Di saat masyrakat sibuk berlomba membantu Palestina, ada sebagian masyarakat yang mencela.
Ismail Hasani tidak sedang bermain-main saat mengatakan, sekolah-sekolah Islam terpadu sebagai sarana pemupuk benih radikalisme agama. Dalam sebuah diskusi soal deradikalisasi agama di Jakarta pada Januari 2011, peneliti senior SETARA Institute bahkan mengatakan, “Kita harus waspada terhadap Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dan Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT).
Alasannya, kata Ismail, di lembaga pendidikan semacam itu kerap diajarkan bahkan melombakan nasyid-nasyid perjuangan Palestina. Apakah dia merasa paranoid dengan kecintaan anak-anak Indonesia terhadap saudara mereka di Palestina yang tengah dijajah Zionis-Israel. “Tidak,” katanya mengelak saat ditanya Suara Hidayatullah usai diskusi.
Namun dia menegaskan, bahwa lagu-lagu jihad itu mengancam NKRI dan bertentangan dengan Pancasila. “Kenapa tidak pakai lagu-lagu perjuangan Indonesia,” ujarnya berkilah.
Ungkapan senada ternyata sudah lazim di kalangan pluralis-liberal negeri ini. Dalam sebuah diskusi dengan tema serupa di Universitas Paramadina, Jakarta, seorang ibu yang mengaku dari sebuah LSM dengan embel-embel bhineka tunggal ika mengatakan, “Apa hubungannya Indonesia dengan Palestina?”
Menurut sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara, orang-orang yang berpendapat demikian tidak paham sejarah bangsa Indonesia. Sebab, katanya, meski dijajah oleh Zionis tiga tahun setelah Indonesia merdeka, Palestina bersama negara-negara Arab adalah negara yang paling awal mengakui dan mendukung kemerdekaan Indonesia.
Mansur menilai, pihak yang sinis terhadap gerakan solidaritas Palestina patut dipertanyakan rasa kemanusiaannya. Karena memperjuangkan kemerdekaan Palestina adalah wujud pengamalan terhadap konstitusi Indonesia yang anti penjajahan.
Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA) Ferry Nur sependapat dengan ucapan Mansur. Katanya, selain moril, seorang hartawan Palestina juga memberikan bantuan materil pada masa awal kemerdekaan Indonesia yang saat itu belum diakui oleh negara-negara sekutu Barat.
Namun, bagi Ferry, dukungan terhadap Palestina lebih dari sekadar tuntutan rasa kemanusiaan. “Karena dorongan iman dari diri kita,” katanya.
Kata Ferry, sejak didirikan pada 2002, KISPA telah menyalurkan bantuan lebih dari Rp 10 miliar. Tidak hanya untuk rakyat Palestina di wilayah yang dijajah Zionis, tapi juga ke kamp-kamp pengungsi di Suriah dan Libanon. Selain disalurkan kepada para yatim, janda, dan fakir di Gaza, bantuan juga diberikan kepada lembaga pendidikan.
Pada Idul Adha tahun ini, KISPA, membuat program qurban di Gaza dengan biaya USD 200 per ekor kambing.
Ferry mengatakan, hingga saat ini masyarakat masih memberikan donasi untuk Palestina lewat KISPA, karena masyarakat tahu sumbangannya tidak dipotong untuk biaya operasional.
Amirrul Iman, Direktur Operasional Sahabat Al-Aqsha, juga mengatakan hal serupa. Dalam setiap acara penggalangan dana, pihaknya selalu memberikan jaminan bahwa setiap sen dari infak yang disalurkan melalui Sahabat Al-Aqsha akan disalurkan untuk rakyat Palestina yang membutuhkan.
Di antara program Sahabat Al-Aqsha yang sudah direalisasi di Gaza adalah pembuatan beberapa sumur air bersih, santunan yatim di Gaza, buka puasa bersama (iftar jama’iy) para pengungsi Palestina di Gaza, Damaskus, dan masjid Al-Aqsha.
“Alhamdulillah, dana yang terkumpul dan disalurkan pasca insiden Mavi Marmara (31 Mei 2010) sebesar USD 45.300 dan EUR 52.900,” kata Amirrul kepada Suara Hidayatullah.
Bersama MER-C dan organisasi Haluan Malaysia, Sahabat Al-Aqsha juga membangun sebuah klinik pengobatan dan perawatan gigi di kamp pengungsi Yarmuk, Damaskus-Syiria.
Pada bulan September lalu, Sahabat Al-Aqsha juga membuka sebuah Taman Kanak-Kanak gratis untuk anak-anak yatim dan duafa di Gaza. Taman Kanak-Kanak yang dinamakan Bintang Al-Quran (Najmul Quran) hasil kerjasama Sahabat Al-Aqsha dengan Yayasan Salam (Gaza) dan Al-Sarra Foundation for Humanitarian Relief (Damaskus). Sedangkan direktur TK tersebut adalah Raja’ Yusuf Al-Hirtsani, seorang penghafal al-Qur`an (hafizhah) yang juga istri dari Ketua MER-C di Gaza, Abdillah Onim.
Divisi Konstruksi
Kepala Divisi Konstruksi MER-C, Ir Faried Thalib mengatakan, MER-C menawarkan bantuan jasa cuma-cuma bagi LSM-LSM Indonesia yang ingin membuat bangunan di Gaza. Bantuan itu berupa konsultasi dan rancangan bangunan hingga cara yang aman untuk transfer uang. “Semuanya, free,” kata Faried.
Muhammad Hasna, Koordinator Organisasi Konferensi Islam di Gaza mengimbau agar tidak sembarangan dalam memberikan bantuan ke Gaza. Katanya, tidak semua orang bisa dipercaya.
Hasna yang ditemui di kantor pusat MER-C, di Jakarta, Oktober lalu juga berpesan agar tidak memberikan uang sekaligus untuk satu proyek. “Melainkan buatlah beberapa tahap pengerjaan. Kemudian uang dibayarkan kepada kontraktor sesuai kebutuhan tahap-tahap pengerjaan proyek yang dikerjakan,” ujarnya mewanti-wanti.*
Membantu Palestina di Shaf Kedua dan Seterusnya
Oleh Dzikrullah
“Kitab suci kamu, doa kamu, bahasa Nabi Muhammad kamu semua dalam bahasa Arab… Apakah kamu tidak merasa dijajah oleh kebudayaan Arab lewat agamamu?” tanya wartawan wanita Australia itu kepada saya, sambil kami menyantap kambing oven dan nasi kebuli, di sebuah hotel di kawasan Arab Surabaya, Ampel.
Pertanyaan itu bukan untuk mencari hidayah, jadi sebaiknya jawabannya juga tidak usah terlalu serius. Saya bilang, “Sejak 200 tahun yang lalu orang-orang Aborigin dipaksa berbahasa Inggris, berpakaian cara Inggris, bergaul dengan cara Inggris, makan makanan ala Inggris, berketurunan dengan cara Inggris, apa kamu nggak merasa menjajah orang Aborigin?”
Senyumnya kecut. Obrolan berganti topik.
Kelirulah orang yang mengira bahwa membantu Palestina, peduli pada Palestina, dan membela hak-hak rakyat Palestina merupakan bagian dari efek ke-Arab-an Islam. Ini adalah efek aqidah. Salah satu konsekuensi beriman kepada kekuasaan Allah yang absolut ialah membela saudara sesama aqidah saat mereka dizalimi.
Bukan cuma rakyat Palestina, rakyat Muslimin lain yang sedang dizalimi juga wajib dibela. Bahkan, bukan cuma kaum Muslimin, semua rakyat yang sedang dizalimi oleh penguasa yang tidak beriman kepada Allah, wajib dibela dan dimerdekakan oleh kaum Muslimin.
Dimerdekakannya dengan Tauhid yang membebaskan diri manusia dari dominasi manusia, kekuasaan, atau harta benda, menjadi hanya menghamba kepada Penguasa Asli, Allah.
Inilah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam sesudah Perang Tabuk. Jihadnya bukan lagi membela diri dan mempertahankan Madinah semata-mata namun secara proaktif mengajak orang memeluk Islam. Kalau penguasa di suatu kawasan menolak dan memaksa tetap pada aqidahnya yang keliru dan tetap berkuasa dengan aqidah yang keliru itu, maka penguasa itu didakwahi terus sampai rakyatnya merdeka dan bebas memilih menjadi Muslim atau menolak (tidak dipaksa).
Negeri Syam dibebaskan dari Kaisar Romawi dan rakyatnya diserukan untuk memeluk Islam. Begitu juga Yaman, Persia, India, Mesir, Afrika Utara terus meluas ke seluruh bumi.
Ada yang dibebaskan dan diajak memeluk Islam dengan politik dan senjata, ada yang hanya dengan kata-kata, perdagangan, dan pernikahan sudah cukup membuka jalan hidayah. Indonesia termasuk bangsa berhati lembut yang menerima Islam tanpa kekerasan.
“Historical Facts and Fictions” buku terbaru Prof Syed Muhammad Naquib Al-Atas, cendekiawan Malaysia kelahiran Bogor, mengoreksi pandangan yang sudah berabad-abad dipercaya banyak orang, bahwa Islam sampai ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi. Keliru. Bahkan pendapat yang paling optimis seperti yang diungkap almarhum Buya Hamka yaitu abad ke-7 pun masih dikoreksi.
Fakta-fakta sejarah yang dikaji Al-Atas menunjukkan dugaan kuat Islam tiba di Sumatra dibawa oleh para Sahabat yang diutus langsung oleh Rasulullah SAW.
Hubungannya dengan masalah Palestina?
Diantara tabiat Islam yang paling penting ialah menyatukan dan menyetarakan manusia di hadapan Allah. Apapun perbedaannya nggak masalah, yang penting dalam urusan ketaatan kepada Allah bangsa manusia manapun diajak (sekali lagi: diajak) bersatu. Satu aqidah, satu syariah, satu Rasulullah SAW, satu kitabullah, satu hati, satu tubuh, meskipun kebiasaan hidup, bahasa, dan warna kulitnya berbeda. Tidak masalah.
Termasuk dalam urusan Palestina. Indonesia satu tubuh dengan Palestina. Indonesia dijajah, Palestina marah dan membantu. Palestina dijajah, Indonesia marah dan membela. Kadar kemarahan dan pembelaan tergantung kadar iman dan ilmu. Ketika dakwah semakin meningkatkan iman dan ilmu orang Indonesia, maka semakin besarlah kemarahan dan pembelaan mereka terhadap saudara-saudaranya yang sedang dijajah dan dizalimi.
Apalagi di Palestina ada Masjidil Aqsha. Bukan masjid sembarang masjid. Masjid yang merupakan bagian penting dari aqidah Islam. Disebut Allah dalam al-Qur`an. Dijihadkan pembebasannya oleh Rasulullah SAW dan khalifahnya Abu Bakr. Dituntaskan oleh ‘Umar. Dikokohkan sunnah jihad Al-Aqsha itu oleh Shalahuddin Al-Ayyubi.
Karena Palestina –khususnya Masjidil Aqsha– bagian dari iman seorang Muslim (juz’ min ‘aqidatunaa), maka cara membantu dan membelanya juga dengan cara yang disunnahkan baik oleh Rasulullah SAW, oleh Sahabat, maupun mereka yang kemudian mengikuti jejak langkahnya. Jihad dengan doa, jihad dengan informasi, jihad dengan harta, jihad dengan bantuan kemanusiaan, dan jihad dengan nyawa.
Membantu Palestina tanpa niatan jihad fii sabilillah bisa dilakukan dan mungkin berhasil. Uskup Illariona Cappuci, Ken O’Keefe, dan Sarah Colborne membantu Gaza dengan menyabung nyawa naik kapal Mavi Marmara tahun lalu. Perjuangan mereka selama bertahun-tahun membela Palestina lebih hebat dari kebanyakan Muslim Indonesia. Ribuan rakyat Palestina telah merasakan manfaat bantuan mereka. Kita doakan Allah memberi mereka hidayah dan memasukkannya ke dalam Islam karena kebaikan-kebaikannya.
Namun, harus secara jujur dikatakan di sini, tentu nilai amal mereka di hadapan Allah berbeda dengan mereka yang membantu Palestina dan Masjidil Aqsha dengan niatan fii sabilillah, karena aqidah.
Di shaf pertama perjuangan membantu Palestina dan Masjidil Aqsha ada para ulama dan mujahidin. Kita di shaf kedua mengerahkan apa yang kita bisa. MER-C mendirikan Rumah Sakit Indonesia. Dompet Dhuafa mendirikan pabrik roti (makanan pokok rakyat). ACT menyelenggarakan sahur dan buka puasa bersama bagi ratusan orang. KISPA membantu madrasah-madrasah tahfizh al-Qur`an. KNRP mengirimkan mujahidahnya almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh. Lebih banyak lagi yang tak mampu disebutkan di sini, dengan amal shalih yang semuanya luar biasa (terima kasih yang tak terhingga kepada almarhum Pak Natsir dari Dewan Dakwah dan Pak Lukman Harun dari Muhammadiyah, yang selalu jadi inspirasi sejak tahun ‘60-an)
Di shaf terdepan ada para ulama dan mujahidin. Di belakangnya ada kita, bersama saudara-saudara Muslimin dari seluruh penjuru dunia. Mudah-mudahan kita bersama terus sampai akhir salam.* SUARA HIDAYATULLAH NOPEMBER 2011
*Penulis adalah pendiri Sahabat Al-Aqsha, jaringan silaturahim keluarga Indonesia-Palestina (www.sahabatalaqsha.com)
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL