Forum tersebut adalah ajang tukar informasi dan jaringan yang akan membahas masalah-masalah menyusui di Asia. Salah satu tema yang akan dibahas di sana adalah ragam aksi promosi dari perusahaan susu dan makanan bayi dari tiap-tiap negara peserta.
Ada delapan laporan kasus yang berhasil Tasya kumpulkan. “Sebenarnya ada banyak laporan ke AIMI, tetapi hanya sedikit saja yang melampirkan bukti-bukti seperti foto, scan iklan susu formula, selebaran, dan lainnya,” kata Tasya.
Laporan didominasi oleh tindakan tidak pro-ASI yang dilakukan sejumlah rumah sakit dan rumah bersalin di beberapa daerah di Jakarta dan Jawa Barat. Yakni memisahkan ibu dengan bayi sehingga ibu tidak bisa melakukan inisiasi menyusui dini.
Bukan hanya dipisah dengan ibunya, bayi-bayi tersebut juga diberikan susu formula tanpa persetujuan sang ibu. Ketika pulang ibu dibekali satu dus susu formula sisa pemakaian bayi, bahkan diharuskan membayar untuk susu yang tidak pernah dipesannya itu.
Pelanggaran lainnya adalah penggunaan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan Pos Pelayanan Terpadu untuk promosi susu formula. Juga sebuah iklan susu formula yang menyatakan ASI inferior dan hanya cocok untuk digunakan pada awal kehidupan.
Tasya mengatakan, kebanyakan ibu-ibu korban promosi susu formula tersebut takut untuk melaporkan atau menceritakan pengalamannya lewat media massa. Karena mereka khawatir, keluhan mereka akan dituntut ke pengadilan oleh produsen susu.
“Mereka takut berakhir seperti Prita yang didenda ratusan juta oleh pengadilan karena menyebarkan keluhannya atas pelayanan suatu rumah sakit di internet,” kata Tasya menjelaskan.
Tasya menambahkan, AIMI juga sudah mengirimkan surat teguran kepada pengelola fasilitas kesehatan dan produsen susu yang bersangkutan. Ada yang menanggapi, ada yang acuh, dan ada yang membantah. “Bahkan ada rumah sakit tetap mengulangi pelanggaran,” ujarnya.
Srikandi
Sebut saja namanya Nurhayati (39). Ia seorang bidan yang sudah puluhan tahun membuka praktek di daerah Jakarta Selatan. Beberapa tahun lalu ia mendapat hadiah perjalanan umrah dari produsen susu formula ternama di Indonesia.
Nurhayati terbang ke Tanah Suci bersama puluhan bidan lainnya dari berbagai provinsi. Hadiah ini diberikan karena ia dinilai oleh organisasi yang diikutinya, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), sebagai bidan yang berprestasi.
“Bidan-bidan yang diberangkatkan umrah adalah bidan yang paling tidak sudah membuka praktik selama lima tahun,” kata Nurhayati kepada Suara Hidayatullah.
Menurut pengakuan Nurhayati, dari produsen susu yang sama ia juga pernah menerima hadiah seperangkat alat kesehatan. Hadiah-hadiah tersebut diberikan karena dirinya ikut serta dalam Program Srikandi. Sebuah program pemberdayaan bidan yang digagas oleh perusahaan susu formula dan makanan bayi PT. Sari Husada bekerjasama dengan Ikatan Bidan Indonesia
Namun, dia membantah hadiah-hadiah itu dikatakan sebagai insentif dari produsen susu karena dirinya sukses menjual dan mempromosikan produk-produk produsen susu itu.
”Tidaklah, Mas! Sekarang kan tidak sembarangan memberikan susu formula kepada pasien bayi. Sekarang ada gerakan ASI ekslusif,” jelasnya.
Namun, ia tak menampik bahwa di kliniknya tersedia susu formula dari perusahaan susu yang bersangkutan. ”Dalam kondisi tertentu, saya terpaksa memberikan susu formula kepada pasien saya,” kata Nurhayati.
Henny Zaenal, dokter spesialis anak dan penggiat ASI, menilai pemberian hadiah dari produsen susu kepada bidan atau petugas kesehatan lainnya merupakan hal yang melanggar Kode Internasional Pemasaran Susu Pengganti ASI yang ditetapkan The World Health Assembly dan UNICEF pada 1981.
”Salah satu poin kode internasional adalah, produsen susu dilarang memberikan hadiah kepada petugas kesehatan. Selain itu, dilarang pula mensponsori acara atau seminar kesehatan,” jelas Henny.
Kata Henny, semakin banyak bidan menjual susu formula kepada pasien, semakin banyak poin yang didapatnya. Poin-poin tersebut nantinya akan ditukarkan dengan berbagai hadiah seperti alat-alat kesehatan, paket wisata dalam dan luar negeri, bahkan paket umrah dan haji.
”Jadi tak heran bila bidan-bidan yang ikut program ini seakan-akan mengejar target, yakni menjual susu formula produk mereka,” ujar Henny yang juga konselor ASI tersertifikat WHO ini.
Menurut informasi yang didapat Suara Hidayatullah, sejumlah bidan di Bekasi, Jawa Barat, mengakui program promosi terselubung melalui program Srikandi itu. Namun, setelah menyadari mereka memutuskan berhenti. Di antara mereka bahkan ada yang mangkat dari profesinya sebagai bidan menjadi aktivis pegiat ASI.
Namun, pihak Sari Husada membantah tudingan tersebut dan merasa keberatan jika kerjasamanya dengan IBI dikatakan melanggar kode internasional WHO. Menurut Yeni Fatmawati, Corporate Affair & Legal Director PT. Sari Husada, program-program yang dibuat perusahaannya adalah program tanggung jawab sosial perusahaan.
Katanya, dalam program sosial Sari Husada sama sekali tidak ada unsur promosi produk susu formula kepada masyarakat. “Program tersebut (Srikandi) sama sekali tidak ada kesepakatan untuk menjual produk-produk kami pada anggota-anggota IBI,” ujar Yeni menyanggah.
Bantahan juga datang dari Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia, Harni Koesno. “Program ini semata-mata bentuk edukasi kepada masyarakat. Tidak ada promosi dalam program itu,” kata Harni kepada Suara Hidayatullah.
Harni menambahkan, program Srikandi juga melibatkan pihak ketiga, yakni lembaga nirlaba Pos Keadilan Peduli Umat. Gunanya untuk memantau dan mengevaluasi program dari sisi manfaatnya untuk masyarakat.
“Jadi kami benar-benar bergerak sesuai prosedur tetap, menghormati kode WHO,” ujar Harni yang menjabat ketua umum IBI untuk kedua kalinya ini.
Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia, Utami Roesli mengatakan, sebenarnya bukan hanya bidan yang terlibat program kerjasama penjualan susu formula dengan insentif dan bonus-bonus tertentu. Pelayan kesehatan lainnya seperti dokter, dokter anak, sampai persatuan ahli gizi di negeri ini juga melakukan hal serupa.
“Sembilan puluh sembilan persen pelayan kesehatan dan fasilitas kesehatan melanggar kode WHO tentang aturan penjualan susu dan makanan pengganti ASI,” kata Utami yang juga dokter anak senior di Rumah Sakit St. Carolus Jakarta ini.
Jadi menurut Utami, tidak adil jika hanya menyalahkan para bidan dalam hal ini. “Bila bicara di depan para bidan, saya juga keras mengigatkan tentang masalah ini (penjualan susu formula). Tapi tidak adil jika hanya bidan yang disinggung dan disalahkan,” katanya. ***SUARA HIDAYATULLAH, NOPEMBER 2010
10 Tanda Rumah Sakit Sayang Bayi
1. Memiliki kebijakan tertulis tentang pemberian ASI yang selalu dikomunikasikan antar staf pelayanan kesehatan.
2. Melatih semua staf pelayanan kesehatan mengenai keterampilan yang diperlukan untuk menerapakan kebijakan tersebut.
3. Memberi informasi kepada seluruh ibu hamil tentang keuntungan dan penanganan ASI.
4. Membantu ibu melakukan inisiasi ASI dalam setengah jam pasca bersalin.
5. Menunjukkan kepada ibu bagaimana cara permberian ASI dan bagaimana untuk tetap mempertahankannya walaupun ia harus (dirawat) terpisah dari bayinya.
6. Tidak memberikan bayi makanan atau minuman lain selain ASI kecuali ada indikasi medis.
7. Melakukan rawat gabung (ibu dan anak dalam satu kamar) 24 jam sehari.
8. Mendorong ibu untuk memberian ASI sesuai kebutuhan bayi.
9. Tidak memberikan instrumen lain, seperti dot, kepada bayi yang mendapat ASI.
10. Membuat kelompok pendukung pemberian ASI dan menganjurkan ibu menyusui untuk bergabung dengan mereka sepulangnya dari Rumah Sakit atau Klinik.
*Pernyataan bersama World Health Organization dan UNICEF 1989
Melawan Mitos
Tiga puluh tahun sudah Asti Proborini menjadi dokter. Sepuluh tahun di antara masa itu dihabiskannya di unit perawatan intensif untuk bayi di rumah sakit swasta. Selama itu pula Asti melihat bayi-bayi mengenaskan korban susu formula.
“Sembilan dari sepuluh pasien bayi saya adalah pasien yang tidak diberi air susu ibu. Dan saya yakin, dengan pengalaman saya selama sepuluh tahun, kematian-kematian itu dapat dicegah dengan ASI,” ujar dokter yang aktif dalam perkumpulan ahli kesehatan janin dalam kandungan ini.
Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, dalam jumpa pers kampanye imunisasi campak dan polio di Jakarta awal bulan lalu mengatakan, salah satu tujuan pembangunan milenium (MDGs) adalah menurunkan angka kematian bayi.
Menurut Endang angka kematian bayi dan balita di Indonesia saat ini masih tinggi, yakni 34/1000 untuk bayi dan 44/1000 untuk balita. Untuk itu, pada tahun 2015, pemerintah menargetkan penurunan angka kematian bayi menjadi 23/1000 dan 32/1000 untuk balita.
Namun Asti pesimis target pemerintah tersebut bisa dicapai. “Kematian bayi tidak akan pernah turun jika pemakaian susu formula tidak dihentikan,” ujar dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang aktif di layanan kesehatan cuma-cuma ini.
Karena menurut Asti, selama ini dampak susu formula terhadap tingginya angka kematian bayi cukup signifikan. Dari temuan badan pengawas pangan dan obat Amerika Serikat (USFDA) 2002, ditemukan adanya infeksi Enterobater Sakazaki pada susu bubuk bayi. Hal tersebut bisa mengakibatkan sepsis hingga meningitis. Sehingga FDA pun berpendapat susu bubuk bukan produk komersil yang steril.
Namun kata Asti, akibat terparah mengonsumsi susu formula bagi bayi adalah diare. “Yang sering saya temuai adalah diare, mencret-mencret yang berujung pada kematian bayi,” katanya.
Tidak mengonsumsi ASI juga dapat menghilangkan kepercayaan anak kepada ibunya sacara emosional. Bahkan kata Asti, hasil penelitian seorang dokter terhadap 1.700 penderita kanker di Amerika menunjukkan, hampir seluruh penderita kanker tidak mendapat ASI semasa kecil.
Singkatnya kata Asti, penggunaan ASI sangat bernilai ekonomis. Tanpa perlu memberi imunisasi polio dan perawatan-perawatan khusus, ASI dapat menggantikan penyembuhannya.
Mansjur Hawab, Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor mengatakan, sebenarnya komponen kimiawi susu manusia, sapi, unta, kambing, bahkan kerbau tidak banyak berbeda, dan masih dikonsumsi manusia.
Katanya, susu sapi menjadi bermasalah ketika diproses menjadi susu bubuk. Hawab menjelaskan, susu bubuk diproses dengan cara menyemprotkan susu sapi segar ke dalam ruangan bersuhu 500 derajat Ceclius. Dalam beberapa saat susu tadi berubah menjadi tepung.
Menurut Hawab, suhu 100 derajat saja bisa merusak suatu senyawa kimia. “Apalagi 500 derajat! Jadi, sebetulnya dalam susu bubuk itu sudah tidak ada apa-apanya lagi. Kandungan vitamin, mineral, dan zat-zat lainnya cuma rekayasa saja,” kata Hawab.
Mitos Tidak Bisa Menyusui
Henny Zaenal, dokter spesialis anak dan pengasuh HZ Lactation Care Jakarta mengatakan, setiap perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk bisa menyusui, paling tidak menghasilkan satu liter susu per hari.
Sayangnya banyak ibu di Indonesia yang putus asa saat anaknya berjam-jam menyusu tapi sang anak masih saja menangis. Lalu sang ibu berkesimpulan ia ditakdirkan memiliki ASI yang sedikit atau tidak memiliki ASI. Atau ada pula anggapan bayi menangis karena lapar. Kemudian karena itu semua, sang ibu memberika susu formula kepada bayinya.
”Tidak ada perempuan yang tidak memiliki ASI. Jadi alasan pemberian susu formula karena ASI tidak keluar adalah alasan yang mengada-ada,” ujar Henny.
Kata Henny, hanya perempuan penderita tumor ovarium saja yang tidak mampu menghasilakan ASI. Sedang penderita penyakit itu di dunia sangat sedikit sekali, satu di antara sejuta.
Bayi menangis bukan berarti dia lapar. Bayi menangis bukan karena ASI kurang. ”Menurut saya bayi nangis bisa dipicu oleh banyak sebab. Bisa karena bayi tak nyaman, kepanasan atau kedinginan,” jelas Henny.
Produksi ASI sudah mulai ada sejak usia kehamilan 16 bulan. Sehingga tidak keluarnya ASI harus dilihat dari banyak sebab. Salah satu penyebabnya adalah anatomi lidah bayi yang bermasalah. ”Kalau lidahnya bermasalah, maka ASI tak akan keluar.”
Permasalahan anatomi lidah bayi ini jarang sekali diperhatikan. Sehingga banyak ibu berkesimpulan ASI-nya sedikit, putus asa, kemudian beralih ke susu formula.
Henny mengatakan, konsumsi susu selain ASI untuk bayi hingga usia dua tahun bukan budaya Indonesia. “Boleh minum susu kalau kita tinggal di negara empat musim. Tapi kita tinggal di negara kolam susu. Kenapa kolam susu? Empat ekor ikan teri seukuran kelingking sama nilai gizinya dengan segelas susu,” kata Henny menjelaskan.
Motivasi Agama Lebih Berhasil
Rumah Sakit Ibu dan Anak Zainab Pekanbaru adalah salah satu rumah sakit yang peduli dan mendorong pemberian ASI.
Menurut Direktur Utama RSIA Zainab dr Diana Tabrani, pihaknya menjelaskan pentingnya ASI kepada pasien sejak masa kehamilan. Untuk tujuan edukasi tersebut RSIA Zainab memiliki Klinik Laktasi.
Klinik ini memberi informasi mulai dari pengetahuan tentang manfaat ASI, kiat memperlancar ASI, dan cara mengawetkan ASI bagi ibu pekerja.
”Biasanya mereka yang diberi pengetahuan sejak prenatal care (sebelum melahirkan–red) lebih sukses daripada diedukasi setelah melahirkan,” katanya.
Kata Diana, kendala utama program laktasi karena sang ibu memang tidak mau menyusui anaknya. “Banyak betul alasan mereka. Anehnya mereka rata-rata berpendidikan tinggi,” kata Diana.
Menurut Diana, yang paling berhasil sebenarnya motivasi agama. Kalau ibu-ibu yang pengetahuan agamanya tentang manfaat ASI baik, maka mereka tak diedukasi pun, pasti menyusukan ASI bagi bayinya,” kata putri pendiri Rumah Sakit Prof Dr Tabrani Pekanbaru ini.
Selain memiliki Klinik Laktasi, menejemen RSIA Zainab juga melarang pasiennya ditemui produsen susu selama mereka berada di rumah sakit. ”Kami juga tidak akan membuka data pasien ke perusahaan tersebut,” tambahnya.
Bagi RSIA Zainab, ASI adalah yang pertama dan utama. Kecuali, bagi ibu melahirkan yang memang ASI-nya tidak bisa keluar, pihaknya memberikan susu pengganti ASI. Namun pasien tidak boleh membeli sendiri di apotek RS, kecuali ada rekomendasi dari bagian Prenatologi. **SUARA HIDAYATULLAH, NOPEMBER 2010
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL
January 1st, 2011 at 1:49 am
setuju banget…asi is the best… ciptaan Allah mana bisa d tandingi rekaan manusia…
semoga Allah memudahkan untuk terus memberikan asi eksklusif..
January 11th, 2013 at 5:59 am
pumps online,…
Majalah Suara Hidayatullah » Blog Archive » ASI VS SAPI: Kala Srikandi Ingin Naik Haji…