Profil mei 2011:
Hanifuddin Mahadun Dan Khoirotul Idawati

Penemuan baru. Menghafal al-Qur`an dengan cepat, menyenangkan dan tidak cepat hilang
“(Ikan) teri Pak Rahman minum susu murah sekali,” kata Khoirotul Idawati Mahmud sambil mengangkat kedua tanganya. Dua orang muridnya, Ainiyah Alfatihah dan Kamila mengikutinya. Ketika sampai di kata ‘Murah sekali’, tangan kanan perempuan yang akrab disapa Ida ini diturunkan mengilustrasikan seseorang yang sedang memberi sesuatu.
Kalimat di atas adalah kata kunci terjemahan surat Arrahman ayat satu yang terdapat dalam buku Metode Hanifida yang ditulis Ida bersama suaminya, Hanifudin Mahadun. Diberi kata “teri,” kata Ida, agar mudah diingat. Sedangkan kata “susu murah” untuk menggambarkan jika Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pemurah (Arrahman). “Dengan ilustrasi seperti itu, bisa mudah diingat dan menghafalkanya,” paparnya.
Benar saja, dalam hitungan menit, ke dua muridnya yang masih berumur delapan tahun itu sudah hafal ayat sekaligus nomor dan artinya. Ibarat meng-klik file di komputer, keduanya mampu memanggil file memori yang dihafalnya dengan cepat.
Ainiyah siswa kelas 3 SD ini contohnya. Saat dites menyebutkan surat Arrahman ayat ke 26 beserta artinya, ia pun bisa menjawab lancar. “Kullu man ‘alaiha faan,” jawabnya tanpa melihat al-Qur`an.
Begitu juga Kamila, tak kalah hebatnya. Ketika disuruh membaca surat ad Dukhan ayat ke 14, bocah murah senyum ini dengan cepat melantunkannya, “Tsumma tawallau ‘anhu waqalu mu’allamum majnuun.”
Ainiyah dan Kamila kini hafal enam surat pilihan yang cukup panjang. Di antaranya, Arrahman, al Waqiah, dan ad Dukhan. Mereka hafal lengkap: nomor surat, lafal dan artinya.
Metode Hanifida ditemukan Ida dan Hanifuddin Mahadun, suaminya sekitar tahun 2002. Ketika itu, mereka berdua kerap mengisi pelatihan metode pembelajaran Quantum Learning dan Teaching di berbagai daerah. Tetapi, lambat-laun keresahan menyergap pikirannya. “Masak hanya dipakai untuk pelajaran umum, sedangkan agama tidak. Padahal di Indonesia banyak pesantren,” katanya.
Lantas, ibu tiga anak ini pun ingin menggunakannya untuk pelajaran agama. Mengambil teori dari Quantum Learning dan Teaching, lalu dipadukan dengan metode menghafal yang kerap dipakai pesantren, Ida menulis buku cara mudah menghafal Asmaul Husna. Di dalam buku ini ada cerita, kata pengganti dan lokasi. Semua itu untuk memudahkan menghafal.
Ramuan metode Ida itu pada 2006 diuji cobakan kepada anak pertamanya, Muhammad Azwar Syansuri. Dalam tempo 30 menit, Azwar yang masih duduk di kelas 6 SD itu mampu hafal Asmaul Husa, berikut arti dan nomor urutnya. Ida seolah tidak percaya. Lalu diujikan kembali kepada anak keduanya, Ahmad Azmi Amiq yang masih duduk di kelas 1 SD. Beda tipis. Azmi dapat menghafalkannya dalam tempo 40 menit.
Ingin lebih menyakinkan lagi, Ida mengujikannya kepada 40 mahasiswa semester satu. Tak jauh berbeda. Hanya dalam waktu sejam, mereka dapat menghafalnya.
“Karena ada perbedaan itu, lalu kami bikin standar minimal hafal dalam waktu dua jam,” katanya.
Sukses menerapkan metodenya untuk menghafal Asmaul Husna, Ida lalu merambah ke surat-surat pendek lainnya. Seperti surat Annaba. Hasilnya memuaskan. Dalam dua jam, anak yang dijadikan kelinci percobaan sudah hafal nomor, ayat sekaligus artinya. Bahkan dia bisa hafal secara acak, maju-mundur dan sebagainya.
Setelah itu, Ida pun beralih ke surat-surat lainnya hingga beberapa juz. Bahkan tidak saja al-Qur`an, Ida juga menerapkan metodenya untuk kitab Alfiyah Ibnu Malik dan Amrithiy, dua kitab yang sering menjadi rujukan pesantren.
Suatu ketika, kedua anaknya tersebut dipertemukan dengan Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab. Penulis tafsir Al Mishbah ini pun terpesona dengan kemampun kedua anak Ida tersebut. “Beliau bilang, ‘Kok bisa ya anak sehebat ini. Pakai metode apa?’ Saking kagumnya, ketika pulang anak saya diberi Rp 500 ribu,” kata Ida.
Ida pun disarankan Quraish Shihab agar mematenkan temuannya. Tahun 2006, Metode Hanifida resmi dipatenkan. Sedangkan nama Hanifida yang dipakai adalah usulan dari KH Mustafa Bisri, tokoh dan sastrawan NU yang akrab dipanggil Gus Mus. Hanifida diambil dari kata Hanif dan Ida.
Setelah beberapa kali sukses melakukan uji coba, tahun 2007 metode itu mulai dikenalkan ke masyarakat. Masyarakat pun mulai merasakan manfaatnya. Dari mulut ke mulut, metode itu kian terkenal. Undangan mengisi acara pun berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia bahkan Singapura dan Malaysia. “Padahal kita tak promosi. Para peserta sendiri yang mempromosikannya,” paparnya.
Nyaris setiap Jumat, Sabtu dan Ahad mereka berdua mengisi pelatihan. Hingga kini, katanya, ada sekitar 160 ribu orang yang telah ikut trainingnya.
Guna memenuhi permintaan training yang kian banyak, Ida membentuk tim. Sekarang, ia memiliki 22 orang. Mereka terdiri dari anak SD hingga dewasa. “Sebenarnya mereka mampu, tapi terkadang masyarakat mintanya selalu kita yang jadi pembicaranya,” ungkap peraih doktor dari IAIN Sunan Ampel dengan prediket cumlaude ini.
Hal lain, mereka berdua mendapat penghargaan dari Menteri Agama Republik Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi sebagai penemu Metode Hanifida Cara Belajar Cepat Abad 21.
Ida dan Hanif memiliki dasar pendidikan Islam yang sama. Ida yang lahir di Jombang 1967 ini menempuh pendidikan TK hingga SMA di sekolah Islam di Jombang. Gelar S1 dan S2-nya dari Institut Keislaman Hasyim Asy’ari (IKAHA) Tebu Ireng, Jombang dengan jurusan Pendidikan Agama Islam.
Ketika kuliah S1, Hanif dan Ida sempat satu bangku kuliah. Namun, ketika S2, lelaki kelahiran kota Gajah Lampung itu memilih melanjutkan ke Unisma, Malang. Sedangkan Ida tetap melanjutkan S2-nya di IKAHA. Baru ketika mengambil gelar doktor, mereka bersama-sama mengambil di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Secara bersamaan, keduanya pun berhasil meraih gelar doktor.
“Meski sudah jadi doktor, ijazahnya belum kami ambil. Karena memang kuliah hanya cari ilmunya saja,” katanya.
Ketika kuliah, Ida termasuk mahasiswi cerdas. Ia pernah jadi wisudawati terbaik di IKAHA. Perempuan ramah ini juga pernah juara satu lomba karya ilmiah se-Jatim. Ia sering pula menulis di berbagai media terkait al- Qur`an.
“Hingga kini saya pun setiap hari menulis,” kata Ida. Sudah ada 25 buku yang dia tulis. “Bapak bertugas mengedit tulisan dan memberikan masukan jika ada yang kurang,” paparnya.
Sepasang suami ini ingin mencurahkan hidup dan ilmunya untuk pengembangan al Qur`an. Selain mengembangkan temuanya itu, di kediamannya dekat Pasar Bandung, Jombang, mereka mendirikan Pusat Pelatihan Metode Hanifida La Raiba.
“Tiap hari ada saja orang yang datang dan belajar menghafal Asmaul Husna atau alQur`an ke sini,” katanya. (Syaiful Anshor/Suara Hidayatullah) SUARA HIDAYATULLAH, MEI 2011
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL