Sekelumit kisah seorang dai yang membangun pesantren. Anaknya meninggal di saat uang di kantong tinggal Rp 25 ribu.
Di Masjid Baiturrahman, Kampung Teladan, Kecamatan Kota Barat, Provinsi Gorontalo, suatu sore. Lelaki berjenggot lebat yang masih berkeringat itu memarkir motornya di sisi masjid. Dia mampir untuk shalat Zhuhur, setelah menempuh perjalanan cukup jauh dari kampung lain.
Hanya belasan jamaah yang ada. Pria itu, Sumardin Muhammad Amin (40), dipersilakan jadi imam shalat. Saat takbir untuk rukuk, sujud, dan bangkit dari keduanya, hingga shalat selesai, suara Sumardin lirih sehingga hanya terdengar kata “Allah” saja. Sedangkan kata “Akbar” tak terdengar jelas oleh jamaah. Entah karena dikira mengada-ada cara memimpin shalatnya atau alasan lain.
Setelah selesai shalat Zhuhur dan wirid, lalu Sumardin melaksanakan shalat sunnah. Tiba-tiba, terdengar suara keras dari luar masjid. Seperti ada sesuatu yang dibanting. Sumardin tetap melanjutkan shalat sunnahnya, tapi hatinya sedikit gelisah. Begitu selesai shalat, dia langsung keluar. Dia kaget melihat helmnya rusak berat.
“Saya tidak tahu siapa yang membanting,” kata pria yang biasa disapa Pak Sum itu. Dia juga tak hendak mengusut. Dia memilih melanjutkan perjalanan. Karena tidak ada yang lain, helm yang sudah rusak itu tetap dia pakai.
Itulah sekelumit pengalaman Sumardin saat berdakwah di Bumi Hulontalo. Dia menjalani debut dakwahya di Pesantren Hidayatullah Gorontalo sejak April 2004. Cukup berat pada awalnya, sebab saat itu kondisi pesantren dalam masa transisi.
Sebelum bertugas di Gorontalo, suami dari Mila Sarmila ini ikut membantu perintisan Pesantren Hidayatullah Pekanbaru selama dua tahun. Kemudian ditugaskan ke Dumai bulan Oktober 1997.
Mimpi Aneh
Ada pengalaman lain yang membekas di hati Sumardin. Suatu ketika, jarum jam sudah menunjukkan pukul 01:00 dini hari. Sumardin dan keluarga baru saja tiba di Pesantren Hidayatullah Gorontalo, Jalan Teladan, Kelurahan Tenilo Limboto, awal April 2004.
Dia sempat istirahat sebentar. Saat shalat Shubuh tiba, Sumardin bergegas pergi ke masjid untuk menunaikan panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah berkenalan di hadapan jamaah, dia pulang ke rumah untuk bersih-bersih dan merapikan hunian di tempat tugas barunya itu.
Lantaran lelah tak tertahankan, akibat menempuh perjalanan jauh dari Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, hingga tiba di Gorontalo, akhirnya pukul 10 menjelang siang dia tertidur.
Anehnya, dalam tidurnya Sumardin bermimpi berkelahi dengan santri. Perkelahian itu begitu sengit. Si santri mencabut badik, Sumardin juga melakukan hal yang sama. Ketika hendak saling terjang dan tusuk, mendadak Sumardin bangun. Dia kaget. Napasnya tersenggal-senggal dan keringatnya terus mengucur. “Apa maksudnya mimpi itu?” gumamnya.
Sumardin tak tahu jawabannya. Dia segera keluar rumah untuk menyegarkan badan.
Namun tak dinyana, saat berdiri di depan rumah, sepelemparan batu dari tempatnya berdiri, terlihat di depan matanya sepasang santri putra dan putri ngobrol di bawah pohon. Sumardin marah besar. Dipanggilnya kedua santri itu lalu dihukumnya. Sejak itu dia umumkan, jika ada santri yang kedapatan melanggar syariah langsung dikeluarkan.
“Mimpi itu seperti mengisyarakatkan agar saya segera memulai bekerja dari sini, membereskan internal dulu, baru ke luar,” katanya.
Anak Meninggal
Sudah berjalan tiga bulan Sumardin berdakwah di Gorontalo. Allah pun menguji lagi ketabahannya. Sang buah hati tercinta, Aisyah, meninggal dunia akibat penyakit demam yang dideritanya. Meski sedih, pria bertubuh subur ini berusaha tabah. Namun, perasaan bingung sempat mendera pikirannya. Ketika itu, dia akan membeli kain kafan dan mengurus pemakaman, sementara uang di sakunya hanya tersisa 25 ribu rupiah. Istrinya pun hanya bisa menangis.
Sementara di asrama, ada 40 santri yang harus sekolah dan makan. Semua santri terpaksa sekolah di luar, karena Pesantren Hidayatullah Gorontalo belum mampu menyelenggarakan pendidikan formal lantaran keterbatasan tenaga, sarana dan dana.
Beras di gudang pun tinggal sedikit. Bantuan dari sebuah yayasan sebesar Rp 1.250.000 dan dari sejumlah donatur Rp 400 ribu per bulan, jelas tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan pesantren. Kalau dihitung-hitung, butuh Rp 6 juta untuk operasional pesantren selama sebulan.
“Innalillahi wainna ilaihi rajiun, anak saya meninggal tadi malam,” kata Sumardin kepada jamaah shalat Shubuh. Sontak, semuanya kaget .
Tak diduga, ada seorang tamu yang menginap di pesantren malam itu yang langsung mengacungkan tangan siap menanggung semua ongkos pemakaman. Maka paginya Sumardin langsung ke kota mencari kain kafan. Dan hari itu juga para pimpinan Cabang Hidayatullah di Gorontalo juga datang melayat dengan membawa bantuan 150 kilo gram beras.
Selalu Ada Jalan Keluar
Ternyata ujian belum selesai. Tidak lama berkabung setelah wafat anaknya, datang tagihan dari Madrasah Aliyah Negeri Model Gorontalo. Jumlahnya Rp 700 ribu untuk uang komite sekolah. “Kalau tidak dibayar segera, kata pihak sekolah, santri yang bersekolah di tempat itu tidak bisa ikut ujian,” kisah Sumardin.
Tak lama berselang, datang juga surat tagihan dari SMP Muhammadiyah Pone yang meminta pembayaran uang komite sekolah, besarnya Rp 500 ribu. Memang, di dua sekolah inilah santri-santri Sumardin bersekolah. Kepala Sumardin pusing, karena dia tak punya uang untuk melunasi semuanya itu.
Tak ada pilihan, akhirnya Sumardin langsung menghadap ke kepala sekolah tersebut. Sumardin menjelaskan keadaan yang sebenarnya dan minta agar santrinya bisa diberikan keringan atau penagguhan pembayaran, mengingat terbatasnya dana. Sumardin pun diberi tenggat waktu satu pekan untuk segera melunasi semua tagihan itu.
Sejak peristiwa itu, Sumardin mulai memikirkan mendirikan sekolah sendiri. Apalagi, setelah melakukan pemantauan, santrinya yang sekolah di luar dinilai tidak efektif. Sebab, kadang tidak bisa dikontrol perkembangannya.
Akhirnya, seluruh pengurus pesantren bekerja keras untuk mewujudkan sekolah. Silaturahim dan kerjasama dengan berbagai pihak ditingkatkan. Tak lupa, selalu berdoa kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan segala urusannya.
Pada akhir 2007, berdirilah Madrasah Diniyyah Salafiyyah (MDS) Lukman Al-Hakim di komplek Pesantren Hidayatullah Gorontalo. “Kuncinya, kami berusaha, sabar dan tawakal saja. Alhamdulillah, sekarang sekolah kita sudah berjalan dengan baik,” katanya kepada Suara Hidayatullah penuh syukur.
Lulusan MDS kebanyakan langsung dikirim ke sekolah-sekolah unggulan di beberapa daerah di Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan. Ada juga yang langsung mengabdi ke cabang-cabang Hidayatullah.
Selain madrasah, kini Hidayatullah Gorontalo sudah memiliki masjid permanen bernama Masjid Raudah atas bantuan Bupati Gorontalo, David Bobihoe Akib pada 2008.
Selain itu, secara rutin Dinas Sosial Kabupaten Gorontalo memberi dana untuk operasional pesantren. “Alhamdulillah, semua karena kerjasama berbagai pihak, keikhlasan dalam beramal dan menyebarkan Islam,” kata ayah dari Hasanah, Rifka Khofifah, Aisyah, Fathun Qorib, dan Fikro. *Ainuddin Chalik/Suara Hidayatullah, JUNI 2011
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL