Indahnya Ukhuwah di Fayetteville

Indahnya Ukhuwah di Fayetteville

Menjadi minoritas tidak selalu berarti negatif. Justru ketika hidup di tengah masyarakat non-Muslim, solidaritas dan kebersamaan antar sesama Muslim terjalin erat, tanpa memandang suku atau negara asalnya. Berikut catatan perjalanan Ika Yuniar, yang beberapa waktu lalu menyelesaikan studinya di University of Arkansas, Fayetteville Arkansas, salah satu negara bagian di Amerika Serikat.

Menempuh perjalanan menuju Fayetteville boleh dibilang cukup melelahkan. Saya menghabiskan setidaknya 24 jam di pesawat, dengan dua kali transit, yakni Hongkong dan Chicago, sebelum akhirnya mendarat di kota yang terkenal dengan pertaniannya.

Daerah ini sebenarnya termasuk salah satu daerah miskin di Arkansas, yang separuh penduduknya tidak beragama. Beruntung, Fayetteville memiliki University of Arkansas yang sering menjadi rujukan mahasiswa di seluruh dunia untuk belajar. Jadilah perekonomiannya terangkat berkat kedatangan mahasiswa dari berbagai negara itu.

Sebagai salah satu mahasiswa di universitas ini, saya tinggal di sebuah apartemen sederhana yang cukup dekat dengan kampus, bersama dua mahasiswi asal Thailand dan Brazil. Masyarakat Fayetteville sudah terbiasa dengan kehadiran Muslimah berjilbab seperti saya, bahkan banyak pula yang bercadar, sehingga hal tersebut menguntungkan ruang gerak saya selama berkuliah. Saya juga tidak perlu khawatir untuk dicurigai sebagaimana ketatnya pengawasan Muslim yang baru datang ke negeri Paman Sam.

Beberapa hari melakukan adaptasi di Fayetteville, saya berusaha mencari komunitas Muslim. Maklum, di negara yang sangat bebas ini, segalanya bisa terjadi, termasuk tergerogotinya aqidah. Bahkan, akibat godaan yang berat di negeri ini, sebagian mahasiswa Muslim asal Turki yang notabene teman kelas saya sudah lama meninggalkan shalat lima waktu. Kehidupan sekuler juga membawanya terbiasa dengan minuman keras.

Karenanya, pencarian komunitas itu pun berlanjut. Melalui informasi dari beberapa teman asal Indonesia, saya pun menuju sebuah masjid yang sekaligus difungsikan sebagai Islamic Center di Fayetteville. Nama lengkapnya Islamic Center of Northwest Arkansas (ICNA). Jarak antara Arkansas University dengan ICNA cukup dekat, hanya butuh waktu sekitar 10 menit saja.

Prakarsa Mahasiswa Muslim
ICNA merupakan pusat kegiatan umat Islam satu-satunya di daerah itu. Menurut sejarahnya, tempat ini berdiri atas prakarsa mahasiswa Muslim University of Arkansas pada tahun 1970-an. Bangunannya sederhana, terdiri dari dua lantai. Di sekitar masjid ditumbuhi pepohonan yang membuat suasana terasa sejuk dan damai.

Meskipun berada di lingkungan masyarakat non-Muslim, ICNA atau juga dikenal dengan Masjid Hamza ini menjadi saksi berkembang pesatnya penganut Islam di wilayah Arkansas. Beragam kegiatan umat Islam hidup di tempat ini, seperti ditegakkannya shalat lima waktu berjamaah selama tujuh hari dalam sepekan, shalat Jumat, shalat Tarawih ketika Ramadhan, dan shalat Idul Fitri dan Idul Adha setiap tahun.

Masjid Hamza juga memiliki program khusus sekolah Minggu untuk anak-anak dan dewasa. Mereka mempelajari al-Qur`an, bahasa Arab, dan Studi Islam, serta diskusi-diskusi intensif terkait topik-topik Islam terkini yang dapat menambah wawasan mereka. Seakan ingin menjadi solusi bagi kebutuhan umat Islam di Fayetteville, ICNA juga menyediakan makanan halal yang seringkali sulit didapatkan di tempat-tempat perbelanjaan di daerah ini.

Satu hal menarik yang jarang saya temukan di Indonesia adalah terkait pengelolaan jamaah di Masjid Hamza. Setiap jamaah biasanya ditawari untuk mengisi data diri, khususnya email untuk kepentingan kontak person. Berdasarkan pencatatan administrator Masjid Hamza, hingga saat ini jamaah yang terdaftar sudah di atas angka 500 orang, berasal dari berbagai etnis di dunia.

Melalui data itu, setiap kegiatan yang diadakan oleh Masjid Hamza, disebarkan kepada seluruh anggota secara rutin, baik mengenai informasi pengajian, halaqah, hingga pelaksanaaan puasa dan dua shalat Id. Dari proses ini pula-lah terbentuk komunitas Muslim di tempat ini, meskipun kami berasal dari negara berbeda. Ada yang berasal dari India, Banglades, Pakistan, Sri Langka, Timur Tengah, Amerika, Indonesia, maupun Malaysia.

ICNA memfasilitasi halaqah-halaqah yang bersifat kekeluargaan itu untuk mempererat hubungan antar anggota jamaah. Kami biasanya sharing terkait persoalan yang dihadapi melalui forum ini, dan bila ada di antara anggota jamaah yang dapat membantu, langsung diutarakan pada forum tersebut.

Kebersamaan Sesama Muslim
Saya misalnya, ketika itu mengeluhkan masalah sulitnya transportasi untuk mencapai Masjid Hamza agar dapat mengikuti kegiatan rutin, langsung diberi solusi melalui kesanggupan salah seorang sister -panggilan persaudaraan kami bagi sesama Muslimah di Fayetteville- untuk menjemput saya setiap akan mengikuti kegiatan di masjid tersebut. Sister tersebut ternyata orang Arab yang sehari-harinya menggunakan cadar.

Kebersamaan dengan sister dari Arab ini selama beberapa waktu menyisakan cerita yang mengharukan. Ketika dalam perjalanan usai menjemput saya di apartemen, saya merasa kehausan. Sayangnya, saya tidak membawa koin yang biasa digunakan untuk membeli minuman kaleng. Tiba-tiba Muslimah Arab itu membelikan saya minuman. Ketika saya tanya mengapa dia melakukan itu. Jawabannya begitu indah. Karena saya saudaranya sesama Muslim.

Tidak cukup dengan halaqah, untuk memupuk kebersamaan antar sesama Muslim, jamaah ICNA juga memiliki acara santai yang dinamai potluck lunch maupun potluck dinner. Acara ini merupakan kegiatan silaturahim antar jamaah, dengan masing-masing membawa makanan untuk disajikan di acara tersebut. Kegiatan ini menjadi meriah, karena makanan yang dibawa oleh anggota jamaah adalah makanan khas negaranya masing-masing. Keakraban pun terjadi dengan sendirinya. Ikatan persaudaraan atas dasar aqidah melebihi ikatan atas dasar negara asal. Subhanallah.

Fayetteville juga memiliki kesan lain buat saya. Di tengah udara dinginnya yang mencapai nol derajat celcius di pagi hari, umat Muslimnya selalu bekerjasama dalam melaksanakan berbagai kegiatan. Saat merayakan Idul Adha misalnya. Anggota komunitas ICNA bahu membahu mempersiapkan shalat Idul Adha yang diselenggarakan di dalam gedung ICNA.

Lebih dari 500 orang pun berdatangan menyesaki bangunan yang tidak terlalu luas itu. Alunan takbir menggema, meskipun tidak menggunakan loadspeaker, karena aturan di daerah itu yang mengharuskan demikian, termasuk pada saat melaksanakan shalat lima waktu berjamaah.

Tempat untuk melaksanakan shalat Ied pun ditata serapi mungkin. Bagi orangtua dan jompo disediakan kursi untuk shalat dalam posisi duduk, sementara anak-anak ditempatkan di lantai dua.

Setelah shalat, keakraban kembali dijalin. Seluruh anggota jamaah menuju ruang khusus. Di sana sudah tersedia berbagai jenis makanan dan minuman yang dibawa oleh jamaah sendiri.

Beberapa malam setelah itu juga dilaksanakan party untuk merayakan Idul Adha dengan berbagai kegiatan yang menyemarakkan suasana. Ada kuis, game, maupun lomba. Anak-anak pun diberi hadiah istimewa. Semua merasa bahagia dalam nuansa ukhuwah sesama Muslim. *Masjidi/ Suara Hidayatullah NOPEMBER 2011

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment