Mahroji Khudori  Tekuni Kaligrafi untuk Dakwah

Mahroji Khudori Tekuni Kaligrafi untuk Dakwah

Hijrah dari pelukis konvensional menuju pelukis kaligrafi. Tak lupa berdakwah di kalangan seniman

Usai mengisi pengajian, Ustadz Mahroji Khudori diantar pulang oleh salah seorang jamaahnya, Toni. Sesampai di rumah ustadz yang biasa disapa Roji ini, Toni tersentak kagum. Ternyata ustadz yang kerap ceramah di tokonya ini juga seorang pelukis.

Setelah memandangi satu persatu lukisan Roji, ada hal yang menurut Toni kurang lengkap. “Coba Ustadz melukis kaligrafi dengan gaya yang sama. Pasti tak kalah eloknya,” saran Toni. Mendengar masukan itu, pria kelahiran Kendal, Jawa Tengah itu tercenung sesaat. “Ide yang bagus juga. Tidak salah kalau dicoba,” ujar Roji sapaan akrab lelaki yang suka memelihara jenggot ini.

Tidak saja Toni, banyak rekan Roji lainnya ketika berkunjung ke rumahnya di Yogjakarta mengusulkan hal yang sama. Akhirnya, tahun 2006 Roji pun memutuskan melukis kaligrafi. Awalnya, Roji melukis kaligrafi dengan huruf arab gayanya sendiri.

“Huruf Arab yang saya tulis tak jauh beda dengan tulisan anak TK, biasa dan kurang bagus,” katanya. Lukisan kaligrafi Roji diistilahkannya dengan gaya surealis. “Sesuatu yang di luar realitas atau hal yang tidak ada tapi diada-adakan,” jelasnya.

Kata Roji, hal yang membuat lukisannya berbeda adalah latar belakang (back ground) lukisannya. Selain bergaya dekoratif juga dibuat dengan teknik dan gaya lukisan seni rupa. Hal itu ia dapat ketika masih menjadi pelukis seni rupa dengan aliran dekoratif. Dalam Komunitas Seni Selaras Yogjakarta, Roji dikenal sebagi pelukis dengan aliran dekoratif.

Seperti lukisan kaligrafi Roji pada surat Yasin yang berada di salah satu sudut ruang tamunya. Tulisan Arabnya seolah menyatu dengan latar belakang. Bentuknya memanjang dengan kombinasi beberapa warna yang membuat guratan di kanvas semakin indah. Sepintas bila dilihat dari jauh, lukisan kaligrafinya seperti batik.

Meski baru empat tahun menggeluti kaligrafi, Roji mengaku banyak yang menyukai karyanya. Tak sedikit rekan Roji yang ketika berkunjung, akhirnya tertarik membeli kaligrafi karya-karya Roji. Karya-karya kaligrafi Roji terjual dengan kisaran harga mulai dari Rp 5 Juta hingga Rp 15 Juta.

Dakwah Melalui Kaligrafi
Menurut suami dari Siti Jariyah ini, melukis kaligrafi adalah ibadah. Selain menyalurkan bakat seni, juga bisa berdakwah. “Melukis kaligrafi itu bukan sekedar mengisi kanvas dengan huruf Arab. Lebih dari itu, ada pesan ayat Allah yang kita sampaikan,” terang ayah dari empat anak ini.

Karena itu, Roji begitu hati-hati dalam melukis. Meski terlihat sederhana, tapi menurutnya, perlu ketelitian. “Jangan sampai hilang satu titik pun. Sebab bisa mempengaruhi maknanya,” katanya. Beda jika melukis selain kaligrafi yang mengedepankan ego dan perasaan hati. Tapi, untuk kaligrafi bentuk pertanggungjawaban kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus dikedepankan.

Adanya nilai dakwah dalam lukisan kaligrafi begitu dirasakan Roji. Hal itu ia rasakan ketika ada orang yang meresapi ayat al-Qur’an yang ia tulis. Ceritanya, orang tersebut memang suka dengan potongan ayat Yasin. “Lama kaligrafi itu dipandang. Ia bilang ayat tersebut begitu menyentuhnya. Tak begitu lama kemudian ia pun membeli kaligrafi tersebut,” kenangnya.

Kata Roji, biasanya orang membeli kaligrafi karena makna dari ayat yang ditulis. Seperti beberapa kaligrafi yang telah terjual di antaranya surat Yasin dan tentang taqwa. Bahkan katanya, ada yang memesan doa jima’. “Mungkin agar tidak lupa tiap kali melakukan ibadah suami istri,” ujarnya.

Go Internasional
Mahroji Khudori lahir pada tahun 1968 dari pasangan petani biasa di Kendal Jawa Tengah. Ia lahir dengan 11 bersaudara. Di antara mereka, hanya Roji yang terjun di dunia seni. Ketika SD, ia sudah menyukai lukisan karya pelukis asal Yogjakarta, Afandi (alm). Ia pun belajar otodidak. Kemudian di SMP ia diajari saudaranya, Fathul Rizal cara membuat kartun.

Selepas SMP, ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Seni Rupa Negeri (SMSRN) Yogjakarta dengan jurusan seni rupa murni. Di sekolah ini, bakatnya makin terasah. Pada tahun 1991, ia lulus dari SMSRN lalu berpetualang ke Bali selama tujuh tahun. Di Bali kemampuan melukisnya makin tajam hingga akhirnya kembali ke kota Gudeg, Jogjakarta.

Ia sering mengikuti pameran, dari dalam negeri hingga ke luar negeri. Di Jepang saja telah mengikuti dua kali. Lukisan Roji laris manis. Kolektor seni, baik lokal maupun luar negeri banyak yang memburu hasil karya Roji. Ketika pameran pun, lukisannya tak jarang diborong orang hingga ludes.

Ketika ikut pameran di Ancol, Jakarta beberapa tahun lalu, 40 lukisanya habis diborong Jimmy YZH asal Thailand. Tidak hanya itu, ketika ikut pameran di Yogjakarta, 35 lukisanya pun habis. Pria yang aktif sebagai pengasuh Pesantren Masyarakat (PESMA) Yogjakarta ini juga pernah dapat order membuat 200 lukisan untuk rumah sakit di Taiwan.

“Kata mereka, lukisan saya lucu dan menarik. Bahkan, ada orang Jepang karena saking tertariknya memasukkan saya di media Jepang,” kenang ustadz di Pesantren Al Hikmah Sumber Rejo, Gunung Kidul, Yogjakarta ini. Katanya, dari hasil penjualannya, sekitar 2,5 persen digunakan untuk dakwah.

Pelukis yang Dai
Di kalangan masyarakat, Roji sebenarnya lebih dikenal sebagai ustadz. “Mungkin karena saya sering ceramah. Jadi mereka tahunya ustadz, padahal saya juga pelukis,” tuturnya. Jamaah pengajian Roji pun dari berbagai kalangan. Dalam berdakwah, Roji punya cara kreatif. Selain penuh humor segar, ia juga kerap berdakwah melalui teater.

Beberapa tahun lalu, ia pernah mengadakan teater kolosal. Teater yang menelan dana Rp 20 juta dari koceknya sendiri itu sekaligus meluncurkan buku perdananya Lembaran Bermakna. Dakwah yang dibalut seni itu menyedot antusiasme masyarakat. Bahkan, mantan Ketua Komisi Yudisial yang kini memimpin KPK, Busyro Muqaddas hadir dan membacakan salah satu tema dalam buku tersebut.

Sebagai seorang seniman, Roji dekat dengan para seniman lainnya. Kedekatan itu ia manfaatkan untuk berdakwah. “Sebisa mungkin saya masukkan nilai dakwah dalam berinteraksi dengan mereka,” paparnya.

Suatu saat, dalam pameran di Ancol, Jakarta beberapa tahun lalu, Roji bertemu
penyanyi “Tak Gendong” Mbah Surip. Katanya, ia pun sempat shalat jamaah dengan pria yang telah tutup usia itu. “Ketika itu, saya jadi imam dan Mbah Surip jadi makmun. Saya pun baru tahu jika ia juga rajin shalat,” akunya.

Tidak hanya itu, ketika diajak diskusi soal agama, Mbah Surip ternyata lihai. Ia juga cerdik menerjemahkan hidup dalam filosofi agama. Roji pun sempat tercenung ungkapan Mbah Surip yang rada aneh tapi masuk akal. “Ia bilang toilet itu tempat ibadah,” katanya.

Ternyata, menurut pria kelahiran Mojokerto Jawa Timur itu, ketika orang buang hajat lalu berdoa dan ingat Allah itu ibadah. “Saya baru paham, ternyata seniman punya pendekatan agama yang terkadang aneh di mata non seniman,” ungkapnya.* Syaiful Anshor/Suara Hidayatullah, JULI 2011

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment