Pdt. Abraham Alex Tanusaputra:  “Kami Menabur Lagi di Beberapa Tempat”

Pdt. Abraham Alex Tanusaputra: “Kami Menabur Lagi di Beberapa Tempat”

FOTO: matengkol.multiply.com

“Sekarang, Tuhan memercayakan kepada saya untuk membangun Menara Doa Jakarta,” demikian ucap Pendeta Abraham Alex Tanusaputra dengan berbinar-binar. Minggu, 13 Juli 2008, Presiden Komisaris PT Prasada Japa Pamudja ini melaporkan perkembangan mega proyeknya, Menara Jakarta.

PT Prasada Japa Pamudja (PJP) adalah nama pengembang yang dipercaya untuk membangun Menara Jakarta. Proyek yang terletak di Kemayoran, Jakarta ini didanai trio pengusaha besar: Sudwikatmono, Prajogo Pangestu, dan Henry Pribadi melalui PT Indocitra Graha Bawana.

Pembangunan proyek ini diawali pada pertengahan tahun 90-an. Kabarnya, Soerjadi Soedirdja, Gubernur DKI Jakarta waktu itu sudah memberi ijin. Bahkan juga diamini Mensesneg (waktu itu) Moerdiono dan Presiden Soeharto.
Pada l998, proyek ambisius ini sempat terhenti, karena krisis moneter dan isu SARA. Kini, hampir 10 tahun lebih, pembangunannya menggeliat lagi. Bahkan yang menarik, namanya yang semula Menara Jakarta, kini berubah menjadi “Menara Doa Jakarta”.

Dengan luas 306.810 meter persegi, Menara Doa Jakarta akan memiliki sejumlah fasilitas. Tempat parkir seluas 144.000 meter persegi dan odium setinggi 17 lantai. Bangunan ini juga dilengkapi lift menuju puncak menara dan restoran berputar. Selain itu, ada ruang konferensi yang menampung 10 ribu orang, pusat pameran, hotel, pusat pendidikan, pelatihan dan penelitian serta ruang-ruang perkantoran.
Yang tak kalah penting, gedung ini diharapkan bisa menjadi pusat pemancar seluruh stasiun TV dan radio di Indonesia.

Sekedar membandingkan, menara tertinggi di dunia sekarang, Toronto Tower di Kanada memiliki ketinggian 553 meter. Sedangkan Tugu Monas Jakarta tingginya “hanya” 117 meter. Jika pembangunannya jadi, maka Menara Jakarta lebih tinggi 5 meter dari Toronto Tower atau sekitar 558 meter.

Perihal penambahan nama “Doa”, pendeta Alex, panggilan Abraham Alex Tanusaputra, dalam Warta Plus Bethany, mengatakan, “Karena visi itu yang Tuhan Yesus berikan untuk proyek ini.”

Alex adalah Ketua Umum Sinode Gereja Bethany Indonesia. Dia dikenal sebagai pendeta yang sukses mengembangkan gereja Bethany di seluruh Indonesia. Menurut situs resmi www.bethanygraha.org, sampai tahun 2007 saja, Alex telah mendirikan hampir 1000 gereja yang tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri.
Kakek Miss Indonesia 2008, Sandra Angelia ini pada tahun 2000 sukses menyelesaikan pembangunan Graha Bethany di Jalan Nginden Surabaya. Gereja yang mampu menampung 20.000 jemaat ini, oleh koran The Jakarta Post disebut gereja paling besar di Asia Tenggara.

Memulai karir pendeta dengan hanya berbekal 7 jemaat, kini jemaatnya berkembang mencapai 70 ribu orang. Alex tak mau berhenti. Ia berharap bisa terus “menuai”. Ke manapun, ia mengadakan seminar dan pertemuan bertema Pelipatgandaan Gereja Internasional (SPGI).

“Tahun 1980-1987 kami menabur lagi, dan dari taburan itu selama 7 tahun akhirnya terbangun gereja-gereja di seluruh Indonesia. Hampir 1000 gereja yang terbagi dalam tiga wilayah, yaitu wilayah Timur, Tengah dan Barat. Tahun 1990-1997, kami menabur lagi sampai tahun 2000, sehingga pembangunan Gereja Ngiden dapat diselesaikan. Tahun 2000-2007 kami menabur lagi di beberapa tempat baik di Surabaya, maupun di Jakarta,” ujar Alex sebagaimana dikutip Renungan “Bethany”, Maret 2008.

Dengan semboyan “Cross, Crown, and Glory” (Salib, Mahkota, dan Kemuliaan), ia berharap bisa membawa jemaat Tuhan untuk “menyalibkan” manusia dan dapat terus meluaskan pelayanan Tuhan ke seluruh penjuru dunia.

Kepada media United World yang berkantor pusat di Massachusetts, Washington, Alex bercerita terang-terangan seputar pembangunan Menara Doa Jakarta. United World sering menjadi acuan penayangan CNBC.
Wawancara ini sudah berlangsung lama, tepatnya 20 Desember 2004. Namun untuk kepentingan pembaca, wawancara kami sadur ulang. Inilah petikannya.

Anda terbilang sangat berkarisma di negara Anda (Indonesia). Kami tahu bahwa tahun 1977 Anda memelopori program persahabatan di rumah Anda, yang kemudian berkembang di Gereja Bethany Indonesia (GBI). Tolong ceritakan!

Gereja kami mempunyai sekitar 800 cabang (tahun 2007, Gereja Bethany sudah berkembang lebih 1000 gereja, red), di antaranya 40 di luar negeri. Saya hanya mau mentaati perintah Tuhan. Saya hanyalah pelayan Tuhan. Saya bukan apa-apa. Tuhan menyediakan semua keperluan kami, termasuk ijin dari orang-orang yang pernah mencela kami karena kesalahpahaman mereka.

Saya memulai tugas di sebuah gereja kecil hanya dengan 300 jemaat pada 1995. Lalu saya bergerak dan kini jemaat saya sudah bertambah besar. Saya melakukannya setapak demi setapak. Saya menyumbangkan pikiran di Geraja Bethany, sampai proyek yang akan memberikan persatuan kepada Indonesia, yakni Menara Jakarta.

Kota-kota besar di dunia sering diingat karena punya bangunan sebagai ikon. Malaysia mempunyai menara Petronas yang terletak di Kuala Lumpur. Demikian pula Vatikan di Roma. Bagaimana dengan Indonesia?
Ya, karena itulah (Indonesia) harus memiliki sesuatu. Itulah mengapa PJP membangun Menara Jakarta, yang akan menjadi menara paling tinggi di dunia. PJP menyediakan contoh jelas: bagaimana organisasi agama bisa bekerja bersama dengan pemerintah dan organisasi pribadi dalam membantu kesejahteraan Indonesia.

Bagaimana sikap pemerintah Indonesia dan anggota dewan?
Parlemen sudah datang untuk melihat konstruksi bangunan. Mereka mendukung proyek ini. Pemerintah juga mendukung kami. Semua entitas dan para mitra dalam penyiaran media dan pedagang eceran boleh bergabung dengan kami.

Sebenarnya apa tujuan proyek yang besar ini?
Menara ditujukan untuk melayani berbagai tujuan. Pertama-tama, akan menjadi ikon untuk bangsa Indonesia agar dunia bisa mengenali negara ini. Kedua, akan berperan menuju transisi dari negeri kami ke dalam era digital di masa yang akan datang.

Tegasnya, sebenarnya apa tujuan semua itu?
Di atas semua, tujuan utama pembangunan menara untuk menyediakan pekerjaan, menjalankan program pendidikan dan agama bagi 200 juta orang Indonesia. Oleh karena itu, meskipun kami memulai dengan dana patungan dari para jemaat kami, Tuhan telah menolong dengan mendatangkan investor dan donasi. Meskipun sebagian besar orang Kristen yang membangun, menara ini untuk semua orang Indonesia, bukan hanya untuk satu warna atau latar belakang religius. Begitu menara diselesaikan, itu akan bermanfaat bagi semua orang Indonesia.

Sebagian menganggap menara ini sebagai misi gereja?
Kita mempunyai keluarga Bethany, tetapi menara itu akan terbuka bagi setiap orang. Ia akan jadi simbol untuk bangsa Indonesia (the Tower of the unity!) * Cholis Akbar/Suara Hidayatullah AGUSTUS 2008

1 Comment »

  1. avatar comment-top

    medicines@venison.majored” rel=”nofollow”>.…

    thank you!!…

    comment-bottom

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment