“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (Ali Imran [3]: 102)
Mukaddimah
Pesan utama setiap khutbah Jumat adalah ajakan untuk meningkatkan ketakwaan. Seruan takwa ini disampaikan berulang-ulang. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya persoalan tersebut. Tetapi, di sisi lain ajakan kepada takwa seringkali menjadi klise, diulang-ulang tetapi kehilangan makna. Seolah-olah ia bisa diperoleh dengan mudah, bahkan siapa pun yang mengaku Muslim sudah dianggap sebagai orang yang bertakwa, tanpa usaha sungguh-sungguh untuk meraihnya. Orang akan marah jika dikatakan bahwa ia tidak termasuk orang bertakwa atau belum mencapai derajat takwa.
Jika menilik janji-janji Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang-orang yang bertakwa, kita bisa menyimpulkan bahwa orang bertakwa memiliki kedudukan tertinggi di mata Allah. Tak heran, sebab orang yang bertakwa mendapat jaminan diampuni dosa-dosanya. Selain itu, ia juga bakal mendapat rezeki yang tak disangka-sangka, hingga janji-janji yang lain berupa kemudahan dalam segala urusannya. Namun sayang, menengok realitas umat Islam saat ini rasanya jauh sekali dari janji-janji Allah tersebut. Tentunya bukan karena Allah ingkar janji, tapi kualitas umat Islam yang hingga saat ini belum mampu mencapai syarat sebagai orang bertakwa yang berhak meraih janji keberuntungan dari Allah tersebut.
Makna Ayat
Imam ar-Raghib al-Ashfani mendefinisikan takwa sebagai upaya menjaga diri dari sesuatu yang menimbulkan dosa, yaitu dengan jalan meninggalkan apa saja yang dilarang Allah, bahkan meninggalkan sesuatu, yang sebenarnya tidak dilarang, karena semata-mata takut terjerumus ke dalam sesuatu yang dilarang atau dosa. Nampak jelas dari pengertian tersebut, jika orang bertakwa adalah orang yang senantiasa berhati-hati dalam segala urusan, bahkan terhadap perkara-perkara yang mubah (diperbolehkan). Alih-alih mendatangi sesuatu yang haram, wilayah syubhat (meragukan) saja niscaya ia tinggalkan. Hal ini senada dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang hamba tidaklah akan bisa mencapai derajat ketakwaan sehingga ia meninggalkan apa yang tidak dilarang, supaya tidak terjerumus pada hal- hal yang dilarang.” (Riwayat at-Tirmidzi).
Butuh Proses
Takwa adalah sebuah proses. Layaknya tangga titian, maka ia mempunyai anak tangga sebagai jenjang tahapan dalam mencapainya. Para ulama terdahulu telah mengajarkan bagaimana mencapai derajat sebenar-benarnya takwa itu. Tak lain takwa merupakan buah dari keimanan yang kokoh yang dipupuk dengan khauf (merasa takut terhadap azab dan murka Allah), raja’ (selalu berharap atas limpahan rahmat Allah) dan muraqabatullah (merasakan pengawasan Allah).
Proses pertama yang harus dilalui dalam perjalanan menuju takwa adalah adanya khauf atau rasa takut terhadap azab dan murka Allah. Untuk menumbuhkan rasa takut ini, pertama-tama kita harus mengenali dosa dan akibatnya. Mengenal apa saja yang dilarang oleh Allah serta dampak dari perbuatan itu. Ada kalanya orang melakukan perbuatan dosa semata-mata karena ia tidak tahu jika yang dilakukannya justru dilarang dalam agama. Terlebih jika hal itu sudah lumrah dilakukan orang. Dengan perkembangan zaman, tak sedikit perbuatan dosa dan maksiat lalu direkayasa sedemikian rupa sehingga tidak tampak lagi keburukannya. Alhasil, manusia tak mampu lagi membedakan antara hadiah dan suap, antara riba dan jual beli, antara seni dan pornografi dan sebagainya.
Setelah mengenali dosa-dosa, hendaknya ia menyadari bahwa setiap dosa sekecil apa pun niscaya dicatat dan dibalas oleh Allah pada hari pembalasan nanti. Bisa jadi dosa-dosa yang tidak diperhitungkan ini yang akan menggelincirkan manusia ke dalam neraka. Berikutnya, seseorang juga harus khawatir sekiranya ia tak mampu lagi bertaubat, baik karena ajal menjemput atau karena terjerat oleh belenggu dosa-dosa yang ia perbuat. Awalnya, mungkin iseng mencoba berbuaat dosa, lalu mengulangi dan mengulanginya lagi hingga akhirnya terjerat oleh dosa dan kemaksiatan tanpa mampu membebaskan diri lagi.
Satu hal yang pasti, setiap perbuatan dosa akan menelurkan dosa-dosa berikutnya. Orang yang berjudi misalnya, kalau menang maka menghamburkan duit itu dengan kemaksiatan yang lain: mabuk-mabukan atau bahkan berzina. Tidak mungkin ia sumbangkan untuk membangun masjid. Sebaliknya, jika ia kalah taruhan, bisa jadi ia gelap mata melakukan kekerasan, pencurian, dan bahkan pembunuhan.
Titian tangga takwa berikutnya adalah raja’ atau harapan atas limpahan rahmat Allah kepada hamba-Nya. Untuk menumbuhkan rasa harap ini hendaknya kita mengenali setiap kebaikan. Mengenal apa saja yang diperintahkan Allah. Makan, minum, tidur, bekerja, melakukan hubungan suami-istri dan sebagainya adalah hal-hal keseharian yang dikerjakan manusia. Seringkali orang melakukannya semata-mata insting kemanusiaan tanpa menyadari bahwa itu perintah Allah. Karena itu, hendaknya kita menyadari bahwa Allah memerintahkan kepada kita setiap kebaikan dari hal terkecil sampai yang terbesar. Untuk setiap kebaikan, Allah menyediakan balasan yang berlipat ganda. Bisa jadi manusia tidak menghargai kebaikan kita, tetapi sungguh Allah tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan itu sekecil apa pun.
“…Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Hud [11]: 115).
Anak tangga berikutnya adalah muraqabatullah atau merasakan pengawasan Allah. Orang yang bertakwa selalu siap menyambut perintah Allah. Di mana saja dan kapan saja. Ketika sendirian maupun ketika bersama orang lain. Mereka juga meninggalkan setiap keburukan. Di mana saja dan kapan saja. Ketika sendirian maupun ketika bersama orang lain. Bukanlah muraqabah ketika orang itu hanya mampu menjalankan kebaikan saat bersama banyak orang dan tidak bisa lagi melakukannya ketika sendirian. Demikian juga ketika orang sanggup meninggalkan keburukan hanya saat bersama banyak orang, tetapi berani mengerjakannya ketika seorang diri.
Karenanya, para ulama membedakan antara hal-hal yang seharusnya dilakukan secara terang-terangan dan mana yang sebaiknya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Amalan yang bersifat wajib seperti shalat fardhu, zakat, puasa Ramadhan, menutup aurat, lebih baik ditampakkan bahkan sebagiannya memang harus dilihat oleh orang lain. Sebaliknya, amalan sunnah seperti shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah, sebaiknya dikerjakan sembunyi-sembunyi, kecuali kita yakin bahwa hal itu untuk syiar Islam serta tidak menodai keikhlasan kita.
Shalat fardhu ‘wajib’ dilaksanakan berjamaah di masjid sedang shalat sunnah dianjurkan dikerjakan di rumah masing-masing. Jika seseorang menyadari akan pengawasan Zat Yang Mahatahu, niscaya mengantarkan ia untuk selalu berhati-hati dan merasa khawatir terjerumus dalam dosa serta berhati-hati agar tidak ada perintah-Nya yang terlalaikan. *Shohibul Anwar, alumnus Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya. SUARA HIDAYATULLAH, MEI 2011
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL