Bisnis Spa Spa Syar’i yang Menjanjikan

Bisnis Spa Spa Syar’i yang Menjanjikan

FOTO: QORINAH

Usaha spa kian hari terus bertambah. Namun, tak banyak spa yang menjaga nilai-nilai syariah. Selain sebagai sarana dakwah, usaha ini ternyata menjanjikan.

Kini kesadaran Muslimah yang mengenakan jilbab semakin banyak. Namun, kondisi itu menuntut pemenuhan kebutuhan lainnya, yang masih terkait dengan kebutuhan dasar kaum Muslimah, yaitu merawat tubuh.

Karena terkait dengan masalah aurat wanita, tentu saja perawatannya membutuhkan tempat khusus. Nah, peluang ini yang dibaca oleh Sri Suharyanti Mukharomah, yang memulai usaha spa di awal tahun 2001 silam.

Ide ini berawal dari seringnya ia menyaksikan banyak Muslimah yang lebih memilih perawatan tubuh di spa konvensional, yang jelas-jelas tak menjaga nilai-nilai syariah.

Lalu, Yanti –panggilan akrabnya- merancang sebuah spa islami yang representatif di pinggiran kota Jakarta.

Spa Keluarga Sesuai Syar’i
Wanita kelahiran Klaten, 19 April 1968 ini pun mencoba merealisasikan naluri bisnisnya untuk membuat spa alternatif sebagai solusi spa yang aman, nyaman, dan sesuai syar’i. Minatnya yang besar pada spa menambah kuat spirit Yanti untuk segera menghadirkan spa lain dari yang lain.

Setelah sekian lama mengamati, apalagi setelah mengestimasi prospeknya, Yanti pun mencoba usaha ini. Ia ingin mengubah kesan spa yang ada selama ini dianggap negatif. “Selain berdakwah, ternyata bisnis ini menjanjikan,” ujarnya.

Awalnya, hanya dengan modal apa adanya, tapi dengan keyakinan yang besar, Yanti menyulap rumahnya di Bukit Pamulang Indah, Tangerang Selatan menjadi spa. Serta merta rumahnya pun berubah desain. Tidak main-main, Yanti membuat spa miliknya ini betul-betul hanya untuk perempuan.

Tak disangka, ternyata banyak yang berminat. Setiap hari ada saja yang datang. Hal ini tentu saja semakin membesarkan jiwa Yanti. Apalagi dia mendapatkan dukungan penuh dari sang suami, Awanu Alfan.

Sayangnya, karena lokasi spa ini susah dijangkau, apalagi letaknya berada di komplek perumahan, akhirnya pengunjung agak kesulitan menemukannya. Padahal, peminat spa syar’i terus membludak. Kemudian Yanti pun memindahkan lokasi spanya di tempat yang lebih luas dan nyaman, tepatnya di Puri Wangi Jalan Nila 108 RT 02/01, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

“Akhirnya saya pindah ke sini. Di sini mudah dijangkau, lebih segar, hijau, dan aroma alamnya terasa,” kata Yanti yang ditemui di spa miliknya ini.

Kesan Alamiah
Di lokasi yang baru ini, pengunjung akan dimanjakan dengan suasana alam yang hijau, aroma terapi, dan rekondisi relaksasi yang nyaman. Untuk yang penggemar aerobik, tersedia di lantai atas bangunan puri. Kompleknya tidak terlalu luas, namun konsep spa treatment panca indera begitu terasa.

“Di sini masih segar, hijau, banyak pohon, dan ada aroma alam. Ruangannya saya pisah. Kalau ada pasangan suami istri juga kita kondisikan,” paparnya kepada Suara Hidayatullah yang menemuinya di Puri Wangi.

Nelly Iralita, seorang notaris di Jakarta mengaku sangat puas dengan layanan yang ada di Puri Wangi. Menurutnya, selain mengutamakan kenyamanan tempat dan fasilitas, ia juga merasa senang dengan adanya batasan hijab.

“Walaupun sama-sama wanita, tempatnya dibatasi dan aurat tetap dijaga,” aku Nelly yang sudah menjadi pelanggan spa Puri Wangi ini.

Selain itu, kata dia, yang membuatnya kerasan di spa ini karena perlakuannya yang lebih rileks, islami, dan suasana alamnya yang begitu memanjakan panca indera.

“Tempatnya enak,” kata Nelly.

Karena perkembangannya cukup menjanjikan, maka Yanti pun segera mengurus surat izin usaha. Menurut Yanti, hal ini agar usahanya ke depan bisa lebih maksimal dan menghindari tersangkut masalah-masalah perizinan.

“Alhamdulillah, surat izin usaha sudah kami terima,” katanya, penuh syukur.

Pada dasarnya salon dan spa itu berbeda. Menurut Yanti, perbedaan tersebut terletak pada treatment (perlakuan/pengerjaan). Salon bisanya melayani penyambungan rambut, rebonding, spa vagina, dan lain-lain. Sedangkan spa adalah treatment untuk semua panca indera.

Wajib Tutup Aurat
Untuk karyawan, Yanti menerapkan aturan yang ketat. Paling tidak, untuk perempuan harus menutup aurat. Sedangkan untuk karyawan laki-laki, Yanti masih susah menemukan tenaga kapster yang benar-benar sesuai dengan keinginannya.

Sebab kata Yanti, dari beberapa karyawan laki-laki yang pernah dia pekerjakan di antaranya kurang memperhatikan syariat Islam, cenderung berprilaku asosial, dan susah diatur.

Dari aspek syariat, baik di Puri Wangi ataupun Puri Bugar, semaksimal mungkin Yanti menerapkannya. “Semoga ini benar-benar sesuai dengan syariat,” jelasnya.

Dalam masalah shalat misalnya, Yanti selalu berusaha mengingatkan untuk senantiasa menjaga shalat. Ketika masuk waktu shalat, semua kegiatan dihentikan dan melakukan shalat berjamaah.

“Kami berkomunikasi dari hati ke hati. Saya lebih menekankan keterbukaan dan kejujuran kepada para karyawan,” papar ibu dari Faiz Aghnial Husna (14), Raihan Zufar Musyaffa (10) ini.

Kini, untuk memperlancar usahanya, Yanti mempekerjakan karyawan sebanyak 9 orang; 7 perempuan dan 2 orang laki-laki. Usaha Yanti ini sudah memiliki omset yang lumayan. “Kurang lebih 15 juta per bulan,” aku Yanti membuka kartu.

Tantangan Tidak Ringan
Suatu waktu ia kedatangan seorang laki-laki dewasa. Ia mengira melayani semua bentuk spa sebagaimana kebanyakan. Tanpa banyak bicara, pemuda ini meminta treatment spa yang terbilang “aneh”. Dia minta spa dengan kapster perempuan. Karuan saja para kapster yang dimintai melayaninya marah. Tidak ada kompromi, Yanti pun langsung mengusir tamu tak sopan tersebut.

Tidak berhenti di situ. Cerita Yanti, pernah juga ada pelanggan yang minta treatment yang berlebihan, seperti spa vagina. Ini juga ditolak oleh Puri Wangi. Tidak itu saja, permintaan macam-amcam yang lain seperti cabut bulu mata, sambung rambut, rebonding, dan sejenisnya, jangan harap akan dilayani.

Yanti berharap, usaha yang dirintisnya ini semakin berkembang. Meski begitu, Yanti sadar bahwa ia adalah manusia biasa. Dalam bidang usaha spa syar’i yang dijalaninya ini, Yanti mengaku masih belajar dan selalu terbuka menerima saran.

Dari kerja kerasnya, pada Mei 2010 lalu, Yanti sudah mendapatkan surat izin usaha dengan nama PT Intan Adi Citra dengan produk layanan Puri Wangi dan Puri Bugar.

Spa milik Yanti ini mendapatkan izin dengan menggunakan kategori sebagai usaha salon. Karena menurutnya, kalau mengurus usaha pada kategori khusus spa terbilang mahal. Apalagi modalnya juga pas-pasan. Selain itu, PT Intan Adi Citra juga sudah mendapatkan surat Izin Undang-undang Gangguan. Semoga istiqamah.
*Ainuddin Chalik/Suara Hidayatullah, JANUARI 2011

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment