Iskandarsyah Berian:  Jalan Baru Si “Pembuat Onar”

Iskandarsyah Berian: Jalan Baru Si “Pembuat Onar”

Kisah seseorang dari dunia hitam, lalu masuk dalam barisan dakwah

FOTO: DOK.SAHID

Lelaki kelahiran 47 tahun lalu ini biasa disapa Isbul (Iskandar Bule). Sebuah nama yang asing bahkan tak dikenal di kalangan umum. Namun, jika nama ini disebut di kalangan preman, orang segera tahu siapa dia. Bahkan, bisa jadi orang tersebut langsung merinding ketakutan mendengar nama Isbul disebut.

“Dalam dunia hitam di wilayah Bandung maupun Jakarta atau mungkin daerah lain pasti kenal saya. Sebut Iskandar Bule, si tukang bacok orang atau si trouble maker (si pembuat onar,-red),” tuturnya sambil tersenyum.

Dari Yugoslavia hingga Penjara
Lahir di Beograd, Yugoslavia 22 Februari 1963 dari rahim seorang wanita Skandinavia bernama Milena Benak dan ayah asli Indonesia Berian Rosier. Ayah Iskandar adalah anggota personil militer Indonesia yang bertugas di Yugoslavia.

Di negeri inilah kedua orangtua Iskandar bertemu dan menikah, lalu melahirkan dua anak. Saat Iskandar berusia tiga tahun, masa tugas sang ayah di Yugoslavia selesai. Sang ayah memboyong Iskandar bersama adik dan ibunya pulang ke Indonesia, untuk tinggal di Kota Bandung.

Memasuki usia Sekolah Dasar (SD), kenakalan Iskandar mulai terlihat. Nyaris setiap hari, ia berkelahi dengan teman sebayanya. Kenakalan Iskandar terus berlangsung ke tingkat SMP, SMA, bahkan hingga ia berumah tangga.

Saat sekolah di SMP, sang ayah pernah mendatangkan seorang guru ngaji untuk meredam sifat nakal anaknya. “Bukannya berubah baik, saya malah kabur dari rumah dan memilih hidup di jalanan,” ujar Iskandar mengenang.

Pernah suatu hari di tahun 1980, Iskandar terlibat sebuah perkelahian antar geng di Kota Bandung yang menyeretnya ke dalam penjara. Keluar dari penjara, bukan kebebasan yang ia peroleh. Sekitar 30 orang yang pernah ia pukuli menuntut balas. “Saya dikeroyok beramai-ramai. Akibatnya punggung saya tertusuk pisau,” ujarnya.

Iskandar terkapar di pinggir jalan tanpa ada yang menolongnya. Syukurlah, Iskandar selamat dari serangan itu dan berhasil tiba di rumah sakit. Setelah sembuh Iskandar menuntut balas. Satu per satu ia temui orang yang mengeroyoknya dan dia hajar.

Tahun 1997, Iskandar bertemu Ahmed seorang pelatih Kick Boxing aliran Brain Canon, asal Australia. Bersama Ahmed dan kedua teman lainnya, Iskandar mendirikan Kick Boxing Indonesia (KBI).

Namun, kebersamaan itu hanya berumur empat tahun. Dua rekannya memilih menjadi pengacara, Ahmed masih setia di Kick Boxing, sedangkan Iskandar mendirikan usaha jasa pengamanan yang dikenal dengan Bodyguard Security Service (BOSS).

Yang menjadi pemakai jasa BOSS adalah pengusaha swasta, diskotik, hotel, klub malam, hingga sejumlah tokoh terkenal. Tidak hanya di Bandung, BOSS juga melebarkan sayapnya dengan membuka cabang di beberapa kota di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan beberapa daerah lain di Indonesia.

“Setiap bulan, puluhan hingga ratusan juta saya dapatkan dari setoran pengamanan diskotik, rumah judi, klub malam, dan yang lainnya,” kata Iskandar.

Hidayah Datang

Suatu hari di bulan Januari 2007, lima orang lelaki berpakaian gamis putih bersih mendatangi markas BOSS. Dengan wajah teduh dan kata-kata lembut, kelima dai tersebut mengajak Iskandar agar segera bertaubat. Para dai tersebut mengingatkan, bahwa kematian akan menjemput kita sewaktu-waktu.

“Semua perilaku akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah, tanpa ada seorang pembela dan pelindung kecuali amal saleh kita,” kenang Iskandar menirukan sang dai.

Iskandar kaget bukan kepalang. Sebelum ia sempat berdialog, kelima tamunya sudah pamit. Di ujung pembicaraan, sang dai masih sempat mengajak Iskandar untuk i’tikaf di sebuah masjid di bilangan Antapani, Bandung.

Beberapa saat, hati Iskandar bergolak. Tak lama kemudian, Iskandar spontan keluar dari kantornya kemudian memacu mobilnya menuju masjid yang disebutkan oleh kelima dai tadi.

Sesampainya di masjid yang di maksud, Iskandar segera mencari orang yang mengajaknya tadi. “Mana orang yang tadi mengajak saya ke masjid?” ujar Iskandar dengan nada tinggi dan lantang.

Iskandar masih ingat wajah orang yang mengajaknya bertobat. Tampak seseorang terlihat ketakutan. Sementara jamaah di masjid itu hanya terpaku. Namun, Iskandar segera menjelaskan kedatangannya. Ia bukan mengajak berkelahi tetapi untuk memenuhi ajakan i’tikaf.

Seketika para jamaah menjabat tangan dan merangkul tubuhnya dengan ucapan “subhanallah”. Suasana berubah menjadi haru, layaknya perjumpaan antara saudara yang sudah lama tidak bertemu. “Saya segera merasakan ketulusan mereka. Beda dengan anak buah saya di BOSS yang selalu ada pamrihnya,” kenang bapak tujuh anak ini.

Malam itu untuk pertama kalinya Iskandar tidur di masjid. Berbekal beberapa adab tidur yang didapatnya dari sang dai, serta alas tidur seadanya, tubuh gempalnya rebah di rumah Allah.

Saat itu pula Iskandar bertekad bulat meninggalkan BOSS, yang beranggotakan lebih dari 40.ooo orang dengan upeti ratusan juta rupiah tiap bulannya. Markasnya berpindah ke masjid. Tidak ada lagi yang melayaninya kecuali dirinya sendiri.

Tantangan
Keputusan Iskandar untuk hijrah bukan tanpa tantangan. Sebagian besar rekannya di BOSS dan kliennya menyayangkan kepergian Iskandar. “Hampir tiap hari mereka mencari dan membujuk saya untuk kembali dengan iming-iming yang lebih menggiurkan. Tapi saya tidak bergeming, dan alhamdulillah, Allah meneguhkan niat saya,” ujar Iskandar mantap.

Cobaan selanjutnya datang dari keluarga besarnya. Mereka mengacuhkan bahkan menyingkirkannya karena menganggap keputusan Iskandar salah besar. “Bisa dimaklumi, karena saat itu sedang santernya isu terorisme. Mereka khawatir saya akan dimanfaatkan,” ujarnya.

Namun hal itu tidak berlangsung lama. Setelah aktif mengaji bersama dai-dai dari Jamaah Tabligh tersebut, sikap dan tutur kata Iskandar menjadi lebih baik dan penuh hikmah.

Salah seorang anak buahnya, Rizki, merasakan betul perubahan pada diri Iskandar. Katanya, jika dulu Iskandar punya utang jarang dibayar atau pura-pura lupa. “Tapi sekarang, setiap punya utang segera dilunasi,” kata Rizki kepada Suara Hidayatullah.

Suatu hari, kata Rizki, Iskandar pernah berencana membangun kembali BOSS. Namun bukan Bodyguard Security Service tapi Brigade Orang Suka Shalat. “Intinya, kalau dulu royal untuk kebatilan dan yang haram, sekarang royal untuk yang hak dan halal,” kata Rizki.

Kini, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, Iskandar membuka toko kelontong yang menjual kebutuhan harian rumah tangga. Meski pendapatannya tak sebesar dibanding di BOSS, Iskandar mengaku kini keluarganya hidup lebih tenteram. Iskandar pun makin mantap di jalan dakwah hingga ia bertekad, “Dakwah sampai mati, dan mati di jalan dakwah.” *Ngadiman, Surya Fachrizal/Suara Hidayatullah, SEPTEMBER 2010

4 Comments »

  1. avatar comment-top

    selamt berjuang di jalan Alloh om Isbul

    comment-bottom
  2. avatar comment-top

    Keep going n move on bro..semoga Allah meneguhkan hati dan iman kita semua. Amin.

    comment-bottom
  3. avatar comment-top

    Hebat euy ! Sok atuh brandalan bandung arinsaf

    comment-bottom
  4. avatar
    Imam Ma'ruf Says:
    October 9th, 2010 at 2:18 pm
    comment-top

    Subhaanallah… Adem banget ngebacanya. Allahu akbar!!!!

    comment-bottom

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment