Roni Tabroni, S.Sos. Pendekar Pendidikan dari Kampung Belajar

Alokasi anggaran pendidikan memang naik menjadi 20 persen dari APBN. Namun, nyatanya, hal itu tidak menjamin seluruh warga negara bisa dan mau bersekolah. Tidak meratanya pendidikan bagi anak usia sekolah bukan semata disebabkan tidak adanya biaya atau mahalnya biaya sekolah.

Salah satu faktor dominan adalah masalah budaya dan karakter sebagian masyarakat. Bagi sebagian masyarakat yang tinggal di perkampungan atau desa, sekolah cukup hingga tamat SD. Bahkan ada yang beranggapan pendidikan sebatas bisa membaca dan menulis saja.

Kegundahan terhadap kondisi itu telah menuntun Roni Tabroni (32) untuk mencari tahu, apa gerangan yang membuat masyarakat desa tetap termarjinalkan dari segi pendidikan. ”Persoalan kultur dalam masyarakat tidak bisa diselesaikan dengan materi, bahkan hanya dengan pembebasan biaya sekolah sekalipun,” ujar Roni, praktisi pendidikan alternatif yang juga dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Jawa Barat, kepada Suara Hidayatullah.

Pada awal 2008, Roni melakukan riset ”kecil-kecilan” ke beberapa kampung di Jawa Barat bersama teman-temannya. Tidak jauh dari dugaan awal, hasil riset menunjukkan masalah pendidikan tidak sepenuhnya karena biaya sekolah. Namun, pada kultur masyarakat pedesaan. Ada dua pilihan untuk mereka: sekolah atau tidak.

Bukan hal mudah untuk menentukan pilihan. Jika kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan, anak-anak lebih baik bekerja untuk menambah penghasilan keluarga. Kalau ada kesempatan, sekolah menjadi pilihan walaupun harus membolos sesekali. Juga, meski harus membolos sesekali karena tidak ada ongkos atau uang SPP belum terbayarkan.

Menurut Roni, ada dua kondisi masyarakat dalam hal pendidikan. Yakni anak yang tidak mengenyam dunia pendidikan sama sekali dengan anak yang sekolah namun tidak optimal. Kedua persoalan ini, kata Roni, bisa diatasi dengan program yang menjadikan belajar sebagai bagian dari aktivitas keseharian mereka. Baik mereka sekolah atau tidak.

”Allah memang tidak menuntut kita untuk pintar, tetapi kita selalu dituntut untuk belajar. Belajar harus tetap dilakukan kendati dalam kondisi sangat terbatas. Paling tidak, bagaimana masyarakat tetap bisa belajar. Meskipun mereka tidak harus datang ke sekolah,” kata Roni.

Kampung Belajar
Dari hasil riset itulah, Roni dan teman-temannya yang tergabung dalam Tepas Institute membuat program swadaya masyarakat bernama ”Kampung Belajar.” Ada dua fokus program utama di Kampung Belajar (KB). Pertama, dari sisi geografis program ini harus berada di pedesaan atau kampung.

Kedua, program harus terkait langsung pada persoalan pendidikan non formal atau alternatif agar lebih leluasa dalam dalam berkiprah. Di sinilah peran motivasi begitu penting bagi masyarakat di pedesaan

“Program ini hadir bukan untuk mengajari masyarakat. Tetapi paling tidak untuk membantu potensi yang sudah ada dalam masyarakat sendiri, untuk menumbuhkan minat belajar itu,” ujar pria kelahiran Tasikmalaya, 27 September 1978.

Untuk mewujudkan program tersebut, dipilihlah Kampung Bungur, Desa Mandalasari, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat sebagai tempat percontohan dari pelaksaan Kampung Belajar.

Kampung Bungur, sekitar 35 km dari pusat kota Bandung Barat, merupakan potret kampung terpencil. Mayoritas penduduknya adalah petani dengan tingkat pendidikan hanya tamatan SD.

Sebuah saung (rumah bambu) milik warga setempat disulap sebagai pusat kegiatan KB. ”Yang perlu diketahui, sebenarnya Kampung Belajar bukan perpustakaan, bukan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) apalagi Kejar (kelompok belajar). Tapi itu semua ada di Kampung Belajar,” ujar bapak satu putri ini menjelaskan.

Pada tahun pertama, Roni sendiri yang menjadi pelakunya. Sebagai ketua program, penggagas, sekaligus menjadi relawan. Di tengah kesibukannya sebagai dosen, dia menyempatkan waktunya mengajari anak-anak kampung membaca, menulis, dan juga berkreativitas.

Setiap Sabtu dan Ahad, ia membagi ilmu kepada puluhan anak yang ada di kampung tersebut. Meski jarak dari rumahnya ke Kampung Belajar lebih dari 65 km, itu tidak mengendurkan semangatnya.

Roni lahir dari keluarga sederhana. Namun kedua orang tuanya, terutama sang bapak selalu mendorong Roni untuk terus belajar. Masa remaja ia habiskan di kota santri tersebut. Setelah menyelesaikan SMA, Roni hijrah ke kota Bandung.

Roni diterima sebagai mahasiswa Ilmu Jurnalistik di UIN Sunan Gunung Djati Bandung hingga lulus sebagai sarjana 2003. Semasa kuliah, pria kalem ini juga aktif sebagai reporter surat kabar lokal maupun nasional.Termasuk aktif di organisai kepemudaan Muhammadiyah dan ICMI Jawa Barat.

Usai tamat kuliah, ia semakin tekun terjun di bidang pendidikan. Mulai dari menyelenggarakan kursus singkat jurnalistik, hingga membentuk komunitas Tepas Institute. Sebuah komunitas anak muda yang peduli terhadap pemberdayaan masyarakat. Salah satu programnya adalah ”Kampung Belajar”.

Di Kampung Belajar ini Roni membentuk perpustakaan bagi masyarakat. Buku-buku yang disediakan berupa buku sekolah sebagai acuan belajar anak yang sudah sekolah. Sementara buku bacaan umum yang edukatif ditujukan untuk merangsang minat baca anak.

Di Kampung Belajar, Roni juga membentuk kelompok belajar berdasarkan kategori anak yang sudah bisa membaca dengan yang belum. Metode pembelajaran dilakukan dengan mengadakan kegiatan non-formal seperti membaca, diskusi, kursus, bimbingan, dan kegiatan lain yang memberi motivasi belajar bagi masyarakat.

Hasil dari KB ini sedikitnya telah mengubah perilaku masyarakat yang awalnya acuh terhadap budaya baca menjadi gemar membaca dan selalu ingin tahu.

Saat ini, KB sudah ada di empat titik garapan. Satu di Kabupaten Bandung Barat, dua ada di Kabupaten Tasikmalaya (Kampung Calincing dan Sukaraja), satu lagi di Kabupaten Kuningan. Pembaca bisa mengunjungi situsnya di www.kampungbelajar.com.

Suami dari Dewi Mulyani ini tidak sendiri lagi. Ada 10 relawan tetap yang siap membantunya. Bahkan sang istri pun dilibatkan dalam kegiatan mulia tersebut.

Waktu belajar disesuaikan dengan kesanggupan para relawan yang tinggal di sekitar kampung. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada alasan transportasi dan jauh dari lokasi.

Para relawan juga tidak harus seorang sarjana. KB di Kuningan misalnya, relawannya hanya lulusan SMP.

Meski sudah banyak yang meminta untuk membuka KB di berbagai daerah, saat ini Roni belum mau menerima tawaran tersebut. Dirinya ingin menjadikan yang sudah berjalan tersebut sebagai percontohan.

”Jika ada yang ingin membuka atau meniru atau mengadopsi silakan saja.Yang penting niatnya tulus untuk pemberdayaan masyarakat kampung dalam rangka mengubah kultur pasif (mendengar) menjadi kultur aktif (membaca, menulis).Tetapi jangan untuk mencari proyek yang hanya mencari materi semata,” ujar nominator Sayembara Penulisan Naskah Buku Bacaan Anak Depdiknas Tingkat Nasional tahun 2009.* Ngadiman/Suara Hidayatullah PEBRUARI 2011

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment