Yang pasti, kampung yang tak jauh dari Kota Padang, Sumatera Barat ini memang telah melahirkan orang-orang besar. Mereka, di antaranya adalah Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabau, imam tetap Masjidil Haram di Makkah; Haji Agus Salim, cendekiawan dan politisi yang namanya melegenda; Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri Indonesia; dan Ruhana Khudus, tokoh pers perempuan pertama.
Sejarah mencatat, Syaikh Ahmad Khatib yang dilahirkan di Koto Gadang pada Senin, 6 Zulhijjah 1276 H atau 6 Juni 1860 M adalah ulama non-Arab yang menjadi imam tetap Masjidil Haram. Dia terpilih karena kedalaman ilmu dan kealimannya.
Buya Hamka menyebut Ahmad Khatib sebagai ‘Bintang Masjidil Haram’ yang bersinar cemerlang, karena begitu banyak orang Arab dan luar Arab yang berguru padanya.
Pendiri Muhammadiya KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari pendiri NU, termasuk murid Ahmad Khatib. Demikian pula para ulama pembaharu seperti Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), Muhammad Jamil Djambek dan Haji Abdullah Ahmad.
Di Sumatera Barat, Ahmad Khatib dikenal sebagai penentang keras hukum adat pra Paderi, seperti hukum waris dan keturunan menurut garis ibu. Begitu pula terhadap aliran-aliran keislaman yang menurutnya perlu diluruskan. Perlawanan Ahmad Khatib tidak dilakukan secara langsung, tetapi melalui kitab dan tulisannya. Juga dengan menggembleng sejumlah murid asal Minang di Makkah, yang kemudian dikirim kembali untuk berdakwah di negeri ini. Sayang sekali, di Koto Gadang tidak dapat ditemukan rumah peninggalan dari keturunan generasi terakhir kaum Paderi tersebut. Mungkin itu karena Ahmad Khatib menetap dan wafat di Makkah. Menurut Nusyirwan, salah satu tokoh di Koto Gadang, pada awal 80-an pernah datang orang Arab untuk mencari keturunan dan rumah peninggalan ulama besar itu. Tapi hasilnya nihil.
Yang masih bersisa hanya rumahnya Haji Agus Salim. Namun, rumah tua yang berada di pinggir kampung itu hanya dirawat oleh keluarga jauh. Tak ada adik, anak atau keturunan langsung Agus Salim yang menetap di kampung untuk berbagi cerita.
Agus Salim juga tidak punya harta dan benda peninggalan apa pun. Padahal, Agus Salim tokoh besar. Dia intelektual brilian dan diplomat ulung yang menguasai lima bahasa dunia.
Orang besar dan pahlawan Nasional ini waktu kecil bernama Masyhudul Haq, lahir pada 8 Oktober 1884 di Koto Gadang.
Menurut Nusyirwan, ada rencana menghimpun semua peninggalan Agus Salim untuk dikumpulkan di rumah tua itu, sekaligus difungsikan sebagai museum. “Tapi inilah kesulitan kita, dari sisi materi, beliau nyaris tidak meninggalkan apa pun sehingga tidak ada yang dapat kita ‘museumkan’,” jelas Nusyirwan.
Kehidupan tokoh Sarekat Islam itu dikenal sangat sederhana, bahkan terkesan melarat. “Saya pernah mendapat cerita, di Jakarta beliau tinggal di rumah kontrakan yang becek dan sumpek. Meski beralamat di Jalan Listrik, di rumah itu tidak ada penerangan lampu lisrik,” tutur Nusyirwan. Sungguh berbeda dengan kehidupan para pejabat sekarang.
Untuk mencapai Koto Gadang, tidaklah sulit. Ada dua rute yang dapat ditempuh. Pertama, dari kota Padang, lurus saja ke Padang Lua, kemudian berbelok ke kiri menempuh jalan poros Bukittinggi-Ambun Pagi, lalu berbelok lagi ke kanan. Jarak Padang Lua-Koto Gadang hanya sekitar 15 km, jalannya pun beraspal mulus. Rute lainnya adalah dari kota Padang langsung ke Bukittinggi, kemudian dilanjutkan sekitar 10 km lagi dengan melintasi Ngarai Sianok.
Panorama Alam yang Indah
Selain jalan yang sudah beraspal mulus, panorama alam sepanjang perjalanan ke Koto Gadang juga cukup indah. Di sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan persawahan berjenjang-jenajang bagaikan permadani kuning yang terhampar luas. Nun di puncak Gunung Singgalang, kabut putih tampak bergelayut seperti gumpalan kapas. Demikian pula ketika melintasi Ngarai Sianok yang terkenal itu, panoramanya membuat takjub atas ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).
Secara pemerintahan, Koto Gadang masuk dalam wilayah Kecamatan Ampek Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kendati bernama Koto Gadang yang berarti “Kampung Besar”, luas wilayah administrasinya cuma 640 hektare saja.
Ada tradisi menarik di sini, yakni makan tanpa sendok. Bahkan, tradisi ini menjadi kebiasaan mayoritas orang Minang, di mana pun berada. Termasuk Agus Salim, sekalipun banyak bergaul dengan orang-orang Eropa, dia tetap tak bisa meninggalkan kebiasaannya ini. Suatu kali dia dicibir tentang kebiasaannya itu. Tapi, dia menjawab dengan cerdas, ”Saya menyuap dengan tangan sendiri untuk masuk ke mulut sendiri. Sedangkan sendok yang tuan-tuan pakai, pernah masuk ke mulut banyak orang.”
“Awalnya,” kata Nusyirwan, “tradisi makan bajamba (makan pakai tangan) diadopsi dari kebiasan cara makan kaum Paderi yang pernah berkuasa di ranah Minang, akhirnya ditetapkan sebagai tatacara makan yang digariskan aturan adat sehingga disebut Makan Beradat.”
Selain memendam sejarah kebesaran tokoh-tokoh Islam, dengan menelusuri Koto Gadang kita juga akan menemukan irama kehidupan yang sarat dengan nuansa keislaman. Di setiap jalan kampung yang kita tapaki akan berpapasan dengan anak-anak berbaju koko dan gadis-gadis kecil berjilbab. Mereka putra-putri Koto Gadang dari Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang ada di setiap surau.
Koto Gadang juga terkenal sebagai pusat kerajinan perak dan sulaman. Kerajinan sulaman merupakan hasil tangan-tangan terampil kaum ibu dan remaja putri. Sulaman dengan khas jahitan suji, kapalo samek dan terawang, dibuat dalam bentuk selendang, baju, jilbab dan berbarbagai asesoris. Semua dikerjakan dengan sulaman tangan.
Semangat kemandirian perempuan Koto Gadang telah dikobarkan dengan pembentukan perkumpulan Kerajinan Amai Setia (KAS) sejak 11 Februari 1911. Perkumpulan atau organisasi perempuan pertama di ranah Minang ini dipimpin oleh Ruhana Khudus, seorang wartawati pertama Indonesia yang menerbitkan surat kabar “Soenting Melajoe”. Yayasan Kerajinan Amai Setia Koto Gadang kini telah membuka cabang di Jakarta, Medan, dan Pekanbaru.
Bila Allah SWT memberi Anda kesempatan, tak rugi bertandang ke Koto Gadang. Sambil napaktilas jejak ulama dan tokoh terkenal, kampung kecil di bibir Ngarai Sianok ini juga menyajikan panorama alam yang menakjubkan, plus dengan gulai itik balado mudo (bebek muda). *Dodi Nurja/Suara Hidayatullah MEI 2009.
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URL