Hasyim Malewa:  Dari Tukang Masak Menjadi Pengusaha

Hasyim Malewa: Dari Tukang Masak Menjadi Pengusaha

DOK. SAHID

Niat hati menuntut ilmu agama di pesantren, apa daya malah disuruh jadi tukang masak. Tapi siapa sangka, sang juru masak kini menjadi seorang pengusaha. Tidak tanggung-tanggung, rekanan bisnisnya pun PT Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur.
Cerita bermula pada 1983. Hasyim Malewa yang saat itu masih belajar di kelas V sekolah dasar, memutuskan mondok di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur yang didirikan oleh Ustadz Abdullah Said (alm).

Hasyim membulatkan tekad untuk nyantri setelah mendengar ceramah salah seorang dai Hidayatullah yang juga berasal dari tanah kelahirannya, di Samarinda. Berharap menimba ilmu agama, Hasyim malah ditugaskan mengurus dapur, yakni sebagai juru masak.

Pria kelahiran 43 tahun silam ini masih ingat kala ia mendapat tugas perdananya itu. “Semua panci untuk masak bocor, karena bara dari kayu yang digunakan untuk memasak sangat panas,” kata Hasyim. Agar tugas terus berjalan, Hasyim berinisiatif memotong drum sebagai pengganti panci.

Pria berdarah Bugis ini mengaku, bertugas sebagai juru masak di pesantren sangat berat. Tentu saja setiap hari harus ada makanan untuk para santri. Jumlah santri tak hanya puluhan, melainkan ratusan. Bisa dibayangkan, masak untuk beberapa orang saja sudah berat, apalagi ratusan orang. Wooo…sungguh berat.
Apalagi, selain belajar para santri juga punya tugas membangun pesantren, seperti mencangkul. “Maklumlah ketika itu Pesantren Hidayatullah masih pada masa perintisan,” kenang Hasyim.

Otomatis, setelah tenaga diperas untuk mencangkul atau mengangkat batu, mereka butuh pasokan makanan yang cukup. Maka berapapun makanan dilalap habis Hasyim menjalankan ‘profesinya’ dengan tekun dan sabar. Namun rutinitas kadang kerap membuat orang jenuh. Sudah begitu, ada saja anggota tim dapur yang kurang bertanggung jawab. Lengkap sudah kejengahan yang dialami Hasyim. Pernah suatu ketika ia meninggalkan tugas sebagai juru dapur. “Tapi tidak untuk lari dari amanah,” kata Hasyim. Hal itu ia lakukan untuk memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya yang kurang tanggung jawab itu.

Saat itu, ia ‘lari’ ke ke Gunung Binjai yang lokasinya tak jauh dari Pesantren Hidayatullah di Gunung Tembak. Di Gunung Binjai itu Hidayatullah punya peternakan sapi. Baru beberapa hari di sana, eh Hasyim ditarik Kepala Kampus Pesantren Hidayatullah, Wakiyo, untuk kembali ke dapur.

Tiga hari di dapur, tugasnya diambil alih santri lain. Lalu Hasyim resmi dipindah tugaskan di tengah hutan Gunung Binjai untuk mengurus 20 ekor sapi. “Jadi tugas saya dari kasih makan manusia, beralih menjadi pemberi makan sapi,” kata Hasyim mengenang.

Tak lama di tengah hutan, Hasyim dimutasi ke Sekretariat Pesantren Hidayatullah yang berada di Karang Bugis. Di sini, Hasyim kembali menjabat sebagai petugas dapur. Padahal hati kecilnya berharap ada perubahan. “Tapi kita hanya bisa menunggu, pengaturan penugasan wewenang pimpinan,” katanya.
Tak lama menjadi petugas dapur, harapannya Hasyim terkabul. Saat banyak kawan-kawannya ditugaskan dakwah ke daerah lain -sesuai tradisi di Hidayatullah, Hasyim tetap berada di Karang Bugis. Kali ini ia naik posisi sebagai staf administrasi keuangan yayasan. Tugasnya mencatat pengeluaran, pemasukan, dan lain-lain. “Waktu itu saya tidak tahu mengetik, di posisi ini saya harus banyak belajar lagi,” kata Hasyim penuh semangat.

Selain belajar mengetik, Hasyim juga banyak belajar berinteraksi dengan orang lain. Semua itu menjadi pelajaran berharga dalam hidup Hasyim. Dan, manfaat dari pelajaran itu baru dirasakannya saat mulai terjun ke tengah masyarakat.

Belajar bisnis
Untuk menopang dakwah, kala itu Pesatren Hidayatullah Balikpapan memiliki unit usaha, seperti peternakan dan konstraktor. Ketika ditugaskan di konstruksi, Hasyim meminta agar ditugaskan di bagian lapangan.
Pada suatu kali ia sedang mengawasi proyek pembangunan rumah. Ia ingat betul, saat tengah berada di proyek, seseorang bertanya kepadanya kapan proyek itu akan selesai. Dengan percaya diri Hasyim menjawab, “Kita tidak bisa pastikan, Pak. Bisa satu minggu, bisa dua minggu.”

Betapa kagetnya Hasyim, setelah belakangan ia tahu bahwa orang yang bertanya tadi adalah pemilik rumah. Jawaban itu menunjukkan betapa bodohnya dirinya. “Maklumlah, saat itu saya memang sama sekali tidak paham soal bangunan,” katanya terus terang.

Berbekal pengalaman itulah, ia memberanikan diri merintis bisnis sendiri. Hasyim mengisahkan awal ia merintis bisnis. Pada 1992, ia mendapat kabar Pertamina memerlukan rekanan untuk memelihara taman di kawasan kilangnya. Nah, Hasyim ingin mengambil pekerjaan tersebut. Namun ia tidak punya modal. Lalu ia menggalang dana dari kawan-kawannya, terkumpul uang enam juta rupiah. Itulah modal awalnya.
“Alhamdulillah, proyek itu bisa saya dapatkan. Inilah pekerjaan pertama saya. Waktu itu nilai kontraknya sekitar 500 juta rupiah,” katanya tersenyum.

Dengan itu ia mempekerjakan 36 orang ditambah 12 mesin rumput untuk melakukan perawatan taman di areal seluas lebih dari satu hektar di kilang Pertamina Balikpapan. Hingga kini, Hasyim masih menjadi rekanan Pertamina di Balikpapan. Namun anak kelima dari enam bersaudara ini masih tercatat sebagai pengurus di Yayasan Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Tidak hanya itu, sebagian keuntungan dari proyeknya pun selalu ia sumbangkan kepada pesanstren yang membesarkannya.

“Gedung kantor pesantren ini dibangun dari dana Pak Hasyim,” kata seorang warga Hidayatullah yang menemani Suara Hidayatullah beberapa waktu lalu di Balikpapan, seraya menunjuk ke sebuah gedung di depan Kampus Hidayatullah Karang Bugis.

Pendidikan untuk Anak
Kini, Hasyim telah menuai hasil jerih payahnya. Ia mengaku seluruh pengalaman dan pelajaran hidupnya lebih banyak didapatkan dari lapangan, bukan dari bangku sekolah. “Soal sekolah memang saya tak pernah selesai, ketika itu lebih banyak pengabdian,” kenangnya. Tapi ia mensyukuri semua itu.

Meski sekarang sudah lebih enak, tidak kemudian ia memanjakan anak-anaknya dengan kemudahan. Misalnya, ketika sang anak minta dibelikan motor. “Saya mencoba memahamkan kepada anak tentang fungsi, manfaat, mudharatnya,” kata Hasyim yang mengutamakan pendidikan agama kepada 7 orang anak-anaknya.
Soal anak, suami dari Hamsinah ini mengarahkan anak-anaknya untuk menjalankan program menghapal (tahfidz) al-Qur`an. Menurutnya, anak-anak yang mengikuti program tahfidz relatif lebih mudah dikendalikan. “Persoalan dia hafal selesai atau tidak, yang penting anak-anak sudah terkondisi,” katanya.

Ada satu nilai kehidupan yang tak luput ia sampaikan kepada sang buah hati dan generasi muda. Sebuah nilai yang ia petik sejak menjadi tukang masak hingga menjadi pengusaha sukses di Balikpapan.

“Tidak akan pernah ada kepuasan untuk melayani diri sendiri. Kepuasan hidup itu ketika kita bisa melakukan sesuatu dengan melayani dan memberikan manfaat orang banyak,” pesannya.* Ahmad Damanik, Bambang Subagyo/Suara Hidayatullah APRIL 2011

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment