Pdt. DR John Ruhulessin
Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku
Bisa diceritakan kejadian rusuh di Maluku, bagaimana sesungghnya?
Penyebabnya adalah meninggalnya salah seorang yang menurut hasil visum karena kecelakaan lalu lintas. Kebetulan dia beragama Muslim dan kejadian itu terjadi di wilayah Kristen. Lalu kemudian muncul provokasi bahwa dia dibunuh.
Sekarang ini kondisi sudah membaik. Aktivitas warga sudah berjalan normal kembali dan situasi sudah berjalan seperti biasa.
Apa langkah preventif yang dilakukan pihak Anda agar kasus ini tak meluas?
Langkah-langkah yang dilakukan berbagai pihak di Maluku di antaranya melakukan upaya pemulihan kondisi, dan penanganan para pengungsi.
Kami dari tokoh-tokoh agama, terus berproses untuk tetap membangun dialog dan komunikasi kepada masyarakat. Mengajak masyarakat untuk menahan diri dengan bantuan pihak keamaman dan itu semua berjalan sinergis.
Siapa provokator rusuh Ambon 11 September lalu?
Memang saat ini banyak provokasi yang muncul berbagai bentuk.
Kabarnya ini provokasi dari Republik Maluku Selatan (RMS)?
Itu saya tidak tahu. Tapi ini jelas provokasi, ada konflik di sini, ada orang dibunuh di sini. Kami tidak tahu siapa yang melakukan provokasi ini, tapi ini menjadi tanggungjawab pihak keamanan untuk mengungkapkan secara terbuka kepada masyarakat.
Kita berharap agar Ambon tidak menjadi lahan provokasi. Saat ini, masyarakat Islam dan Kristen di sana solid untuk pemulihan Ambon dan menghadapi provokasi.
Bagaimana sesungguhnya hubungan Islam dan Kristen di Ambon sejauh ini?
Pertama-tama, kita solid. Kita berharap agar tidak kembali terulang konflik yang pernah terjadi sebelumnya. Kita membangun dialog, dan membangun komunikasi. Kalau itu kita bangun sambil menegakkan hukum, juga penanganan pengungsi berjalan, saya rasa kita semua optimis.*
H. Idrus E. Toekan
Ketua Umum MUI Provinsi Maluku
Jangan Mudah Terprovokasi
Ambon bergolak lagi, pendapat Anda?
Jujur saja, dalam lubuk hati yang dalam, setiap orang Maluku sadar, kapok, dan tidak mau lagi saling bertikai. Terbukti kalau kita ke pasar-pasar, masyarakat selalu menyampaikan harapan agar perdamaian selalu ada di Maluku.
Hal itu membuktikan kalau masyarakat Maluku tidak mau lagi ada konflik antar sesama mereka. Traumanya luar biasa, bayangkan empat tahun mereka hidup di bawah kegelisahan.
Apa yang dilakukan MUI Maluku melihat kasus ini?
Konflik mulai terjadi pada hari Minggu (11 September 2011, red). Gubernur dan pemerintah terkait selalu melibatkan kami untuk sesegera mungkin meredam. Pemerintah melakukan pencegahan dengan mengganti total rumah warga yang terbakar dan memberikan perhatian serius terhadap pengungsi.
Kami dari MUI, GPM, dan tokoh-tokoh agama lainnya langsung turun ke lapangan dan menyerukan kepada masyarakat bahwa apa yang sedang terjadi adalah karena ulah provokator.
Siapa provokator itu?
Provokator itu macam-macam saja. Mereka kemudian eksphos ke media untuk memecah belah persatuan masyarakat Maluku.
Apa pesan Anda?
Kami berharap agar masyarakat tetap menahan dan menenangkan diri, jangan mudah terprovokasi. Biarkanlah orang Maluku selesaikan masalah mereka sendiri, tidak usah ada campur-campur dari luar. Kami hanya mengharapkan partisipasi dan keterlibatan aparat. Karena, tanpa aparat susah untuk itu.* SUARA HIDAYATULLAH, OKTOBER 2011
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL