Kaifa Haluk Yaa Sharon?

Kaifa Haluk Yaa Sharon?


Sangat mudah bagi Allah mematikan makhluknya. Tapi mengapa Dia membiarkan Ariel Sharon koma hingga lima tahun. Apakah itu bentuk hukuman?

Seorang pria tua bersandar lemah di atas tempat tidur, di dalam sebuah kamar yang temaram. Matanya yang menua memandang ke depan dari celah kelopak yang sempit. Saat pria berpiyama biru muda itu bernapas dengan lemah, perut dan dadanya yang berselimut kain warna putih tampak naik-turun dengan perlahan. Di punggung telapak tangan kanannya tertancap jarum dan selang, yang mengalirkan cairan dari botol infus di sisi kanan ranjangnya.

Hanya dua atau tiga orang saja yang diizinkan masuk untuk merawat laki-laki tua itu dalam sekali waktu.

Cobalah pegang tangannya, belai rambutnya yang memutih dan sapalah dia dengan bahasa orang Arab yang sangat dibencinya, “Kaifa haluk yaa Sharon?” Apa kabarmu Sharon?

Dia pasti tidak akan menjawab. Sebab, itu hanyalah sebuah patung lilin dalam ukuran sebenarnya sebagai representasi dari Ariel Sharon, mantan Perdana Menteri Israel ke-11.

Seni instalasi karya Noam Braslavsky tersebut pertama kali ditampilkan di Galeri Seni Kishon di Tel Aviv. “Sebagai seorang seniman, adalah hak saya untuk memilih tokoh ini dan membawanya kembali menjadi kepala berita utama (di media massa),” kata Braslavsky, perupa Israel yang bermukim di Jerman.

Memang tidak banyak yang diketahui tentang Ariel Sharon, setelah diserang stroke pada 4 Januari 2006 yang menyebabkan koma hingga saat ini. Pada malam hari Sharon terkena stroke, seorang kru televisi Israel berhasil menangkap gambarnya yang sedang berada di belakang sebuah mobil ambulan, terbaring setengah duduk dalam keadaan sadar. Itulah gambar terakhir dari Sharon yang dimiliki media. Sebab setelah itu, keluarga Sharon sengaja menutup pintu rapat-rapat, atas informasi kondisi salah satu tokoh kontroversial dalam sejarah Zionis Israel itu.

Sementara Sharon palsu didatangi banyak pengunjung di Kishon Gallery, Sharon asli terbujur kaku tidak sadarkan diri beberapa kilometer jauhnya, di Chaim Sheba Medical Center, Tel Hashomer.

Hidup atau Mati
Dua hari setelah Sharon, yang akrab dipanggil Arik, terkena stroke berat sehingga otaknya dibanjiri darah, berbagai media internasional mengabarkan bahwa ia telah mati.

Hal itu wajar saja, karena setelah dinyatakan stabil pada 5 Januari 2006 oleh tim dokter di Rumah Sakit Haddasah, keesokan harinya Sharon dimasukkan lagi ke ruang operasi. Bahkan wakilnya, Ehud Olmert, telah ditunjuk sebagai pejabat sementara perdana menteri menggantikan tugas yang diemban Sharon.

Pada hari keenam, dokter berupaya membangunkannya dari keadaan tidak sadar, dengan cara mengurangi dosis obat anastesi. Ia pun kemudian bisa bernapas sendiri dengan bantuan respirator dan sedikit memberikan respon terhadap stimulus rasa sakit di lengan dan kakinya.

Tetapi, Sharon yang sudah berpindah rumah sakit tidak juga bangun, meskipun keluarga sudah memperdengarkan alunan musik klasik karya komposer Mozart kesukaannya –seperti yang disarankan oleh dokter. Ia tidak pernah membuka matanya, meskipun hasil tes CT scan menunjukkan otaknya tidak lagi mengeluarkan darah.

Hari berganti pekan, pekan berganti bulan. Sharon tidak lagi dikabarkan menderita pendarahan pada otaknya. Hanya saja, berbagai infeksi menyerang organ-organ tubuhnya yang lain secara bergantian. Dari otak, infeksi pindah ke paru-paru, ke ginjal, ke dalam darah, begitu seterusnya. Jantungnya yang diketahui bocor sejak sebelum koma, ikut memperburuk keadaan.

Bulan September 2008, dalam wawancara yang termasuk langka, profesor Zeev Rothstein yang merawat Sharon menceritakan keadaan pasiennya kepada Radio Angkatan Bersenjata Israel.

“Dia bisa menggerakkan matanya, atau satu jari atau beberapa jari… Dia dapat beraksi terhadap rasa sakit, terhadap suara anggota keluarga yang didengarnya. Reaksi-reaksi ini menunjukkan ia tidak sepenuhnya tidak sadar,“ jelas Rothstein.

“Seorang pasien yang terbaring di ranjang rumah sakit begitu lama, tidak akan pernah terlihat sama seperti saat ia sadar dan bisa berlari. Jadi, ia terlihat sangat berbeda,” kata Rochstein lagi.

Sejak itu, tim dokter yang merawatnya hanya menyampaikan dua kabar tentang Sharon. Yaitu, kondisinya memburuk karena ada gangguan pada organnya atau stabil, tapi tetap dalam keadaan koma.

Ke Tempat Impian

David Landau, seorang teman dekat Sharon yang merupakan wartawan dan mantan pemimpin redaksi koran harian berpengaruh di Israel Haaretz dan pernah menulis biografi mantan Presiden Shimon Peres, dalam artikelnya mengatakan bahwa Sharon di banyak kesempatan selalu menyatakan ingin kembali ke rumahnya di Sycamore Ranch suatu hari nanti.

Namun kenyataannya, ia selalu bertahan di dunia politik. Sharon terpaksa berhenti, setelah stroke mendepaknya secara tiba-tiba dari kursi Perdana Menteri Israel.

Setelah lama tidak terdengar kabar tentang kondisi sebenarnya tentang Sharon, pada Jumat subuh 12 Nopember 2010, sebuah ambulan diiringi banyak pengawal bergerak dari Rumah Sakit Chaim Sheba menuju Sycamore Ranch di daerah Negev, sebelah selatan wilayah pendudukan Israel.

Sharon akhirnya dibawa pulang ke rumah pertaniannya, setelah bertahun-tahun terbujur di ranjang rumah sakit tanpa pernah sadarkan diri. Satu tim medis khusus mendampinginya.

Keluarga telah membeli sejumlah peralatan medis lengkap, yang biasa dipakai merawat pasien untuk jangka waktu lama. Selama pekan pertama, Sharon dirawat oleh tim dokter keluarga. Setelah itu, ia menjalani pemeriksaan rutin ke rumah sakit.

Ketika itu, seorang teman dari keluarganya, Raanan Gissin, mengatakan bahwa Sharon dapat bernapas sendiri, tapi terkadang harus dibantu dengan respirator oksigen. Dan Sharon tetap dalam keadaan koma.

Menanti Kematian
Sharon sebelumnya pernah mengalami stroke ringan pada 18 Desember 2005. Ia sempat dirawat di rumah sakit selama dua hari. Saat dokter memeriksanya, ditemukan bahwa Sharon menderita foramen ovale atau kebocoran pada jantung.

Empat hari menjelang masuk rumah sakit untuk mengatasi kebocoran di jantungnya, stroke kembali menghantam Sharon lebih dulu. Sejak saat itu, ia tidak pernah bangun lagi hingga saat ini.

Setelah mengkaji serangan stroke kedua itu, para pakar syaraf di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa 1 dari 3 orang pasien pendarahan di otak seperti Sharon, umumnya meninggal dunia dalam 30 hari. Kalaupun ada yang berhasil selamat dari maut, maka pasien akan mengalami kelumpuhan baik fisik maupun mental yang sangat parah.

Jika saja pemerintah Israel mengizinkan euthanasia, membiarkan pasien mati sendiri perlahan-lahan, hampir bisa dipastikan Sharon sudah mati sejak beberapa tahun lalu, seperti yang kerap diberitakan keliru oleh media massa.

Sahabat dekat Sharon pun terdengar pasrah sejak beberapa tahun lalu. Kepada ABC News, pada Oktober 2008, Raanan Gissen berkata, “Terserah keluarga.”

“Dia masih hidup. Jika kalian berhenti memberinya makan, maka ia akan kelaparan hingga akhirnya mati. Tapi itu bertentangan dengan ajaran Yahudi. Masih ada sedikit kemungkinan ia akan membaik, meskipun sepertinya mustahil. Terserah pada keluarganya,” kata Gissen.

Sepertinya, kedua putra Sharon harus bersabar menanti kedatangan malaikat maut penjemput ayahnya. Entah mengapa malaikat maut itu tak kunjung datang. Apakah itu bentuk hukuman dari Allah atas kejahatan Sharon yang telah membunuh ribuan rakyat Palestina? *Hadijah/Suara Hidayatullah, OKTOBER 2011

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment