Kelumpuhan kakinya tak membuatnya miskin prestasi dan miskin beramal. Setiap ejekan dijadikanya sebagai motivasi.
Yuli Ismawati kaget bak disambar petir. Teddy Fergarisma, anak pertamanya divonis lumpuh oleh dokter. Hal itu terjadi setelah Teddy meminum obat demam dari seorang dokter. Bukannya sembuh, tapi kedua kaki putra tercintanya yang masih berusia tiga tahun itu justru makin parah. Entah mengapa, kakinya mengecil dan uratnya menegang hingga tidak bisa berjalan. “Saya tidak kuat, Mas. Saya stres berat ketika itu,” kata istri Edi Purwito kepada Suara Hidayatullah.
Teddy Fergarisma, pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, menilai kejadian yang dialaminya hingga kini adalah takdir yang harus dihadapi. Ia pun berusaha menerimanya dengan tegar dan ikhlas. “Saya tidak boleh putus asa. Dalam setiap ketidak sempurnaan pasti ada hikmah dan potensi yang bisa digali,” tutunya kepada majalah ini.
Benar saja. Di balik keterbatasannya itu, ia memiliki semangat belajar yang tak terbendung. Ia punya cita-cita hebat: bisa sekolah setinggi-tingginya. Meski harus digendong ibunya, ia pun bisa menyelesaikan pendidikan dari TK hingga SD dengan nilai yang bagus. Bahkan, Teddy tidak pernah bolos. Ia juga mampu mengikuti pelajaran seperti siswa normal lainnya.
Sebagai Motivasi
Suatu saat, ketika SD, ada seorang teman yang mengejeknya, “Bisa apa kamu orang cacat?” Ejekan itu sempat membuat hatinya tergores. Namun hal itu tak berlangsung lama. Ejekan itu dijadikannya motivasi untuk ‘balas dendam’: orang cacat juga bisa hebat dan berprestasi. Sejak itu, semangat belajarnya kian menggebu-gebu.
Sebagai buktinya, ketika ia duduk di bangku SMP dan SMA, yang semuanya ia enyam di sekolah negeri, prestasinya melejit luar biasa. Di SMP, Teddy selalu menyabet peringkat satu. Sedangkan di SMA, ia bergantian meraih juara satu dan dua. Ia mengalahkan puluhan murid normal lainnya. Tidak hanya itu, ia bahkan menjuarai berbagai lomba matematika.
Seperti ketika di kelas satu SMP, ia menyabet juara dua lomba cerdas cermat Matematika se-Jatim di Surabaya. Kelas dua, meraih juara dua lomba MIPA di Blitar, se-Jatim. Lagi-lagi, ketika di kelas tiga, ia meraih juara dua lomba MIPA di Bali. Tidak hanya di SMP, di SMA pun Teddy juga menorehkan prestasi yang sama. Ia pernah juara satu lomba MIPA tingkat nasional di Yogjakarta, Jawa Tengah. “Alhamdulillah, ternyata saya bisa membuktikan bahwa anak cacat pun bisa berprestasi,” tuturnya.
Bagi pria kelahiran 1989 ini, cacat bukan hal yang menjadikannya malu atau minder. Ia malu ketika tidak bisa memahami pelajaran dengan baik. “Itu aib bagi saya,” ungkap mahasiswa yang memang hobi matematika ini. Sebaliknya, ia sangat senang jika bisa memahami dan menularkan ilmunya kepada temannya.
Teddy pun tidak hanya pandai pelajaran ilmu umum, tapi ia juga mampu dalam ilmu agama. Bahkan ketika SMA, ia sering disuruh ceramah dan membaca doa di beberapa acara. Lebih dari separuh juz ke-30 kitab suci al-Qur`an juga dihafalnya.
Suatu waktu, ketika hendak lulus SMA, ia didapuk menjadi penceramah di Pendopo Kabupaten Banyuwangi. Kapolres Banyuwangi saat itu hadir dan menanyakan soal pendidikannya dan cita-citanya. Keesokan harinya, Kapolres tersebut berserta ajudannya datang ke rumah Teddy dan memberikan sumbangan Rp 10 juta.
“Alhamdulillah, rezeki yang tak disangka-sangka. Berkat bantuan itu, saya jadi bisa melanjutkan kuliah,” ujarnya.
Sesuai hobinya, Teddy melanjutkan ke Universitas 17 Agustus 1945 (Untag), Banyuwangi jurusan Matematika. Katanya, ia tercatat sebagai mahasiswa satu-satunya yang menderita cacat. Namun, ia tetap semangat belajar. Setiap hari, ia diantar oleh tukang ojek pribadinya. Kadang pula oleh ayahnya, jika tukang ojeknya berhalangan. Karena tidak bisa berjalan, maka Teddy memakai kursi roda di kampusnya.
Lagi-lagi, meski dalam kondisi terbatas, tapi tidak membuatnya miskin prestasi. Di jurusannya, ia mampu mengalahkan sekitar 72 mahasiswa normal lainnya. Nilai Indeks Prestasinya (IP) selalu paling tinggi dari yang lain, yaitu 3.25. Keberhasilannya itu diraih dengan semangat belajar yang tinggi. Ia tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Setiap pulang dari kuliah, ia langsung mengulangi pelajarannya.
Ketika majalah ini menemuinya di rumahnya, mahasiswa semester lima ini tampak sedang duduk di ranjang di dalam kamarnya. “Saya tidak ke mana-mana Mas. Paling ya di sini duduk sambil belajar,” ungkapnya.
Ranjang yang terbuat dari kayu dan berisikan kasur yang dilapisi sprei biru itu agak semrawut. Di situ bertumpuk puluhan buku yang kebanyakan tentang matematika. “Ini sengaja biar tak susah mengambilnya,” ujar Teddy.
Gemar Berbagi
Teddy memang lebih tertarik pelajaran matematika dibanding pelajaran lainnya. Menurutnya, tidak banyak siswa yang menyukai ilmu yang sering menjadi momok para pelajar itu. Padahal, kata Teddy, ilmu matematika sangat penting guna menyibak rahasia alam dan menjembatani disiplin ilmu lainnya. “Dan, bila serius dipelajari, sebenarnya mudah dipahami,” katanya. Ia pun bertekad untuk mempelajarinya hingga betul-betul ahli.
Meski sakit yang diderita Teddy sudah bertahun-tahun, tapi tak memupuskan usaha ibunya untuk menyembuhkannya. Asa itu masih membuncah di benaknya. Sebagai ibu, ia ingin anaknya menjadi normal, seperti ketika Teddy dilahirkan. “Saya tetap ingin anak saya sembuh,” harapnya. Hingga kini, tak terhitung lagi biaya yang dikeluarkan untuk mengobatinya. Dari pengobatan medis hingga tradisional. Tapi, semuanya sama: nihil!
Namun, lagi-lagi Teddy selalu menegarkan hati ibundanya, bahwa keadaannya itu sudah menjadi suratan takdir dari Allah Ta’ala.
Kondisi tersebut membuat Teddy gemar berbagi kepada sesama, terutama kepada anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Oleh karena itu, di sela-sela kesibukannya kuliah, ia juga menjadi sukarelawan di Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Tuna Ganda, Banyuwangi.
Hari berikutnya, ketika Suara Hidayatullah mengunjunginya di SDLB tempatnya mengajar, Teddy sedang duduk di kursi roda. Mengenakan celana training hitam, kaos panjang, dan sepatu kets hitam. Sebuah laptop warna silver masih terbuka di pangkuannya. Beberapa siswa SLB mengerumuninya. “Habis ngajar komputer,” katanya. Kata Teddy, tidak mudah mengajari mereka yang memiliki kebutuhan khusus ganda. Karenanya, ia pun harus ekstra sabar.
Teddy diberi honor Rp 7 ribu per hari. Jumlah sebesar itu, tidak cukup untuk membayar ongkos ojek pergi-pulang. Pasalnya, per bulan saja ia harus membayar tukang ojek pribadinya Rp 300 ribu. Namun, karena niatnya untuk berbagi begitu besar, ia pun dengan senang hati melakukannya. *Syaiful Anshor/Suara Hidayatullah NOPEMBER 2011
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL