Peran Mereka Tak Bisa Diabaikan

Peran Mereka Tak Bisa Diabaikan

FOTO; TODAYS

Menelusuri peran China Muslim dalam pengembangan Islam di Nusantara.
Belum ada angka pasti, berapa jumlah China Muslim di Indonesia. Tetapi pernyataan Budijono bisa menjadi indikator. Dari 228 juta jiwa penduduk Indonesia, menurut Wakil Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) ini, 15 persen di antaranya adalah warga negara keturunan China. “Dan 15 persen tersebut adalah Muslim,” kata Budijono (Republika (14/7/ 2012).

Pertanyaan menarik lainnya, sejak kapan Islam berkembang di komunitas China di Indonesia?
Menjawab pertanyaan tersebut, bisa ditelusuri dari pelayaran pertama Laksamana Cheng Ho ke Nusantara sekitar awal abad 15. Cheng Ho, utusan pertama dari negeri China yang Muslim itu, kagum saat melakukan pelayaran ke kawasan Nusantara. Dia menemukan fakta bahwa ternyata sudah banyak pedagang China Muslim yang menetap di pelbagai pelabuhan yang dia singgahi.

Dalam naskah Yingyai Shenglan yang ditulis Ma Huan, juru tulis Cheng Ho selama pelayaran di Nusantara, secara jelas disebutkan tentang keberadaan orang-orang China Muslim di tanah Jawa. “Banyak di antara mereka memeluk agama Islam dan taat menjalankan ajarannya,” tulis Ma Huan.

Kesaksian Ma Huan itu bukan tanpa alasan. Sebagian besar orang-orang China itu merupakan pedagang yang memang berasal dari kawasan yang dikenal sebagai kantong Muslim di China. Daerah itu misalnya Guandong, Zhangzhou dan Quanzhou.

Dalam pelayarannya melintasi laut Jawa, armada Cheng Ho sempat merapat di pelabuhan Simongan, Semarang, yang kemudian berubah nama menjadi Mangkang. Di sini Cheng Ho meninggalkan satu anak buahnya, Wang Jing Hong. Disamping berobat karena sakit, Wang diminta mengembangkan Mangkang menjadi pemukiman dan perdagangan baru. Wang tak hanya giat menjalankan amanah tersebut, ia juga rajin menyebarkan Islam. Atas jasa-jasanya itu, Wang diberi gelar Kiai Juri Mudi Dampo Awang.

Masih di abad 15 dan 16, menurut catatan Belanda, pada 1960 sudah terdapat sekitar 3000 orang China Muslim di Banten. Ketika armada Belanda di bawah pimpinan Cornelis Houtman berhasil mendarat di pelabuhan Banten pada 1596, mereka tercengang menyaksikan komunitas China Muslim sudah mengakar kuat di wilayah ini dan memiliki hubungan yang baik dengan penduduk dan penguasa setempat.

Saat itu di Banten ada satu nama China Muslim yang sangat legendaris. Namanya So Bing Kong, tangan kanannya sultan dalam perdagangan lada. Menurut pelancong dari Belanda, Lombard dan Salmon, ada figur China Muslim lainnya yang berpengaruh besar saat itu. Misalnya, Abdul Wakki, seorang kiai sekaligus syahbandar Banten, Sincko alias Abdul Mopit, mitra dagang Sultan Ageng Tirtayasa, dan Lim Lacco, penasihat Sultan.

Bukti Sejarah
Membicarakan eksistensi masyarakat China Muslim di pesisir pantai utara Jawa, tidak bisa dipisahkan dari sejarah berdirinya Kesultanan Demak (mulai berkuasa pada abad 15).

Saat itu, Majapahit mulai goyah dan saat bersamaan Demak muncul sebagai kekuatan baru di Jawa dibawah komando Raden Fatah. Jika kemudian Demak berhasil mengalahkan Majapahit, itu tak lepas dari jasa-jasa orang-orang China. Raden Fatah sendiri, menurut Sumanto Al-Qurtubi dalam buku Arus Cina-Islam-Jawa: Bongkar Sejarah atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Nusantara Abad XV dan XVI, adalah seorang keturunan Cina, bernama Jin Bun.

Pada era Demak ini ada satu China Muslim yang melegenda, namanya Babah Lim Mo Han. Ia sangat gigih membantu Demak melawan Pertugis.

Keberadaan China Muslim di kawasan pantai utara Jawa sepanjang abad 15 dan 16 juga diceritakan dalam sebuah sumber lokal, Serat Kandaning Purwa. Dalam teks sejarah dari Jawa Pesisir ini diceritakan, Raden Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat dari Jepara, ternyata seorang China bernama Witang. Karena kapalnya dari negeri China karam dan akhirnya terdampar di Jepara, Witang kemudian bertemu dengan Sunan Kudus. Setelah melalui dialog yang panjang dengan sang Sunan, Witang menyatakan diri sebagai Muslim.
Keterangan lain juga menyebutkan, ketika Sunan Kudus menyebarkan Islam di Kudus dan sekitarnya, dia dibantu dua figur China Muslim yang sangat berjasa selama proses tersebut. Dua sosok itu adalah The Ling Sing atau Kiai Telingsing dan Sung Ging Ang.

Dari Kudus bergerak ke timur, tepatnya di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Di sini juga bisa dijumpai jejak-jejak orang-orang China Muslim yang dulu pernah tinggal di daerah ini. Berdasarkan Carita (Sejarah) Lasem yang disalin R Panji Karsono pada 1920 diceritakan, ada dua sosok pahlawan China, yakni Oei Ing Kiat atau Raden Ngabehi Widyaningrat (Bupati Lasem) dan Tan Pan Jiang yang memimpin perlawanan rakyat terhadap VOC. Masyarakat Lasem mengenal Oei Ing Kiat sebagai figur yang sangat taat, karismatik dan berpengaruh besar terhadap masyarakat China di Lasem.

Cerita di atas menunjukkan bahwa keberadaan China Muslim sejak zaman dulu telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah kota Lasem. Sama halnya ketika kita membicarakan sosok Lie Beng dalam sejarah tutur masyarakat Salatiga, yang diyakini sebagai sosok yang berjasa besar dalam menyebarkan Islam di Salatiga dan sekitarnya.

Sementara di Cirebon kita mengenal nama-anama seperti Tang Eng Hoat, Tan Sam Cai alias Muhammad Syafi’i, Kung Sang Pak alias Muhammad Murjani dan yang paling melegenda adalah sosok Tan Hong Tien Nio, selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan putri Ong Tien alias “Putri China,” yang tidak lain adalah istri Sunan Gunung Jati.

Cerita-cerita di atas cukup bisa diterima kebenarannya, mengingat dalam kajian sejarah kebudayaan terdapat sejumlah bukti yang semakin menguatkannya.

Retaknya Harmoni Itu
Runtuhnya Kasultanan Demak dan munculnya Kerajaan Mataram juga menandai pergeseran orientasi orang-orang China. Karena Mataram tidak akomodatif terhadap kepentingan mereka, maka mereka mulai mendekat kepada VOC. Selanjutnya, orang-orang China menjadi anak emas VOC, karena kepintaran berdagang mereka. Mereka menjadi penopang utama stabilitas ekonomi VOC.

Di sisi lain, VOC ternyata makin lama makin cemas. Senjata yang dulu diasahnya kini justru mengancam keselamatan dirinya. Posisi ekonomi orang-orang China yang kian kuat, dipandang sebagai ancaman bagi kekuasaan VOC. Disamping itu, VOC juga takut mereka berkoalisi dengan pribumi, lalu memberontak.
Maka diaturlah siasat untuk menggembosi kekuatan China itu. Diembuskanlah isu bahwa orang-orang China hendak memberontak pada VOC. Fitnah itu berhasil. Bersama serdadu-serdadu VOC, pada tahun 1740, orang-orang pribumi dengan kalap membantai setiap orang China yang ditemui di jalan. Mereka juga membakar rumah, gudang dan menjarah aset orang-orang China di Batavia.

Pasca pembantaian itu, terjadilah pemberontakkan yang dilakukan orang-orang China. Setidaknya pemberontakan terjadi dua kali dan semuanya berhasil ditumpas. Karena kekalahan itu, orang-orang China mengambil sikap tiarap.

Di sisi lain, Belanda makin mempersempit ruang gerak. Belanda mengeluarkan aturan yang memaksa orang-orang China tinggal di kawasan khusus mirip gheto-gheto Yahudi di Eropa Barat. Daerah khusus itu disebut Pecinan. Tak hanya itu, Belanda juga mewajibkan mereka membayar pajak jalan bila mereka hendak keluar dari Pecinan. Peraturan itu sangat memberatkan, sehingga tidak sedikit di antara mereka jatuh bangkrut.

Gelombang Imigrasi
Pada awal abad 20 terjadi gelombang imigrasi besar-besaran yang dilakukan orang-orang China daratan menuju Hindia Belanda. Mereka ini sering disebut China totok, salah satu cirinya punya kesetiaan yang tinggi pada negeri leluhurnya, China.

Imigrasi itu secara radikal mengubah tatanan masyarakat Hindia Belanda. Jumlah mereka yang cukup besar, lambat laun menggeser keberadaan orang-orang China peranakan yang tinggal ratusan tahun di Indonesia.
Spirit nasionalisme China daratan juga memberi penegasan betapa mereka merasa paling pantas menyebut diri sebagai orang China asli, sementara mereka yang sudah membaur dengan penduduk pribumi, lebih-lebih yang memutuskan masuk Islam, tidak pantas lagi disebut orang China asli.

Situasi seperti itu membuat posisi China Muslim semakin terjepit. Keberadaan mereka nyaris tidak bisa dijumpai lagi di ruang publik. Ada yang menduga merosotnya jumlah China Muslim di Indonesia waktu itu, karena sebagian besar di antara mereka dengan sengaja menyembunyikan identitas ke-Chinaannya dan memilih membaur ke dalam masyarakat pribumi.

Kondisi tersebut bisa dipahami, mengingat waktu itu mereka berada dalam dilema terkait orientasi pembentukan identitas. Dilema antara memilih bergabung dengan kelompok China yang sedang menggelorakan nasionalisme China atau terlibat dalam gerakan-gerakan perjuangan memerdekakan diri dari kolonialisme Belanda yang disponsori oleh elit-elit pribumi.

Kalaupun dukungan terhadap pergerakan kaum pribumi itu muncul, biasanya juga tidak ditunjukkan secara terang-terangan, kecuali di beberapa daerah di luar Jawa. Pada tahun 1930-an, di Sulawesi muncul Partai Islam, didirikan Ong Kie Ho, seorang China Muslim kelahiran Toli Toli. Takut gerakan ini makin membesar, Belanda membuang Ong Kie Ho ke Jawa pada 1932.

Setahun setelah pembuangan itu, di Makassar berdiri Partai Tionghoa Islam Indonesia. Pada tahun yang sama, seorang China totok bernama Yap A Siong (lebih dikenal dengan nama H Yap A Siong alias H Abdusshomad) mendirikan perkumpulan serupa dengan nama Partai Islam Tionghoa di Deli Serdang, Sumatera Utara.

Fenomena di atas menunjukkan bahwa sudah sejak lama spirit nasionalisme tertanam kuat di kalangan orang-orang China Muslim Indonesia. Mereka ingin diakui sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa ini dalam meraih kemerdekaannya. *Bambang S/Suara Hidayatullah MEI 2012

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment