Alhamdulillah, akhirnya selesai juga studi magister saya di kampus UHM (University of Hawaii at Manoa). Namun pengalaman selama hampir tiga tahun di sana, terasa baru kemarin berlalu. Suka-duka yang akan memperkaya wawasan dan memperteguh keimanan, insya Allah.
Hawaii boleh dibilang pusat pelesiran papan atas di dunia. Awalnya, ia kerajaan di bawah dinasti Raja Kamehameha, namun sejak 1900 menjadi himpunan negara jajahan Amerika Serikat (AS). Barulah 59 tahun kemudian (1959), Hawaii secara resmi menjadi negara bagian AS ke-50 dengan ibu kota Honolulu.
Tak seperti di Indonesia, umat Islam di Hawaii masih minoritas. Dari sekitar 1,2 juta penduduknya, hanya sekitar 2.500 jiwa saja yang Islam.
Bila waktu shalat masuk, jangan bermimpi akan mendengarkan kumandang azan dengan pengeras suara. Satu-satunya masjid di Hawaii terletak di kawasan Aleo Place. Bangunannya biasa saja. Kontruksinya persis rumah penduduk di sekitarnya. Tak ada simbol sebagai tempat ibadah, seperti kubah dan lambang bulan-bintang di atapnya.
Jilbab Masih Aneh
Sebagai perempuan, saya paling tidak suka dipelototi. Tapi suka tidak suka, itu harus saya alami di Hawaii. Baik ketika di bandara maupun di kampus sekali pun. Mungkin, petugas bandara melihat perempuan berjilbab sebagai sesuatu yang aneh atau mencurigakan. Walau memiliki paspor dan persyaratan adminstrasi secara lengkap, toh saya tetap saja dipelototi dari ujung jilbab hingga ke ujung sepatu. Di kampus juga demikan, banyak yang heran melihat saya, ”Apa Anda tidak kepanasan? Apa Anda tidak ketombean?” tanya salah seorang mahasiswa UHM yang terbiasa bertanya apa adanya. Tapi saya melihat tidak ada ekspresi mencemooh di wajahnya.
Dua peristiwa beruntun sepekan kemudian, sangat mambantu saya dalam dialog tentang manfaat jilbab. Dua kali berturut-turut dalam sepekan terjadi perlakuan tak senonoh terhadap mahasiswi berpakaian seksi di sekitar kampus UHM.
Pertama, mahasiswi yang jadi korban baru pulang dari Kapiolani Community College. Saat itu sekitar pukul 9 malam, korban sedang berjalan menuju rumahnya di kawasan Manoa. Tiba-tiba dipaksa masuk ke dalam mobil van oleh laki-laki tak dikenal. Korban kedua juga mahasiswi, ia melaporkan menjadi korban serangan seksual (sex assault) di lokasi yang berdekatan dengan kejadian pertama.
Konon Honolulu merupakan kota nomor satu teraman dari 45 kota di AS. Tapi karena para wanitanya hobi berbikini, serangan seksual jadi jamak terjadi.
Di Hawaii, pakaian tank top sudah menjadi pakaian sehari-hari. “Karena cuaca cerah saya suka memakai blues ini, lebih nyaman bagi saya,” ujar Nancy, seorang mahasiswi kepada saya. Jujur saja, pertama kali melihat Nancy dan temannya berpakaian minim ke kampus, saya sempat terkaget-kaget. ”Ke kampus kok seperti mau berenang saja, ” batin saya.
The Secret Tarawih
Saya dan beberapa mahasiswa Muslim yang tinggal di asrama Hale Manoa, sepakat mengadakan shalat Tarawih berjamaah setiap akhir pekan di asrama. Maklum kami tak bisa tiap malam ke masjid karena lokasinya cukup jauh, belum lagi jadwal kuliah yang tak kenal kompromi. Terkadang untuk berbuka puasa terpaksa diam-diam menyedot minuman kotak, karena jam kuliah belum usai.
Meski kami mahasiswa Muslim penghuni legal di gedung asrama berlantai 27, tak satu ruang pun yang boleh digunakan untuk aktifitas keagamaan. Apa boleh buat, ini memang sudah larangan keras asrama kepada penghuninya sejak dulu kala.
Tetapi kami tak kehilangan akal untuk ’mengakali’ aturan asrama itu. Caranya, setiap Jumat malam kami memesan ruang santai bermusik (music lounge) yang terletak di lantai 12. Pihak pengelola gedung asrama tak bisa mengelak untuk tidak mengizinkan setelah kami mengajukan proposal memesan ruang tersebut untuk pertemuan pelajar Indonesia dan diskusi tentang musik. Tentu saja tanpa embel-embel keagamaan, apa lagi shalat Tarawih berjamaah.
Tanpa azan, cukup iqamat saja (meski ruang kedap suara), Ustadz Fauzi Lamno kandidat Ph.D dari Aceh mengimami kami shalat berjamaah. Dimulai dari shalat Isya, lalu Tarawih, dan Witir. Aktivitas ”bawah tanah” ini kami akhiri hanya dengan diskusi keislaman. Tak ada diskusi tentang musik. Piano hanya tergeletak mendampingi kami berjamaah.
Lebaran di Tengah Multi Etnis
Lebaran biasanya identik dengan takbiran, ketupat, dan aneka ragam makanan khas. Itu di Indonesia, bagaimana di Hawaii? Kendati tidak semeriah di Tanah Air, komunitas Muslim di Hawaii tetap menyelenggarakan hari kemenangan dalam segala keterbatasan.
Pagi itu, dengan nuansa berbeda, saya turut menyelenggarakan shalat ‘Id yang dipusatkan di Kapiolani Park, sebuah lapangan pinggir pantai Waikiki.
Lapangan ini sejak pagi sudah dipenuhi sekitar seribuan Muslim. Tua muda, besar kecil, laki-laki dan perempuan dari berbagai etnis berkumpul bersama untuk mengumandangkan takbir, shalat ’Id, dan mendengarkan kutbah ’Id. Usai shalat, kami semua saling bersalaman dan saling berpelukan sembari mengucapkan “’Id Mubarak…”
Karena komunitas Muslim berasal dari etnis dan budaya berbeda, maka pakaian di hari lebaran pun beragam pula. Kebanyakan Muslimah shalat dengan pakaian yang mereka kenakan, berjilbab, gamis, dan memakai kaus kaki; kecuali dari Indonesia memakai mukena.
Uniknya, Varsana, teman satu kampus asal India, di hari raya ini tak ketinggalan berbaju baru dengan sari Indianya yang disampirkan di bahu, saat shalat dikerudungkan di kepala. Uniknya lagi, Indianesse ini tetap mengenakan anting di hidung.
”Saya sengaja mengenakan anting di hidung- sebagai pertanda bahwa saya dari India dengan status sudah bersuami,” kata Varsana. ”Dan, saya bukan anak metal,” ujar kandidat doktor ini.
Usai shalat ‘Id acara berlanjut dengan makan bersama di sebelah sisi kiri dan kanan lapangan. Hidangannya disediakan bagi siapa saja, termasuk para non Muslim di sekitar Kapiolani Park, yang dari pagi telah ’menonton’ aktivitas kami. Sejak awal President The Muslim Association of Hawaii, Hakim Quansafi, memang telah mengundang secara terbuka bagi ras dan agama manapun untuk berkenan menghadiri jamuan makan bersama .
Perayaan ‘Idul Fitri ditutup dengan I’d festivities, atau festival lebaran yang diisi dengan lomba bagi anak-anak keluarga Muslim. Hingar-bingar lebaran, terasa sekejap saja. Setelah itu, semua kembali pada aktifitas masing-masing. Lebaran bukan hari libur nasional di Hawaii. Dodi Nurja/Suara Hidayatullah SEPTEMBER 2010
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL
October 21st, 2010 at 4:42 pm
SUBHANALLAH… PERJUANGAN YG INDAH. MUSLIM INDONESIA PERLU BELAJAR DR PERISTIWA INI. TERMASUK BELAJAR BERTOLERANSI PD YG MINORITAS.MEMBUKTIKAN INDAHNYA ISLAM LBH TEPAT DENGAN AHWAL. DG AKHLAQUK KARIMAH. BUKAN DG BOM DAN SUMPAH SERAPAH.