Yang Tengah yang Bermasalah

Yang Tengah yang Bermasalah

Mengaku ilmiah, tetapi tidak diakui para ilmuan.

Sebuah diskusi pakar berlangsung di Hotel Grand Sahid, Jakarta 20 Januari lalu. Profesor Sarlito Wirawan Sarwono, guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, yang menjadi tamu penting di acara itu terpaksa mangkat pada tengah hari meski acara belum selesai. “Saya pulang duluan karena ada rapat lain,” tulis Sarlito di akun Facebooknya.

Kehadiran Prof. Sarlito di acara itu memang bukan sebagai pembicara atau pembawa makalah. Namun kehadiran dan komentarnya soal tema diskusi adalah hal penting bagi pihak penyelenggara yakni, PT. Genius Mind Consultancy (GMC) Indonesia. Apalagi jika pernyataan Sarlito mendukung tema diskusi.

Diskusi bertajuk Mengupas Metode GMC Dari Konsep Neuroscience itu dihadiri sekitar 40 pakar dan ahli terkemuka di bidang psikologi dan ilmu syaraf. Acaranya tertutup untuk umum, tak terkecuali wartawan.
Menurut situs resmi GMC Indonesia, www.gmc-geniusmind.com, acara tersebut diadakan menyusul komentar-komentar miring soal metode pelatihan aktivasi otak tengah yang menjadi jualan utama perusahaannya. Ada yang menilai metodenya tidak ilmiah, penipuan berkedok pelatihan, aliran sesat, hingga melibatkan jin atau roh halus. Dan, Prof. Sarlito adalah salah satu ilmuan yang paling keras mengkritik pelatihan aktivasi otak tengah ala GMC ini.

Hal tersebut diakui GMC cukup beralasan. Sebab, menurut keterangan mereka sendiri, seorang anak yang telah diaktivasi otak tengahnya akan semangat belajar dan cerdas, hormat terhadap orangtua, dan percaya diri. Selain itu, anak juga akan dapat membaca dan melakukan banyak hal dengan kondisi mata tertutup.
Bukan itu saja, pihak GMC bahkan mengklaim anak yang teraktivasi otak tengahnya bisa melihat objek di balik dinding, bisa menyembuhkan orang sakit, bahkan bisa mengetahui peristiwa yang akan terjadi. Pembaca bisa membaca keterangan-keterangan tersebut di situs GMC dan buku rujukan GMC, Dahsyatnya Otak Tengah, tulisan Hartono Sangkanparan.

Pihak GMC berkeras hal-hal tersebut bisa dijelaskan secara ilmiah. Tanpa unsur magis dan klenik. Untuk mengaktivasi otak tengah, GMC menggunakan teknologi komputer modern, kolaborasi musik, dan berbagai macam audio lainnya. GMC menyamakan hal tersebut dengan teori penggunaan musik klasik, seperti Mozart, untuk mencerdaskan janin yang masih dalam kandungan.

“Letak perbedaannya, bayi telah tumbuh menjadi anak-anak. Jadi musik atau suara yang digunakan perlu lebih kuat beberapa kali dari musik Mozart,” demikian ditulis GMC di situs resminya.

Menurut GMC, otak tengah (midbrain/mesenchepalon) adalah sebagai jembatan antara otak kiri dengan otak kanan. Sayangnya, kebanyakan otak tengah manusia dalam kondisi tertidur, interbrain manusia tidak dapat berkembang secara maksimal. Karenanya, fungsi interaktif antara otak kiri dan otak kanan mengalami keterbatasan.

Pihak GMC mengaku, metode mereka dapat mengaktifkan otak tengah anak usia 5–15 tahun dalam waktu hanya satu setengah hari. Kenapa harus anak berusia 5–15 tahun? Karena, kata GMC, anak usia tersebut cenderung mudah diajak bekerjasama.

Setelah midbrain diaktifkan, daya ingat anak dapat meningkat, daya konsentrasi membaik; daya kreasi bertambah, gerakan kinetik juga menjadi lebih baik, hormon menjadi seimbang, serta emosi menjadi stabil. Bahkan GMC mengklaim, metode yang digunakan memiliki tingkat keberhasilan mencapai 70-80%.

Memutar Fakta?
Kembali ke acara diskusi. Walau pulang awal, Prof Sarlito sempat menyimak presentasi ketiga pembicara. Dr. Taufik Pasiak, M.pd.,M.Kes dari Neuro Sciene Club, serta dua dokter spesialis syaraf dr Jofizal Janis, Sp.S(K), dan dr Adre Mayza, Sp.S(K).

Dalam catatan Facebooknya, Sarlito menulis, ketiga pembicara dan Kepala Pusat Inteligensi Kementerian Kesehatan, dr. Kemas M. Akib Aman, tidak membenarkan peran otak tengah sebagai pusat pengembangan kecerdasan, apalagi kepribadian.

Kata Sarlito, dr. Taufik bahkan menyatakan bahwa teknologi yang tercanggih untuk meningkatkan kecerdasan adalah pendidikan. Kalaupun mau intervensi harus terhadap fungsi otak secara keseluruhan bukan hanya melalui aktivasi otak tengah (AOT).

Meski demikian, Sarlito juga sempat mengirimkan pesan dan kesimpulannya lewat pesan singkat (SMS) kepada Presiden Direktur GMC, Donny Satiya, dan dibacakan saat acara sedang berlangsung. Isinya, kata Sarlito, tetap menentang AOT, walau di sisi lain ada teknik-teknik pelatihan standar yang sudah benar.

Namun GMC berkesimpulan lain. Di situs resminya dan lewat keterangan persnya yang dimuat di harian Koran Tempo (29/1) dan situs berita detikhealth.com (25/1), GMC malah mengatakan para pakar telah mendukung metode mereka.

Kesimpulan versi GMC lainnya, bahwa program stimulasi otak (awalnya aktivasi otak) versi GMC Indonesia sudah sesuai dengan pendekatan ilmiah dan proses pembelajaran untuk anak-anak. GMC mengubah nama Aktivasi Otak Tengah menjadi Brain Stimulation/Stimulasi Otak. Karena pada dasarnya metode GMC adalah menstimulasi seluruh bagian otak, bukan hanya otak tengah. Belakangan hal ini juga diikuti penyelengara AOT lainnya. Seperti Anak Jenius Indonesia (AJI) yang mengganti istilah aktivasi otak tengah menjadi stimulasi otak atau brain development.

Suara Hidayatullah mengkonfirmasikan hal ini kepada salah seorang pembicara diskusi pakar tersebut, dr. Adre Mayza, seorang spesialis syaraf yang juga Kepala Bidang Penanggulangan Inteligensi Kesehatan, Pusat Inteligensi Kementerian Kesehatan RI. Ternyata Adre menyangkalnya.

Adre memang membenarkan soal penggantian istilah aktivasi otak tengah menjadi stimulasi otak. Tapi dia tidak pernah mengatakan metode pelatihan ala GMC telah sesuai dengan pendekatan ilmiah. “Ada yang harus ditambah dan dikurangi,” kata Adre.

Adre mengatakan konsep AOT tidak dikenal secara akademis. Dia pun menilai, GMC telah keliru soal fungsi otak tengah dan terlalu membesar-besarkan.

Kata Adre otak tengah bukanlah penghubung antara otak kiri dengan otak kanan. Otak tengah adalah relay station lintasan arus elektrik, zat-zat neurokimiawi dari batang otak menuju otak besar.

Adre juga mengatakan sebenarnya otak tengah sudah aktif sejak manusia dilahirkan. “Bagian otak manusia semuanya aktif,” ujar Adre menjelaskan.

Adre juga menyangkal hubungan membaca dengan mata tertutup (blindfold reading) dengan kecerdasan. “Apa gunanya dia punya mata lalu baca enggak pakai mata,” tandas Adre.

Dari Malaysia
Metode AOT pertama dipelopori oleh lembaga Genius Mind Consultancy yang berpusat di Malaysia sejak tahun 2005. GMC menjadi lembaga internasional setelah membuka cabang waralabanya di sejumlah negara seperti Singapura, Hongkong, Australia, termasuk Indonesia.

Donny Setiya membeli lisensi master waralaba dari GMC International di Malaysia melaui seorang trainer utamanya, Mr. David Ting.

Saat ini GMC telah memiliki cabang hampir di seluruh kota di Indonesia. Dari Aceh hingga Papua, dengan biaya pelatihan mulai dari Rp 3,5 juta per anak. Selain GMC, ada beberapa lembaga lain yang menjajakan program AOT seperti Anak Jenius Indonesia (AJI), Genius Muslim Generation (GMG), Mesenchepalon Activation Program, dan Power Brain.* SUARA HIDAYATULLAH, MARET 2011

1 Comment »

  1. avatar comment-top

    born@unleveled.sheriffs” rel=”nofollow”>.…

    ñýíêñ çà èíôó….

    comment-bottom

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment