Semarakkan Dakwah dengan Tafsir Al-Qur’an

Semarakkan Dakwah dengan Tafsir Al-Qur’an

Sekitar tahun 2006, umat Islam di Pekanbaru, Riau belum banyak yang tahu tentang sosok Musthafa Umar, Lc. MA. Pasalnya, lebih dari 15 tahun waktu hidupnya dihabiskan di negeri orang. Dari mulai kuliah di Mesir hingga ke negeri Jiran, Malaysia. Belum lagi, masa sekolah lanjutannya ia habiskan untuk menuntut ilmu di Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Jadi, maklum saja jika tak banyak orang kenal sosok ustadz berlogat melayu ini.

Meski belum banyak orang mengenal, tidak berarti ia berdiam diri. Ia “bergerilya” silaturahim ke tokoh agama, tokoh masyarakat, ormas Islam, serta beberapa kalangan lainnya. “Selama satu tahun saya berusaha memahami masyarakat dengan cara melakukan silaturahim,” ujar pria yang biasa disapa Ustadz Musthafa ini. Setelah merasa cukup, barulah ia mulai terjun dakwah ke masyarakat.

Namun, tidak berarti selama setahun itu ia tidak melakukan apa pun. Bersama itu pula ia mulai menghidupkan kegiatan ceramah bada shalat Shubuh di Masjid Agung An-Nuur, Pekanbaru. Diawali hanya 20 orang, hingga terus bertambah hingga kini bisa mencapai 1.000 orang. “Sampai-sampai yang tadinya ada jamaah yang menyiapkan sarapan, kini sudah tidak sanggup lagi, karena jamaahnya terus bertambah,” kenang Ustadz Musthafa.

Kemudian, dalam kajian harian, Ustadz Musthafa mulai intensif mengisi tafsir al-Qur’an. “Alhamdulillah, ada jamaah yang menyediakan tempat. Tapi lagi-lagi jamaah yang hadir terus bertambah, sampai tempat yang disediakan tidak cukup,” kata doktor jurusan Tafsir Al-Qur’an dari International Islamic University of Malaysia (IIUM) ini. Walhasil, kegiatan ini pun akhirnya dipindahkan ke aula Masjid Agung An-Nuur. Saat Suara Hidayatullah berkunjung ke Pekanbaru akhir Maret lalu, pengajian yang digelar dari Senin hingga Kamis setiap usai shalat Isya dihadiri sekitar 400 jamaah.

“Kita merasakan betul kesungguhan mereka dalam belajar,” ujar Ustadz Musthafa yang sering menyebut dirinya dengan kata ‘kita’. Ada yang menarik dari kajian tafsir yang dibawakan Ustadz Musthafa. Setidaknya itulah yang diakui oleh Abdul Malik, salah seorang yang rutin menghadiri pengajian. Malik yang juga lulusan Pesantren Gontor ini mengatakan, “Pengajian Ustadz Musthafa tiap malam berkesinambungan, tiap malam satu ayat. Itu membuat saya ingin mengikutinya terus.”

Rupanya Ustadz Musthafa lebih suka menyampaikan dakwah dengan metodologi tafsir al-Qur’an. Makanya, ia memulai pengajian tafsir dari awal al-Qur’an. Saat ini sudah masuk juz yang ketiga. “Satu tahun satu juz. Insya Allah, suatu saat nanti akan selesai sampai 30 juz,” harapnya.

Ia istiqamah berdakwah dengan cara seperti itu, sehingga ada beberapa daerah lainnya yang memintanya melakukan hal serupa. Seperti pada akhir Maret lalu, saat Ahmad Damanik, wartawan Suara Hidayatullah menjumpainya di Pekanbaru. Giliran hari itu (29/3/2012), waktunya Ustadz Musthafa mengisi kajian tafsir al-Qur’an dan malam ‘itikaf di Masjid Agung Pasir Pangaraian Kabupaten Rokan Hulu, sebuah kabupaten baru pemekaran dari Kabupaten Kampar. Alhasil, wawancara pun berlangsung selama di perjalanan yang memakan waktu empat jam.

Yang menarik, putra pasangan H Umar (alm) dan Hj Maryam ini sebelum mulai berdakwah di Riau, ternyata selama 14 tahun menetap dan berdakwah di Malaysia. Tapi jamaahnya yang ribuan di Malaysia tidak menyurutkan dirinya untuk kembali ke Tanah Air. Sampai di Tanah Air, ia habiskan waktunya untuk dakwah. Berbagai tawaran posisi pimpinan di berbagai organisasi ia tampik.

“Saya ingin full dakwah di tengah masyarakat,” ujar Ustadz Musthafa yang tak mau menerima bayaran dalam dakwahnya. Bahkan ia mengaku, selalu mewanti-wanti kepada yang mengundang dirinya untuk tidak memberikan bayaran.

Bagaimana ceritanya ia berdakwah di Malaysia? Seperti apa metode dakwah yang dilakukannya? Mengapa pula ia selalu menolak bayaran yang diberikan oleh jamaah? Berikut ini petikan wawancara dengan pria yang lahir di Pekanbaru, 45 tahun silam. Selamat membaca.*

Mengapa Anda memutuskan untuk pulang ke Indonesia, setelah 14 tahun berdakwah di Malaysia?
Ada istilah, sejauh-jauh bangau terbang ia akan kembali ke tempatnya semula. Saya merasakan kepuasan sendiri bisa kembali ke kampung halaman. Di sini (Pekanbaru), kita lebih terasa tenang dan damai, sebab di kampung halaman kita cepat berkomunikasi.

Selain itu, menurut saya, di Riau sangat memerlukan pengembangan dakwah. Dakwah memang sudah ada, tapi masih perlu dikembangkan lagi dengan program-program yang lebih baik. Makanya saya menganggap ini peluang untuk kembali ke Tanah Air. Di sini juga kita bisa buat program dakwah jangka panjang, yang tak berbatas. Bisa diteruskan oleh anak-anak dan cucu kita.

Apalagi di Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar, 200 juta lebih. Berarti semakin banyak orang mendapatkan sentuhan nilai, semakin banyak kita dapat pahala. Insya Allah.

Bagaimana dengan jamaah pengajian Anda di Malaysia?
Sebenarnya mereka tahu, bahwa keberadaan saya di sana untuk belajar S2 dan S3. Saya berdakwah di Malaysia, karena sebagai kewajiban. Berawal karena saya pergi ke masjid, sering memimpin shalat, juga menggantikan ceramah ustadz yang berhalangan hadir. Akhirnya karena mereka suka, saya diberikan jadwal tetap. Hingga dalam setiap bulan saya mempunyai 60 tempat mengajar. Mereka terkejut dan sedih dengan keputusan saya. Tapi saya katakan, bahwa saya akan tetap datang ke Malaysia. Makanya sekarang dalam satu bulan, selama 10 hari saya berada di Malaysia. Seluruh pengajian tadi, disatukan menjadi 26 tempat.

Hingga kini, sudah enam tahun saya pulang pergi Malaysia. Kadang-kadang setiap bulan ada juga orang dari Malaysia datang untuk mengikuti pengajian saya di Riau.

Bisa Anda ceritakan metode dakwah yang Anda gunakan, hingga bisa diterima oleh masyarakat Malaysia?
Alhamdulillah, saya mendapatkan tauliyah (izin resmi) dari Jawatan Agama Islam Malaysia untuk berdakwah. Di setiap pengajian saya selalu membuat modul, sehingga setiap materi dakwah tersusun dengan rapi. Juga, dalam setiap pengajian saya selalu membuat makalah yang bisa mereka baca di rumah. Tak terasa selama masa itu, makalah-makalah tersebut sudah menjadi 26 buku.

Kabarnya ada pihak yang memfitnah Anda, karena dianggap mengajarkan ajaran sesat?
Iya betul, kejadian itu setelah delapan tahun saya dakwah di sana. Mungkin ada orang mendengki dengan apa yang kita buat di sebuah surau. Di surau itu waktu awal saya mengadakan pengajian tafsir hanya beberapa orang saja yang hadir, namun beberapa waktu kemudian yang hadir mencapai 180 orang. Hingga akhirnya saya dipanggil oleh Jawatan Agama Islam Malaysia dengan tuduhan mengajarkan kesesatan.

Bagaimana Anda menghadapi hal tersebut?
Kepada mereka saya katakan, dalam setiap pengajian saya selalu menulis apa yang saya sampaikan. Saat itu makalah sudah berupa buku. Saya berikan buku-buku itu. Maka pihak yang berkuasa pun menyatakan bahwa memang tidak ada yang sesat yang saya sampaikan. Ya semua itu sudah sunnatullah, masalah biasa dalam berdakwah.

Setelah di Indonesia, Anda mulai membuat program kuliah Shubuh setiap Ahad. Mengapa yang terpikir program tersebut?
Memang sebelumnya belum pernah ada kegiatan kuliah Shubuh di luar bulan Ramadhan. Sengaja kita ambil hari Ahad, agar mereka (jamaah) tak tergesa-gesa pergi dari masjid. Ini sudah berjalan selama lima tahun.

Kuliah Shubuh ini pun kita siapkan silabusnya, yakni tentang mengenali diri. Kita bahas secara terperinci tentang hati, ruh, nafsu, dan akal. Satu perkara kita bahas dalam 20 kali pertemuan. Saat ini sedang membahas tentang akal, baru 15 kali pertemuan. Sengaja pembahasan itu saya buat terperinci.

Jadi usaha kita ini tak lepas dari silabus yang kita sediakan. Dari judul besar mengenali diri, pembahasannya meliputi hati, ruh, nafsu, dan akal. Maka hati, ruh, akal, dan nafsu itu kita bahas secara perinci. Satu perkara ini kita bahas dalam 20 kali pertemuan. Jadi tema hati dalam 20 kali pertemuan sudah selesai, sekarang tinggal akal sudah 15 kali pertemuan. Di situlah mereka mungkin bertahan. Misalnya tentang hati, kita jelaskan mengenai makna hati, hakikat hati, kelebihan hati, perusak hati, penolong hati, dan seterusnya.

Apa yang Anda harapkan dari penyampaian secara rinci begitu?
Tentu saja agar dapat bermanfaat dalam kehidupan mereka. Sehingga jika mereka menemukan masalah dapat menyelesaikan masalah dengan ilmu, tidak dengan perasaan, emosi, atau apa yang mereka lihat dalam sinetron televisi.

Siapa yang menyusun silabus-silabus tersebut?
Semua saya sendiri yang buat. Tidak terlalu susah untuk membuat silabus. Pendekatannya adalah tafsir al-Qur’an, maka mencari ayat yang berkaitan dengan judul yang ingin kita sampaikan. Mereka sangat menikmati. Setiap ayat al-Qur’an yang ditafsirkan, betul-betul jadi petunjuk dan bimbingan dalam kehidupan mereka. Mereka bisa mengetahui diri mereka sendiri.

—–
Di antara buku-buku yang pernah Ustadz Musthafa hasilkan yaitu Tafsir Al-Ma’rifah, Sifat 20, Asmaul Husna, Sunnatullah, 30 Perkara Penting dalam Hidup, Cara Mudah Belajar Bahasa Arab, dan Himpunan Dzikir. Selain itu, juga buku Perjalanan Hidup Manusia, Sihir dan Cara Rawatannya Menurut Al-Qur’an dan Hadits, Hakikat Mati, Ikhtibar Daripada Perang Bosnia, dan Knowing Allah (Terjemahan Sunnatullah).

Tidak cuma buku-buku, dibantu oleh beberapa orang, ia juga telah menghasilkan 250 seri DVD yang berisi kajian tafsir al-Qur’an. Semua itu merupakan rekaman pengajian tafsir al-Qur’an setiap malam di Masjid Agung An-Nuur Pekanbaru. Semua buku dan rekaman itu dijual saat pengajian berlangsung. “Semua hasil penjualan diperuntukan membayar beberapa orang yang mengurusi kantor Tafaqquh,” ujar Ustadz Musthafa. Tafaqquh merupakan lembaga semacam ma’had yang diperuntukkan untuk mendalami Islam secara intensif. Di dalam lembaga ini terdiri dari kelas belajar aqidah, akhlak, Hadits, dan Bahasa Arab.

Menurut Ustadz Musthafa, istilah Tafaqquh berarti pemahaman mendalam terhadap al-Qur’an dan Sunnah. Masalah kehidupan ini mesti didasarkan kepada al-Qur’an dan Sunnah, sebab hanya itulah yang membuat kehidupan kita menjadi lebih baik. “Kitabullah dan Sunnatullah, itulah dua warisan pusaka dari Rasulullah,” cetus Ustadz Musthafa.

Ustadz Musthafa berharap, Tafaqquh ini bisa bekerjasama dengan lembaga-lembaga dakwah yang sudah lama eksis dan tidak dinafikan lagi keberadaannya. “Saya berharap Tafaquh bisa berkoordinasi dan bersinergi untuk Indonesia yang lebih baik pada masa yang akan datang,” katanya.

Anda berprinsip tidak mau menerima bayaran saat berdakwah ke masyarakat. Mengapa?
Dalam berdakwah, saya berusaha menampilkan keikhlasan. Juga nilai mulia dalam berdakwah semata-mata hanya untuk akhirat. Urusan dunia saya sudah diselesaikan. Bahasa yang saya tampilkan adalah bahasa akhirat saja. Saya tidak mau mengambil bayaran lagi. Kalau bisa bahkan saya membantu orang yang kesusahan. Jadi saya bukan pada pihak penerima lagi, tapi pada pihak pemberi.

Selama ini pendakwah itu lebih suka menjadi tangan yang di bawah daripada tangan yang di atas. Akhirnya nilai dakwah terkorbankan. Maka saya coba membalikkan keadaan itu dengan memulai dari saya sendiri. Tanpa saya menyalahkan orang lain, karena orang lain mungkin punya alasan.

Apa maksud Anda urusan dunia sudah diselesaikan?
Alhamdulillah, sejak masih di Malaysia, Allah melapangkan rezeki saya. Sehingga saya bisa menyimpan uang. Pada saat saya pulang, semua sudah siap, seperti kebun, rumah, dan kendaraan. Tidak ada lagi keperluan apa-apa sebagai beban untuk hidup keseharian. Sehingga kerja-kerja dakwah kita bisa 100 persen, tidak lagi sambilan. Dengan full itu kita bisa menjaga nilai-nilai idealisme. Kita tidak lagi diatur, ditawar-tawar, atau dibeli dengan harta benda dunia.

Namun, tidak semua pendakwah bisa seberuntung Anda. Bagaimana menurut Anda?
Ya kembali pada keyakinan pendakwah itu sendiri. Si pendakwah tidak perlu menunggu punya banyak harta baru berdakwah 100 persen. Kalau mengejar dunia, memang tidak pernah cukup-cukup. Apabila sudah sampai pada satu keyakinan, sudah cukup, saatnya kemudian berdakwah mengedepankan nilai.

Yakinlah yang mengurus harta itu bukan kita, yang mengurus itu Allah. Ingat janji Allah, siapa yang mengurus agama Allah, maka hidupnya pun akan diurus Allah. Asalkan kita mau hidup sederhana.

Lantas, mengapa Anda tidak tertarik untuk terlibat dalam aktivitas organisasi?
Saya ingin mengurus hal tercecer yang tidak diurus oleh lembaga-lembaga yang ada. Misalnya masyarakat umum. Sisi ini kadang tidak terurus. Kalau siswa/mahasiswa diurus oleh sekolah. Ada juga yang masuk ke lembaga-lembaga. Tapi masyarakat umum, kadang-kadang tidak ada yang mengurus keilmuannya secara khusus. Saya melihat ini peluang untuk berjuang di tengah masyarakat.

Dengan sikap Anda tidak menerima bayaran, apa yang Anda rasakan dalam dakwah?
Sebenarnya tidak ada perasaan apa-apa. Sebab memang ayat al-Qur’an telah memberikan nilai itu. Allah berfirman dalam surat Yaasin ayat 21, “Ikutilah orang yang tidak mengambil upah dari apa yang mereka lakukan, merekalah orang-orang yang diberi petunjuk.” Nilai itulah yang sekarang ini sedang saya coba amalkan dalam kehidupan. Bukannya salah jika mengambil bayaran, tetapi jika saya tidak mengambilnya itu lebih baik karena saya sudah mencontohkan atau membuktikan nilai perjuangan dan pengorbanan sekaligus.

Jadi, sama sekali Anda tidak menerima setiap bayaran yang diberikan?
Dalam keadaan tertentu, bayaran saya terima. Sebab, kalau tidak saya terima, bayaran itu mungkin akan diambil oleh pihak yang tidak sepatutnya mengambil. Misalnya, dalam suatu acara, bayaran itu sudah dianggarkan untuk narasumber, kalau saya tidak ambil, mungkin panitia yang akan mengambilnya.

Namun, kalaupun saya mengambilnya, saya tidak menggunakan untuk diri saya, karena saya punya lembaga dakwah, yaitu lembaga Tafaqquh. Maka saya masukkan dana itu ke lembaga dakwah untuk keperluan operasional dakwah.*

Tulisan 2

Meneruskan Cita-cita Sang Ayah

Bagi Dr Musthafa Umar, Lc. MA tekad dan semangat berdakwahnya tak lepas dari peran kedua orangtuanya, terutama sang ayah, H Umar (almarhum). Melalui dorongan ayahnya, yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Pengadilan Agama sekaligus juga seorang pendakwah di masyarakat, ia mulai berani tampil memberikan ceramah di muka umum. Hal itu bermula saat ia masih berusia 16 tahun. Musthafa muda yang sering diajak saat ayahnya mengisi pengajian, kadang ‘dipaksa’ untuk menggantikan ayahnya mengisi khutbah Jum’at.

“Dulu, jika saat liburan pesantren, saya selalu diajak ayah mengisi pengajian dari masjid ke masjid. Kadang saya diminta ayah untuk menyampaikan materi selama beberapa menit,” kenang ayah dari Atikah Musthafa, Syakirah Musthafa, Mujahid Musthafa, dan Nashrullah Musthafa ini. Baginya, inilah cara sang Ayah mendidiknya untuk tampil berani.

Suami dari Wirma Nelawati, S.Ag ini merasa bahwa apa yang dilakukan ayahnya itu sebuah bentuk harapan agar kelak juga menjadi seorang pendakwah. “Makanya sekarang saya merasa ada kenikmatan dalam berdakwah, yaitu melanjutkan kehendak orangtua,” katanya.

Ada satu pesan sang Ayah yang masih diingatnya hingga kini dan menjadi spiritnya. “Kata ayah, untuk mengubah masyarakat mesti dari masjid, sebab Rasulullah dahulu ketika sampai di Madinah yang dibangun pertama kali adalah masjid,” ucapnya. Demikian juga pesan sang Ibu, Hj Maryam, yang selalu mengingatkan bahwa saya ada karena Allah dan akan kembali kepada-Nya. “Emak juga selalu mengingatkan tidak ada gunanya uang banyak, harta banyak, kedudukan tinggi, tetapi kita tidak berharga di hadapan Allah dan juga manusia,” ujar Ustadz Musthafa tentang Emaknya (panggilan untuk ibunya) yang selalu hadir saat ia mengisi kajian tafsir al-Qur’an.

Ustadz Musthafa punya 10 orang saudara. Sang Ayah memasukan lima anaknya ke pesantren. Di antara lima anak itu, tiga orang berhasil dikirim menuntut ilmu ke Mesir. “Namun yang benar-benar terjun berdakwah ke masyarakat, hanya saya seorang,” ujar Ustadz Musthafa.

Ketertarikannya mendalami ilmu tafsir, sudah ia pupuk sejak kuliah di Mesir. “Saya selalu melihat tayangan di televisi kajian tafsir al-Qur’an yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad Mutawalli Sya’rawi. Tayangan ini sangat digemari oleh masyarakat Mesir,” kata pria yang lulus dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir pada 1994. Acara itulah yang mendorongnya untuk mengikuti jejak syaikh tersebut. Makanya, katanya, sejak di Mesir ia mulai mengumpulkan referensi yang bisa mengantarkannya menguasai tafsir al-Qur’an.

Saking kuatnya keinginan belajar tafsir, ia sempat belajar langsung kepada syaikh tersebut. “Alhamdulillah, saya sempat belajar langsung dengan beliau. Namun pada tahun 1998, beliau meninggal dunia,” ujar Ustadz Musthafa yang menulis disertasi berjudul “Metode Aqliyah Ijtimaiyah Tafsir Mutawalli Sya’rawi”. Selain itu, ia juga belajar kepada Prof Dr Syaikh Shabur Shaim, khatib di Masjid ‘Amr bin Ash, Mesir.

Menurut Anda bagaimana perkembangan kajian tafsir al-Qur’an di Indonesia?
Alhamdulillah, di Indonesia banyak yang melakukan kajian tafsir al-Qur’an. Tapi masih belum sebanding dengan masyarakat kita yang lebih ramai. Harusnya lebih banyak lagi, agar masyarakat lebih tercerdaskan. Masing-masing orang punya kelebihan masing-masing. Apabila para pengkaji al-Qur’an itu lebih banyak, dipastikan akan lebih cepat pengetahuan itu tumbuh di masyarakat.

Ada kesan di masyarakat umum terlalu berat untuk mengikuti kajian tafsir?
Memang yang terpenting bagaimana menyederhanakan kandungan al-Qur’an saat menafsirkannya di tengah masyarakat. Para ahli tafsir hendaknya menurunkan bahasa yang mereka gunakan, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat umum. Caranya, dengan menghindari istilah-istilah yang sulit dipahami atau menampilkan kandungan ayat-ayat yang bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga masyarakat merasa lebih dekat dengan al-Qur’an.

Sekarang banyak penceramah yang menukil al-Qur’an tanpa memahami betul makna yang terkandung. Bagaimana pendapat Anda?
Saya memaklumi keadaan seseorang, karena kemampuan menafsirkan al-Qur’an itu berbeda-beda, sesuai dengan bekal yang mereka miliki.

Apa bekal yang harus dimiliki untuk bisa memahami kandungan ayat al-Qur’an dengan benar?
Pertama, harus menguasai bahasa Arab. Kedua, banyak membaca kitab-kitab tafsir terdahulu yang kita sebut sebagai rujukan utama. Ketiga, ilmu al-Qur’an yang baik. Lebih bagus kalau menguasai ilmu hukum (ushul fiqh) dan memahami kondisi di tengah masyarakat. Jadi yang kita harapkan adalah para penyampai yang berilmu. Jika yang menyampaikan ayat al-Qur`an tanpa keilmuan yang cukup, akan membawa pada kesalahan.

Berkaitan dengan keluarga, bagaiman Anda mengatur waktu antara keluarga dan dakwah?
Biasanya, saat ada jadwal dakwah ke luar kota, saya selalu membawa keluarga. Di situlah saya mendapatkan kebersamaan dengan keluarga. Kemudian juga pada waktu libur pertengahan atau akhir tahun, saya gunakan berlibur di tempat tertentu. Itulah peluang anak-anak dan keluarga bersama dengan saya.

Namun, hari-hari biasa yang paling berperan adalah istri. Dialah yang selalu memahamkan tugas ayahnya. Istri saya selalu mengatakan kepada anak-anak, bahwa ayah bukan untuk mereka saja, tapi juga untuk masyarakat.

Bagi Anda sendiri, seberapa besar peran seorang istri dalam membantu dakwah?
Istri saya 24 jam di rumah. Tugasnya mengurus anak-anak. Dia seperti menteri dalam negeri suatu negara. Dialah yang mengurus urusan rumah tangga. Saya sering mendengar, para pendakwah yang berhasil di luar tapi tidak berhasil dalam menjaga dan memelihara anak-anak mereka. Saya ingin dua-duanya berhasil. Maka pandai-pandailah saya mencari waktu yang berkualias bersama anak.

Alhamdulillah, istri saya cukup memadai untuk mendidik anak-anak. Saya tidak melepas anak-anak untuk belajar agama di luar, ibunya sendiri yang mengajarkan. Ibunya yang mengajarkan membaca bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan memperhatikan kerja-kerja sekolah.

Bagaimana dengan visi pendidikan untuk anak?
Saya menyerahkan kepada anak-anak. Tapi nampaknya anak-anak lebih suka mengikuti jejak saya, meski tanpa diminta. Mungkin karena suasana keluarga, jadi ketika saya tanya mau jadi apa, mereka bilang, “Mau jadi seperti Abi (Ayah).”

Makanya, saya pun sudah mengkondisikan pendidikan mereka sedini mungkin. Kemudian Saya persiapkan lebih sungguh-sungguh lagi, sehingga akan mendapatkan kualitas yang lebih baik lagi dibanding yang saya dapatkan.

Bagaimana untuk menciptakan kondisi yang Anda maksudkan itu?
Dalam setiap perjalanan bersama keluarga, saya selalu menjelaskan nikmatnya menjadi seorang pendakwah. Nikmatnya itu bukan hanya saat kehidupan di dunia, tapi juga kehidupan akhirat. Ada ketenangan hati, pikiran, dengan kerja seperti ini. Saya juga akan selalu bersama dengan orang-orang yang baik.*

Testimoni:

Ir Feisal Qamar Karim, M.Eng (Staf Ahli Gubernur Riau):

Serius dan Hati-hati

Sangat jarang bisa dijumpai dai seperti Ustadz Musthafa. Beliau sangat serius dan hati-hati, tapi juga menyejukkan. Dalam memberikan ilmunya lillahi ta’la, tanpa mau menerima bayaran. Sehingga kami pun merasa tentram. Keseriusan dan kehati-hatiannya terlihat dari cara beliau mengajar. Bersyukur bisa berjumpa dengan ulama sepert itu. *

Idris Ahmad (Wartawan harian Riau Pos)

Selalu Ada Informasi Baru

Beliau memiliki visi dakwah untuk memperbaiki umat. Ia berdakwah di semua kalangan, mulai dari masyarakat awam, kampus, instansi pemerintah/swasta, TNI/Polri, politisi, tokoh masyarakat, dan sebagainya.

Dalam menyampaikan kajiannya selalu berdasarkan keilmuan, sistematis, dan dengan bahasa yang mudah dipahami. Kajiannya menarik, karena selalu menyisipkan informasi peristiwa terkini, baik lokal, regional, maupun internasional. * SUARA HIDAYTULLAH MEI 2012

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment