Oleh Mohammad Nashirul Haq

Kata “jihad” dan “teror” merupakan dua kata yang paling laris di dunia sejak tragedi 11 September 2001. Selain kata itu, ada kata lain seperti; Usamah bin Laden, Al-Qaeda dan Hamas.
Di Barat, kata violence (kekerasan) identik dengan al-harakah al-islamiyah (pergerakan Islam). Oleh karena itu, apa yang terjadi di Palestina dengan pejuang HAMAS, perlawanan pejuang Muslim Chechnya melawan Rusia, dan perlawanan kelompok Islam di Iraq seperti; Al-Jihad wa Al-Tawhid (yang dipimpim oleh Abu Mushab Al-Zarkawi), Anshar Sunnah dan Al-Jaisy Al-Islmiy, dipandang oleh Amerika (AS) dan Barat sebagai kelompok teroris. Mereka dianggap turunan dari violance (kekerasan) tadi. Syaikh Yassin dari Palestina, adalah sosok teroris bagi Israel. Namun, dia adalah pejuang di mata rakyat Palestina.
Hal inilah yang baru-baru ini terjadi ketika AS mengabarkan keberhasilannya dalam operasi yang menewaskan Usamah bin Laden, pemimpin utama Al-Qaidah di Pakistan.
Usamah –begitulah masyarakat dunia mengenal sosoknya– melejit ke permukaan sejak terjadinya peristiwa hancurnya gedung WTC dan Pentagon. Dia dituduh sebagai otak dari aksi peristiwa tersebut. Peristiwa yang terjadi pada 11 September 2001 yang menewaskan lebih dari 3000 jiwa (jumlah ini lebih sedikit ketimbang korban perang yang dimotori AS di Panama, Vietnam, Iraq dan Afghanistan).
Selama lebih dari 10 tahun pemerintah AS melakukan pengejaran terhadap Usamah ke seluruh penjuru dunia. Sangat aneh, negara yang dikenal dengan kecanggihan teknologinya itu ternyata tidak bisa menemukan satu orang Usamah dalam jangka waktu yang amat lama. Terlepas dari spekulasi yang mengatakan bahwa Usamah pernah menjadi “binaan” AS tahun 1980-an untuk melawan Soviet. Bahkan dengan alasan untuk seorang bernama Usamah, AS menggelar perang di Afghanistan yang telah merenggut nyawa orang-orang tak berdosa hingga hari ini.
Ibarat Cinta dan Benci
Karena itu, letak antara teroris dan pahlawan, hanya beda tipis. Ujar banyak orang, mirip antara cinta dan benci.
Adalah menarik ketika kabar kematian Usamah disebarkan AS, banyak orang bergembira ria. Hanya saja, dalam perspektif berbeda, mereka bergembira dengan motif berbeda.
Sekutu AS, Inggris, menyambut kematian buronan nomor wahid AS itu dengan puji syukur. “Usamah bin Laden bertanggung jawab atas kekejaman terburuk dalam sejarah dunia dan untuk serangan yang membunuh banyak nyawa. Banyak dari mereka warga Inggris,” ujar Perdana Menteri Inggris, David Cameron seperti dirilis BBC.
Sementara itu, Perdana Menteri Zionis-Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut kematian Usamah sebagai kemenangan gemilang keadilan, kebebasan dan nilai-nilai bersama oleh semua negara demokratis yang berjuang bahu-membahu melawan terorisme.
Sebaliknya, sejumlah aktivis Salafy Mesir melaksanakan shalat gaib pada hari itu di Masjid An-Nur, setelah shalat Jumat, demikian dilansir situs berita Mesir, Al-Yaum As- Sabi’ (6/5). Mereka berbondong-bondong ke masjid tersebut untuk menshalati orang yang mereka juluki sebagai “Syaikh Mujahidin” tersebut.
Sementara harian As-Syuruq (6/5) menyebutkan bahwa salah satu tokoh Salafy Mesir, Muhammad Husain Ya’qub, menilai bahwa Usamah adalah orang paling agung di dunia saat ini. Dia juga menilai bahwa Usamah adalah simbol perjuangan bagi umat Islam di dunia. Dan dia telah memperoleh kesyahidan yang dia cita-citakan.
Hal serupa dilakukan sejumlah aktivis Yordania. Mereka berpesta membagi-bagikan kue-kue manis di pasar di Ma’an, sebuah kota yang berjarak 250 km selatan Oman. Hal ini mereka lakukan setelah mendengar berita bahwa Usamah tewas.
”Membagi-bagikan kue-kue manis di pasar merupakan kebiasaan para penduduk Ma’an, tatkala mereka mendengar bahwa putra mereka syahid di Iraq. Adapun yang dilakukan sekarang, dikarenakan syahidnya Syaikh bin Ladin,” ujar aktivis yang dikutip Aljazeera.
AS dan aktivis Islam itu sama-sama bergembira. Hanya saja, makna mereka berbeda. Satunya kegembiraan dari “musuh” Islam dan satunya dari saudara sesasama Muslim yang menganggap Usamah telah syahid.
Apa yang terjadi pada Usamah sesungguhnya juga mirip yang pernah terjadi pada para pendahulu kita. Bagi pemerintah Hindia Belanda, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin dan Kapitan Pattimura Cs, itu semua adalah kaum ekstrimis yang dalam bahasa sekarang teroris. Namun, bagi kita semua mereka jelas mujahid sejati. Siapa berani menyebutnya sebagai teroris?
Dua perspektif inilah yang kini mendominasi dunia, memaksa kita masuk ke dalam hati dan pikiran kita. Kata ‘terorisme’ yang sering digembor-gemborkan media saat ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan orang yang mengikrarkannya. Jika yang menuduhkan ‘terorisme’ tersebut adalah AS dan sekutunya, maka kemungkinan besar, yang dimaksud itu adalah bagian dari umat Islam.
Simbol Perlawanan
Adalah menarik ketika ada tulisan di sebuah media massa menulis begini; “Kematian Usamah: Alhamdulillah atau Innalillah? Tulisan ini hanya menunjukkan pada banyak orang tentang dari perspektif apa Usamah dilihat?
Jika dari kacamata kaum Muslim, jelas banyak orang menjadikannya sebagai sosok pahlawan dan pejuang pembela kesombongan Barat. Sebaliknya, bagi AS, dia jelas teroris yang wajib ditumpas, karena hanya akan mengancam wibawa AS di masa depan.
Usamah memang bukan pimpinan umat Islam. Dia lebih tepat sebagai sosok orang yang mewakili rakyat Muslim yang tertindas. Namun dia jelas, telah berjuang dengan caranya sendiri dan dia yakini mampu menghancurkan kekuatan AS dan sekutunya. Soal caranya yang membuat banyak orang bersilang pendapat, itu soal lain.
Anehnya, kita semua tanpa sadar telah ikut-ikutan menyematkan kata “teroris” pada kalangan kita sendiri. Padahal, kata itu hanya layak digunakan AS dan musuh-musuh Islam.
Alangkah baiknya, jika umat Islam tak ikut-ikutan menyematkan kata “teroris” pada bagian dari umat Islam sendiri. Sebab jika itu terus dilakukan, tanpa sadar kita juga ikut melanggengkan AS dalam merealisasikan targetnya sebagaimana disebut Prof Dr Ahmad Syafi’i Ma’arif, bahwa, “Kita tengah terperangkap skenario negara adikuasa agar umat Islam melakukan kekerasan supaya nantinya memunculkan cap “teroris” di dalam kubu umat Islam sendiri.” Dampaknya tidak main-main, secara tidak langsung AS akan lebih leluasa “memerangi” umat Islam di seluruh belahan dunia.
Dan jangan kaget, jika kelak yang dimaksud teroris sesungguhnya adalah para pejuang Islam yang masih berusaha menegakkan syariah, meyakini tauhid dan mencita-citakan nilai Islam tegak di muka bumi. Wallahu a’lamu bis-shawab. SUARA HIDAYATULLAH, JUNI 2011
*Penulis seorang santri dan pemerhati masalah terorisme.
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL