Ada empat pilar yang harus kita siapkan agar kita mampu mewariskan nilai kebajikan guna membangun kembali peradaban Islam yang saat ini telah runtuh.
1. Basis nilai perjuangan
Islam mewariskan sistem dan cara pandang yang jelas dalam menilai keberhasilan sebuah peradaban. Yakni al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Inilah sumber nilai peradaban manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (Al-Baqarah [2]:147)
2. Basis teritorial
Rasulullah SAW tidak mengabaikan kebutuhan akan adanya basis wilayah yang luas dan jelas untuk menegakkan akidah dan syariat Islam. Jika belum memiliki, maka konsekuensinya harus berhijrah demi mencari tempat yang kondusif untuk penegakan syariat Islam.
Madinah al-Munawwarah adalah model wilayah yang dijalankan dengan kekuasaan yang adil (darul ’adl), yaitu menegakan Islam dan hukum-hukum Allah Ta’ala, serta melindungi seluruh warganya.
Batas-batas wilayah Islam itu meluas sesuai dengan meluasnya keadilan. Di sanalah Rasulullah SAW secara konsisten melaksanakan syariat Islam.
Tentang adanya negeri (batas teritorial) ini, pernah disinggung oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur’an surah Saba’ [34] ayat 15. Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala menerangkan bahwa kaum ini telah dianugerahi sebuah negeri yang baik. Sayangnya penduduk negeri ini ingkar sehingga Allah mengazab mereka.
3. Basis kultural
Islam hanya dapat dirasakan keistimewaan dan kemukjizatannya apabila dilaksanakan dalam kehidupan, terlebih jika aturan-aturannya sudah menjadi kultur kehidupan.
Allah Ta’ala berfirman:Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al-Jatsiyah [45]: 18)
4. Basis sosial
Islam menuntut adanya jamaah yang kongkrit, karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa manusia lainnya.
Demikian pula ajaran Islam harus dilaksanakan dengan cara berjamaah. Ini artinya umat Islam merupakan basis sosial. Apalagi di dalam al-Qur’an surat Ali Imran [3] ayat 103 Allah Ta’ala memerintahkan kaum Muslim untuk berjamaah.
Pribadi dan Keluarga Pewaris
Islam memerintahkan penganutnya agar senantiasa beriman dan beramal shaleh. Perintah ini, di samping untuk kebaikan dirinya, juga untuk kebaikan manusia setelahnya, yakni dengan mewariskan kebaikan-kebaikan tersebut.
Itulah nilai kesempurnaan seorang Muslim sebagaimana sempurnanya ajaran Islam yang menyangkut semua aspek kehidupan, baik dimensi ruang maupun waktu. Kesempurnaan itu juga terlihat dari landasan amalnya yang selalu berpijak dengan ilmu, iman, dan keikhlasan.
Berangkat dari prinsip-prinsip nilai tersebut, setidaknya ada beberapa nilai kebaikan yang bisa diwariskan, yaitu:
1. Menjadi pribadi yang baik
Seorang mukmin harus memiliki dan mengamalkan semua nilai yang sangat dibutuhkan dalam mengarungi kehidupan di dunia dan akhirat, yakni akidah, ibadah, akhlak, fikrah, fisik, manajemen waktu, keseriusan, dan istiqamah. Dan perbaikan harus dimulai dari diri sendiri.
Dalam al-Qur’an surah Ar Ra’du [13] ayat 11 Allah Ta’ala telah memberi peringatan kepada manusia bahwa Dia tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum sehingga mereka sendiri yang mengubahnya.
2. Mewujudkan rumah tangga islami
Keluarga adalah lembaga yang sangat strategis dalam Islam. Tak heran bila al-Qur’an dan Sunnah memberikan porsi pembahasan tentang keluarga begitu besar. Surat-surat seperti an-Nisaa’, an-Nuur, al-Ahzaab, at-Thalaq, begitu sarat membahas detail-detail aturan berkeluarga.
Sunnah Nabi SAW bahkan menerangkan lebih detail bagaimana membangun keluarga yang ideal, meliputi pola hubungan antara suami dan istri, orang tua dan anak, keluarga dengan kerabat dan tetangga.
Tepat kiranya jika Islam disebut dinul usrah (agama keluarga) dan pembentukan keluarga Muslim menjadi proyek kedua dalam amal Islami yang harus diperioritaskan.
3. Amar ma’ruf nahi munkar
Variabel ini dilakukan dengan menyebarkan kebaikan kepada masyarakat, memerangi kehinaan dan kemungkaran, mendorong kemuliaan, dan berlomba melaksanakan kebaikan. Ada 5 tahapan yang perlu ditempuh agar sukses dalam amar ma’ruf nahi munkar, yakni: caranya benar, materinya benar, tahapannya benar, informasinya benar, perintahnya benar dan konsiten.
Firman Allah Ta’ala:
Dan Kami turunkan (al-Qur’an itu) dengan sebenar-benarnya dan (al-Qur’an itu) telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Al-Isra’ [17]: 105)
4. Mengambil dan mewariskan ilmu
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan, ”Para Nabi tidak mewariskan dirham dan tidak pula dinar, akan tetapi yang mereka wariskan adalah ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisan ilmu tersebut, sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak dari warisan para Nabi. Jika engkau termasuk dari ahli ilmu engkau telah mewarisi dari Rasulullah SAW dan ini termasuk keutamaan-keutamaan yang paling besar.” (Kitabul ‘Ilmi, hlm 16)
5. Membangun generasi shaleh
Keberadaan generasi yang shaleh sangat urgen, karena kita tidak mengetahui dengan pasti kapan hari kiamat terjadi, sehingga kaderisasi harus berjalan sampai dunia kiamat.
Dalam setiap generasi itulah Allah Ta’ala memilih sejumlah orang yang dikehendaki-Nya sebagai pelita kegelapan dan layar dalam mangarungi lautan ombak yang dahsyat, serta sebagai penunjuk jalan setiap insan menuju Allah Ta’ala.
Agar nilai-nilai warisan tersebut bisa kita wujudkan di tengah kehidupan umat Islam kita harus bisa mengatasi beberapa penghalang berikut ini.
1. Menyukai perbuatan maksiat
Apabila manusia terbiasa dengan perbuatan maksiat, maka setan akan menguasai hati dan fikirannya sampai saat-saat terakhir dari kehidupannya. Nabi SAW bersabda: Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan melakukan sesuatu maka Allah akan membangkitkannya dalam keadaan itu. (Rwayat Al-Hakim)
2. Menunda-nunda taubat
Bertaubat kepada Allah Ta’ala dari seluruh dosa adalah wajib bagi setiap mukallaf (orang yang dibebani perkara-perkara agama) pada setiap waktu. Firman Allah Ta’ala:
Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, mudah-mudahan kalian beruntung. (An-Nur [24]: 31).
Akan tetapi ada tipu daya iblis yang paling berhasil menyerang manusia, yakni menunda-nunda taubat.
3. Panjang angan-angan
Panjang angan-angan merupakan sebab datangnya kesengsaraan. Rasulullah SAW telah memperingatkan kita dengan peringatan yang keras akan hal itu. Beliau berkata, ”Sesungguhnya apa-apa yang paling aku takutkan (terjadi) pada kalian adalah dua sifat, mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu maka dia akan memalingkan dari kebenaran dan adapun panjang angan-angan maka dia akan (menimbulkan) cinta terhadap dunia,” (Riwayat Ibnu Abi Ad-Dunya).
Wallahu a’lamu bish-Shawab.***SUARA HIDAYATULLAH, OKTOBER 2011
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL