Bisnis Kue Bika Ambon Medan – Mengecap Laba dari Kue Bika

Bisnis Kue Bika Ambon Medan – Mengecap Laba dari Kue Bika

FOTO: omauliferonica.blogspot

Pilihan alternatif bagi konsumen Muslim. Mampu menjual ribuan kotak per hari. Omzetnya mencapai puluhan juta rupiah, dan banyak menyerap tenaga kerja. Sebuah peluang usaha yang menguntungkan. Mau coba bisnis ini?

Semula, bika ambon merupakan makanan tradisional orang China di Medan. Namun karena kelezatannya, membuat kue ini disukai oleh masyarakat umum dan melambung sebagai komoditi bisnis.

Sejak 20-an tahun lalu, Jalan Mojopahit, Medan Sumatera Utara (Sumut) terkenal sebagai sentra penjualan kue manis berwarna kuning khas Melayu Medan ini. Puluhan produsen bika ambon membuka usahanya di daerah ini.
Salah satu produsen bika ambon tersebut adalah Mariani. Meski termasuk ‘pemain’ baru, tetapi ia sudah mengecap manisnya laba kue bika ambon. Mariani adalah pengusaha yang berhasil memanfaatkan peluang bisnis bika ambon di daerah asalnya, Medan, Sumut. Ia sudah lima tahun menekuni bisnis kue bika ambon. Kini, kue bika ambon buatan Mariani yang bermerek “Zulaikha” sudah terkenal di seantero Medan.
“Dulu orang kalau mau cari bika ambon, nama yang disebut adalah ATI atau Acay. Tapi sekarang yang favorit adalah Zulaikha, milik Hajjah Mariani,” ujar Muslih, salah seorang warga Medan.

Sejak munculnya pada tahun 2003, bika ambon Zulaikha memang cukup fenomenal. Bukan hanya karena mengutamakan kehalalan bahan baku dan kelezatannya, tapi variasi rasanya juga unggul dibanding merek lainnya.
Kini, kue bika buatan Mariani sudah menjadi oleh-oleh “wajib” para wisatawan yang berkunjung ke kota Medan. Seperti yang pernah dialami sendiri oleh Mariani. Ia pernah kedatangan satu truk tentara pada pukul satu dini hari, mereka memborong semua kue bikanya. Para tentara yang akan pulang ke Pekan Baru tersebut merasa berat hati jika pulang tanpa membawa kue bika ambon Zulaikha sebagai oleh-olehnya.
Mengisi Waktu Luang

Awalnya, Mariani sudah berencana akan merintis usaha membuat kue bika sejak sebelum pensiun dari tempat kerjanya sebagai asisten apoteker. Mariani yang sudah terbiasa bekerja itu ingin mengisi masa pensiunnya dengan kesibukan yang bermanfaat.

“Saya sudah biasa bekerja dan ingin waktu saya bermanfaat. Jadi saya tidak mau menganggur,” ujar Mariani, ibu empat orang anak kepada Suara Hidayatullah.

Selain itu, motivasi Mariani membuka usaha kue bika karena miris melihat banyak orang Islam yang setiap tiba hari raya antre berjubel membeli kue bika ambon di toko milik non-Muslim.

Untuk itu, kata Mariani, sebelum memilih usaha membuat kue bika ambon ia sudah sering mengikuti les-les membuat berbagai macam kue. Namun pilihannya jatuh pada kue bika ambon. Menurutnya, usaha ini masih mempunyai prospek yang bagus.

Akhirnya, Mariani memulai usahanya dengan modal sekitar Rp 10 juta. Dengan modal itulah lalu ia mulai memproduksi dan menjual kue bikanya di gerai depan rumahnya di Jalan Mojopahit No. 62 Medan. Selain itu, ia juga sering berpromosi kepada teman-temannya sewaktu ia masih bekerja. Ternyata kue bika buatannya disukai konsumen.

Saat itu, banyak bank yang menawarkan pinjaman, namun Mariani tak pernah berminat. “Saya mau berdiri di atas kaki sendiri. Jadi nggak perlu minjam-minjam uang,” tegasnya.

Seiring dengan perputaran waktu, lama-lama usaha kue bika ambon Mariani semakin maju. Bahkan, kebanjiran pesanan. Tokonya dipadati pembeli setiap hari, dan kue bika Zulaikha pun selalu habis. Apalagi setiap menjelang hari raya, akhir pekan dan liburan konsumen akan antre mengekor di tokonya.

Menurut Ika Zulaikha, lonjakan terjadi sejak tiga hari sebelum hari raya hingga sepekan seseudahnya. “Seperti antri sembakolah,” kata Ika. Bahkan pembeli pun dijatah. Setiap orang hanya boleh membeli dua bika ambon dan satu lapis legit.

Harga kue bika ambon Zulaikha bervariasi dan cukup terjangkau. Berkisar Rp 26 ribu hingga Rp 30 ribu per kotaknya. Untuk rasa original yang menjadi favorit pelanggan, dipatok Rp 26 ribu, sedang pandan keju Rp 30 ribu rupiah.

Hingga saat ini, Mariani mengaku usahanya belum pernah merugi. Bahkan, penjualannya selalu meningkat. Pada tahun 2005, Mariani membuka toko keduanya, yang juga bertempat di Jalan Mojopahit. Toko ini dikelola oleh anaknya, Ika Zulaikha bersama suaminya.

Omzet
Berapa omzetnya per hari? Mariani enggan menyebutkan besaran omzetnya. Namun, kedua tokonya, masing-masing bisa menjual 1.000 kotak kue bika sehari, dengan harga Rp 26 ribu hingga Rp 30 ribu per kotak. Bahkan, pada saat hari libur atau hari besar bisa lebih 1.000 kotak. Itu belum termasuk kue lapis legit, manisan jambu, markisa, madu, kopi, dan lainnya yang dititipkan di tokonya.
Mariani meyakini bahwa hal ini sudah kehendak-Nya. “Jatuh-naik belum pernah, malahan naik terus. Alhamdulillah,” ungkapnya.

Kerja keras Mariani membuahkan hasil. Ia mengaku tidak pernah menyangka usahanya bakal maju sepesat ini. “Saya nggak nyangka akan begini jadinya. Tapi memang rezeki mau datang sama kita, syukur alhamdulillah,” ujar Mariani yang memang hobi membuat kue ini.

Meski di antara produsen bika ambon di Medan sudah ada yang membuka cabang di kota lain, tetapi Mariani tidak mau dan tidak akan membuka cabang di luar kota Medan. “Karena ini adalah oleh-oleh khas Medan,” ujarnya.

Servis untuk Konsumen

Menurut Mariani, agar menarik perhatian pembeli, ia mengemas bika ambonnya dalam dus yang didesain secara menarik dan rapi, sehingga mudah dibawa dalam perjalanan. Ia pun selalu memberikan pelayanan yang baik kepada konsumennya.

Untuk memanjakan konsumen, istri dari suami Ismet Fuad Rangkuti ini pun gemar membuat terobosan. Seperti menghadirkan variasi rasa baru yang belum pernah ada sebelumnya. “Selain bika rasa original dan pandan, kami juga membuat bika rasa keju, pandan keju, coklat, mocca, durian, dan durian keju,” ujar Ika Zulaikha.

Apa keunggulan kue bika ambon Zulaikha dibanding dengan yang lain? Pertama, halal. Keunggulan lainnya kuenya selalu baru, lembut dan tidak keras. Menurut Mariani, meski bahan bakunya sama dengan kue bika merek lain, tapi rasanya beda. “Ada resep khusus agar orang tidak merasa enek saat makan kue bika buatan saya,” aku Mariani.

Air nira yang digunakan dalam kue bika Zulaikha, kata Mariani adalah air nira kelapa yang baru diambil dari pohon. Aman dan halal karena tidak memabukkan. Setiap hari, Mariani mengaku bisa menghabiskan 200 liter air nira yang dikirim dari kawasan-kawasan pesisir kota Medan. Selain itu, bahan-bahan seperti ketan, gula, dan lainnya, selalu menggunakan produk-produk yang sudah mendapatkan sertifikat halal. Tak heran, bika ambon Zulaikha pun sudah memiliki sertifikat halal dari LPPOM MUI.

Sadar akan berlimpahnya rezeki yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT), Mariani pun senantiasa menunaikan kewajiban zakat dan sedekahnya. Untuk itu, ia rajin menyumbang untuk masjid dan kegiatan dakwah di Kabupaten Karo. Juga para karyawan yang masih bujang diberi fasilitas tempat tinggal dan selalu mendapat pembinaan.

Yang unik, jika tukang becak mengantar pembelinya belanja di tokonya maka diberi beberapa potong kue bika.

“Pokoknya kenyang lah. Kadang-kadang dikasih pula air minum kemasan,” ujar pengemudi becak yang mengantar Suara Hidayatullah ke toko Bika Ambon Zulaikha.* Surya Fachrizal, Dadang Kusmayadi/Suara Hidayatullah JUNI 2008

2 Comments »

  1. avatar
    kue lapis keju Says:
    December 27th, 2012 at 12:08 am
    comment-top

    kue lapis keju…

    Majalah Suara Hidayatullah » Blog Archive » Bisnis Kue Bika Ambon Medan – Mengecap Laba dari Kue Bika…

    comment-bottom
  2. avatar
    Recommended Internet page Says:
    January 7th, 2013 at 8:41 am
    comment-top

    Recommended Internet page…

    Majalah Suara Hidayatullah » Blog Archive » Bisnis Kue Bika Ambon Medan – Mengecap Laba dari Kue Bika…

    comment-bottom

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment