Baiat Kontrak di Bawah Pohon

Baiat Kontrak di Bawah Pohon


Bangunan lima lantai setengah jadi di dalam kompleks Rumah Sakit Al-Syifa, di Gaza City, Gaza-Palestina itu sudah hampir satu tahun terbengkalai. Dari papan proyek yang tertera di dinding lantai dua bangunan seluas 1500 meter persegi itu tertera nama Qatar Red Crescent, organisasi bulan sabit merah Qatar sebagai pelaksana proyek. Penyandang dananya adalah Badan Kerjasama Negara-negara Teluk untuk Rekonstruksi Gaza dan Bank Pembangunan Islam (IDB).

Sebagian dindingnya rusak terkena bom, dan bagian paling atas rangka gedung tersebut terlihat sudah mulai keropos. Dari jalan raya, kondisi bangunan yang diproyeksikan sebagai gedung pusat bedah spesialis itu sangat kontras dengan gedung utama RS Al-Syifa yang terletak 10 meter di sebelah kirinya.

Menurut Nur Ikhwan Abadi, seorang insinyur teknik yang tergabung dalam organisasi kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), pembangunan gedung itu mandek karena keterbatasan dana.

Rencananya, di salah satu lantai gedung itu akan dibangun sebuah pusat perawatan jantung (cardiac centre) atas nama Pemerintah Republik Indonesia. Pemerintah berjanji memberi hibah sekitar USD 2 juta dari total USD 8 juta yang dibutuhkan.

Ikhwan sengaja bertandang ke Al-Syifa bulan Juli 2011 lalu untuk melihat langsung proyek, yang disebut sebagai ganti dari batalnya rencana Pemerintah membangun rumah sakit di Gaza. Karena, menurut pihak Kementerian Kesehatan RI, proyek bangsal jantung itu sudah akan kelar pada bulan Oktober 2011.

“Diperkirakan pembangunannya selesai dalam waktu 8 bulan dan dana hibah Pemerintah Indonesia sebesar Rp 20 miliar (US$ 2,6 juta) …,” demikian keterangan resmi pihak Kementerian Kesehatan yang dirilis 7 Februari 2011 lalu.

Tetapi, hingga tulisan ini disusun, bangunan masih seperti sedia kala. “Enggak ada perubahan,” kata Abdillah Onim, Ketua MER-C cabang Gaza kepada Suara Hidayatullah via fasilitas telepon internet medio Oktober lalu.

Menurut Menteri Kesehatan, Endang Sedyaningsih, proyek pusat layanan jantung itu tersendat karena kendala mekanisme pengeluaran uang. ”Jadi harus persetujuan, dan ke DPR dulu. Harus balik lagi ke Kementerian Keuangan. Jadi, lama di administrasinya,” kata Endang kepada Suara Hidayatullah yang menemuinya di Senayan, Jakarta, Oktober lalu.

Namun, kata Endang, pihak IDB tetap menjalankan proyek mereka di RS Al-Syifa yang merupakan rumah sakit terbesar di Gaza itu. “Cuma bagian kami ini. Nanti kita akan terus. Karena tidak mudah kalau kita mau menghibahkan uang ke luar,” kilahnya.

Ingkar Janji?

Menurut Kemkes RI, proyek cardiac centre tersebut adalah wujud komitmen Pemerintah untuk membantu rekonstruksi Gaza seperti yang dijanjikan pada Sidang Organisasi Konferensi Islam di Sharm el-Sheikh, Mesir 2009 lalu. Janji itu kemudian dikuatkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang berkunjung ke Indonesia pada akhir Mei 2010. Saat itu, Presiden mengatakan akan memberi hibah Rp 20 miliar untuk membangun sebuah rumah sakit di Gaza.
Harapan terwujudnya RS Indonesia di Gaza makin kuat setelah peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit tersebut oleh Ketua DPR-RI Marzuki Alie yang berkunjung ke Gaza usai serangan Zionis-Israel terhadap konvoi kemanusiaan Freedom Flotilla tengah tahun 2010 lalu.

Namun, tiba-tiba Pemerintah berubah pikiran. Dana Rp 20 miliiar yang semula untuk pembangunan rumah sakit dialihkan untuk proyek cardiac centre melalui perantara IDB. Kepada media massa, Menteri Kesehatan beralasan mengalami kesulitan mendapatkan lahan dan perizinan.

Presidium MER-C, dr Sarbini Abdul Murad menilai alasan itu mengada-ada. Sebab, katanya, Pemerintah telah mengetahui jika pihak Pemeritahan Hamas di Gaza telah memberikan wakaf tanah seluas 16.261 meter persegi di daerah Bayt Lahiya, Gaza Utara untuk proyek RS tersebut.

Nota kesepakatan (memorandum of understanding/MoU) soal perizinan dan wakaf tanah tersebut juga telah ditandatangani oleh MER-C yang mewakili rakyat Indonesia dengan Kementerian Kesehatan Palestina pada 23 Januari 2009 di Gaza.
“Walau pemerintah menganggap MoU itu sebagai MoU abal-abal (tidak sah),” kata Sarbini yang berkunjung ke redaksi Suara Hidayatullah Oktober lalu.

Kata Sarbini, sejatinya dana Rp 20 miliiar dari pemerintah itu bisa menutupi biaya keseluruhan pembangunan fisik rumah sakit yang menelan biaya Rp 30 miliar. MER-C sendiri telah memiliki dana Rp 15 miliar yang merupakan sisa dari Rp 23 miliar sumbangan masyarakat Indonesia untuk Gaza paca gempuran Israel Januari 2009 lalu.

Lika-Liku
Meski tanpa bantuan Pemerintah, Pembangunan RS Indonesia yang berjarak sekitar 10–15 kilometer dari RS Al-Syifa tersebut tetap berjalan. Struktur RS sudah lebih dari 50 persen didirikan. “Basement sudah selesai. Sekarang sedang membangun lantai dasar,” kata Ir Faried Thalib, Kepala Divisi Konstruksi MER-C kepada Suara Hidayatullah pertengahan September lalu.

Faried menceritakan, proses untuk dapat memulai pengerjaan rumah sakit pada 14 Mei 2011 lalu sangatlah berliku. Bukan hanya masalah kekurangan dana, transfer uang ke Gaza juga tidak mudah.

Faried menuturkan, saat timnya berangkat menuju Gaza untuk menentukan pemenang tender proyek RS Indonesia pada April 2011, pemerintah Mesir tidak mengizinkan untuk melintasi perbatasan. Akhirnya proses penentuan pemenang terpaksa dilakukan dengan fasilitas telekonferensi video internet, Skype, antara Tim MER-C di Mesir dengan Tim MER-C Gaza bersama dua finalis perusahaan kontraktor.
Masalah selanjutnya, bagaimana surat kontrak dan surat perintah kerja yang disiapkan dari Jakarta bisa ditandatangani oleh pemenang tender lalu dibawa lagi ke Jakarta. “Padahal kita tidak bisa masuk,” kata Thalib.

Syukurlah, penjaga perbatasan Mesir dan Gaza di Rafah bersedia menjadi perantara. “Surat itu dibawa bolak-balik oleh penjaga perbatasan. Saya sendiri tandatangani surat itu di bawah pohon, di Rafah,” kata Thalib seraya tersenyum.

Soal bahan bangunan, kata Faried, tidak ada kendala sama sekali. Hingga bahan yang dilarang keras Zionis untuk masuk ke Gaza seperti semen dan besi juga relatif mudah didapat. “Baik diselundupkan dari Mesir, bahkan dari Israel sendiri,” katanya.

Kata Faried, MER-C tinggal memberikan gambar rancangan dan spesifikasi bangunan beserta biaya saja, kontraktor setempat yang mencari bahan-bahannya. “Itu urusan kami,” kata Faried menirukan ucapan dari pihak First Company, kontraktor pemenang tender.
Malah, kata Faried, harga besi di Gaza lebih murah ketimbang di Indonesia. Harga besi di Gaza Rp 7 juta per ton di Indonesia bisa Rp 7,4 per ton.

3 Kilometer dari Perbatasan
Kata Faried, RS Indonesia yang berlokasi sekitar 3 kilometer dari perbatasan Israel itu akan lebih berfungsi sebagai pusat rehabilitasi atau trauma center. Dipilihnya lokasi itu juga atas permintaan Pemerintah setempat. Menurut mereka, daerah perbatasan seperti Bayt Lahiya sering mendapat serangan dari Zionis, sedangkan jarak dari sana menuju Al-Syifa cukup jauh bagi penduduk setempat.
Bagi Mustafa al-Qanu’, Penasihat PM Palestina di Gaza, selain bermanfaat untuk rakyat Gaza, RS Indonesia juga memberi kekhawatiran untuk Zionis. “Banyak rumah sakit asli buatan Palestina dihancurkan oleh Israel, akan tetapi kalau rumah sakit dari luar, itu milik semua umat Islam. Israel takut hancurkan rumah sakit itu karena akan menyulut kemarahan seluruh umat Islam,” katanya kepada Suara Hidayatullah Agustus lalu.

RS Indonesia sangat mendapat perhatian di Gaza. Masyrakat, media massa, hingga pejabat menteri juga kerap berkunjung ke lokasi. Medio Oktober lalu, Menteri Kesehatan setempat, dr Bassim Naim berkali-kali mengucapkan terimakasih melihat perkembangan RS Indonesia yang terbilang sangat cepat.

Bassim Naim mengatakan, RS Indonesia akan menjadi proyek percontohan bagi proyek-proyek yang akan datang, khususnya dari Asia Tenggara. “Terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia atas hadiah untuk rakyat Palestina di Jalur Gaza berupa rumah sakit. Rumah sakit ini akan menjadi salah satu rumah sakit terbesar di Jalur Gaza yang akan meng-cover rumah sakit yang ada di Gaza bagian Utara,” ungkap Bassim Naim.

Milik Rakyat Indonesia
Sarbini menegaskan, RS Indonesia di Gaza bukanlah milik MER-C semata melainkan milik bersama rakyat Indonesia. Proyek RS Indonesia tersebut, katanya, juga bukan program jangka pendek. RS Indonesia diharap bisa menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dengan rakyat Palestina.
Kata Sarbini, pembangunan tahap kedua RS Indonesia pada Februari 2012 nanti akan membutuhkan dana tambahan Rp 15 miliar. Untuk menyiasati cekaknya dana, MER-C menggalang program Rp 20 ribu per orang untuk RS Indonesia di Gaza.
“Jika satu juta orang menyumbang Rp 20 ribu, kita bisa dapat Rp 20 miliar,” kata Sarbini.

Informasi lengkapnya bisa dilihat di situs www.mer-c.org, RS Indonesia di Facebook, dan @RS Indonesia di Twitter. Pembaca bisa ikut memberikan donasi melalui rekening MER-C di Bank Syariah Mandiri (009.0121.773) dan BCA (686.0153678).

Faried Thalib mengatakan, dana yang digalang dari masjid-masjid sudah terkumpul lebih dari Rp 2 miliar. Namun, dia juga berharap Allah membalikkan hati Pemerintah agar segara mencairkan dana hibah 2o miliar tersebut dan menyalurkannya untuk pembangunan RS Indonesia.

Faried juga sedang berusaha mengawasi dana pemerintah tersebut. Sebab, kata Faried, kenalannya di IDB hingga saat ini mengaku belum mendapat kontak sama sekali dari pemerintah Indonesia soal proyek bangsal jantung yang menggantung itu.
“Kita harus awasi uang tersebut. Jangan sampai ke IDB enggak, ke Rumah Sakit Indonesia juga enggak,” imbau Thalib.* SUARA HIDAYATULLAH, NOPEMBER 2011

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment