Deadline Vaksin Haram

Deadline Vaksin Haram

FOTO: klikdokter.com

Kabar baik. Menteri Kesehatan, Dr Siti Fadilah Supari menjamin kehalalan vaksin yang beredar di Indonesia.

“Masyarakat tidak perlu khawatir. Saya jamin kehalalan vaksin yang beredar di Indonesia karena dibuat oleh pabrik farmasi dalam negeri, Bio Farma, ” ujar Menkes, seperti dikutip situs eramuslim.com, 4 Mei 08 lalu.

Benarkah kabar ini? Padahal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum merevisi fatwanya tentang vaksin polio khusus (IPV) – yang dijadikan rujukan untuk semua vaksin – yang dikeluarkan pada 08 Oktober 2002 lalu.

MUI tetap memandang haram, vaksin yang dalam pembuatannya bersinggungan dengan enzim tripsin babi, dibiakkan dalam jaringan ginjal kera, dan bahan haram lainnya. Dalam putusannya, MUI hanya menyatakan boleh untuk vaksin polio dengan alasan darurat. Tidak untuk vaksin lainnya.

Padahal, menurut Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI, Dr Nadratuzzaman Hosen, status darurat tersebut seharusnya berakhir tahun 2008 ini.

Namun, Nadra mengatakan, hingga kini usaha PT Bio Farma selaku produsen tunggal vaksin di Indonesia belum menghasilkan apa-apa. Demikian dikatakannya kepada Suara Hidayatullah di sela-sela Pameran Halal Internasional di Jakarta, awal bulan Juli lalu.

Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin membenarkan hal tersebut. Katanya, MUI telah memberi target agar pada 2008, Bio Farma sudah bisa menghasilkan vaksin yang bebas dari bahan haram, seperti enzim tripsin babi. “Namun hal tersebut tidak tertulis dan bukan harga mati. Selama belum ditemukan, fatwa tersebut masih berlaku,” jelas KH Ma’ruf.

Sejak bulan Juni lalu, Suara Hidayatullah telah berusaha melakukan konfrmasi ke pihak PT Bio Farma di Bandung, Jawa Barat. Surat permohonan wawancara juga sudah dilayangkan. Namun jawaban salah satu staf Bio Farma, Teddy, selalu sama, “Surat sudah di direksi, (tapi) belum ada jawaban. Telepon lagi.”

Tak hanya Suara Hidayatullah yang sulit untuk wawancara. Seorang wartawan harian Pikiran Rakyat yang ditemui Suara Hidayatullah mengatakan, sudah sejak tiga bulan lalu ia mengajukan permohonan wawancara untuk kasus serupa. Namun masih nihil.

Untuk masuk ke dalam lingkungan Bio Farma pun terbilang cukup ketat. Selain pemeriksaan diri dan identitas, keperluan dan tujuan, pihak keamanan juga mengharuskan tamu meminta tandatangan staf Bio Farma yang ditemuinya untuk ditunjukkan sebelum keluar. Jika terlupa, kita harus kembali menemui orang yang bersangkutan untuk minta tandatangan.

Pada Suara Hidayatullah edisi September 2007 lalu, Direktur Pemasaran PT Bio Farma, Sarimuddin Sulaeman mengatakan, Bio Farma sebenarnya telah mengusahakan pengganti tripsin babi sejak tahun 2006. Penelitian ini memakan waktu tiga tahun. Namun untuk sementara tripsin tersebut masih tetap digunakan.

Vaksin Halal, Tidak Sulit

Menurut Nadra, untuk menghasilkan vaksin halal sebenarnya tak sulit. Masalahnya, lanjutnya, lemahnya keinginan pemerintah terhadap masalah ini. “Buktinya, Malaysia saja sudah bisa menghasilkan vaksin halal,” katanya.

Enzim tripsin babi yang selama ini dipakai sebagai katalisator dalam pembuatan vaksin, kata Nadra, bisa dengan mudah diganti dengan tripsin sapi. Begitu pula dengan jaringan ginjal kera, ginjal babi, dan janin hasil aborsi bisa digantikan dengan bahan dari sapi.

Harga tripsin sapi memang sedikit lebih mahal dibanding tripsin babi. Wakil Presiden perusahaan produk bio asal China Al-Amin Biotech, Ayub Su mengatakan, harga tripsin sapi 3000 dollar AS per kilo gram. Sedang tripsin dari babi lima persen lebih murah. *Surya Fachrizal, Ngadiman/Suara Hidayatullah SEPTEMBER 2008

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment