Kakek Syaikh Mahfudz adalah murid Syaikh Al-Azhar. Beberapa karya saudara Syaikh Mahfudz juga ditemukan di Arab Saudi.
Pada abad ke-17 Masehi terjadi pertempuran sengit antara Ki Ageng Buwana Keling yang memeluk ajaran Budha dengan beberapa tokoh penyebar Islam, di antaranya Ki Ageng Petung, Ki Ageng Posong dan Maulana Maghribi di Wengker selatan (Pesisir selatan) alias Pacitan.
Pertempuran pecah setelah para penyebar Islam itu datang dari Kerajaan Demak Bintoro untuk mengajak Ki Ageng Buwana Keling, pemimpin wilayah itu, dan pengikutnya untuk memeluk Islam. Dengan dibantu Raden Betoro Katong (putra Brawijaya V) selaku Adipati Ponorogo, para penyebar Islam itu akhirnya memenangkan pertempuran dan menguasai Pacitan.
Setelah itu, Islam berkembang pesat di pesisir selatan Jawa dan keturunan para penyebar Islam akhirnya meneruskan tugas orangtua mereka dalam berdakwah. Yang mencolok dalam hal keilmuan di antara generasi penerus itu adalah Bagus Darso, cicit dari Ki Ageng Pasong (cucu Brawijaya V).
Orangtua Bagus Darso, yakni Raden Ngabehi Dipomenggolo sendiri, memang amat memperhatikan pendidikan agama, hingga anaknya yang kelak populer dengan sebutan Syaikh Abdul Manan ini dikirim kepada Kiai Hasan Besari pengasuh Pesantren Tegal Sari Ponorogo, Jawa Timur untuk menimba ilmu.
Menurut Kiai Luqman, generasi ke-5 dari Pesantren Tremas, Syaikh Abdul Manan pernah belajar di Al-Azhar, Kairo, Mesir dan berguru kepada Syaikh Al-Azhar Ibrahim al-Bajuri dan tinggal di Ruwak Jawi di Masjid Al-Azhar. Hal ini merujuk kepada tulisan tokoh orientalis yang bernama Martin van Bruinessen, sebagaimana dinukil dalam buku berjudul Potret Hubungan Mesir Indonesia yang diterbitkan KBRI Kairo.
Tidak hanya belajar di Al-Azhar, Kiai Abdul Manan juga belajar di Makkah. Kiai Luqman menunjukkan data dari buku karya Kiai Maimun Zubair yang berjudul Al- Ulama Al-Mujadidun.
Wafat pada tahun 1842, jauh-jauh hari ia memahami bahwa perlu ada kader untuk meneruskan kepengasuhan pesantren, hingga ia memutuskan untuk mengirim putranya bernama Abdullah untuk menuntut ilmu di Makkah. Kiai Abdullah sendiri akhirnya juga menjadi ulama yang terpandang, sampai Syaikh Yasin al-Fadani menjulukinya sebagai Al-allamah al-faqih, orang yang sangat pandai dan ahli dalam fiqh.
Kiai Abdullah inilah yang mendidik langsung Syaikh Mahfudz pada awal belajar di Makkah. Di hadapannya, Syaikh Mahfudz membaca Syarh Al-Ghayah, Al-Minhaj Al- Qawim, Fath Al-Mu’in, Syarh Al-Minhaj, Tafsir Al-Jalalain dan lainnya. Pada tahun 1314 H Kiai Abdullah wafat dan dimakamkan di Makkah, dekat dengan makam Khadijah di Ma’la.
Bukan hanya Syaikh Mahfudz yang dipanggil ke Makkah untuk belajar. Beberapa putranya yang laki-laki juga diantar ke Makkah untuk menyusul Syaikh Mahfudz belajar. Salah satu dari mereka adalah Kiai Dimyathi yang juga tercatat sebagai murid Syaikh Mahfudz.
Kiai Dimyathi inilah yang bakal meneruskan pembinaan di Pesantren Tremas meneruskan tugas Kiai Abdullah. Kiai Achid at-Tirmidzi menyebutkan, Kiai Dimyathi di dikenal memiliki sifat tawadhu’. Dia selalu berbicara berbahasa Jawa halus kepada siapa pun, termasuk kepada murid-muridnya. Kedisiplinannya patut menjadi teladan, dari pagi hingga sore dan malam mengajar murid-murid tanpa kenal lelah.
Saudara Syaikh Mahfudz selain Kiai Dimyathi adalah Kiai Dahlan, yang disebut Syaikh Yasin al-Fadani sebagai seorang falaki (ahli falak). Namun, bukan berarti dia tidak menguasai ilmu-ilmu syar’i yang lain. Terbukti dengan ditemukan 2 manuskrip dari karya Kiai Dahlan di perpustakaan Universitas Malik Saud yang membahas masalah fiqh dan ushulnya. Yang pertama, manuskrip yang berjudul Fath Al-Majid fi Bayan At- Taklid, membahas mengenai hukum taklid. Kedua adalah Nuzhah Al-Afham fi Ma Ya’tari Ad-Dukhan min Al-Ahkam, membahas hukum merokok. Setelah pulang dari Makkah, Kiai Dahlan diambil menantu oleh Kiai Saleh Darat Semarang hingga wafat di sana pada tahun 1324 H.
Sedangkan putra Abdullah lainnya yang juga belajar di Makkah adalah Kiai Abdul Razak, yang memiliki kelebihan dalam ilmu tashawuf. Ia wafat pada tahun 1985 M.
Walhasil, keluarga Syaikh Mahfudz dari kakek, ayah hingga saudara-sadaranya adalah ulama. Hanya saja, ia lebih dikenal karena banyaknya karya yang ditulis. *Thoriq/Suara Hidayatullah, OKTOBER 2011
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL