Dua bola mataku masih memelototi tulisan pada kertas putih ukuran A4 yang ditempel di dinding samping pintu masuk ruang shalat wanita di masjid Itaewon, Korea Selatan. “Setiap Ramadhan, panitia masjid selalu mengadakan lomba menghafal al-Qur`an. Kamu bisa berpartisipasi. Siapa tahu bisa menang. Lumayan, tahun lalu pemenang pertama mendapat 100 ribu KRW,” terdengar suara dari balik punggungku. Aku menoleh dan tersenyum. Ternyata Amira, seorang Muslimah Korea yang kukenal sejak pertama kali aku datang ke masjid itu. Dia seolah tahu apa yang ada dalam pikiranku.
Aku tahu betul kemampuanku membaca dan menghafal al-Qur`an. Kalaupun ikut dalam lomba, aku tidak berharap menjadi pemenang. Hanya sekadar ingin ikut menyemarakkan acara-acara Ramadhan. Demi syiar Islam.
Pada hari yang telah ditentukan panitia, saya hadir sebagai salah satu peserta lomba. Sengaja tiba di masjid 30 menit sebelum waktu dimulainya acara. Satu persatu peserta mulai berdatangan. Ada yang langsung mengambil tempat di dalam women’s room, ada yang masih berjalan-jalan di halaman masjid. Saya memilih duduk di depan women’s room sambil mencoba mengulang sedikit hafalan ayat yang saya ingat.
“Assalamu’alaikum Sister, bisa bantu saya?” tiba-tiba suara sister Aminah menghentikan hafalanku. “Insya Allah, apa yang bisa saya bantu?” jawabku. “Salah seorang juri lomba tidak bisa hadir hari ini, saya berharap sister bisa menjadi juri sekarang. Kami butuh tiga juri,” ujarnya menjawab pertanyaanku. ”Whatt? Apa tidak salah? Saya hadir sebagai peserta, bagaimana mungkin tiba-tiba menjadi juri?” tanyaku penuh keheranan.
“Bacaan al-Qur’an kamu bagus. Sister Aisyah yang mengatakannya pada saya,” jawabnya lagi penuh diplomasi. “Aisyah?” seru batinku. “Hmm..mengapa harus dia yang mengatakan hal itu, dan mengapa pula harus dia yang ditanya?” Tiba-tiba saja muncul seraut wajah Aisyah dalam benakku.
Aisyah adalah seorang Muslimah muallaf Korea. Saya mengenalnya di stasiun subway Itaewon. Saat itu saya sedang duduk menunggu subway, tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri saya. ”Assalamu’alaikum Sister, saya seorang Muslimah,” sapanya sambil memperkenalkan diri. Saya sedikit belum percaya. Selama ini, walaupun masih tergolong muallaf, setiap Muslimah Korea yang saya kenal selalu berjilbab menutup kepalanya. Sedangkan Aisyah tidak pakai jilbab.
Pembicaraan terus berlanjut di dalam subway hingga kami berpisah di stasiun yang berbeda. Dari seluruh pembicaran kami, alhamdulillah muncul keyakinan pada diriku kalau dia memang seorang Muslimah.
Mulai saat itu, kami sering bertemu di masjid. Dia banyak bercerita tentang dirinya, masa lalunya, tentang pengalamannya menjadi calon biarawati dan mengeyam pendidikan kekristenan di Australia, tentang kesulitan mendapat pekerjaan dan sebagainya. Termasuk tentang keluarganya yang sangat membencinya ketika mengetahui dia memeluk Islam. Hal itu pula yang menjadi salah satu alasan mengapa dia hanya memakai jilbab sebatas di lingkungan masjid. Begitu tiba di stasiun Itaewon, dia masuk toilet dan melepas jilbabnya.
“Dipaksa” Jadi Juri
Aku mengajarkan Aisyah membaca al-Qur`an sekali atau dua kali sepekan di masjid. Aku membetulkan makharijul huruf dan mengenalkan hukum-hukum tajwid dari buku Iqro’ yang aku bawa dari tanah air. Untuk praktiknya, aku meminta Aisyah membaca al-Qur`an mulai dari surat An-Naas. Setiap selesai belajar, dia selalu memintaku untuk membaca ulang surat-surat yang dia baca sebelumnya. “Supaya saya selalu ingat cara membacanya,” begitu katanya.
Jelas saja, Aisyah mengatakan bacaan al-Qur`anku bagus karena dia membandingkan dengan dirinya yang baru mulai belajar membaca. “Kalau saja dia bandingkan dengan bacaan para imam,” desah batinku.
“Saya sudah menanyakan pada Mr Zaid dan beliau setuju sister menjadi juri,” kata-kata sister Aminah membuyarkan lamunanku tentang Aisyah. “Ayolah Sister, waktunya tinggal 10 menit lagi. Peserta sudah banyak yang hadir,” desak sister Aminah.
Mr Zaid alias Park Hyun Bong, beliau yang menjadi ketua penyelenggara lomba menghafal al-Qur`an tahun ini. Beliau juga menjabat kepala sekolah Prince Sultan Islamic Pre-School di Masjid Itaewon. Aku kenal beliau dan mungkin juga beliau masih mengenalku, karena aku sempat mengajar al-Qur`an di sekolah tersebut selama liburan musim panas yang baru saja berlalu.
“Baiklah,” akhirnya aku memenuhi permintaan sister Aminah. Tangannya langsung menggaet tanganku mengajak masuk ke Women’s room dan duduk di deretan kursi para juri. Pfeeewh! Pengalaman pertama menjadi juri lomba menghafal al-Qur`an…
Bersama dua orang juri lain dari Indonesia dan Turki, masing-masing dibekali selembar kertas berisi nama-nama dan kolom-kolom penilaian yang mencakup tajwid dan kelancaran hafalan para peserta. Sister Aminah bertindak sebagai pembawa acara.
Tetap Indonesia
Para peserta berasal dari berbagai negara, Libya, Uzbekistan, Indonesia, Bangladesh, Pakistan, Korea, Tunisia dan lain-lain. Dari peserta yang mendaftar, tiga orang berhalangan hadir dan satu orang berubah statusnya menjadi juri. Tak salah, yang terakhir itu aku sendiri.
Di awal acara, begitu melihat asal negara para peserta, dugaanku yang akan menjadi pemenang adalah peserta dari Timur Tengah. Dalam benakku, mereka pasti sudah sangat akrab dengan al-Qur`an. Para imam dalam kaset-kaset murathal pun banyak dari Timur Tengah. Namun, dugaanku meleset. Begitu peserta selesai unjuk kebolehan, ternyata dari Indonesia terpilih menjadi peserta terbaik. He..he..bukan semata dua orang juri berasal dari Indonesia, tapi memang bacaan Qur`an peserta Indonesia tidak kalah dengan peserta dari Timur Tengah. Hal ini juga aku saksikan pada lomba menghafal al-Qur`an untuk kategori Muslim dewasa. Peserta dari Indonesia menjadi runner up untuk kategori Muslim dewasa. Konon, tahun-tahun sebelumnya bahkan selalu menjadi pemenang pertama.
Hal lain yang menarik dalam lomba itu tentu saja pada bagian anak-anak. Tidak sedikit dari mereka yang hanya bisa mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, kemudian terdiam, lupa! Ada yang kemudian orang tuanya menemani di depan podium sambil menuntun anaknya menyelesaikan hafalan al-Qur`annya. Kejadian-kejadian semacam ini sering mengundang senyum dan tawa para hadirin. Tapi anak-anak itu tetap semangat dan tidak malu-malu tampil di depan khalayak ramai. Dari kategori anak-anak, terpilih sebagai pemenang pertama dari Libya, yang tidak lain adalah anak seorang imam masjid Itaewon. Pemenang kedu, anak blasteran Indonesia dan Korea. Jadi tetaaap, Indonesia!! *SUARA HIDAYATULLAH, NOPEMBER 2010
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL
January 15th, 2011 at 12:20 am
semoga syiar Islam semakin berkembang di Korsel