Sembilan bulan sudah Erwin Gatta menginjakkan kakinya kembali ke Kota Ambon, setelah dua puluh tahun ditinggalkannya. Ada perasaan lain. Meski ia tahu karakter keras orang Ambon yang sering berujung pada aksi baku bunuh, tapi kali ini ia rasa berbeda.
“Saya lihat potensi-potensi konflik begitu banyak. Seperti ceceran minyak yang tersebar di mana-mana. Api sedikit saja bisa meyulut kebakaran besar,” katanya kepada Suara Hidayatullah.
Ahli sejarah sekaligus budayawan senior Maluku, M. Nuur Tawainella (64) membenarkan anggapan Erwin. Bahwa, potensi konflik di Ambon, termasuk Maluku keseluruhan memang banyak. Apalagi, kata Nuur, watak orang Ambon memang sangat mudah disulut untuk berkelahi. “Yang paling mudah disulut itu isu agama,” kata Nuur menjelaskan.
Nuur melihat, motif kerusuhan 11 September lalu hampir sama dengan yang terjadi pada tahun 1999. “Dulu isunya, warga Muslim pendatang seperti dari Buton, Bugis, Makassar harus keluar. Lalu terjadilah pembantaian umat Islam di Ambon pada hari Idul Fitri,” ujar pria kelahiran Tulehu ini.
Kata Nuur, beberapa waktu sebelum Idul Fitri akhir Agustus lalu beredar isu akan adanya serangan terhadap umat Islam pada masa lebaran. Tapi isu ini tidak santer. “Dan, masyarakat telah kebal atau immune terhadap isu-isu seperti itu,” kata Nuur.
Karena itu, kata Nuur dicari korban untuk membuat konflik. Agar cepat panas, kata Nuur, dibakarlah simbol-simbol agama seperti masjid di Waringin dan Gereja Silo di depan Tugu Trikora.
Tetapi kerusuhan tidak meluas, bahkan hanya terjadi di pusat kota Ambon saja. Meski demikian, isu-isu bersifat provokatif seperti pembunuhan dan rencana penyerangan menyebar begitu cepat, luas, dan massif.
Untuk mengantisipasi isu-isu tersebut, Abidin Wakano bersama jaringannya di Lembaga Antar Iman Maluku, membuat gerakan yang mereka namakan provokasi damai. Bersama rekannya dari Gereja Protestan Maluku, Jacky Manuputty, Abidin menggelar acara-acara kumpul antar agama di pusat-pusat keramaian Ambon.
“Kita juga menyebar sms-sms klarifikasi agar masyarakat tidak terpancing isu yang menyulut kerusuhan,” kata Abidin.
Jika Abidin dan Jacky menyebut aksi mereka sebagai provokasi damai, bagi banyak kalangan aktivis Islam Ambon itu merupakan pemutarbalikan fakta. Seperti dikatakan Mores Rifai Silale, pemuda Ambon yang ditemui Suara Hidayatullah di pengungsian Masjid Jami’ Al-Fatah.
Sebab, kata mereka, hampir setiap orang Muslim yang tewas di daerah Kristen selalu dikatakan sebagai kecelakaan. Akibatnya, kasus-kasus tersebut tidak pernah diusut, apalagi diungkap dan ditindak pelakunya.
Nuur menjelaskan, konflik yang terjadi di Maluku tidak bisa diselaikan dengan pendekatan senjata. Banyak pihak di Ambon yang ditemui Suara Hidayatullah mengatakan, sifat orang Ambon tidak takut terhadap rentetan senjata ataupun dentuman bom.
“Jika mendengar suara tembakan, orang Ambon justru mencari asal tembakan tersebut. Jika dia lihat temannya tertembak, dia malah pasang badan,” ujar Nuur yang juga perintis Universitas Darussalaam, dan Institut Agama Islam Negeri Ambon ini.
Abdur Rauf Wattimury, seorang anggota polisi pamong praja asli Ambon yang ditemui di gedung dewan provinsi Maluku juga mengatakan hal yang sama. Dia mengaku khawatir jika kerusuhan 11 September lalu akan meluas seperti yang terjadi pada tahun 1999.
“Susah Pak. Orang Ambon kalau ditodong senjata, seng (tidak) takut. Malah dia semakin maju,” katanya.
Keadilan
Nuur menambakan, orang Islam Ambon cenderung bersikap apatis, dan kesadarannya bersifat spontan. “Kesadaran kita bersifat spontan. Bila keadaan (konflik) seperti ini bisa menyatukan kita, tapi besok bercerai berai,” kata Nurr.
Hal lain yang bisa memicu konflik di Ambon adalah masalah keadilan dan perimbangan. Kata Nuur, masalah ini tercantum dalam poin kesebelas deklarasi damai Malino. Kenyataannya, hal tersebut tidak pernah terealisasi.
Umat Kristiani, ungkap Nuur masih menguasai birokrasi, dan lingkaran universitas (Pattimura, red). Umat Islam diberi jabatan pembatu rektor dua atau tiga. “Kalaupun diangkat jadi pembantu rektor akan dijebak masuk lingkaran korupsi. Itu yang terjadi,” ujarnya.
Jacky Manuputty, Direktur Litbang Gereja Protestan Maluku (GPM) menyangkal anggapan tersebut. Menurutnya, orang Kristen bisa menguasai posisi gubernur, walikota, hingga rektor Unpatti disebabkan orang Islam memang memberi peluang untuk itu.
“Karena keberimbangan dan keadilan itu ukurannya bukan kuantitas, tapi kualitas,” ujar Jacky berkilah.
Adakah solusi?
Lalu, bagaimana dengan hubungan kekerabatan “gandong (hubungan kerabat genetik meski berbeda agama) –pela (kekerabatan non-geneologis antara negeri yang berbeda agama)” serta kearifan-kearifan lokal lainnya? “Kami akan tetap menjaga itu,” kata Nuur Tawainella.
Tapi, Nuur menjelaskan, sebenarnya sebagian intelektual Nasrani seperti Prof A. N. Rajawane berpandangan pela-gandong ibarat lagu buaian yang telah meninabobokan GPM dalam proses menginjili saudara segandong Muslimnya.
Bahkan, katanya, sebagian tokoh gereja menyatakan “pela” adalah perbuatan setan. Dan, siapa saja yang menghormatinya (pela) harus keluar dari gereja.
Nuur mengatakan, umat Islam tetap ingin damai. Namun kesadaran militansi umat Islam Maluku harus tetap dibangun. “Agar kesadaran terhadap agama tidak sekadar bersifat spontan,” kata Nuur menghimbau.
Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla, mengusulkan agar umat Islam dan Kristen di Ambon kembali tinggal satu kampung. “Harus kembali membaur. Tersegmentasi karena konflik tahun 2000 jadi dibentuk perkampungan berdasarkan agama. Itu harus diperbaiki, supaya tidak ada kampung ini lawan kampung itu atas nama agama, itu bahaya,” ujar Kalla seperti dikutip okezone.com.
Namun usulan Kalla dinilai sebagai omong kosong. “Omong kosong! Panggil sini, tinggal di Ambon supaya tahu!” kata Aly Fauzy, ulama sepuh kharismatik asal Ambon.
Aly, tokoh Muhammadiyah yang juga Ketua Komisi Fatwa MUI Maluku ini mengatakan, bagaimana kita mau tinggal dengan anjing-anjing yang mereka pelihara di jalanan. “Kita shalat, mereka pasang musik. Ini kan pengalaman,” kata Aly.
Lalu, bagaimana solusinya? “Tidak ada solusinya, mengambang,” pungkasnya.*SUARA HIDAYATULLAH, OKTOBER 2011
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL