TKI Semarakkan Dakwah di Hong Kong

TKI Semarakkan Dakwah di Hong Kong

T

Music room jadi mushalla

DOK.SAHID

idak semua tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di negeri orang mendapatkan kenistaan dan kekerasan. Justru TKW di Hong Kong mensyiarkan dakwah Islam. Bagaimana liku-likunya, ikuti perjalanan ASM. Romli dari Hong Kong untuk pembaca Suara Hidayatullah.

Kehadiran saya di negeri bekas jajahan Inggris ini untuk yang kedua kalinya. Pertama pada Desember 2009 dengan agenda yang sama: menjadi pemateri pelatihan penyiar Radio Perantau Indonesia (RPI).

RPI dirikan oleh Yayasan Perantau Indonesia HK bersama Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) pimpinan Ustadz Abdul Ghofur. Menurut Abdul Ghofur, pelatihan penyiar merupakan bagian program pemberdayaan perantau atau Buruh Migran Indonesia (BMI). Diharapkan, mereka menjadi penyiar RPI dan berguna sekembalinya ke Tanah Air. RPI juga menjadi forum dakwah atau syiar Islam. Dengan kehadiran 136.000 perantau –umumnya wanita (Muslimah) dan RPI, dakwah Islam kian marak di Hong Kong.

Hong Kong menentukan kewajiban ada libur sehari dalam seminggu bagi para pekerja, termasuk pembantu rumah tangga. Hari libur itu –umumnya hari Minggu– dimanfaatkan oleh para perantau dengan berbagai aktivitas, mulai sekadar kumpul-kumpul, silaturahim, hingga pengajian dan kursus keterampilan: bahasa Inggris, Mandarin, memasak, menjahit, dan komputer). Bagi saya, sebagian perantau di Hong Kong yang aktif dalam syiar Islam itu bukan saja “pahlawan” devisa, tapi juga “mujahidah dakwah.” Kita bisa saksikan perantau berjilbab di segala penjuru Hong Kong. Mereka leluasa, bebas, tanpa perlakuan diskriminatif dan kecurigaan dari siapa pun. Mereka relatif sangat leluasa menjalankan kewajiban agama dibandingkan minoritas Muslim di negara lain.

Eksistensi Islam
Menurut catatan Wikipedia, di Hong Kong agama dipandang sebagai bagian dari budaya. Kebebasan beragama merupakan salah satu hak fundamental yang dinikmati warga Hong Kong.

Islam dianut dan dipraktekkan oleh sekitar 250.000 Muslim dari sekitar 6 juta penduduk. Warga Hong Kong asli yang Muslim sekitar 10.000 keluarga. Selain Islam, agama yang dianut warga Hong Kong antara lain Budha (Buddhism), Tao (Taoism), Kong Hu Cu (Confucianism), Kristen, Hindu, Sikh, dan Yahudi (Judaism).

Komunitas Muslim telah ada di Hong Kong sejak lebih dari seribu tahun yang lalu. Dibawa oleh komunitas pedagang Arab yang berjualan melintasi jalur sutra yang menghubungkan Cina dengan dunia Barat. Perkembangan Islam di Hong Kong mencapai puncaknya pada saat Muslim Pakistan dan India dipekerjakan sebagai tentara Inggris untuk menjaga kawasan ini. Hong Kong dulunya merupakan koloni Inggris, sebelum diserahkan kembali ke Cina tahun 1997.

Sejarah mencatat, perkembangan Islam di Cina/Hong Kong sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu. Dimulai saat Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam mengirimkan tiga sahabatnya untuk mendatangi negeri Cina guna menyebarkan ajaran Islam. Dua di antaranya meninggal di perjalanan, satu orang lainnya tiba dan membangun tiga buah masjid, salah satunya ada di Guang Zhou. Hingga kini, masjid yang dibuat pada tahun 627 ini masih berdiri di Guang Zhou.

Masjid
Ada lima masjid besar di Hong Kong, empat di Hong Kong Island, satu di semenanjung Kowloon, yakni Jamiah Masjid (Shelley Street Mosque) di
30 Shelley Street, Central. Dibangun tahun 1890, direhab tahun 1905, masjid ini tertua di Hong Kong dan oleh pemerintah setempat dimasukkan dalam daftar bangunan bersejarah yang harus dilestarikan.

Selain masjid, ada juga mushalla seperti Mushala Al-Falah KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) di Leighton Road, Causeway Bay. Tentu saja, mushalla juga ada di shelter-shelter, bahkan “semua tempat terbuka” di Hong Kong –seperti taman Victoria Park– bisa menjadi ”mushalla” dan tempat pengajian. Pemerintah dan warga Hong Kong tidak memasalahkan ada orang shalat di taman, bahkan di emper toko sekalipun. Victoria Park sudah menjadi langganan tempat shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

Kehadiran masjid disemarakkan dengan kehadiran sejumlah organisasi Islam. Selain puluhan –bahkan mungkin ratusan— organisasi informal yang didirikan dan dikelola para perantau, saat ini sedikitnya ada 17 organisasi Islam.

Mereka antara lain Chinese Muslim Cultural and Fraternal Association, Dawat-e-Islami, H.K., Fanlink Post, Hong Kong Chinese Islamic Federation, dan Hong Kong Islamic Youth Association. Ada juga Hong Kong Muslim Women Association, Idara Minhajul Quran, Incorporated Trustees of the Islamic Community Fund of Hong Kong, dan Indian Muslim Association Jama-ath Ltd.

Masjid-masjid dan organisasi Islam itu juga mengelola sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam atau madrasah yang ada di Hong Kong antara lain di Kowloon Mosques and Islam Centre, Masjid Ammar & Osman Ramju Sadick Islamic Centre, dan Sham Shui Po KNM Islamic Education Centre. Selain itu, Kwai Chung Madressa, dan Madressa Faizan-e-Madinah.

Tantangan
Kehidupan umat Islam di Hong Kong relatif aman, damai, dan “tanpa masalah” berarti. Toleransi masyarakat Hong Kong terhadap kaum Muslim begitu baik. Sebagai contoh saja, saya pernah mengimami shalat Magrib, Isya, dan Tarawih di pendopo Victoria Park, berdampingan dengan warga Hong Kong yang sedang asyik main Mahjong. Warga Hong Kong lainnya yang lalu-lalang di samping barisan shaf pun tidak peduli atas keberadaan kami yang tengah shalat.

Namun, masalah justru datang dari kalangan BMI sendiri. Seperti dituturkan pejabat KJRI Hong Kong yang menolak disebutkan namanya, BMI yang “lemah iman” banyak yang terjerumus pada perilaku seks menyimpang (lesbian), bahkan mereka mendirikan kelompok lesbi, menikah layaknya suami-istri, dan diakui pemerintah Hong Kong.

Tidak sedikit pula BMI yang kian jauh dari agama karena terjerumus pada aliran kiri dan kelompok tari dengan pakaian ala kadarnya. Kasus lainnya adalah kawin campur atau nikah beda agama, yakni BMI yang Muslimah dengan warga Hong Kong yang agamanya tak jelas. Namun, alhamdulillah, ada juga yang berhasil menarik calon suaminya masuk Islam lebih dulu.

Isu lebih “menantang” adalah Kristenisasi. Menurut Ustadz Abdul Ghofur, ada perantau bernama Husnul Khotimah meninggal dunia dalam kedaan berkalung Salib. “Begitu dibawa ke masjid mau dishalatkan, pihak masjid menolak karena ada salib itu,” kata Ghofur prihatin. Contoh lainnya. ”Siti Aisyah, anak seorang kiai, dia murtad dan menjadi ‘da’iyah’ Kristen, mengajak perantau lain murtad, seraya mengatakan ”saya anak kiai lebih percaya Kristen,” papar Ghofur.

Ustdz Ghofur berharap, ada Lembaga Amil Zakat (LAZ) Indonesia lain hadir di Hong Kong untuk bersama-sama membina perantau. “Yang kita bina baru sekitar 25 ribu, masih ada 110,000 perantau yang belum tersentuh pembinaan, mereka rawan menjadi obyek missi kelompok lain yang tidak seiman dengan kita,” ungkapnya.

Maraknya pengajian dan organisasi Islam bahkan menjadikan sebagian perantau lebih Islami ketimbang di Tanah Air. Mereka yang sebelumnya tidak bisa mengaji, kini bisa baca Qur`an dengan lancar. Mereka yang sebelumnya setengah-setengah menjalankan perintah Allah, kini makin rajin beribadah. Antrean wudhu di toilet-toilet selalu panjang bila waktu shalat tiba. * SUARA HIDAYATULLAH, JANUARI 2011

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment