Endah Darosy Hyoscyamina: Rumah Surga Keluarga Pendakwah

Endah Darosy Hyoscyamina: Rumah Surga Keluarga Pendakwah

Seorang daiyah dengan anak-anak yang gemar berdakwah.

Memiliki keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah, serta mempunyai anak-anak yang saleh dan salehah merupakan dambaan bagi setiap pasangan yang telah membina rumah tangga.

Itulah yang telah dirasakan Endah Darosy Hyoscyamina. Daiyah yang biasa disapa Bunda Endah ini mempunyai dua orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan yang seluruhnya gemar berdakwah.

Mereka adalah Ilham Binar Lazuardi (15), Taufiq Akbar (14), Safira Yulia (12), dan Kintan Aulia (11). Bagaimana Bunda Endah dan suaminya, Eddy Abdullah mendidik anak-anak mereka?

Semuanya tidak terwujud begitu saja. Wanita yang sehari-hari mengajar mata kuliah Pengembangan Kepribadian di beberapa fakultas di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah tersebut telah mendidik ke empat buah hatinya dengan pengetahuan agama sejak dini.

“Saya sudah menanamkan kepada anak-anak pendidikan agama sejak mereka kecil, membiasakan mereka mengaji, dan yang laki-laki shalat jamaah di masjid. Selain itu, saya juga menyempatkan membahas Hadits-Hadits,” ucap Bunda Endah saat ditemui Suara Hidayatullah di kediamannya di Semarang.

Bagi wanita berusia 45 tahun ini, menjadi seorang daiyah merupakan sesuatu yang belum lama ia lakoni. Tetapi, dengan niat ikhlas serta dilandasi keinginan karena ingin menolong agama Allah, dirinya merasa terpanggil untuk terus eksis dalam perkara amar ma’ruf nahi munkar ini.

Sebelum menekuni dakwah, Bunda Endah sendiri juga bukan merupakan seorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama. Namun, dia mengaku sudah aktif dalam kegiatan dakwah kampus semasa kuliah.

“Awalnya sempat takut juga untuk dakwah, karena saya bukan berasal dari kampus Islam dan juga tidak pernah mondok di pesantren,” ucapnya .

Niat yang kuat datang saat Bunda Endah usai melaksanakan ibadah haji beberapa tahun silam. Sepulangnya dari mengerjakan rukun Islam kelima tersebut, Bunda Endah makin mantap berdakwah dan membulatkan tekad untuk melibatkan buah hatinya dalam pekerjaan mulia itu.

“Tahun 2004 saya diberi kesempatan Allah untuk naik haji. Subhanallah, di situlah Allah membuka hati saya. Di depan Kabah saya berjanji untuk berdakwah sesampainya di Indonesia dan akan memanfaatkan setiap detik untuk menegakkan agama Allah. Dari situ saya lebih terpacu, mengapa harus takut dakwah, padahal itu kan wajib untuk semua orang,” kenangnya.

Sedangkan untuk menjadikan anak-anaknya seperti sekarang ini, ia mengaku tidak pernah memaksakan kehendak. Bagi perempuan yang semasa mudanya aktif dalam bidang kerohanian Islam di kampusnya tersebut, mempunyai anak-anak yang taat agama adalah sebuah berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak terhingga.

“Ini semua karena karunia dari Allah, saya bersyukur sekali. Saya tidak pernah menyuruh Ilham dan adik-adiknya untuk jadi dai kecil, semuanya kehendak mereka,” tutur Bunda Endah, yang pernah mendapat penghargaan dari Musium Rekor Indonesia sebagai Keluarga Pendakwah Nasional tahun 2007.

Semua berawal ketika anak bungsu Bunda Endah, Ilham yang saat itu berusia 10 tahun merasa tertarik untuk mendalami pengetahuan agama dan memberanikan diri untuk berdakwah. Melihat Ilham berdakwah, ketiga adiknya juga merasa tertarik. Bunda Endah kemudian memberi mereka julukan ‘Bunda dan Ilham Bersaudara.’

Rumahku Surgaku
Pada tahun 2007, Bunda Endah dan anak-anaknya mengisi program siraman rohani di beberapa stasiun televisi dan radio di daerah Semarang. Sejak itulah nama ‘Bunda dan Ilham Bersaudara’ dikenal di Semarang dan sekitarnya dengan program “Rumahku Surgaku” yang tayang di TVRI Jawa Tengah.

“Alhamdulillah, tahun 2007 ‘Bunda dan Ilham Bersaudara’ diberi kesempatan oleh Allah berdakwah di depan umum, yakni di TVRI Jateng, TVKU, RRI, dan ada beberapa radio swasta,” jelasnya.

Metode yang dipakai Bunda Endah dalam berdakwah sangat sederhana. Perempuan kelahiran Yogyakarta 11 Juni 1964 ini menyampaikan tausiah sesuai dengan apa yang ia kerjakan. Temanya pun terbilang “ringan”, yakni seputar masalah-masalah keluarga.

Di TVKU, Bunda mengisi program Klinik Anak Sakinah, dan di RRI dia menggawangi acara bertajuk Muda Bertakwa yang berisi pelajar SMP, SMU, mahasiswa, juga anak-anak gelandangan. Dari acara itu terbentuklah komunitas Muda Bertakwa dan Rumahku Surgaku di Semarang.

Untuk menambah pengetahuan agamanya dan menyusun materi apa yang akan diberikan kepada orang lain, setiap hari Bunda sekeluarga tidak pernah tertinggal membahas Haditst-Hadits dan ayat-ayat al-Qur`an.

“Kita menyempatkan untuk saling sharing, mengkaji ayat-ayat al-Qur`an, dan membaca-baca buku agama,” kata Endah.

Selama Bunda Endah menegakkan amar ma’ruf nahi munkar di masyarakat, tidak selamanya berjalan mulus. Rintangan pun kerap ia dapatkan selama berdakwah. Sampai-sampai, salah satu saudara terdekat Bunda Endah ada yang memusuhinya sampai saat ini, karena Bunda menyampaikan apa yang sesuai dengan al-Qur`an dan as-Sunnah.

Tidak hanya di kota, tujuan Bunda Endah berdakwah. Ia dan keempat anaknya juga mempunyai agenda mengisi tausiah ke pelosok desa yang ada di daerah Jawa Tengah. Pernah suatu saat, Bunda Endah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.

“Bunda pernah jatuh saat dibonceng motor. Kejadiannya di daerah pegunungan daerah Ungaran, kanan kirinya terdapat jurang. Saat itu Bunda tidak sadarkan diri,” terangnya.

Menolak Jadi Artis
Tidak merasa cukup berdakwah di stasiun televisi dan di pelosok, perempuan yang sejak kecil mengaku haus ilmu agama ini juga memberikan pengetahuan soal Islam saat mengajar di kampus. Sambil mengajar, Bunda Endah kerap menyelipkan pesan-pesan moral soal bahaya pergaulan bebas remaja dari sudut pandang Islam.

Tanggapan dari mahasiswa yang diajarnya sangat baik. Tidak jarang mahasiswa datang menghadap Bunda Endah, hanya sekadar untuk curhat.
“Banyak mahasiswa yang curhat ke saya soal kehidupannya yang berantakan. Alhamdulillah, atas izin Allah mereka kembali benar.

Keberhasilan dakwah Bunda Endah tentu tak lepas dari dukungan dan peran suaminya. Menurut Bunda Endah, suaminyalah yang mengatur jadwal kegiatan, persiapan materi ceramah, memberikan masukan dan kritikan agar ke depan dakwahnya semakin baik.

Bahkan, katanya, suaminya ikut mengantar ke tempat acara jika acara berlangsung malam hari dan lokasi acaranya agak jauh. “Alhamdulillah, suami saya mendukung, gagaimanapun juga seorang istri harus mendapat ridha dari suami, karena ridha Allah adalah ridha suami,” ujarnya.

Selain itu, menurut Bunda Endah, suaminya berperan sangat besar dalam menentukan arah dan cita-cita keluarga, termasuk dimana anak-anak mesti disekolahkan dan apa saja kegiatan anak-anak yang diperbolehkan. Misalnya, pada 2004, setelah anak-anak tampil berparade puisi di Istana Negara, mereka mendapat tawaran untuk membintangi sebuah sinetron Ramadhan. Awalnya mereka senang mendapat tawaran tersebut karena akan mendapat uang yang banyak. Tetapi saat meminta ijin suaminya, apa boleh buat, suaminya tidak mengijinkan karena alasan lingkungan yang tidak mendukung untuk kesalehan anak-anaknya.* Niesky Hafur Permana/Suara Hidayatullah OKTOBER 2011

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment