Kesuksesan yang diraih merupakan paduan antara kejelian melihat peluang, kepintaran, kerja keras dan rajin ibadah.
Jas hujan buatan China itu begitu menggoda Parno. Matanya memerhatikan dengan seksama. Tangannya mulai memegang dan bahkan membolak-baliknya. ”Aha….ini prospeknya bagus,” cetusnya dalam hati. Dia seperti menemukan ide baru.
Ya, ide baru. Dia ingin membuat jas hujan seperti buatan China itu. Waktu itu di Indonesia belum ada yang memproduksinya. Tentu saja ini peluang bagus. Persoalannya, dia tak tahu bagaimana cara membuatnnya.
Tak kurang akal, jas hujan itu pun dia preteli satu demi satu. Beberapa sisinya dipotong. Setelah paham bentuk dasarnya, jas hujan itu dirangkai kembali seperti semula. “Ternyata gampang cara bikinnya,” katanya.
Parno makin mantap untuk segera membuat jas hujan. Pada tahun 1966, dengan berbekal uang Rp 20 ribu, dia memulai usahanya. Uang itu digunakan untuk membeli mesin dan plastik.
Awalnya, dia dibantu empat orang karyawan. Jas hujan atau juga disebut ’mantel’ buatan Parno diberi merek ’Cap Gajah.’ ”Jika sekarang ada jas hujan merek Cap Gajah, itu buatan saya,” tutur pria yang kini berjenggot putih.
Seiring dengan perputaran waktu, bisnis milik pria kelahiran Solo, Jawa Tengah tahun 1930 ini laris manis. Pesanan dari berbagai daerah terus mengalir. Parno menjualnya dengan cara grosiran, sehingga pembeli harus memesan dalam jumlah yang banyak. “Kami punya agen di berbagai daerah. Dari agen itu lalu menyuplai ke daerah lainnya,” jelasnya.
Kini, Parno memproduksi 23 macam jas hujan. Ada yang seperti jaket, baju dan celana. Ukuranya pun beragam, mulai dari anak-anak, dewasa hingga orang tua. Harganya tergantung dari ketebalan plastiknya, semakin tebal semakin mahal. Menurut Parno, jas hujannya dibandrol mulai dari Rp 6 ribu hingga Rp 35 rupiah per item.
Meski melesat, ternyata usaha yang digeluti Parno tak selamanya mulus. Dia pernah juga kena tipu. Ceritanya, ada orang yang pesan jas hujan dalam jumlah banyak. Naasnya, setelah barang dikirim, si pemesan tidak membayar, dan truk yang mengangkutnya pun tidak kembali. Untungnya, setelah sekian lamanya, truk miliknya dikembalikan. “Itu pelajaran bagi pebisnis pemula. Jangan mudah percaya pada orang lain. Jika beli dengan jumlah besar, minta dibayar di awal saja,” paparnya.
Kunci Sukses
Parno tak putus asa. Bahkan semakin giat. Dia berpikir untuk mengembangkan sayap bisnisnya dengan membeli mesin lagi. Sayang, mesin yang dibutuhkan mesti impor. Dia pun memutar otak. Daripada cari mesin ke luar negeri, lebih baik bikin sendiri, gumamnya.
Seperti ide membuat jas hujan, mesin miliknya pun dibongkar satu per satu. Seluruh peralatan dan cara merangkainya dia pelajari. Setelah paham, mesin itu dipasang kembali. Dia kemudian membeli onderdil dan seluruh peralatan mesin. Alat itu dirangkai menjadi mesin. Jadilah mesin buatan sendiri.
“Gara-gara membuat mesin sendiri dan sukses dalam berbisnis, saya dapat gelar doktor honoris causa dari Amerika Serikat beberapa tahun lalu,” katanya kepada Suara Hidayatullah sambil memerlihatkan foto saat penyerahan gelar kehormatan itu.
Dengan bertambahnya mesin, maka produksi jas hujan makin meningkat jumlahnya. Karena itu, jumlah karyawannya pun bertambah.
Parno tak hanya membuat ’mantel,’ dia mulai merambah ke karpet, sofa, dan tikar. Kini, omsetnya sudah miliaran rupiah per tahun. Untuk satu perusahaan saja, kata Parno, omsetnya berkisar lima milyar lebih per tahun. “Banyak deh, itu bagian keuangan yang tahu pastinya,” katanya.
Untuk mendistribusikan produknya, Parno mendirikan Toko Santri. Toko ini jumlahnya ada 16, tersebar di kota Solo.
Sekarang, Parno memiliki 600 karyawan yang bekerja di seluruh unit usahanya. Untuk masalah ibadah, Parno cukup ketat. Setiap karyawan diwajibkan melaksanakan shalat. Bagi karyawan wanita wajib berjilbab. Karyawan pria dan wanita dipisah. “Jika ada yang tak shalat gajinya bisa tidak dinaikan,” katanya sambil tersenyum.
Hal itu diakui Umul Khoiroh, salah seorang karyawannya. “Bapak sangat memerhatikan masalah ibadah. Kita juga wajib berjilbab. Kalau waktu shalat, pekerjaan harus ditinggalkan,” jelasnya.
Menurut Parno, salah satu kunci sukses bisnisnya selama ini adalah kejujuran. Sebab dengan itu, orang lain akan percaya. “Kalau jujur, insya Allah sukses. Orang percaya pada kita,” tegasnya.
Wujud Rasa Syukur
Sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan rezeki, Parno senantiasa berusaha menjalankan perintah-Nya. Selama berbisnis, dia mengaku tidak pernah berbohong kepada kliennya. Selain jujur, dia juga sangat berhati-hati dengan uang subhat, apalagi haram.
Bahkan, karena kehati-hatianya itu, ia memiliki empat buku keuangan tiap bulannya: buku pajak, buku zakat, buku suhbat, dan buku sedekah.
Buku subhat misalnya, berisi catatan transaksi keuangan yang bernilai subhat, seperti bunga bank. Tiap bulan, kata Parno, kadang jumlahnya mencapai Rp 30 juta. Uang itu lalu disumbangkan untuk fasilitas umum, seperti perbaikan jalan. Sedangkan sedekah, jumlahnya 60 persen dari keuntungan. “Enam puluh persen kita keluarkan untuk sedekah,” papar Parno.
Tidak hanya itu, Parno pun membangun lembaga pendidikan, mulai dari TK Islam Internasional, hingga SMP Islam Internasional. Bahkan, dia pun memiliki bidang bisnis lain yang diberi label syariah. Seperti perumahan syariah, auditorium syariah, kolam renang syariah, mobil jenazah syariah dan lain sebagainya.
“Itu semua dikelola dengan konsep syariah,” jelasnya. Parno sama sekali tidak khawatir dengan mengusung label syariah. Bahkan, dia sangat yakin memperoleh berkah yang banyak. ”Alhamdulillah, kami tidak pernah rugi, justru untungnya bertambah terus,” tuturnya.
Pekerja keras
Sebelum sukses seperti sekarang, Parno kecil adalah sosok pekerja keras. Dia pernah berjualan nasi bungkus keliling di desanya, Kalisoso, Sragen Jawa Tengah, hingga menjadi pembantu rumah tangga. Bahkan, dia pernah menjadi pembantu selama delapan tahun dengan delapan majikan.
Di Solo, dia sempat jualan permen keliling di Stasiun Balapan. Ketika itu, ia hanya mengenakan karung sebagai celana tanpa mengenakan baju sehelai pun karena memang tak punya. Dia pun merasakan gatal luar biasa lantaran karung tersebut banyak kutunya.
Pada malam hari, di mushalla, tempat ia istrihat, karung itu ia buka dan dilipatnya. Setelah itu, karena lapar, ia gigit. “Kretek, bunyi suara kutu yang kena gigit,” paparnya mengenang.
Karena sibuk berjualan itulah, Parno menyelesaikan SD-nya dalam waktu 12 tahun. Saat lulus dia sudah berusia 22 tahun. “Kata guru saya, saya diluluskan karena sudah tua,” katanya. *Saiful Anshor/Suara Hidayatullah, Mei 2011
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL