.jpg" alt="" title="SUJUD" width="240" height="164" class="alignnone size-full wp-image-3889" /></a>Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakaatuh</p>
<p>Beberapa kali saya melihat orang yang secara tiba-tiba bersujud ketika mendengarkan bacaan ayat suci al-Qur`an tertentu. Sesekali saya ingin ikut melakukan sujud itu pula, tetapi masih bingung, sebenarnya sujud apakah itu dan apa yang harus dibaca ketika sedang bersujud?</p>
<p>Jawab :</p>
<p>Wa’alaikumussalam wa Rahmatullahi wa Barakaatuh</p>
<p>Yang dimaksud bersujud ketika mendengar ayat-ayat al-Qur`an tertentu itulah yang dinamakan sujud tilawah. Yaitu sujud yang dilakukan ketika kita membaca atau mendengar ayat sajdah. Dilakukan dengan bertakbir dan bersujud, sesuai Hadits Rasulullah SAW, “Rasulullah membacakan al-Qur`an kepada kami, tatkala beliau melewati ayat sajdah beliau bertakbir dan bersujud, kami pun bersujud bersama beliau.” (Riwayat Abu Dawud)</p>
<p>Sujud tilawah memiliki keutamaan yang cukup besar, seperti disabdakan Rasulullah, “Apabila anak Adam membaca ayat sajdah lalu bersujud maka setan akan menyepi sembari menangis, ia berkata, ‘Sungguh celaka, anak Adam diperintahkan untuk bersujud dan ia pun bersujud, maka ia berhak mendapatkan surga, sedangkan aku diperintahkan untuk bersujud tetapi aku enggan, maka neraka yang jadi bagianku.” (Riwayat Muslim)</p>
<p>Sementara dalam Hadits lain dikatakan, “Tidak ada hamba yang bersujud sekali sujud kecuali Allah akan menaikkan derajatnya satu tingkat dan menghapuskan satu kesalahan darinya.”	</p>
<p>Hukum sujud tilawah adalah Sunnah, seperti diperjelas Umar RA di dalam suatu riwayat ketika di atas mimbar Jumat ia membacakan surat An-Nahl, maka ketika sampai pada ayat sajdah ia berkata, “Wahai sekalian manusia, kita akan melewati ayat sujud, barangsiapa yang bersujud, ia benar dan barang siapa tidak bersujud, tidak ada dosa atas dirinya.” (Riwayat Bukhari)</p>
<p>Dalam pelaksanaan sujud tilawah, seseorang harus memenuhi beberapa syarat sah sebagaimana yang berlaku untuk shalat, seperti suci dari hadats (dengan wudhu dan mandi), suci dari najis (yakni suci badan, pakaian serta tempat sujud, berdiri, dan duduk), menutup aurat, menghadap kiblat, dan niat.</p>
<p>Begitu pula dalam tata cara pelaksanaannya, pun juga sama seperti sujud dalam shalat. Dengan diawali takbir, kemudian bersujud sambil bertasbih sebagaimana yang dilakukan dalam shalat. Selanjutnya disunnahkan berdoa. Salah satu doa yang bisa dibaca adalah, “Ya Allah, tuliskanlah pahala untukku di sisi-Mu dengan sujud ini, hapuskanlah  satu dosa dariku dengannya, jadikanlah ia sebagai simpananku di sisi-Mu, terimalah ia dariku sebagaimana Engkau menerimanya dari hamba-Mu Dawud.” Setelah berdoa, barulah kemudian mengangkat kepala dari sujud sambil bertakbir, tanpa membaca tasyahud, namun langsung mengucapkan salam.* SUARA HIDAYATULLAH PEBRUARI 2013</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalah.hidayatullah.com/?feed=rss2&amp;p=3888</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru Ketiga Anak</title>
		<link>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3885</link>
		<comments>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3885#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 06:21:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah.hidayatullah.com/?p=3885</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ida S Widayanti*
Seorang anak perempuan berusia sekitar empat tahun sibuk bertanya pada ibunya. Selesai satu pertanyaan ia bertanya lagi. Pada saat yang bersamaan si ibu pun sedang menghadapi paman si anak tersebut. Merasa terganggu oleh keponakannya, si paman meremas bungkus rokok miliknya lalu melemparkannya pada mulut keponakannya, sambil berkata, “Dasar cerewet!”
Si anak tentu kaget [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/72ilustrasi_paud.jpg"><img src="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/72ilustrasi_paud-300x199.jpg" alt="" title="72ilustrasi_paud" width="300" height="199" class="alignnone size-medium wp-image-3886" /></a>Oleh Ida S Widayanti*</p>
<p>Seorang anak perempuan berusia sekitar empat tahun sibuk bertanya pada ibunya. Selesai satu pertanyaan ia bertanya lagi. Pada saat yang bersamaan si ibu pun sedang menghadapi paman si anak tersebut. Merasa terganggu oleh keponakannya, si paman meremas bungkus rokok miliknya lalu melemparkannya pada mulut keponakannya, sambil berkata, “Dasar cerewet!”</p>
<p>Si anak tentu kaget lalu menangis dan menjerit. Selain sakit di bagian mulutnya, ia juga merasa sakit hati menerima perlakuan kasar pamannya itu. Si ibu pun menghiburnya.</p>
<p>Kini, anak perempuan itu sudah memiliki dua anak. Meski pengalaman buruk itu sudah berlalu lebih dari 35 tahun, tapi ia merasa seolah-olah baru terjadi kemarin.  Ia merasa benci pada sang paman sekaligus kecewa pada ibunya yang  menurutnya tidak membelanya. Hiburan yang diberikan saat itu ala kadarnya dan tidak menyelesaikan persoalan. Ia pun trauma melihat barang-barang yang ada kaitannya dengan rokok seperti asbak atau korek api.</p>
<p>“Pengalaman itu entah mengapa membuat saya sering takut bertanya dan tak ingin berusaha mencari tahu lebih jauh lagi tentang satu hal yang saya pelajari,” ujar perempuan yang sudah meraih gelar master dari dua bidang yang berbeda itu.  </p>
<p>Kisah lain terjadi di dalam sebuah pelatihan motivasi untuk anak-anak sekolah dasar di ibukota. Trainer memberi arahan tentang pentingnya berhati-hati dalam melihat gambar atau tayangan di internet dan televisi. Salah seorang anak tampak menerawang dan tersenyum-senyum sendiri, tanpa menyimak materi yang sedang dijelaskan.</p>
<p>Si anak lalu diajak bicara. Meski awalnya mengelak tapi akhirnya mengaku bahwa ia pernah menyaksikan adegan film dewasa di telepon genggam sopirnya selama 10 menit setiap hari. </p>
<p>Ketika informasi tersebut dicek, ibunya membenarkan hal itu. “Begitu ketahuan, sopir itu langsung  saya pecat,” ujar si ibu. Namun meski si sopir sudah pergi,  dampak dari tindakannya tetap tertinggal di otak si anak dan menimbulkan penyimpangan perilaku. Si anak sering bengong, tidak dapat memahami instruksi sederhana, dan jika ditanya jawabannya seringkali tidak nyambung.</p>
<p>Dua kisah di atas menggambarkan tentang peran “guru ketiga” bagi anak, yaitu lingkungan, setelah dua guru utama: orangtua dan guru di sekolah. Banyak orangtua yang tidak menyadari peran sekaligus bahaya dari guru ketiga ini, antara lain: pembantu rumah tangga, sopir, kerabat, tetangga, bahkan tamu yang datang. Semua itu dapat menjadi guru bagi anak.</p>
<p>Tak cukup hanya mengikuti pelatihan orangtua dan mencarikan sekolah yang baik, namun juga penting untuk mengkondisikan guru ketiga ini agar tidak merusak anak baik fisik maupun mentalnya. Pada kisah pertama, si ibu sebaiknya memberitahu adiknya (paman si anak) bahwa hal itu tidak pantas dilakukan. Masalah harus sampai tuntas, hingga si anak tidak membawa beban masalah itu hingga ia dewasa.</p>
<p>Memang tidak mudah mengedukasi guru ketiga ini. Namun, tak ada pilihan selain mengajarkan pada mereka bagaimana sebaiknya bersikap pada anak.</p>
<p>Karena itu, jangan sekali-kali mempercayakan anak-anak pada guru ketiga yang kita tidak tahu pasti akhlaknya. Perilaku mereka juga akan memengaruhi akhlak anak-anak kita.* Penulis buku Mendidik Karakter dengan Karakter. SUARA HIDAYATULLAH PEBRUARI 2013</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalah.hidayatullah.com/?feed=rss2&amp;p=3885</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sakit</title>
		<link>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3882</link>
		<comments>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3882#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 06:19:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah.hidayatullah.com/?p=3882</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang yang hidup tentu pernah merasakan sakit. Seorang Muslim harus yakin bahwa  kondisi tersebut merupakan ujian dari Allah. Berkaitan dengan hal itu, Islam memberikan tuntunan kepada orang sakit agar menjaga adab. Di antaranya adalah:
Pertama, sabar dan ikhlas. Orang yang sakit hendaknya yakin bahwa apa yang menimpanya merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/doa-untuk-orang-sakit1.jpg"><img src="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/doa-untuk-orang-sakit1-300x205.jpg" alt="" title="doa-untuk-orang-sakit1" width="300" height="205" class="alignnone size-medium wp-image-3883" /></a>Setiap orang yang hidup tentu pernah merasakan sakit. Seorang Muslim harus yakin bahwa  kondisi tersebut merupakan ujian dari Allah. Berkaitan dengan hal itu, Islam memberikan tuntunan kepada orang sakit agar menjaga adab. Di antaranya adalah:</p>
<p>Pertama, sabar dan ikhlas. Orang yang sakit hendaknya yakin bahwa apa yang menimpanya merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Allah berfirman, “Dia yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk [67]: 2) Jika orang yang sakit yakin ia sedang mendapat ujian dari Allah, maka ia tidak akan marah dan murka terhadap takdir yang menimpa dirinya. </p>
<p>Kedua, berobat. Dalam sebuah Hadits Rasulullah besabda, “Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram.” (Riwayat Ad-Daulabi)</p>
<p>Ketiga, berobat kepada ahlinya. Hendaknya orang yang sakit datang kepada ahlinya. Dalam sebuah Hadits Rasulullah bersabda, “Tidaklah Allah menurunkan satu penyakit pun melainkan Allah turunkan pula obat baginya. Telah mengetahui orang-orang yang tahu, dan orang yang tidak tahu tidak akan mengetahuinya.” (Riwayat  Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Mereka yang termasuk dalam kategori ahli pengobatan yaitu dokter atau orang yang memiliki keahlian dalam hal ramuan, refleksi, akupunktur, dan sebagainya.</p>
<p>Adapun berobat kepada tukang sihir atau dukun, atau dengan cara-cara perdukunan yang mengandung unsur syirik, hukumnya haram. Dari Mu’awiyah ibnul Hakam, dia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku baru saja meninggalkan masa jahiliah. Dan sungguh Allah telah mendatangkan Islam. Di antara kami ada orang-orang yang mendatangi para dukun’.”  Rasulullah  bersabda, “Janganlah engkau mendatangi mereka (para dukun).” (RiwayatMuslim)</p>
<p>Ketiga, bila sakitnya bertambah parah, tidak boleh mengharap kematian. Dari Anas  dia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Janganlah salah seorang kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Apabila memang harus melakukannya, maka hendaknya dia berdoa:</p>
<p>اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْراً لِي</p>
<p>‘Ya Allah, hidupkanlah aku bila kehidupan itu adalah kebaikan bagiku dan wafatkanlah aku bila kematian itu adalah kebaikan bagiku’.”(Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Keempat, jika punya tanggungan, amanat atau kesalahan segera menunaikan dan meminta maaf. Jika tidak memungkinkan, karena jauh tempatnya, atau belum ada kemampuan, atau sebab lainnya, hendaknya dia berwasiat (kepada ahli warisnya) dalam perkara tersebut. </p>
<p>Allah berfirman, “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (Al-Mu`minuun [23]: 8). </p>
<p>Rasulullah juga bersabda, “Barangsiapa berbuat kezaliman terhadap saudaranya, baik pada harga dirinya atau sesuatu yang lain, hendaknya dia minta agar saudaranya itu menghalalkannya (memaafkannya) pada hari ini, sebelum (datangnya hari) yang tidak ada dinar maupun dirham. Apabila dia memiliki amal salih, akan diambil darinya sesuai kadar kezalimannya (lalu diberikan kepada yang dizaliminya). Apabila dia tidak memiliki kebaikan-kebaikan, akan diambil dari kejelekan orang yang dizalimi lalu dipikulkan kepadanya.” (Riwayat  Bukhari)</p>
<p>Demikianlah beberapa adab yang harus ditunaikan oleh orang yang sedang sakit.Semoga bermanfaat. (Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah PEBRUARI 2013)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalah.hidayatullah.com/?feed=rss2&amp;p=3882</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dai Pemburu Orang Pacaran</title>
		<link>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3879</link>
		<comments>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3879#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 06:16:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serial Dai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah.hidayatullah.com/?p=3879</guid>
		<description><![CDATA[Di keremangan malam ia beraksi, di gerbong kereta ia beraksi, dan di lampu pengatur lalu lintas pun ia tetap beraksi.
Malam beranjak larut. Kampus Universits Gajah Mada (UGM), Yogyakarta telah sepi. Hanya sesekali orang melintas. Di tengah suasana senyap itu, Ahmad Tukiran Maulana mulai beraksi. Seperti biasa, malam itu Maulana akan memburu orang-orang berpacaran. Ia mengendarai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/holding-hands.jpg"><img src="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/holding-hands-300x225.jpg" alt="" title="holding-hands" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-3880" /></a>Di keremangan malam ia beraksi, di gerbong kereta ia beraksi, dan di lampu pengatur lalu lintas pun ia tetap beraksi.</p>
<p>Malam beranjak larut. Kampus Universits Gajah Mada (UGM), Yogyakarta telah sepi. Hanya sesekali orang melintas. Di tengah suasana senyap itu, Ahmad Tukiran Maulana mulai beraksi. Seperti biasa, malam itu Maulana akan memburu orang-orang berpacaran. Ia mengendarai sepeda motor yang di bagian depannya bertuliskan, ‘Patroli Dai’ dan ‘Amar Ma’ruf Nahi Mungkar’.</p>
<p>Sampai di lembah UGM, ia menghentikan motornya. Tempat itu memang kerap dijadikan ajang pacaran. Selain agak gelap, tempatnya juga jauh dari keramaian. Lelaki yang akrab disapa Maulana al-Ponjongi ini lalu menghampiri salah satu pasangan yang sedang asyik masyuk. Pasangan lawan jenis yang bukan muhrim itu duduk di atas sepeda motor. Si perempuan duduk di belakang seraya memeluk erat si pria. Maulana kemudian memberi salam dan memperkenalkan diri. Setelah itu, dengan santun, ia bertanya, “Apakah Anda suami-istri, teman atau saudara kandung?”</p>
<p>“Teman,” jawab sang lelaki.</p>
<p>“Apakah kita wajib melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya?” tanya Maulana mulai menjurus.</p>
<p>“Ya, wajib,” jawab pasangan tersebut lagi agak kikuk.</p>
<p>“Kalau begitu apakah ini (pacaran-red) larangan Allah?” kata Maulana menembak.</p>
<p>“Larangan.”</p>
<p>“Baik atau buruk?” berondong Maulana lagi dengan ‘peluru’ yang sama.</p>
<p>“Buruk.”</p>
<p>“Berdosa tidak?”</p>
<p>“Iya, berdosa,” jawabnya sambil malu-malu.</p>
<p>“Kalau begitu, mau diteruskan atau ditinggalkan?”</p>
<p>“Tinggalkan.”</p>
<p>“Mau turun?”</p>
<p>“Mau,” jawab keduanya pasrah.</p>
<p>Keduanya pun langsung turun dari motor. Setelah itu, Maulana meluncurkan jurus kedua. Kali ini lebih cespleng. Dia mengingatkan keduanya akan hakikat hidup. Katanya, dunia itu sementara, akhiratlah tempat yang kekal. Pacaran adalah nikmat semu dunia yang menipu.</p>
<p>“Jangan kau tukar nikmat akhirat yang kekal dengan pacaran yang semu,” jelasnya.</p>
<p>Keduanya tertunduk malu dan akhirnya sadar. Maulana lalu menyuruh perempuan tersebut pulang sendiri, tanpa dibonceng pacarnya. Dia diminta menghubungi saudara atau jika tidak ada, meminta teman si perempuan untuk menjemputnya. Namun biasanya, jika tidak ada, Maulana akan menyewakan taksi dengan merogoh koceknya sendiri, meski ada yang menolak dan memilih membayar sendiri.</p>
<p>Setelah si perempuan pergi, Maulana mengajak lelakinya untuk shalat. Namun, ia terlebih dulu menanyakan apakah dia suci atau tidak. Jika dalam keadaan junub, Maulana menyuruhnya untuk segera pulang ke rumah agar bersuci, shalat, dan bertobat kepada Allah.</p>
<p>Jemput Bola</p>
<p>Model Dakwah Maulana termasuk unik. Dakwah seperti itu jarang dilakukan para dai pada umumnya. Selama ini banyak dai dan mubaligh, namun masih sebatas pengajian di majelis taklim. Sedangkan masyarakat masih banyak yang belum tersentuh. “Nah, saya mau berperan di ranah yang masih kosong itu,” kata Maulana.</p>
<p>Salah satu objek dakwah lelaki yang kerap bermarkas di Masjid Kampus UGM itu adalah remaja yang sedang pacaran. Hal itu bermula tahun 2002. Saat itu, katanya, di sekitar masjid kampus yang terkenal di Kota Gudeg itu banyak orang pacaran. Siang dan malam hari. Bahkan, katanya, dari hasil surveinya saat itu hampir setiap malam sekitar seratus pasang orang pacaran. Pelakunya kebanyakan mahasiswa.</p>
<p>Bidikan Maulana tidak saja sekitar Kampus UGM. Lokasi dakwahnya merambah ke sejumlah titik. Di antaranya daerah sekitar Tugu ke timur, Jembatan Sarjito, Alun-alun selatan, Jalan Wonosari Bukit Bintang, dan Gembira Loka. Tidak hanya di daerah perkotaan, rambahan lokasinya sampai ke pelosok dan daerah wisata, seperti Pantai Selatan, Kaliurang, daerah Kebun Binatang dan lereng Merapi.</p>
<p>Biasanya, Maulana beraksi usai mengikuti pengajian atau pukul delapan malam. Setiap hari Maulana mengikuti pengajian tidak kurang dari delapan kali. Setiap kelompok ia ikuti. Baik itu NU, Muhammadiyah, Tarbiyah, dan Salafi. Setelah itu, ia beraksi dengan sepeda motor hingga pukul 01.00 atau 02.00 dini hari.</p>
<p>Objek dakwah Maulana juga para pemabuk. Sekitar tahun 2008, ketika ‘sweeping’, setiap malam ia bisa mengumpulkan enam botol minuman keras dengan berbagai merek. </p>
<p>“Alhamdulillah, lambat laun kini mulai berkurang,” ujarnya.</p>
<p>Segala Medan</p>
<p>Maulana juga biasa dakwah di perjalanan. Ia kerap pergi keliling kota untuk mengikuti pengajian sekaligus berdakwah. Anehnya, bekal yang ia bawa hanya dua: helm dan atlas. Jika menuju suatu tempat, maka ia akan menyetop kendaraan—baik motor maupun mobil—untuk meminta tumpangan. Katanya, banyak ditolak, tapi juga sering diperbolehkan.</p>
<p>Alhamulillah, dari situ ia telah keliling ke sejumlah daerah. Dari sekitar Jawa Tengah seperti Magelang, Wonosobo, Semarang hingga ke JawaTimur seperti Surabaya, Malang dan lainnya. Saat daerah Padang, Sumatera Barat dilanda gempa ia pergi lewat jalur darat. Selama di perjalanan ia berdakwah: membagikan majalah Islam dan mengingatkan orang shalat.</p>
<p>“Jika di kereta api banyak orang jualan dan mengamen. Kalau saya memilih keliling gerbong dan mengajak orang shalat,” terangnya.</p>
<p>Ajakan shalat Maulana terbilang unik. Di setiap gerbong ia akan berteriak seperti penjual asongan. “Shalat&#8230; shalaaat&#8230;Ayo yang belum shalat. Murah&#8230;murah! Bisa dijamak qashar dan jika tidak ada air bisa tayamum,” ujarnya sambil sesekali menepuk bahu penumpang dan mengajak bicara.</p>
<p>Tidak saja di kendaraan, tapi juga di traffic ligh (lampu lalu lintas) tak lepas dari bidikan dakwah Maulana. Setiap kali lewat di lampu lalu lintas ia akan berhenti di bagian paling depan. Lalu, ia membaca puisi yang ia buat sendiri kepada para pengendara. Berikut puisinya.</p>
<p>Wahai pengendara<br />
Dunia sementara<br />
Ingatlah tujuan hidup<br />
Wahai pengendara laki-laki dan perempuan<br />
Yang bukan suami-istri jangan boncengan<br />
Ingatlah azab kubur<br />
Kerjakan perintahnya<br />
Jauhi larangannya</p>
<p>Aksi tersebut kerap mengundang berbagai respon. Kata Maulana, pernah suatu kali pengendara sepeda motor di sampingnya yang sedang berboncengan bilang, “Aku suami-istri, tahu!” Lalu dijawabnya, “Saya tidak tanya.” Hal itu dilakukan lelaki kelahiran 27 Desember 1980 asal Kecamatan Ponjong GK DIY ini untuk mengingatkan orang agar tidak boncengan dengan lawan jenis yang bukan muhrim.</p>
<p>Pendapatan lelaki yang kini berusia 33 tahun ini dari majalah. Majalah Islam yang dibagikan cuma-cuma itu, terkadang ada yang menggantinya dengan uang. Bahkan, sempat terkumpul Rp 14 juta lebih dan digunakan untuk membeli motor. Motor itulah yang menjadi penunjang dakwahnya.* Syaiful Anshor/Suara Hidayatullah PEBRUARI 2013</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalah.hidayatullah.com/?feed=rss2&amp;p=3879</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bundanya Anak-anak di Penjara</title>
		<link>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3876</link>
		<comments>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3876#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 06:12:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah.hidayatullah.com/?p=3876</guid>
		<description><![CDATA[Suci Susanti
Banyak orang beranggapan lembaga pemasyarakatan (Lapas) sebagai tempat yang menyeramkan. Jangankan masuk ke dalamnya, membayangkannya saja sungguh mengerikan. Tapi berbeda dengan Suci Susanti, wanita kelahiran 29 September 1975 ini. Mantan pramugari Saudi Arabian Airlines ini  merasa nyaman berada di dalam Lapas. Bukan sebagai pesakitan, tetapi memberi konseling ke narapidana (napi) anak laki-laki di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/PENJARA.jpg"><img src="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/PENJARA-300x165.jpg" alt="" title="PENJARA" width="300" height="165" class="alignnone size-medium wp-image-3877" /></a>Suci Susanti</p>
<p>Banyak orang beranggapan lembaga pemasyarakatan (Lapas) sebagai tempat yang menyeramkan. Jangankan masuk ke dalamnya, membayangkannya saja sungguh mengerikan. Tapi berbeda dengan Suci Susanti, wanita kelahiran 29 September 1975 ini. Mantan pramugari Saudi Arabian Airlines ini  merasa nyaman berada di dalam Lapas. Bukan sebagai pesakitan, tetapi memberi konseling ke narapidana (napi) anak laki-laki di Lapas Anak, Tangerang, Banten. </p>
<p>Suci mengaku banyak yang menganggapnya aneh, seorang wanita berurusan dengan para napi anak laki-laki. Terlebih mereka memiliki latar belakang kasus yang beragam, mulai dari pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, dan kekerasan jalanan. “Anak-anak ini menjadi sasaran Kristenisasi, kalau bukan kita siapa lagi yang akan memerhatikan mereka?” kata istri Yudi Handoko ini menjelaskan. </p>
<p>Ketertarikan Suci pada dakwah di Lapas dimulai sejak kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan. Itu setelah ia melepas dunia pramugari. Saat memperdalam mata kuliah aqidah, aku Suci, timbul dorongan dalam dirinya untuk menyelamatkan aqidah remaja. “Saat itu saya berang mengetahui Kristenisasi dan Syiahnisasi. (Karena itu) saya ingin ambil bagian dalam dakwah ini,” tegasnya.</p>
<p>Bersama seluruh teman seangkatannya, Suci bergerak di Lapas anak. Meski kini yang bertahan tinggal lima akhwat, ia tetap bertahan hingga sekarang. “Bersama lima orang ini kami harus melayani konsultasi 250 anak laki-laki di Lapas Tangerang,” akunya. </p>
<p>Berkurangnya teman dakwah sempat membuatnya ragu. Namun, bagi Suci, layar sudah terkembang, maka pantang mundur sebelum menang. “Dakwah ini tidak boleh berhenti, saya memaksa diri untuk tetap berjalan apapun kendalanya,” cetusnya. </p>
<p>Ia tak kuasa menahan duka melihat anak-anak terus diincar kelompok missionaris. Yayasan-yayasan Kristen dengan beragam program dan iming-iming terus menghantui Lapas Anak Tangerang. </p>
<p>Dukungan Keluarga </p>
<p>Yang juga membuat dirinya semangat berdakwah di Lapas adalah dorongan keluarga. Bahkan sang suami sendiri bersedia menjadi penasihat dalam Gerakan Peduli Remaja (GPR) yang dirintisnya. Ia mengaku, sering mendapatkan nasihat dan motivasi dari sang suami. “Selain suami, semangat luar biasa juga hadir dari dukungan anak,” jelas alumnus SMA Negeri 2 Bekasi ini.</p>
<p>Apresiasi agar Suci tidak berhenti dari dakwah di Lapas juga didapat dari sang ibu, Ani Rawani. Ibu merupakan salah satu inspirasi dakwahnya. “Sejak kecil saya selalu melihat Ibu aktif di kegiatan sosial. Ini sangat memberi saya inspirasi,” katanya.</p>
<p>Tentu saja untuk berdakwah di Lapas butuh biaya. Sejauh ini, biaya itu banyak yang ia tanggung sendiri. Bagi suci, semua itu bukanlah masalah besar. Ia yakin, mengeluarkan dana untuk dakwah adalah bagian dari jihad. “Saya sadar permintaan Allah yang pertama dalam jihad adalah berkorban dengan harta dan saya sudah memilih jalan itu,” ucapnya tegas. </p>
<p>Dukungan Anak-anak Lapas</p>
<p>“Sudahlah Bunda, kami ini sudah biasa dijadikan seperti hewan tontonan di kebun binatang,” cerita Suci menggambarkan sebuah keluh kesah seorang anak Lapas. Anak itu jengkel atas kehadiran beberapa mahasiswa yang selalu menjadikan mereka riset dan bahan penelitian psikologi. Suci yang kini sering dipanggil Bunda oleh anak-anak Lapas itu miris mendengarkannya. “Padahal awal masuk ke sini saya merasa asing, kaku bahkan ada rasa takut,” cerita perempuan lulusan diploma dari Universitas Brawijaya, Malang  ini.</p>
<p>Sikap keras kepala, tidak mau diatur, pemberontak dan segudang stigma negatif tentang anak-anak Lapas sempat hadir di kepalanya. Setelah memberanikan diri, Suci justru terkaget-kaget ketika melihat anak-anak di Lapas bisa menangis.</p>
<p>Bagi Suci, sisi-sisi fitrah sebagai hamba Allah adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari manusia, siapa pun orangnya. Begitupun anak-anak Lapas. Ketika konseling, saat mencurahkan isi hati dan kegelisahan jiwanya, mereka pun bisa menangis. Tangisan-tangisan itu merintih menemani rasa sesal. Membalut rasa bersalah dan rindu kepada orangtua. “Itulah ruangan berharga yang membuat saya harus tetap ke Tangerang. Secara tidak sadar saya seperti menjadi ibu bagi mereka,” ujarnya.</p>
<p>Yang menjadi tantangan bagi Suci adalah pola Kristenisasi yang berjalan di Lapas. Tidak sedikit anak yang ketika bebas kemudian direkrut ke rumah singgah yang berafiliasi ke gerakan gereja. Di tempat singgah itu mereka diberikan uang 300 ribu hingga 500 ribu rupiah per bulan. “Biaya makan dan tempat tinggal gratis,” jelas Suci menggambarkan bagaimana anak-anak Lapas ini pelan-pelan diarahkan untuk murtad.</p>
<p>Sudah hampir dua tahun ia berdakwah di Lapas. Bersama kelima sahabatnya yang lain, Suci memilih untuk bertahan. Ia tahu kekuatan terbesarnya datang dari Allah. “Kalau secara logika manusia seharusnya kami tidak kuat, tapi semua karena Allah, alhamdulillah kami masih ada di sini,” terang Suci. </p>
<p>Perempuan yang masih duduk di semester tujuh di Al-Hikmah ini juga merasakan dukungan mendalam dari anak-anak Lapas. Suatu ketika ada seorang anak yang bebas, namun ia tidak bahagia. Bukan karena tidak mau bebas, tapi kesedihan itu karena ia merasa kehilangan ‘Bunda’nya, yaitu Suci dan kawan-kawannya. “Anak ini bebas, tapi di luar Lapas ia bingung mau pergi kemana?”</p>
<p>Untuk itu, selain berjuang menyelamatkan aqidah anak-anak Lapas, ia juga mempersiapkan kerjasama dengan elemen-elemen Islam. Kerjasama itu berupa fasilitas rumah singgah. Baik rumah yatim-piatu hingga pesantren untuk menampung anak-anak ini. “Kita tidak perlu anti dengan stigma nakal mereka. Mereka hanya butuh lingkungan yang baik untuk membimbingnya,” imbuh Suci.<br />
Saat ini beberapa gerakan dakwah ikut mendukungnya. Misalnya, divisi perempuan di INSIST (Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) sedang memperjuangkan rumah singgah untuk mereka. Demikian juga dengan komunitas lain, seperti Komunitas Punk Muslim yang fokus kepada dakwah anak-anak Punk. Mereka ini sudah membuka diri agar rumah singgahnya bisa dijadikan tempat untuk anak-anak Lapas. </p>
<p>Suci tak mau berhenti, ia berazam ingin terus mengembangkan dakwah di Lapas. Semoga Allah memberi kesabaran, kemudahan dan berkah.* Thufail Al-Ghifari/Suara Hidayatullah PEBRUARI 203</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalah.hidayatullah.com/?feed=rss2&amp;p=3876</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GAZA: Mencicipi Hasil Perlawanan</title>
		<link>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3873</link>
		<comments>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3873#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 06:02:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Utama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah.hidayatullah.com/?p=3873</guid>
		<description><![CDATA[Tanah landai yang Suara Hidayatullah tapaki itu sangat gembur seperti baru dibajak beberapa hari. Dari arah selatan, suara senapan Zionis menyalak-nyalak menggertak siapa saja yang berusaha mendekat ke pagar kawat listrik berduri yang memisahkan Jalur Gaza dengan wilayah Palestina.
Namun, sang pemandu tetap tenang dan mengajak Suara Hidayatullah terus berjalan ke arah pagar. Ketika sampai di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="C"><img src="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/TANI.jpg" alt="" title="TANI" width="278" height="181" class="alignnone size-full wp-image-3874" /></a>Tanah landai yang Suara Hidayatullah tapaki itu sangat gembur seperti baru dibajak beberapa hari. Dari arah selatan, suara senapan Zionis menyalak-nyalak menggertak siapa saja yang berusaha mendekat ke pagar kawat listrik berduri yang memisahkan Jalur Gaza dengan wilayah Palestina.</p>
<p>Namun, sang pemandu tetap tenang dan mengajak Suara Hidayatullah terus berjalan ke arah pagar. Ketika sampai di sebuah garis dari gundukan tanah yang membentang dari arah utara ke selatan, sang pemandu berhenti. </p>
<p>&#8220;Saat ini posisi kita 40 meter dari pagar Yahudi,&#8221; kata sang pemandu yang juga seorang pejuang Palestina itu. </p>
<p>Seorang pemandu lainnya, Abu Wasim menimpali, jika mendekat hingga jarak 13 meter dari pagar, tentara Zionis akan menembak kaki kita. Tapi katanya, sebelum perang Nopember 2012 lalu, 2 kilometer dari pagar saja orang-orang Palestina sudah ditembaki. </p>
<p>Wilayah yang Suara Hidayatullah kunjungi adalah kawasan pertanian Jabaliya Timur di utara Jalur Gaza. Ratusan hektar lahan gandum, zaitun, jeruk, kentang, dan lainnya tumbuh subur di sini.  </p>
<p>Usai perang yang memaksa Zionis menerima syarat-syarat gencatan senjata, luas lahan pertanian yang bisa digarap petani Gaza bertambah 500 meter hingga 1 kilometer ke timur yang memanjang sekitar 51 kilometer dari kawasan Bait Hanun di utara hingga Rafah di selatan.</p>
<p>Ahmad, 24 tahun, seorang petani yang tinggal 1 kilometer dari pagar Zionis mengatakan, keadaan pasca perang jauh lebih aman dibanding sebelumnya. Kini, ia bisa leluasa menggarap ladang gandumnya yang seluas 5000 meter persegi. Meski demikian, balon udara pengintai dan deru pesawat tempur Zionis masih membayangi setiap orang di kawasan ini. </p>
<p>Kata Ahmad, pertanian di zaman pemerintahan Yasir Arafat dan Mahmud Abbas memang lebih baik ketimbang masa-masa awal pemerintahan Hamas yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ismail Haniya sejak tahun 2006. </p>
<p>Namun, katanya, pada masa Yasir Arafat dan Mahmud Abbas pasukan Zionis bisa bercokol beberapa puluh meter dari rumahnya dan berbuat sesuka hati mereka. &#8220;Mereka menembaki kambing-kambing kami tanpa alasan,&#8221; kata Ahmad.</p>
<p>Hal senada juga dikatakan Nafis bin Abdullah Gaban, 48 tahun, petani di Bait Lahiya yang lahannya berjarak 2 kilometer dari kawasan Zionis yang bernama Majdal. Meski aman, Nafis terancam rugi. Karena perang, tanaman utamanya, stroberi, telat masuk pasar Eropa yang biasanya ramai di akhir tahun.<br />
Stroberi adalah satu-satunya hasil pertanian yang bisa diekspor ke luar Gaza. Ukurannya besar dan rasanya cenderung manis. Pemerintah Jerman dan UNDP (badan program pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa) membantu pengemasan produk, sedangkan asosiasi petani lokal menjualnya ke pihak Zionis untuk dipasarkan di negera-negara Eropa. “Di Eropa, satu pak stroberi kami dijual 10 dolar, sedangkan kami hanya dapat setengah dolar per pak,” kata Ahmad, petani stoberi tetangga Nafis.<br />
Pasca perang, para nelayan Gaza juga merasakan dampak positif gencatan senjata. Nelayan Gaza yang sebelumnya hanya boleh melaut 3 mil, sekarang menjadi 6 mil. Ikan-ikan ukuran besar dan segar sekarang bisa dijumpai di pasar, seperti ikan pari, tuna, logos, dan banyak juga ikan sarden.</p>
<p>Seorang nelayan, Mahdi Abu Riyali, 39 tahun, mengaku meski wilayah laut bertambah tapi tidak dengan hasil tangkapannya. Katanya, wilayah yang banyak ikannya adalah 7 mil ke atas di tempat yang banyak ditumbuhi karang. </p>
<p>“Wilayah satu mil hingga enam mil sedikit karangnya, jadi ikannya juga sedikit,” kata pria yang sudah melaut sejak usia 9 tahun ini.</p>
<p>Ketua Persatuan Nelayan Gaza, Muhammad al-Hissi mengatakan, meski tidak signifikan tapi penghasilan para nelayan meningkat. “Memang sedikit, tapi enam mil jelas lebih baik dari tiga mil,” kata al-Hissi.<br />
Saat ditanya soal ikan-ikan besar di pasar, al-Hissi menjawab, sebagian ikan-ikan itu didatangkan dari Mesir. Harga ikan Mesir sekitar 20 Sheqel (Rp 50 ribu) per kilogram, sedangkan ikan Gaza 70 Sheqel (Rp 175 ribu). Katanya, harga ikan dari Mesir lebih murah karena tidak sesegar ikan Gaza.<br />
***<br />
Kepala Polisi Laut Gaza, Abu Sya’ban Dahsyan mengatakan, pasca perang ada seorang nelayan terluka ditembak Angkatan Laut Zionis dan 40 nelayan ditangkap. Katanya, nelayan-nelayan itu ditembak karena nekat melaut lebih dari 6 mil dari pantai. “Karena kebanyakan nelayan miskin, mereka jadi nekat,” kata Abu Sya’ban.</p>
<p>Abu Sya’ban mengakui, polisi laut Gaza tidak bisa maksimal mengamankan para nelayan dari intaian pasukan AL Zionis. Kantor polisi laut Gaza sendiri hancur diroket Zionis. Saat ini polisi laut Gaza membuat kantor darurat di tepi Pelabuhan Gaza di Gaza City.</p>
<p>Sebagai aparat sipil bersenjata, Abu Sya’ban menegaskan pihaknya hanya ditugaskan menjaga dan melayani para nelayan di wilayah pesisir saja. “Kita polisi sipil. Hal-hal di luar itu menjadi bagian al-Qassam (Brigade Izzuddin al-Qassam sayap militer Hamas,-red),” kata Abu Sya’ban yang lulusan Universitas Al-Azhar ini.</p>
<p>Itu sebabnya, mencari ikan di laut menjadi ladang jihad tersendiri bagi nelayan Gaza. Kata al-Hissi, hal itu ditegaskan oleh Perdana Menteri Ismail Haniya kepada para nelayan. </p>
<p>“Kata Abu Abed (Ismail Haniya,-red), ini adalah laut kita, teruslah bekerja di sana. Karena ini laut kita,” ujarnya mengutip ucapan sang perdana menteri yang juga tinggal di kawasan pengungsi Syathi` yang sangat dekat dengan laut. </p>
<p>Bukan hanya petani dan nelayan yang merasakan keamanan pasca perang November lalu, seluruh warga Gaza juga bisa leluasa beraktivitas. Baik itu berniaga, bekerja, bersekolah, ataupun beribadah di masjid-masjid. </p>
<p>Anak-anak Gaza dapat bermain tanpa rasa takut akan todongan senjata Zionis. Karena memang tidak ada seorang pun tentara atau warga sipil Yahudi di Gaza. Meski begitu,  tidak ada jaminan Zionis akan mematuhi perjanjian gencatan senjata. </p>
<p>“Karena itu, kita selalu dalam keadaan siaga,” kata pimpinan Hamas wilayah Gaza Utara, Mustafa al-Qanu’ kepada Suara Hidayatullah di kantornya di Jabaliya.  </p>
<p>Juru bicara Jihad Islami, Nizam al-Syaikh mengatakan, pada hakikatnya Gaza telah merdeka. Maksud Nizam, meski diblokade warga Gaza bisa bebas beraktivitas tanpa harus berurusan dengan pos-pos penjagaan tentara Yahudi dan tembok-tembok pembatas seperti yang terjadi di Tepi Barat, Palestina. Hal itu dikatakannya di sebuah seminar tentang masa depan Gaza bersama sejumlah perwakilan fraksi Palestina semisal Hamas dan Fatah. </p>
<p>Selama sebulan di Gaza, Suara Hidayatullah tidak mendapati serangan Zionis. Warga Gaza yang ditemui di masjid, di jalan, di sekolah, di pasar, dan di reruntuhan-reruntuhan bangunan menyambut dengan hangat dan bercerita dengan bangga tentang kemenangan Gaza dalam perang 8 hari melawan Zionis November 2012 lalu. </p>
<p>Saat ditanya apakah rasa aman tersebut bisa didapat dengan dialog dan berunding dengan Yahudi? Mereka menjawab, “Tidak!” “Yahudi tidak mengerti dialog, kecuali dengan senjata,” tukas Marwan, seorang warga Jabaliya.</p>
<p>Itu sebabnya, bantuan yang diperlukan warga Gaza bukan sekadar bantuan kemanusiaan seperti pangan, tempat tinggal, layanan kesehatan, dan lapangan kerja. Tapi juga senjata untuk menghentikan berbagai kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Zionis terhadap rakyat Palestina. </p>
<p>“Jika Amerika boleh memberi senjata kepada Israel, kenapa jika memberi senjata kepada kami malah dibilang membantu teroris?” tukas Mustafa al-Qanu’.</p>
<p>Sikap yang demikian bukan hanya dari kalangan fraksi perlawanan seperti Hamas dan Jihad Islami saja. Kalangan awam di Gaza juga bersikap demikian. Seperti ucapan Audah Ibrahim, seorang petani di kawasan Juhrud Dik, di timur Gaza yang berbatasan dengan Zionis. &#8220;Terimakasih sudah banyak membantu kami untuk pertanian. Tapi jangan lupa, bantu kami melawan penjajah supaya tanah suci ini merdeka seluruhnya,&#8221; pesan Audah. *SUARA HIDAYATULLAH PEBRUARI 2013</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalah.hidayatullah.com/?feed=rss2&amp;p=3873</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Strategi Dakwah di Lembah Syahwat</title>
		<link>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3870</link>
		<comments>http://majalah.hidayatullah.com/?p=3870#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 05:58:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ihwal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalah.hidayatullah.com/?p=3870</guid>
		<description><![CDATA[Liku-liku mengentas pelacur dari dunia “hitam”. Kerap dicibir, pernah pula diancam. Kuncinya istiqamah dan persuasif.
Nama Khoiron berkali-kali disebut di Aula IAIN Sunan Ampel Surabaya, November 2012 lalu. Saat itu sedang berlangsung ujian terbuka bagi A Sunarto AS. Ada ratusan orang hadir pada ujian  untuk meraih gelar doktor itu. Salah satunya Khoiron, nama lengkapnya  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/telur-ayam.jpg"><img src="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2013/05/telur-ayam.jpg" alt="" title="telur-ayam" width="300" height="214" class="alignnone size-full wp-image-3871" /></a>Liku-liku mengentas pelacur dari dunia “hitam”. Kerap dicibir, pernah pula diancam. Kuncinya istiqamah dan persuasif.</p>
<p>Nama Khoiron berkali-kali disebut di Aula IAIN Sunan Ampel Surabaya, November 2012 lalu. Saat itu sedang berlangsung ujian terbuka bagi A Sunarto AS. Ada ratusan orang hadir pada ujian  untuk meraih gelar doktor itu. Salah satunya Khoiron, nama lengkapnya  Muhammad Khoiron Syu’aib (53).<br />
Duduk di kursi barisan depan, Khoiron dengan tenang mengikuti forum ilmiah tersebut. Saat namanya disebut-sebut, ia hanya diam dan menunduk.</p>
<p>Sunarto menulis desertasi berjudul Kiai dan Prostitusi, hasil penelitiannya terhadap  dakwah Khoiron di daerah prostitusi Bangunsari, Surabaya, Jawa Timur. Penelitian Sunarto itu menjadi penting, karena di Indonesia banyak lokalisasi pelacuran. Di  Surabaya saja ada empat: Bangunsari (telah ditutup Pemkot Surabaya Desember lalu), Tambak Asri (Kremil), Dolly dan Jarak, serta Moro Seneng.<br />
“Apa yang dilakukan Kiai Khoiron bisa menjadi model dakwah di lokalisasi lain,” kata Sunarto, dosen di IAIN Sunan Ampel, Surabaya.</p>
<p>Berdakwah di daerah “hitam” tentu saja itu tidak mudah. Berbagai aral menghadang. Tapi ayah tiga anak ini mampu istiqamah hingga 32 tahun.</p>
<p>Hasilnya, Khoiron terbilang sukses. Jumlah pelacur dan wisma merosot dratis. Menurut data Sunarto, tahun 1980-an ada 700 wisma dan 3000 pelacur.  Tahun 2012, sebelum ditutup, jumlah pelacurnya tinggal 153 orang.</p>
<p>Pasti, banyak faktor yang menyebabkan bisnis esek-esek di Bangunsari menyusut. Tetapi, peran Khoiron jelas tak bisa dinafikan. Contoh kecil terjadi pada Gatot Krisbiantoro. Dulu, ia preman yang malang melintang di Bangunsari. Lewat tangan Khoironlah Gatot lalu insaf. Jika dulu preman, kini menjadi pembela dakwah di Bangunsari. Khoiron bilang, kekayaan dan kesenangan tidak ada batasnya. Tapi umur ada batasnya. “Kalimat Abah itu yang membuat saya berubah,” kata Gatot pada Suara Hidayatullah di rumah Khoiron Januari lalu. Abah adalah panggilan Gatot kepada Khoiron.</p>
<p>Pak Ustadz di Belantara Wisma<br />
Dia mengayomi dan memberi harapan. Prostitusi berkurang drastis.<br />
Khoiron memulai dakwah di Bangunsari tahun 1981. Waktu itu ia baru lulus sarjana muda dari Universitas Hasyim Asy’ari, Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Ia memilih meneruskan kuliah di IAIN Sunan Ampel, dan memilih tinggal bersama orangtuanya di Bangunsari. </p>
<p>Benar, Khoiron lahir di tengah-tengah kampung prostitusi itu. “Depan, kanan dan belakang rumah saya ‘wisma’,” katanya saat ditemui di rumahnya Januari lalu. </p>
<p>Bersyukurnya, orangtua Khoiron mengambil langkah bijak. Tak ingin anaknya terkontaminasi, begitu lulus SD, mereka mengirim Khoiron belajar di Pesantren Tebu Ireng.</p>
<p>Tinggal di rumah yang di kepung kemaksiatan,  Khoiron merasa tidak nyaman. Tiap hari matanya melihat langsung kemaksiatan. Muncul di dalam hatinya untuk berbuat sesuatu. Awalnya ragu, “Karena tak yakin berhasil,” katanya. Namun keyakinannya kemudian tumbuh. Menurutnya, sedalam apapun seseorang tenggelam ke dalam lembah dosa, hati kecilnya pasti ingin bertobat.</p>
<p>Keyakinan seperti itulah yang mendorongnya bergerak. Ia ingin menyentuh hati kecil orang-orang yang terjerumus di lembah syahwat itu.</p>
<p>Lalu, gedung bioskop yang tak jauh dari rumahnya itu menjadi pilihan Khoiron untuk bergerak. Di gedung itulah biasanya para pelacur, mucikari dan pria hidung belang nonton film. Setelah mendapat izin Ketua RW, begitu film selesai, ia tiba-tiba muncul di depan. Di situlah ia memperkenalkan diri. Tapi tidak langsung menyampaikan keinginannya untuk berdakwah. “Saya hanya menyapa dan berusaha lebih dekat kepada mereka,” katanya.</p>
<p>Seperti kata pepatah, siapa tak kenal maka tak sayang. Setelah berhasil memperkenalkan diri, dakwah Khoiron terus bergulir. Dari gedung film pindah ke balai RW. Bahkan pengajian di balai RW itu terus berlangsung hingga Bangunsari ditutup.</p>
<p>Tak hanya melalui pengajian, dakwah Khoiron juga mulai ke berbagai pertemuan informal. Kadang ada mucikari dan pelacur yang datang ke rumahnya berkonsultasi berbagai hal. Mulai dari soal anak, rezeki dan sebagainya.</p>
<p>Menurut Khoiron, mereka terjerumus pada pelacuran bukan semata-mata persoalan  materi. Banyak di antara mereka yang memilih jalan kelam ini karena pernah disakiti laki-laki. Ada juga lantaran himpitan ekonomi. Yang lebih mengiris hati, masih kata Khoiron, sebagian mereka datang karena iming-iming pekerjaan yang menjanjikan, santai dan penghasilannya lumayan besar. “Mereka rata-rata ditipu oleh orang yang baru dikenal atau bahkan temannya sendiri,” katanya</p>
<p>Di sisi lain, mereka datang ke Surabaya tanpa bekal keterampilan apa-apa. Mereka juga tidak punya keluarga atau kenalan lain. “Untuk itu, saya berpendapat mereka dapat dibina dengan pendekatan dakwah yang persuasif,” Khoiron menegaskan.</p>
<p>Ya, kuncinya persuasif. Khoiron tidak pernah marah atau mengancam jamaahnya. Seperti dituturkan Sunarto, Wakil Ketua IDIAL (Ikatan Dai Area Lokalisasi) itu  lebih banyak memberi motivasi, harapan dan keterampilan. Itu juga yang dirasakan Ratih (bukan nama sebenarnya), salah satu pelacur. “Dia sering memberi harapan. Katanya, kita tidak boleh putus asa dari rahmat Allah dan hidup ini harus berubah,” kata Ratih.</p>
<p>Seperti pula disampaikan Fina (nama samaran), “Kiai Khoiron itu bisa menuntun dan membimbing saya. Saya tahu pekerjaan saya dosa, tapi mau apalagi. Ya sedikit demi sedikitlah, Mas.”</p>
<p>Satu hal lagi, menurut Sunarto, Khoiron mencoba mengubah mind set (cara berpikir) mereka. Dalam benak sebagian mereka bahwa hidup ini hanya ada satu kata: harta dan harta. Pola hidup materialistis itu begitu kuat merasuk ke dalam jiwa mereka. Sunarto punya pengalaman menarik. Untuk keperlaun desertasinya ia mewawancarai seorang pelacur. Eh, belum lagi wawancara dimulai ia sudah tanya duit. “Mas, mengajak saya bincang-bincang apa saya dikasih uang?” katanya.</p>
<p>Celakanya lagi, untuk mendapatkan uang itu, dalam benak mereka juga cuma ada satu jalan: melacurkan diri atau jadi mucikari. Tidak ada lain. “Kalau tak begitu, tidak bisa makan,” kata Sunarto mengutip hasil penelitiannya.</p>
<p>Cara pandang seperti itulah yang coba diubah Khoiron. Bahwa ada banyak jalan untuk memperoleh rezeki. Untuk itu, mereka mesti punya keterampilan lain. Dengan menggandeng pemerintah dan lembaga lain, Khoiron kerap menggelar pelatihan ketrampilan. Mulai dari menjahit, potong rambut dan sebagainya. Bahkan, bekerja sama dengan MUI Jatim, dan Pemkot Jatim memberikan modal Rp 3 juta bagi pelacur yang insyaf. Dari program ini, jumlah dana yang disalurkan hampir mencapai Rp 500 juta.</p>
<p>Khoiron tak hanya memikirkan pelacur dan mucikari. Ia juga memperhatikan nasib anak-anak mereka. Ia tak ingin anak-anak itu bernasib sama dengan orangtua mereka. Makanya, ia ingin memotong generasi. Caranya, mendirikan pondok pesantren bernama Roudlotul Khoir. Untuk sementara ini, pesantren itu menjadi satu dengan tempat tinggalnya. Di pesantren inilah tiap hari, pagi hingga malam dididik ratusan santri. “Jumlahnya sekarang ada sekitar 300 santri,” kata pengurus MUI Kota Surabaya ini. </p>
<p>Cibiran dan Ancaman<br />
Dalam dakwah selalu ada kerikil-kerikil penghalang. Bahkan kadang bukan lagi kerikil, melainkan batu besar yang menghadang.  Itu pula yang dialami  Muhammad Khoiron Syu’aib saat berdakwah di daerah prostitusi. Ia pernah dicibir, diremehkan bahkan diancam nyawanya.</p>
<p>“Untuk apa ia berdakwah di sini. Toh setelah dari pengajian, mereka akan ‘bekerja’ seperti biasanya. Buang-buang waktu saja,” ujar Khoiron menirukan komentar segelintir orang yang tidak respek kepada dakwahnya.</p>
<p>Tetapi Khoiron punya pendapat yang berbeda. Dirinya tidak pernah menegur bahkan mengancam jamaah yang buka praktek lagi sepulang pengajian. Sebab ustadz yang pernah diundang berdakwah di Hongkong dan Malaysia ini yakin, hidayah Allah datangnya tak bisa ditebak. Apa yang ia lakukan hanya sebatas menolong hamba lain yang sedang tersesat. “Persoalan insyaf atau tidak itu urusan Allah,” katanya. Tapi ia percaya, suatu saat Allah bakal menurunkan hidayah dan membuka pintu hati mereka. Menurutnya, seorang pendakwah tidak boleh lelah dan putus asa membimbing mereka ke jalan yang benar.</p>
<p>Selain cibiran, ada cobaan yang lebih serius. Ia pernah diancam dengan sebilah pedang oleh salah seorang mucikari. Secara terang-terang mucikari itu mendatangi tempat pengajiannya dan mengancam hendak membunuhnya. Suasana pengajian pun menjadi tegang. Tapi Khoiron tetap tenang dan  tak menanggapi ancaman itu. Malah ia bersimpati pada si mucikari dan tetap menaruh hormat kepadanya. Bagi Khoiron, ancaman itu bagian dari cobaan dalam perjalanan dakwahnya.</p>
<p>Tidak sampai disitu, masih ada cobaan lain. Yang ini agak menggelikan. Tetapi bila tidak tahan, bisa-bisa mengancam keimanannya. Ia pernah digoda dan dirayu agar menjadi suami salah satu pelacur. Hanya saja, suami dari Roudlotul Jauharoh ini tampaknya masih cukup puas dengan satu istri saja. </p>
<p>Tapi gawatnya, ada  pelacur yang nekad. Saat lagi jalan-jalan di sekitar rumahnya, tiba-tiba tangannya ditarik salah seorang pelacur. Rupanya, pelacur itu hendak memberi ‘jamuan’ gratis kepada ustadznya. Mau? “Ya nggak lah,” tukas Khoiron sambil tersenyum. Alhamdulillah. SUARA HIDAYATULLAH PEBRUARI 2013</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalah.hidayatullah.com/?feed=rss2&amp;p=3870</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
