Global Warming or Gombal Warning!

Oleh: Dyan Nawangmulan Mahasari *)

Pagi itu datang pertanyaan mengagetkan dari murid-murid saya di kelas menulis. “Bu, apakah kiamat sudah dekat?”
Tentu ia tidak sedang bermain-main dalam pertanyaannya. Apalagi iseng karena usai menonton sinetron laris ‘Kiamat Sudah Dekat’ garapan sutradara Deddy Mizwar itu. Tapi ia bertanya serius.

Beberapa anak menunggu jawaban saya dengan agak cemas. Sebagai guru, agak susah bagi saya menjelaskan benarkah kiamat memang sudah sedekat?

Beberapa jawaban tampaknya tak cukup memuaskan mereka. Sebagian mengungkapkan ketakutannya dengan beberapa alasan. Ada yang beralasan takut tsunami seperti Aceh. Sebagian lain takut akan kemungkinan datangnya musibah.

“Saya takut kan rumah saya dekat pantai Kenjeran (Surabaya, Jawa Timur),” ujar seorang anak kelas V. “Kalau saya takut Surabaya kena azab. Kan daerah-daerah lain sudah kena musibah, tinggal Surabaya saja?” ujar anak kelas IV.

Untuk membuang “ketakutan” itu saya putarkan film dokementer dari BBC berjudul State of the Planet. Film ini menceritakan fakta bahwa dunia sedang mengalami ‘krisis global’. Semakin tandus, suram, dan tidak menyenangkan. Dunia yang kini kita pijak ini sedang mencetuskan sebuah pemusnahan massal dan hilangnya beberapa spesies maha penting yang akibatnya berpengaruh pada kondisi alam dan cuaca kita.

Global Warning atau Gombal Warning?
Global warming (pemanasan global) adalah tema paling hangat didiskusikan orang di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Global warming atau pemanasan global, kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi.

Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, gas alam, karbondioksida, dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer.
Ketika atmosfer semakin berjibun dengan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas matahari yang dipancarkan ke bumi. Insulator adalah materi yang dapat mencegah penghantaran panas atau muatan listrik.

Efek Globang warming ini mau tidak mau sangat berpengaruh pada sendi kehidupan kita. Termasuk cuaca yang saat ini sangat sulit kita prediksi. Cuaca tak menentu dari tahun ke tahun. Bumi kita makin panas. Bencana di mana-mana; badai, gempa, gunung meletus. Kita seperti merasakan kecemasan hidup.

Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar di sebuah media nasional menyebut, ancaman yang ditimbulkan dari pemanasan global ini lebih berbahaya daripada terorisme.

Pengaruh global warming seharusnya menjadikan kita –khususnya umat Islam—sebagai global warning (peringatan global): apa sesunguhnya yang sedang terjadi dalam kehidupan dan bumi kita? Dan, mengapa tiba-tiba alam dan seisinya ini semakin “marah” atau tak ramah lagi?

Baru-baru ini majalah TIME merilis 51 cara yang dapat kita lakukan untuk mencegah adanya global warming. Artikel berjudul “The Global Warming Survival Guide” ini di antaranya memberikan beberapa jurus agar bumi yang kita pijak dan kita diami ini masih terus ramah terhadap kita.

Jika diringkas, kesimpulan “51 jurus” dari TIME adalah: Pertama, berhemat menggunakan listrik, biasakan menggunakan kendaraan ramah lingkungan (misalnya sepeda).

Kedua, hidup hemat dan tak lagi menggunakan pola konsumsi tinggi karena akan memicu aktivitas produksi dan pabrik lebih tinggi. Ketiga, tanamlah pohon di setiap tempat dan jangan sering-sering melakukan penebangan. Jangan buang sampah sembarangan, sebab itu akan melahirkan polusi.

Sedikit di antara kita yang paham bahwa pemakaian berlebih-lebihan CFC (Chloro Fluoro Carbon), yang nama populernya disebut freon alias AC, memicu percepatan bolongnya lapisan ozon. Jika sudah seperti itu, sinar ultra violet akan menerabas masuk atmosfer dan menyebabkan terjadinya radiasi. Saat itulah banyak penyakit akan menyerang manusia, termasuk kanker.

Jika berlebih-lebihan menggunakan listrik akan makin banyak minyak bumi dibakar. Saat itulah bumi semakin panas. Penghematan adalah cara melindungi bumi, dan alam kita akan berjalan secara baik dan aman.
Adalah mengagetkan, dalam sebuah penelitian terbaru National Aeronautics and Space Administrations (NASA) Amerika menyatakan bahwa dua wilayah di dunia, yaitu hutan tropis Amazon (Amerika Latin) dan wilayah kepulauan tropis Indonesia, merupakan dua wilayah di muka bumi yang mampu menyerap gas karbon dioksida paling besar. Pertahunnya, dua wilayah tersebut mampu menyerap sekitar 2.5 kilogram gas karbon per meter kubik.

Karbon yang diserap oleh tumbuh-tumbuhan dan biota laut di kedua wilayah itu dikonversikan menjadi oksigen guna menunjang kehidupan makhluk di planet Bumi. Dengan kata lain, dua wilayah ini –Amazon dan Indonesia– adalah “Paru-paru Dunia”. Bayangkanlah, jika paru-paru ini rusak. Apa yang terjadi?
Dengan kata lain, jika dunia ini adalah tubuh manusia, maka Indonesia adalah “paru-parunya”. Wajar saja jika ada penyataan, “Semua kehidupan dan makhluk hidup di Bumi berutang kepada Indonesia.”

Masalahnya, “paru-paru” ini telah lama dirusak oleh tangan-tangan jahil kita sendiri. Penebangan liar, pembuangan sampah sembarangan, adalah cara lain melakukan bunuh-diri. Yang lebih menyedihkan, di antara mereka adalah umat Islam juga. Pantaslah jika musibah alam di tempat kita sering terjadi.

Cara Islami
Jika saja umat Islam ini patuh dan taat, mungkin tak seperti ini akibatnya. Dalam Surat Al Qhashash 27, Allah SWT sudah memperingatkannya. ”…Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Lebih baik mana pesan Allah SWT itu dengan 51 tips yang dikeluarkan TIME atau KTT Iklim di Bali Desember 2007 lalu yang kabarnya sangat alot itu?

Jauh sebelum para ilmuwan menganjurkan hidup sederhana sebagai cara mengurangi global warming, Rasulullah SAW dan para salafus shaleh telah mengenalkan hidup sederhana, meski sesungguhnya beliau adalah orang-orang yang kaya. Hidup sederhana, sabar, dan tawakal adalah bagian inti dari ajaran Islam.
Faktanya, ketidaktaatan kita terhadap pola hidup sederhana yang diajarkan Nabi SAW itu justru berakibat pada memanasnya bumi (global warming). Jelas, cara konsumsi kita yang berlebih-lebihan menjadikan pabrik-pabrik kian besar berproduksi. Dari aktivitas pabrik –yang banyak menggunakan pemakaian listrik— itulah ternyata penyebab bumi kita makin tidak stabil. Siapa sangka, jika anjuran Nabi SAW dan agama kita (Islam) itu ada hubungannya dengan energi dan pemanasan global?

Jangankan soal lingkungan, bahkan dengan setetes air saja, Islam begitu sangat menghargainya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik disebutkan, “Rasulullah biasa berwudhu dengan satu mud dan mandi dengan satu sha’ (empat mud) sampai lima mud.” (Muttafaqun ‘alaih).

Satu mud air diperkirakan kurang lebih seukuran dua telapak tangan orang dewasa. Itulah cara Rasulullah SAW menghemat penggunaan air.

Mungkin andai bumi ini tak menunjukkan tanda-tanda ‘marahnya”, orang pasti menyebut Nabi SAW sebagai orang pelit. Justru siapa sangka, berhemat air belakangan diketahui bisa mencegah pemanasan bumi?
Karenanya, isu global warning yang kini mencemaskan dunia itu, jangan sampai menjadi sekadar “gombal” warning, alias hanya menjadi peringatan yang sia-sia. Wallahu ‘lam bishowab. SUARA HIDAYATULLAH, JANUARI 2008

*) Penulis guru jurnalistik dan ibu rumah tangga.

1 Comment »

  1. avatar comment-top

    ward@dystopian.habla” rel=”nofollow”>.…

    ñïàñèáî çà èíôó!!…

    comment-bottom

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment