Septi Peni Wulandari:  Dengan Jari Mengubah Segalanya

Septi Peni Wulandari: Dengan Jari Mengubah Segalanya

FOTO: bookoopedia.com

Menjadi ibu rumah tangga membuatnya kian profesional, kratif, dan dekat dengan anak. Septi Peni Wulandari telah membuktikannya.

Kesempatan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dibuang Septi Peni Wulandari (34) begitu saja. Ia justru memilih pekerjaan mulia: ibu rumah tangga. Sebuah keputusan yang awalnya ditentang teman, saudara dan orangtuanya. Siapa sangka, keputusan itulah yang kini malah memberikan segalanya.

Bermula dari kebingungannya mengajarkan Matematika pada putri sulungnya. Ia sudah mencoba memasukkan putrinya itu ke sebuah lembaga kursus. Tapi wanita kelahiran Salatiga, Jawa Tengah ini tak puas. Menurutnya, metode itu terlalu bergantung kepada alat peraga. Di rumah, Septi lalu mengotak-atik jari-jari tangannya. Ia coba memindahkan alat sempoa ke jari-jari tangan. Dari sinilah sarjana Kesehatan Masyarakat dari Universitas Diponegoro Semarang ini “menemukan” jarimatika, kependekan dari jari dan matematika.
Yang menjadi kelinci percobaan tentu anaknya sendiri. Hasilnya, “Daya tangkapnya meningkat pesat,” kata ibu tiga anak buah perkawinannya dengan Wahyudi Maryanto, sarjana Teknik Fisika ITB itu. Lebih penting lagi, anaknya jadi lebih menyukai pelajaran yang kerap menjadi momok para siswa itu.

Septi terus menularkan ilmunya kepada tetangga kanan-kirinya, lalu teman-teman majelis taklimnya. Wanita yang pernah dikeluarkan dari sekolah gara-gara berjilbab ini, diminta tampil di berbagai seminar dan pelatihan. Apalagi media massa berhasil mencium prestasinya, maka nama Septi kian melambung. Jarimatika, yang telah menjelma menjadi perusahaan, dengan sistem waralaba, telah hadir di sekitar 70 kota.

Seperti apakah sosok wanita peraih penghargaan Danamon Award ini? Wartawan Suara Hidayatullah, Bambang Subagyo menemui wanita yang pernah terpilih sebagai ibu teladan versi majalah Ummi di rumahnya di Salatiga. Berikut petikannya.

Anda pernah diterima sebagai PNS. Mengapa kemudian memutuskan menjadi ibu rumah tangga saja?
Saya ingin sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Allah telah menyediakan keluarga sebagai lahan ibadah utama wanita. Saya ingin total di situ, saya ingin profesioal.

Keputusan itu murni dari Anda atau atas permintaan suami?
Suami memang ingin saya sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Dia ingin anak-anaknya langsung dididik ibunya, bukan orang lain. Misalnya pembantu. Suami bilang, bersungguh-sungguhlah kamu di rumah, maka bila keluar, kamu akan membawa kesungguhan itu. Jalani itu dengan ikhlas. Kelolalah keluarga ini dengan sungguh-sungguh. Kalau kamu sudah bisa mengelola keluarga dengan baik, maka bila kamu keluar akan membawa kebaikan pula.

Septi menganggap rumah sebagai kantor dan perusahaannya. Saat bekerja, ia juga berpakaian kerja layaknya pegawai kantoran. Temannya pernah menganggap gila terhadap kelakuannya itu. Ia juga mencetak kartu nama: SEPTI PENI WALANDARI, Ibu Rumah Tangga Profesional.

Ia menetapkan jam kerjanya mulai pukul 7 sampai 16. Bila pada jam-jam itu tetangganya datang mengajak ngrumpi, ia tolak. Ia bilang “Saya lagi bekerja”.

Bukankah karir dan mengurus rumah tangga bisa berjalan beriringan karir?
Bisa saja. Tapi pasti ada yang merasa terkorbankan, entah itu pekerjaannya atau anak-anaknya. Bila pekerjaan yang terkorbankan, itu berarti telah bertindak zalim. Apalagi jika anak-anak, risikonya lebih besar lagi.

Saya yakin, hingga anak-anak usia 12 tahun, itu masa-masa booming mother. Masa dimana anak-anak punya ikatan batin yang kuat dengan ibunya. Usia di atas 12 tahun, biasanya anak-anak sudah larut dengan teman-temannya. Mereka sudah punya lingkungan dan dunia sendiri.

Masa booming mother itu tak bisa diulang kembali. Saya tak ingin kehilangan masa itu. Tapi bekerja di luar, itu bisa kapan saja.

Orang bilang, kalau hanya menjadi ibu rumah tangga, ngapain mesti sekolah tinggi-tinggi?
Saya juga mendengar itu dari teman, saudara bahkan orangtua sendiri. Menurut saya, menjadi ibu itu memang harus pintar, bahkan sekelas professor. Bila ibunya pintar, ia bisa mendidik anaknya dengan lebih baik. Salah kaprah seorang ibu tidak perlu pendidikan yang tinggi. Saya salut di Jepang, di sana ada pendidikan ibu rumah tangga hingga setingkat S3.

Jadi, tugas utama ibu di rumah?
Ya. Rumah tangganya harus benar dulu. Bila sukses di dalam keluarga, baru ia boleh membagi kesuksesannya itu untuk orang lain.

Apa pandangan Anda tentang wanita karir?
Silakan menjadi wanita karir, asal proporsional. Tidak timpang. Yang harus jadi timbangan ketika seorang ibu keluar rumah, memberi kebaikan lebih banyak kepada anak-anak apa tidak. Bila ya, berarti keluarnya itu
bagus. Bila tidak, tentu tanda tanya besar: untuk apa keluar rumah?
Jadi, menjadi wanita karir tidak harus ke luar rumah. Buat saya, wanita karir adalah seorang ibu yang mandiri secara finansial tanpa meninggalkan anak-anak di rumah.

Mandiri secara finasial itu penting ya?
Ya. Jika terjadi sesuatu pada suami, kita masih punya pegangan. Tentu kita tak ingin sesuatu itu menimpa suami, tapi kita tak tahu apa yang akan terjadi.

Lalu dimana peran suami?
Suami tetap imam saya. Untuk nafkah anak-anak dan saya sebagai istri, saya tetap minta kepada suami. Dalam hal itu, saya tergantung kepada suami. Penghasilan saya untuk cadangan, misalnya dalam keadaan kepepet. Atau digunakan untuk hal lain yang sifatnya pengembangan.

Kabarnya semua anak Anda homeschoolling (sekolah di rumah -red). Apa pertimbangannya?
Itu juga atas kemauan anak-anak. Mereka lebih enjoy belajar dengan ibunya. Faktor kedua, sekolah kita umumnya terlalu berorientasi pada angka dan tidak mengajarkan kehidupan. Padahal di dalam hidup ini tak cuma mengejar angka-angka. Itu yang tidak pas buat saya. Anak-anak kita di sekolah hanya disuruh duduk manis dan belajar. Mereka tidak tahu apa yang harus diraih di dalam hidup.

Di dalam homeschooling, kelebihan dan keinginan anak menjadi dasar pendidikan. Misalnya, kelebihan dan keinginannya di matematika, itulah yang diperkuat. Ilmu-ilmu lain hanya melengkapi.

Ini kilas balik, siapa figur yang mempengaruhi Anda menjadi pribadi seperti sekarang?
Yang utama ibu saya. Dia pribadi yang tangguh, mendidik keempat anaknya sendirian. Ayah meninggal sejak saya kelas dua SD. Ibu bilang, hidup ini harus tegar, tangguh, dan bisa berbagi. Ketika berbagi, kita bakal mendapat lebih banyak lagi.

Dalam perjalanan hidup Anda, adakah pengalaman rohani yang itu menjadi titik balik kehidupan Anda hingga seperti sekarang?
Ada. Tahun 2005 tiba-tiba suami menyuruh saya pulang ke Selatiga mengurus mertua yang sakit (sebelumnya Septi tinggal di Jakarta mengikuti suaminya). Saat itu terasa berat sekali. Saya sudah membangun Jarimatika susah payah selama sepuluh tahun lebih, kok mendadak disuruh berhenti. Saya merasa Jarimatika sudah selesai. Saya hampir berontak.

Seorang sahabat kemudian memberi nasehat, “Uruslah Allah, Nabi dan orangtuamu, maka duniamu akan diurus Allah. Benar saja, saat itulah Jarimatika justru berkembang pesat.* SUARA HIDAYATULLAH MARET 2008

Boks:
Musriyati, ibunda Septi:
Segeralah Naik Haji

Menjadi PNS, itu berarti menjamin kemapanan secara ekonomi. Itulah yang membuat saya kecewa, saat Septi melepaskan PNS-nya. Mungkin, karena kurang wawasan sehingga saya tidak melihat ada “dunia lain”.
Pesan saya pada Septi, tingkatkan kedekatan diri pada Allah dan segeralah tunaikan haji, mumpung ada kemampuan.*

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment