Bersama Wujudkan Cita

Bersama Wujudkan Cita

Mengikatkan diri dalam pernikahan sejatinya menautkan hati, menggabungkan potensi, dan bekerjasama mencapai tujuan

Setiap pernikahan pasti memiliki cita-cita. Cita-cita untuk berbuat dan menjadi yang terbaik. Dan, setiap orang pasti menginginkan pernikahan dapat menjadi jembatan yang lebih kokoh untuk menuju cita-cita tersebut.

Namun, yang terjadi di banyak cerita miring seputar pernikahan adalah penyesalan tentang cita-cita, terbentur berbagai realita dalam pernikahan. Sehingga banyak orang yang kemudian menganjurkan agar mereka yang masih sendiri menikmati terlebih dahulu masa lajang, sebelum memutuskan untuk menikah nantinya.

Hingga di sini, timbullah pertanyaan, “Sebegitu menyesakkannyakah pernikahan, sehingga membuat mereka yang menjalaninya lebih banyak yang kekurangan oksigen untuk mengejar cita-cita semula?” Tentu saja, meski banyak yang merasakannya dan mengiyakan dalam hati, kondisi ini bukanlah sesuatu yang dibenarkan.

Memberi dan Melengkapi
Cobalah tengok kembali komitmen yang digenggam di detik-detik awal pernikahan. Adakah cita-cita yang dibagi dengan pasangan atau sejenak membicarakan tentang cara meraih mimpi masing-masing orang? Lalu, adakah cita-cita bersama yang digantungkan dalam benak dan disepakati untuk diwujudkan?

Bila belum ada atau sudah terlupa, maka marilah menyepakatinya sekarang. Karena, cita-cita bersama ini begitu penting dalam pernikahan, guna membangun kekuatan yang diinginkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kamu dari yang satu dan darinya Allah menciptakan pasangannya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan wanita yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya, Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa [4] ayat 1).

Merenungi ayat di atas, begitu jelas Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk selalu bersinergi, bahu-membahu untuk menjalankan visi dan misi pernikahan. Dimana setiap pasangan saling mengisi dan melengkapi untuk mewujudkan tujuan.

Akan tetapi, kenyataan yang kini banyak terjadi di depan mata adalah banyaknya pasangan yang “berjalan sendiri-sendiri.” Sang suami sibuk mengejar ambisi untuk meraih cita-cita pribadinya. Demikian pula dengan sang istri yang juga sibuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Tak ada yang peduli dengan kebutuhan pasangannya. Tak ada ruang untuk saling menyapa, apalagi saling mendukung. Semua demi apa yang menurut masing-masing orang benar dan perlu diperjuangkan. Yaitu kehormatan materialistik; prestise, kekayaan, dan gelar. Apalagi jika semakin dilegalkan dengan satu alasan: bargaining position. Maka, kesendirian pun semakin menjadi pilihan untuk menentukan jalan dan keputusan.

Sungguh, ini adalah kondisi yang sangat tidak menyenangkan. Yang kemudian terjadi adalah kompetisi antar suami-istri untuk membuktikan sejauh mana eksistensi yang mereka miliki. Ruang-ruang kehangatan semakin sepi dan perceraian adalah jalan yang menghinggapi pikiran. Padahal, saling meminta dan saling menguatkan justru menjadikan segala sesuatunya lebih ringan dan penuh kasih sayang.

Karena itu, kembali pada tujuan dan cita-cita bersama dengan cara memudahkan dan mengikhlaskan, tentu akan mendamaikan prasangka dan emosi. Semua ini bersesuaian dengan salah satu kaidah dalam Islam yaitu: “berilah kemudahan dan hindarilah kesulitan”.

Syaikh Dakhilullah bin Bukhait Al-Mathrafi dalam Fataawa Az-Zaujain menegaskan, tidak akan pernah ada penyelesaian yang baik dalam permasalahan antara suami dan istri bila masing-masing tidak rela kehilangan sebagian haknya. Masing-masing pihak juga perlu mempermudah dan menggampangkan segala masalah, bersabar menghadapi segala sikap kurang baik dari pasangannya, dan selalu menolong pasangannya dalam susah dan senang.
Pahamilah bersama bahwa Allah pun selalu menciptakan mahluk-Nya dalam kegenapan dan berpasang-pasangan. Karena itu, tak ada tempat di dunia ini bagi mereka yang memilih sendiri. Demikian pula dalam pernikahan, setiap mimpi tak seharusnya menjadi milik sendiri. Setiap cita-cita harus menjadi pelecut bagi setiap pasangan untuk bersama mewujudkannya.
Dalam sebuah pernikahan, setiap pasangan dilatih untuk bekerja sama, bahu-membahu menyatukan kekuatan untuk mengokang senjata memerangi penyakit masyarakat, mengokohkan pondasi-pondasi kehidupan, lalu mempersembahkan karya terbaik untuk menjamin masa depan umat lebih baik. Inilah yang diharapkan dapat lahir dari rahim-rahim keluarga yang dibina oleh pasangan yang sama-sama memperjuangkan titah-Nya. Pastinya, harapan ini tak akan pernuh mewujud, bila masing-masing orang masih sibuk dengan ego-nya.

Seperti Rumah Tangga Rasul
Marilah merenungkan kembali apa yang sesungguhnya menjadi kemuliaan utama bagi kita. Pernikahan, sejatinya adalah salah satu misi untuk mencapai visi utama diciptakannya kita sebagai hamba. Alasan cinta, alasan prestise, alasan masa depan, atau alasan lain yang mendasari terjadinya sebuah pernikahan; sungguh hanyalah tambahan warna untuk membuat sebuah pernikahan menjadi lebih indah. Alasan utama berada di jalan ini tentunya adalah kemuliaan kita di hadapan Allah semata. Karena itu, marilah bersama menjalani pasang-surutnya realitas kehidupan dengan bersinergi. Menyatukan potensi yang dimiliki agar titian menggapai rida-Nya menjadi semakin mudah.

Sebagaimana yang diteladankan oleh Rasul-Nya yang mulia, yang menjadikan keluarganya sebagai gerbang pertama yang mengantarkan beliau pada perjuangan di tengah masyarakat, sekaligus gerbang pelindung manakala beliau menghadapi tekanan masyarakat. Demikian pulalah seharusnya kita menjadikan pernikahan dan keluarga sebagai base camp perjuangan.

Alangkah indah bila pasangan menjadi penyokong utama perjuangan, sekaligus perbekalan yang tak pernah habis mensuplai tenaga, manakala orang lain telah meninggalkan. Inilah yang selalu dikenang Rasulullah dari sosok Khadijah yang telah menjadi mitra utamanya menjejaki masa-masa tersulit dalam dakwah. Bahkan kehadiran istri-istri setelah wafatnya Khadijah, tak pernah dapat menggantikan arti kehadirannya di hati Rasulullah.

Tentu kita pun ingin meretas jalan kehidupan berumah tangga layaknya rumah tangga Rasulullah. Sekali lagi, layaknya rumah tangga Rasulullah. Bukan rumah tangga seperti orang-orang yang biasa kita lihat dan biasa kita dengar. Inilah yang harus kita tanamkan kuat-kuat dalam hati. Bahwa rumah tangga kita haruslah seperti rumah tangga yang pernah dibina oleh Rasulullah. Yakni, kehidupan rumah tangga yang didasari oleh cita-cita besar untuk meneruskan risalah dan membangun peradaban Islam.

Hal ini akan membuat mata dan jiwa kita tertuju pada cita-cita utama kita dan menyelaraskan cita-cita pribadi kita menjadi pijakan-pijakan antara untuk mewujudkan cita-cita utama tersebut. Dengan demikian, perbedaan-perbedaan, konflik, dan masalah kelak semakin menyatukan langkah dan menjadi pelangi dalam keseharian. SUARA HIDAYATULLAH, MARET 2011

*Kartika Trimarti, ibu rumah tangga tinggal di Bekasi

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment