Ketika Gereja Mengepung Kota

Ketika Gereja Mengepung Kota

Banyak gereja dibangun disebabkan oleh kelompok keagamaan (sekte). Setiap sekte tidak mau beribadah ke gereja lain.

SKB Dua Menteri dan Peraturan Daerah tak diindahkan. Berbagai modus dilakukan untuk mendapatkan dukungan. Ketika gereja mengepung pemukiman perumahan, perkampungan, dan mall di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), inilah awal para missionaris membuka gerbang kristenisasi.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2008, agama Kristen memiliki 47.106 gereja dengan persebaran pada sepuluh daerah yakni Sumatera Utara (11.158 gereja), Papua (4.648 gereja), Sulawesi Utara (4.247 gereja), NTT (3.974 gereja), Jawa Tengah (2.519 gereja), dan DKI Jakarta (555 gereja).

Lima wilayah lainnya, Kalimantan Barat (2.351 gereja), Sulawesi Selatan (2.302 gereja), Jawa Timur (1.947 gereja), Sulawesi Tengah (1.833 gereja), dan Kalimantan Tengah (1.487 gereja).
Sedangkan jumlah gereja Katolik tak sebanyak gereja Kristen Protestan, yakni 12.242 gereja di seluruh Indonesia. Adapun persebarannya di sepuluh daerah antara lain Kalimantan Barat (2.245 gereja), Sumatera Utara (2.194 gereja), NTT (1.842 gereja), Papua (978 gereja), dan Jawa Tengah (569). Selain itu, di Sulawesi Selatan (439 gereja), Jawa Timur (415 gereja), Kalimantan Timur (412 gereja), Lampung (361 gereja), Kalimantan Tengah (346 gereja), dan DKI (188 gereja).
Jika jumlah gereja Katolik dan Protestan digabung, maka ada sekitar 59.348 gereja di seluruh Indonesia. Ini belum termasuk gereja ilegal yang ada di rumah-rumah penduduk dan rumah toko (ruko) yang marak terjadi beberapa tahun terakhir.

Jumlah yang tak proporsional itu, kata Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Andreas A. Yewangoe, disebabkan oleh kelompok keagamaan (sekte), atau biasa disebut denominasi gereja. “Tak heran kalau di satu ruas jalan, bisa saja ada beberapa gereja. Itu karena denominasi,” ujar Andreas dalam sebuah siaran persnya tahun 2010.

Bila merujuk data BPS di atas, terlihat persebaran gereja Katolik dan Protestan lebih banyak di daerah pedalaman dan Indonesia Timur. Seperti di Kalimantan, Sulawesi, NTT dan Papua.
Ketua PGI Andreas A. Yewangoe membantah hipotesa, bahwa tingginya pertumbuhan gereja di suatu daerah menandakan tinggi pula tingkat kristenisasi di daerah tersebut. “Gereja itu tempat ibadah. Adanya gedung gereja bukan dimaksudkan untuk kristenisasi. Tidak mungkin mereka melakukan itu,” katanya.

Gereja di Jabodetabek
Front Anti Pemurtadan Bekasi (FAPB) mencatat, hampir di seluruh wilayah kota Bekasi saat ini marak berdiri gereja ilegal. Proses pemenuhan persyaratan mendirikan rumah ibadah yang ditentukan dalam SKB Dua Menteri (Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri) Tahun 2006 ternyata sarat manipulasi.

Menurut Bernard Abdul Jabbar, dari Forum Umat Islam (FUI) Bekasi, ada sekitar 300 sekte Kristen di Indonesia. Setiap sekte tidak mau beribadah ke gereja lain. Sebab itu, mereka perlu membangun rumah ibadah sendiri.

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Galilea di Villa Galaxi Bekasi Selatan, adalah gereja ketujuh yang berada dalam satu RT. Di Bekasi Utara, ada rumah dan ruko yang beralih fungsi menjadi tempat ibadah, seperti Gereja HKBP di Villa Indah Permai, dan gereja di Permata Hijau Permai. Selain itu, di Pondok Gede, sebuah rumah di Jatibening Baru telah berubah fungsi menjadi gereja.

Selain Bekasi, gereja juga mengepung Depok, Bogor, dan Tangerang. “Di Kecamatan Serpong, Tangerang, dilaporkan hanya ada 1 gereja. Fakta di lapangan ada 86 gereja,” ungkap Alfian Tanjung, aktivis Islam Tangerang yang juga Ketua Gerakan Nasioanl Patriot Indonesia.
Data Polres Depok menyebutkan, di sepanjang jalur Jalan Raya antara Cinere Mall sampai Parung Bingung (sepanjang + 8 km) sejak tahun 2000 telah berdiri 24 gereja, belum termasuk gereja tanpa izin.

Dalam laporannya kepada Komnas HAM tentang penutupan tempat-tempat ibadah sepanjang 2005-2007, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mencatat, ada 130 kasus penutupan gereja dan pelarangan melaksanakan ibadah di beberapa tempat di Nusantara. PGI menuding Front Pembela Islam (FPI), Aliansi Gerakan Anti Pemurtadan (AGAP) dan Barisan Anti Pemurtadan (BAP) di balik aksi-aksi tersebut.

Menurut PGI, sejak berlakunya Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri dalam Negeri No 9/2006 dan No 8/2006, 21 Maret 2006, ada 28 rumah ibadah yang masih mengalami teror dan upaya penutupan. Sementara itu, 11 jemaat belum bisa melaksanakan ibadah di gereja yang ada karena IMB rumah ibadah belum dikantongi. Juga ada 23 jamaat yang terpaksa melaksanakan ibadah di rumah atau ruko karena izin mendirikan gereja sulit diperoleh.
Menurut Abu Deedat, kristolog senior dari Forum Anti Gerakan Pemurtadan (FAKTA), pendirian gereja acapkali tidak mengikuti Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 8 dan 9 tahun 2006.

“Misi penginjilan yang efektif adalah pendirian gereja-gereja baru dengan cara yang tidak fair. Awalnya, mereka mengajukan izin untuk pabrik roti, tapi prakteknya malah membangun gereja,” kata Abu Deedat.

Bekasi Diusik

Pada 5 Desember 2007 di Gedung Dewan Dakwah Bekasi, umat Islam dan ormas Islam se-Bekasi memprotes pendirian Gereja Galilea di Kelurahan Jakasetia Bekasi Selatan. Umat Islam juga meminta semua pihak yang berwenang menutup 5 dari 6 gereja yang berada di Kampung Pulo Minas, Taman Galaksi.

Pada 26 Februari 2008, Gerakan Pemuda Islam (GPI) yang mendapatkan mandat dari ormas-ormas Islam se-Bekasi, kembali menyatakan protes kepada pihak Bekasi Cyber Park agar menunjukkan surat izin penggunaan tempat peribadatan (Gereja Tiberias Indonesia) yang berada di sana.

“Cyber Park dibangun untuk lahan usaha atau berbisnis, tapi kenapa bisa ada gereja?” ujar Ketua Forum Anti Pemurtadan Bekasi, Syamsudin Uba.

Kata Syamsudin, bukan hanya pendirian gereja ilegal yang selalu menuai protes warga. Pihak Nasrani juga tak henti-hentinya melakukan pemurtadan dan provokasi.

Peristiwa di Masjid Raya al-Barkah Kota Bekasi, 2 Mei 2010 adalah contohnya. Saat itu, beberapa pemuda Kristen yang sedang mengikuti pawai tiba-tiba memasuki pelataran masjid dengan berbaris menghadap pintu utama. Mereka membentuk formasi salib, mengangkat replika mahkota Paus, membagi-bagikan roti dan souvenir, serta memercikkan air seperti sedang membabtis.

Bulan Oktober 2011 lalu, pihak Kristen melakukan penyebaran agama dengan menggunakan program pendidikan Mobil Pintar. Targetnya bukan hanya siswa-siswa sekolah dasar negeri tapi juga menyasar sekolah Islam.

Bekasi tampaknya tak pernah habis dengan modus yang sama. Bukan tidak mungkin persoalan sensitif ini akan menjalar ke wilayah lain. Terlebih, jika pihak berwenang tidak menyelesaikan dengan bijak dan cepat. Ibarat bom waktu, hal yang tidak diinginkan bisa saja meledak seketika. Tentu semua pihak pun tak ingin konflik horizontal ini terjadi.* SUARA HIDAYATULLAH, JANUARI 2012

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment