
Berjasa menyebarkan syiar Islam di kalangan China Indonesia dan membangun ekonomi rakyat.
Berdasarkan catatan sejarah, peran orang-orang China Muslim dan mengislamkan penduduk Nusantara tak bisa dipandang sebelah mata. Demikian juga peran mereka dalam melawah penjajah. Dalam konteks Indonesia pasca kolonial, mereka juga tak mau ketinggalan.
Nah, membicarakan orang-orang China Muslim di Indonesia pasca kolonial, tak bisa dilepaskan dari sosok H Abdul Karim Oey. Ia dianggap tokoh paling berjasa dalam proses islamisasi kaum Tionghoa di Indonesia.
Lahir di Padang, Sumatera Barat dengan nama Oey Tjeng Hien pada 1905. Dalam masa hidupnya Oey sempat beberapa kali pindah agama.
Ketika kecil ia memeluk agama yang diwarisi dari orangtuanya, Kristen. Merasa tak menemukan kedamaian, Oey lalu pindah ke agama Budha dan Konfusianisme. Lagi-lagi di sini ia tak juga menemukan kedamaian. Petualangan imannya berakhir pada usia 25 tahun saat ia memutuskan memeluk Islam.
Keputusan itu bukan tanpa risiko, sebab Islam waktu itu masih dianggap agama kelas dua. Begitu kabar Oey masuk Islam tersiar luas di komunitasnya, mereka memboikotnya. Bahkan rumahnya sering dilempari batu dan kotoran manusia. Hubungan dengan keluarga juga memburuk. Oey dianggap telah mencoreng muka keluarganya. Islam dimata keluarganya identik dengan kebodohan, kemiskinan dan jorok.
Namun Oey tetap kukuh dengan pendiriannya. Ia terus memperdalam Islam. Merasa cukup bekalnya, ia kemudian memantapkan hati menjadi pendakwah.
Selain berdakwah, Oey juga aktif berorganisasi. Antara lain, ia pernah tercatat menjadi Ketua Dewan Ekonomi Muhammadiyah. Ia juga aktif di Masyumi, partai politik Islam terbesar waktu itu.
Pada 1963, Oey mendirikan organisasi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Organisasi ini hingga kini masih eksis, dengan cabang di berbagai daerah di Indonesia. Oey sendiri memimpin PITI hingga tahun 1973.
Setelah Oey meninggal tahun 1988, para pengikutnya kemudian mendirikan Yayasan Karim Oey. Persisnya, yayasan ini berdiri 19 April 1991, dengan tujuan menyebarkan Islam di kalangan Tionghoa. Untuk mengenang jasa-jasa Oey, yayasan ini membangun sebuah masjid bernama Masjid Lautze di Jalan Lautze 89, Jakarta.
Tokoh lain China Muslim adalah Jusuf Jahya. Lahir di Jakarta pada 22 April 1927 dengan nama Lauw Chuan Tho, Jusuf masuk Islam pada usia tua, 52 tahun. Ketika Jusuf mengumumkan keputusannya tersebut, tak sedikit orang China yang meragukannya. Bahkan ada yang curiga bahwa semuanya itu guna memuluskan program asimilasi, sesuatu yang memang ia perjuangkan sejak muda.
Bahwa keputusannya masuk Islam itu berpengaruh pada asimilasi dirinya, Jusuf tidak menampik. Menurutnya, strategi paling tepat untuk melakukan asimilasi total adalah dengan cara memeluk Islam. Sebab, diakui atau tidak Islam menjadi faktor signifikan pembentuk identitas sosial golongan pribumi Indonesia. Dengan memeluk Islam, kata Jusuf, diharapkan orang-orang China Muslim dapat diterima oleh golongan pribumi, karena sudah memiliki identitas sosial yang sama, yakni Islam.
Namun, jika masuk Islam dirinya diaggap membawa kepentingan politik tertentu, sarjana ekonomi dari Belanda ini menolaknya. Ia, katanya, tertarik dengan Islam karena ajaran persaudaraan dalam Islam.
Bagi Jusuf, orang China masuk Islam bukanlah hal yang aneh. Di negeri leluhurnya sendiri, China, juga banyak rakyat China yang memeluk Islam, bahkan angkanya hampir 140 juta. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah memerintahkan umatnya menuntut ilmu, meski harus ke negeri China. Itu artinya, kata Jusuf, antara China dan Islam bukan dua hal yang bertentangan.
Sama dengan Oey, Jusuf juga aktif berorganisasi. Antar lain, selain menjadi anggota Muhammadiyah, ia juga dipilih sebagai pengurus pusat Majelis Ulama Indonesia hingga tahun 1990.
Figur penting lainnya yang gigih memperkenalkan Islam di kalangan China adalah Masagung. Lahir di Jakarta, 8 September 1927, nama aslinya Tjio Wie Tay. Masagung berasal dari keluarga miskin. Waktu kemudian membuktikan, ia mampu mengubah kemiskinan itu menjadi sumber motivasi yang tak pernah kering. Hingga Masagung berhasil menjadi pengusaha sukses.
Mendekati usia 50 tahun, bisnisnya mencapai puncak kejayaan. Kerajaan bisnisnya meliputi Toko Buku Gunung Agung, Sari Agung, Inti Idayu Press, Jaya Mandarin Agung dan Ayumas Gunung Agung. Cuma anehnya, ia merasa masih ada yang kurang. Hartanya memang berlimpah, tetapi hidupnya terasa hampa. Ia kemudian melakukan pencarian, antara lain pernah memeluk agama Hindu. Di ujung pencariannya, Masagung akhirnya memutuskan masuk Islam.
Menurutnya, Islam lebih bisa memberikan ketentraman batin. Jadi, keputusannya masuk Islam bukanlah karena faktor di luar agama, misalnya faktor ekonomi atau politik. Disamping kebahagian batin, tokoh yang dikenal dekat dengan Presiden Soekarno ini juga menyakini bahwa dengan memeluk Islam agenda asimilasi di Indonesia bakal berjalan lebih mudah.
Generasi Baru
Tiga nama yang disebut itu kini sudah almarhum. Tapi, bukan berarti tidak ada generasi penerusnya. Ibarat pepatah, hilang satu tumbuh seribu, sekarang bermunculan dai-dai muda China Muslim. Salah satu di antaranya adalah Muhammad Syafi’i Antonio (Nio Cwan Chung), yang lebih dikenal sebagai ahli ekonomi syariah.
Keislaman Syafi’i bermula dari ketidaksengajaannya mempelajari Islam ketika SMA. Ia semakin tertarik mempelajari Islam lebih dalam karena merasa menemukan kebenaran di dalamnya. Setelah melakukan perenungan secara matang, ia memantapkan hati menjadi seorang Muslim, tepat pada usia 17 tahun.
Keputusan tersebut ternyata mendapat tantangan keras dari pihak keluarganya. Ia dikucilkan dan dikeluarkan dari rumah. Setiap kali pulang, pintu selalu terkunci. Bahkan waktu shalat, kain sarungnya sering diludahi. Perlakuan tidak menyenangkan itu bukan ia balas dengan kemarahan, melainkan dengan kesabaran dan perilaku yang santun. Kesabaran Syafi’i itu akhirnya berbuah, sebagian keluarganya dan ibunya kemudian mengikuti jejaknya, masuk Islam.
Nama lain yang cukup populer adalah Anton Medan. Lahir dengan nama Tan Hok Ling, Anton punya sejarah yang hitam. Ia pernah menjadi preman. Proses keislaman Anton sebenarnya bermula dari kepentingan praktis, yakni agar bisa menikah dengan gadis Muslimah. Makanya, meski sudah masuk Islam, ia masih menjalani ritual agama Budha.
Baru setelah bertemu dengan dai kondang, Zainuddin MZ, ia mulai mengenal Islam lebih mendalam dan berkomitmen menjadi Muslim yang kaffah. Kini, Anton banyak membina para mantan narapidana yang ingin tobat. *Bambang S/Suara Hidayatullah MEI 2012
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL