Elly Risman Musa SPsi, Psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati “Indonesia Berada di Jurang Kehancuran”

Elly Risman Musa SPsi, Psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati “Indonesia Berada di Jurang Kehancuran”

FOTO: MEDICASTORE

Belum lama ini bangsa Indonesia dikejutkan dengan video porno pasangan artis terkenal. Tokoh agama, masyarakat, bahkan pemerintah ikut marah. Apalagi video tersebut itu mudah dikopi dari tangan ke tangan melalui handphone (HP) anak-anak SD hingga SMU.

Tapi, yang tak kalah mengejutkan, temuan terbaru Yayasan Kita dan Buah Hati belum lama ini menunjukkan, sekitar 67 persen dari 2.818 siswa SD kelas 4-6 sudah pernah mengakses pornografi. Astaghfirullah…
Menurut temuan itu, rata-rata anak usia belia mengakses lewat media yang ada di sekitarnya, seperti komik, internet, game, film/TV, majalah, koran dan handphone.

Lebih parah lagi, banyak orangtua memberi fasilitas HP –bahkan HP berkamera— kepada anak-anaknya, sementara para orangtua tidak aware akan bahaya pornografi bagi anak.
“Padahal, efeknya dapat merusak otak dan otomatis menghancurkan masa depan mereka,” ujar Elly. Apa maksudnya? Berikut petikan wawancara majalah Suara Hidayatullah dengan Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman Musa, Spsi.

Penelitian Yayasan Anda, sekitar 67 persen anak SD pernah mengakses pornografi, kenapa hal itu bisa terjadi?
Ya, karena orangtua lalai dan menganggap bahwa pornografi tidak bahaya. Orangtua menaruh anaknya di depan TV atau membaca komik, padahal besar kemungkinan terekspos pada pornografi.

Sejauhmana bahaya pornografi di TV dan media lain?
Parah sekali kemungkinannya. Seperti sinetron anak dan remaja di TV banyak adegan ciuman. Begitu juga film kartun, banyak mengekspos pornografi. Contoh saja, kartun Popeye dan belum lagi lainnya yang lebih parah. Terkait dari itu, hasil penelitian di Amerika Serikat, jika anak dikatakan terekspos pornografi, misalnya, yakni jika pergi ke toko pakaian atau mall kemudian ada orang yang menggambarkan memakai bikini, itu sudah menyalakan lampu pornografi di otak anak umur lima tahun.

Apa efek anak mengakses pornografi bagi masa depannya?
Sebetulnya anak belum bisa membedakan bahaya atau tidak. Jadi, belum bisa mengambil keputusan begitu, juga dia belum bisa membuat perencanaan ke depan akan jadi apa. Dia juga belum bisa mengontrol emosinya. Karena di usia itu, dengan pendidikan dan pelatihan yang baik baru berkembang di atas usia 15 tahun.
Anak yang kena pornografi, perasaannya akan kacau balau. Orangtua pun nggak mengerti jika anaknya tiba-tiba suka marah-marah dan uring-uringan. Setidaknya prosesnya begitu. Ada hormon-hormon kenikmatan yang keluar dan berbagai hormon lainnya berlebihan mengeluarkannya, karena si anak harus berkonsentrasi merasakan kenikmatan yang dirasakannya. Maka, dengan sendirinya otak anak akan menciut. Kalau sudah begitu, apa lagi yang bisa diharapkan anak dari masa depannya. Sifat kemanusiaanya rusak dan bisa-bisa perilakunya berubah jadi seperti binatang.

Jika anak teradiksi pornografi, apa solusi yang harus dilakukan?
Ada empat langkah yang bisa dilakukan untuk menormalkan otak anak. Pertama, anak itu sadar jika dia kena adiksi (kecanduan). Kedua, dia mau keluar dari kecanduan itu dan harus ada dukungan keluarga. Ketiga, harus ada terapi. Keempat, harus hadirkan Allah di dalam dirinya. Sebab, baik anak maupun orang dewasa yang kecanduan pornografi otomatis telah melanggar perintah Allah. Allah mengatakan tahan pandanganmu dan jaga kemaluanmu. Tetapi, justru dilanggar dan tidak mau menahan pandangan. Islam harus diambil seluruhnya, tidak boleh setengah-setengah. Jadi, bila melakukan zina mata dalam keadaan yang luar biasa, maka Allah akan melebihkan hormon-hormon di otak sehingga dia banjir dan over produksi dari hormon tersebut. Dan, itu mudah sekali bagi Allah.

Apa solusinya agar anak tidak lagi mengakses pornografi?
Orangtua harus mengarahkan dan membantu keluar. Hal itu tidak bisa dilakukan dengan cara marah-marah. Tapi harus sabar dan mencarikan terapi serta mengembalikan Allah kepada diri si anak. Untuk mengobatinya, nggak bisa kalau bukan dengan cara seperti ini. Sebenarnya hal itu harus diberikan kepada anak sebelum terkena pornografi. Caranya, agama kita ajarkan dan pahamkan kepada anak dengan sebaik-baiknya.
Kita arahkan kepada anak bahwa teknologi penting, tapi anak harus tahu manfaat dan mudharat-nya. Anak harus bisa memelihara pandangan. Anak harus tahu hukuman dan akibat dari membuka hal tersebut. Jadi, harus melakukan sebelum anak kecanduan, sebab, jika sudah kena, maka susah sekali. Seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Apa tanggapan kejadian video porno artis yang marak itu?
Saya sangat prihatin, karena untuk teroris saja yang mematikan sekian orang, ada Densus 88. Narkoba yang merusak otak, ada Badan Narkotika Nasional. Sedang untuk pornografi yang merusak lima bagian otak sudah merata di seluruh Indonesia tidak ada tindakan apa-apa. Hanya mengharapkan orangtua yang tidak memiliki basik apa-apa menjadi Densus 88 bagi anak kandungnya sendiri.

Bagaimana dengan UU Pornografi, apakah sudah efektif?
Jika UU Pornografi sudah dipahami masyarakat luas, maka tidak terjadi keributan kasus video porno mirip artis itu. Sebab, apabila seseorang mengedarkan ke orang lain, maka akan kena hukum. Anak remaja sebenarnya sudah kena hukumanya. Teman saya, ketua AWARI (asosiasi warung internet Indonesia—Red) mengatakan, setelah mereka lacak penyebaran video porno, ternyata penyebarannya lebih banyak dari rumah, kantor, dan dari tangan orang ketimbang lewat warnet. Jadi, betapa bahayanya pornografi itu di tangan anak.

Dengan fenomena pornografi yang mengkhawatirkan seperti sekarang, kira-kira wajah bangsa ini ke depan seperti apa?
Human Development Index (HDI) Indonesia sekarang berada di nomor 100 sekian. Saya kira, dengan kasus ini, HDI kita bisa ambruk lebih parah lagi. Malu lah kita sebagai negara yang penduduknya mayoritas Islam terbesar di dunia, masalah video porno ini begitu meluasnya. Mau ditaruh di mana muka ini. Sampai sekarang Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum mengeluarkan pernyataan. Departemen Agama juga seakan menganggap enteng. Seolah ini masalah Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) saja. Jadi, kita sebagai bangsa kehilangan perhatian. Padahal, ini juga milik Depag, MUI, Dewan Gereja Indonesia, Hindu Darma, Budha, dan semua elemen. Ini kan lepas dari suku bangsa dan agama. Karena pornografi, Indonesia berada di jurang kehancuran.

Apa saran Anda untuk pemerintah?
Pemerintah seharusnya tidak hanya punya konsen tapi juga komitmen. Jangan hitung berapa uang yang dibutuhkan, sebab ini menyangkut masa depan bangsa secara menyeluruh. Dan harus dilakukan secara berkesinambungan. Jangan ramai sekarang terus hilang. Jangan seperti Century yang terus dilempar ke laut. Century saja cukup deh. Century hanya merusak beberapa orang. Dan berapa ratus orang uangnya yang dipakai. Itu materi. Tapi ini otak yang rusak. Otak anak kecil. Anak kecil kelas 2 SD berkumpul empat-lima orang ternyata buka gambar porno. Data kami menunjukkan, persentasi usia terbesar yang dikhawatirkan orangtua yakni usia 10-15. Bayangin! Karena itu, pemerintah harus konsen, komitmen, dan kontinyu. * Saiful Ansor/Suara Hidayatullah AGUSTUS 2010

5 Comments »

  1. avatar
    miqdad SANTRI luqman al_Hakim Says:
    August 20th, 2010 at 1:10 pm
    comment-top

    ibu………..

    klo aq berfikir itu INDONESIA ADALAH SARANG PECUNDANG……………

    maka dari itu, indonesia hancur juga disebabkan oleh para pencundang tersebut.

    comment-bottom
  2. avatar comment-top

    Saya sangat setuju dgn bu Elly Risman, pemerintah harus ada tindakan konkret dan serius untuk menangani masalah pornografi karena korban terbesar adalah anak2 belia yg merupakan masa depan dan harapan bangsa. Saya akan menyebarkan informasi yg saya dpt dr bu Elly kpd teman dan kerabat saya yg msh mempunyai anak kecil dan remaja. Cuma itu yg bisa lakukan. Saluut utk bu Elly !!

    comment-bottom
  3. avatar comment-top

    [...] on http://majalah.hidayatullah.com/?p=1814 [...]

    comment-bottom
  4. avatar
    www.naples1st.com.com Says:
    February 26th, 2013 at 9:55 pm
    comment-top

    http://www.naples1st.com.com...

    Majalah Suara Hidayatullah » Blog Archive » Elly Risman Musa SPsi, Psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati “Indonesia Berada di Jurang Kehancuran”…

    comment-bottom
  5. avatar comment-top

    replenished@graded.whorls” rel=”nofollow”>.…

    áëàãîäàðñòâóþ….

    comment-bottom

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment