Menelusuri Kota Yogyakarta yang terkenal dengan kota pelajar, serasa tidak lengkap sebelum menikmati suasana kampung Kauman Yogyakarta. Lokasinya yang sangat strategis karena berada di sebelah barat alun-alun utara Kraton Yogyakarta, sehingga mudah terjangkau, meskipun faktanya banyak orang yang melewatkan kunjungannya ke tempat ini.
Sepintas lalu, tidak ada yang istimewa dari kampung ini. Namun saat memasuki gerbang utama kampung yang mirip benteng itu, saya mulai disuguhi pemandangan yang berbeda dengan kampung pada umumnya. Masjid Gedhe Kauman merupakan bangunan pertama yang tampak sebelum memasuki kawasan rumah-rumah penduduk.
Maklum, dalam sejarah terbentuknya kampung ini, tidak dapat dilepaskan dari keberadaan masjid yang merupakan salah satu bagian dari konsep kota Islam di Jawa. Ada Kraton Yogyakarta, alun-alun, dan ada pula masjid yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.
Demi memakmurkan masjid inilah, Sultan Hamengkubuwono I lalu mengumpulkan ulama-ulama di sekitarnya untuk tinggal di sekitar masjid. Tidak saja ahli agama atau Ketib yang menetap di tempat tersebut, dan masing-masing mendirikan langgar yang berfungsi sebagai pesantren, namun Raja Yogyakarta saat itu juga menyiapkan abdi dalem yang berjumlah 40 orang untuk memakmurkan masjid.
Oleh karena yang tinggal di sekitar masjid ini merupakan orang-orang yang menegakkan agama Islam, maka masyarakat sekitar lalu menyebutnya sebagai qaaimuddin, yang diucapkan dengan lidah Jawa sebagai pakauman. Jadilah nama kampung ini lebih dikenal dengan istilah Kauman.
Penasaran dengan situasi di dalam kampung Kauman, saya pun beranjak menyusuri gang-gang sempit ke arah barat daerah tersebut. Lebar jalannya yang hanya sekitar dua meter membuat kendaraan roda empat tidak dapat masuk, sementara roda dua hanya bisa dituntun sebagaimana peraturan yang ditempelkan di depan gapura. Dan memang seluruh jalan yang ada di kampung Kauman hanya memiliki luas sekitar satu hingga dua meter.
Tepat di belakang Masjid Gedhe Kauman, terlihat tulisan makam pahlawan nasional, Nyai Ahmad Dahlan. Di sinilah istri pendiri Muhammadiyah itu dimakamkan. Tapi jangan salah sangka. Bila umumnya tokoh nasional dimakamkan bersama istri atau suaminya, namun KH Ahmad Dahlan justru dimakamkan di tempat lain, tidak bersama istri yang selama ini mendampinginya dalam mendakwahkan Islam.
Di ujung barat jalan kampung, ada sebuah bangunan tua berlantai dua yang baru saja direnovasi jelang perhelatan Muktamar Muhammadiyah Seabad di kota gudeg ini. Lantai bawah ruangan kosong, dan lantai atas didesain sebagai tempat shalat, dilengkapi dengan tempat pengimaman yang menghadap ke arah kiblat. Bangunan ini banyak dikenal sebagai Langgar KH Ahmad Dahlan atau Langgar Ketib Amin. Di tempat inilah KH Ahmad Dahlan mengajarkan Islam kepada masyarakat, yang lambat laun berkembang hingga akhirnya mendirikan Muhammadiyah, organisasi massa Islam terbesar kedua di Indonesia saat ini.
Perjuangan KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yang diawali di langgar ini bukanlah perjuangan yang mudah. Maklumlah, tradisi yang berkembang di kampung Kauman saat itu adalah tradisi Islam yang syarat dengan tahayul dan bid’ah. Hal tersebut ditambah oleh Ketib atau pemuka agama yang diangkat oleh Sultan Hamengkubuwono I memiliki tradisi yang sama.
Maka sepulang dari Makkah, KH Ahmad Dahlan yang telah hafal al-Qur`an pun mulai mengajarkan Islam yang jauh dari tahayul, bid’ah dan khurafat melalui langgarnya. Pendekatan persuasif pun di jalankannya. Dia mendatangi warga Kauman dari rumah ke rumah untuk menyampaikan ajaran Islam. Gayung pun akhirnya bersambut. Sebagian besar warga masyarakat mulai mengikuti paham tersebut. Bahkan dari delapan Ketib yang mendiami Kauman, hanya sebagian kecil yang menentang ajaran KH Ahmad Dahlan.
Pendiri Muhammadiyah ini sebenarnya sempat mengalami tekanan ketika dirinya menggulirkan upaya pembenaran arah kiblat. Maklum, saat itu kiblat diasumsikan menghadap ke barat. Akibat perubahan itu, sebagian tokoh masyarakat tidak terima, dan merobohkan langgar KH Ahmad Dahlan, meskipun kemudian masyarakat dan pemuka agama lambat laun menerima hal tersebut dan langgarnya dibangun kembali.
Perubahan besar pun terjadi di masyarakat pasca penyebaran ajaran Islam yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan ini. Di antaranya adalah tradisi belajar yang cukup kuat mengakar di kampung ini. Bahkan demi mengakomodir santri perempuan, KH Ahmad Dahlan mendirikan Langgar Wedhok yang berada tidak jauh dari tempat tersebut. Di tempat inilah para Muslimah menuntut ilmu secara maksimal. Saya yang mencoba mencari peninggalan bersejarah itu masih dapat menyaksikannya berdiri kokoh, meskipun fungsinya saat ini telah berubah menjadi tempat shalat untuk Muslimah, dan diberi nama Mushalla Aisyiah.
Adanya tradisi belajar di kampung ini di kemudian hari tidaklah sia-sia. Meskipun memiliki luas yang tidak seberapa, namun kampung ini telah melahirkan banyak professor, salah satu di antaranya adalah Prof Baroroh Baried, perempuan pertama di Indonesia yang meraih gelar tertinggi akademik tersebut. Para ulama pun banyak terlahir dari kampung ini, juga pejuang-pejuang kemerdekaan seperti Bung Tomo dan Panglima Besar Jenderal Soedirman yang kerap mengikuti pengajian di Kauman.
Pejuang Kemerdekaan
Kauman tidak hanya terkenal sebagai kampung santri, namun kampung yang memiliki luas 192 meter persegi ini ternyata juga menjadi markas perjuangan kemerdekaan Indonesia pada zaman revolusi fisik.
Saya menyusuri jejak sejarah itu melalui jalan kecil yang terletak di utara Masjid Gedhe Kauman. Tepat di depan balai Rukun Warga (RW) Kauman Darussalam berdiri sebuah monumen bertuliskan syahid fi sabilillah. Monumen ini didirikan untuk mengenang 24 nama yang meninggal saat berperang merebut kemerdekaan Republik Indonesia.
Hal tersebut nampaknya wajar, karena di zaman revolusi fisik ini, Masjid Gedhe Kauman kerap digunakan sebagai markas untuk mengatur strategi demi meraih kemerdekaan. Pejuang-pejuang Islam sangat berperan dalam hal ini, dengan terbentuknya Askar Perang Sabil (APS) di Kauman, yang dipimpin oleh Kyai Mahfud, dengan personil yang juga merupakan ulama-ulama dan pejuang Islam.
Kauman Kini
Suasana Kauman tempo dulu tidak lagi sama dengan kondisi saat ini. Meskipun pengajian masih rutin dilaksanakan di Masjid Kauman, dan suasana santri masih mendominasi kampung ini, namun sembilan langgar yang didirikan oleh Ketib-ketib tersebut sudah tidak sepenuhnya berjalan. Bahkan Ketib Amin milik KH Ahmad Dahlan, menurut salah seorang keluarganya, sudah lama tidak digunakan untuk pengajian. Pasca renovasi langgar yang dibantu oleh pemerintah Kota Yogyakarta ini, Pimpinan Pusat Muhammadiyah berencana akan menjadikannya Museum. *Masjidi/ Suara Hidayatullah JULI 2010
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL
January 12th, 2011 at 9:43 pm
Assalamualaikum
Saya ingin tahu lebih soal batu peresmian yang ada di depan masjid ini dipasang?
Dari foto2 yang saya cari di internet sepertinya tahun 2009 batu ini belum ada.
juga mengenai gambar di gapura yang diganti menjadi jam. Sejak kapan ada jam ini?
trims
Wassalamualaikum.