Kamang, Nagari Para Syuhada

Kamang, Nagari Para Syuhada

Napak tilas para pejuang Paderi sambil menikmati eloknya alam.

Membicarakan Sumatera Barat tidak hanya Bukittinggi dan Jam Gadang, Ngarai Sianok atau kota Padang dengan batu Malinkundang dan tenda ceper di pantainya. Masih banyak potensi wisata lainnya yang dipendam bumi elok bernama Ranah Minang ini. Kamang, adalah salah satu kawasan yang layak dikunjungi.

Tak sulit bertandang ke Kamang. Daerah ini berada dalam wilayah Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam. Kamang yang berjarak 20 km dari Kota Bukittinggi ini dikenal pula dengan sebutan “Kamang Darussalam” dan “Nagari Syuhada”. Panorama alam yang indah dengan hamparan persawahan yang terbentang bagai permadani hingga ke kaki bukit menyambut saya saat mengunjungi Nagari Kamang, April 2012 lalu.

Ada dua pintu masuk yang kerap digunakan menuju Kamang, disamping beberapa jalan kelas empat lainnya. Pertama, dari Simpang Gadut di Jalan Raya Bukittinggi-Medan, dan kedua, dari Garegeh di Jalan Raya Bukittingi-Payakumbuh.

Mengenang Nan Renceh

Di saat kian maraknya intervensi budaya asing, tak rugi bila menyempatkan diri berkunjung ke Kamang. Banyak hikmah yang dapat dipetik dari perjalanan ini. Inilah nagari para syuhada yang jejak-jejaknya hingga hari ini masih dapat kita saksikan dengan kasat mata.

Berlokasi di Jorong (desa) Bansa, Kamang Mudik, nisan pada makam yang terletak di bawah pohon rindang itu bertuliskan ‘Pahlawan Perang Paderi Tuanku Nan Rentjeh.’ Sebuah nama yang seharusnya tidak asing lagi di telinga generasi Islam hari ini. ‘Abdullah Tuanku Nan Renceh (Rentjeh), tak lain adalah generasi awal Paderi.

Dalam buku “Tuanku Imam Bonjol, Sejarah Intelektual Islam di Minangkabau” karangan Syafnir Aboe Nain dikisahkan, Nan Renceh merupakan generasi pertama yang menyambut dakwah Haji Miskin sekembali dari menuntut ilmu di Makkah pada 1803. Selama Haji Miskin di Tanah Suci, gerakan Wahabi yang dipelopori oleh Syaikh Muhammad Abdul Ibnu Wahab sedang berkembang pesat dan didukung sepenuhnya Raja Ibnu Sa’ud dari Nejed.

Haji Miskin terinspirasi gerakan Wahabi di Makkah yang melaksanakan pemurnian pengamalan agama, menganjurkan kembali ke syariat yang berdasarkan al-Qur`an dan Sunnah yang sahih. Dakwah Haji Miskin berhasil merangkul Tuanku Nan Renceh dan tujuh tokoh lainnya.

Tuanku Nan Renceh bernama kecil Abdullah, lahir di Jorong Bansa, Nagari Kamang pada tahun 1780. Abdullah merupakan murid dari Tuanku Nan Tuo yang kemudian menjadi tangan kanan Haji Miskin. Kecerdasan, keberanian, dan pengaruhnya yang luas kemudian mengantarkan Nan Renceh menjadi guru panutan bagi generasi muda. Mereka berasal dari pelosok Ranah Minang yang berdatangan ke Surau Bansa di Kamang untuk berguru pada Nan Renceh. Salah satunya adalah pemuda bernama Peto Syarif yang datang dari kampung Bonjol Pasaman. Pemuda ini kelak bergelar Tuanku Imam Bonjol dan terkenal sebagai Panglima Perang Paderi dalam mengusir kolonial Belanda.

Nan Renceh adalah tokoh kunci kesuksesan generasi awal Paderi dalam melahirkan kader-kader pejuang dan menyebarluaskan gerakan Paderi hingga mengakar di pelosok Nagari-nagari di Ranah Minang. Tuanku Nan Renceh wafat pada tahun 1832 di kampungnya, karena sakit. Ia berpulang ketika gerakan Paderi sudah meluas dengan pemimpin utamanya Tuanku Imam Bonjol, seorang panglima Paderi bekas murid Tuanku Nan Renceh.

Perjalanan ke Kamang juga mengingatkan kita tentang “Perang Kamang 1908”, sebuah pemberontakan hebat rakyat Kamang yang dipimpin H Abdul Manan, ulama kharismatis yang juga ahli perang, melawan kezaliman kolonial Belanda. Perang ini dipicu oleh kerakusan kolonial yang menerapkan pajak tidak hanya terhadap hasil bumi anak negeri, tapi juga mengenakan pajak bagi hewan kurban. Kewajiban yang sangat bertentangan dengan syariah inilah yang memantik Perang Kamang. Ada sekitar 70 orang pejuang yang syahid dalam perang ini termasuk Syaikh Abdul Manan sendiri. Namun kerugian dipihak Belanda lebih besar lagi, konon belasan Pedati kendaran tradisional yang ditarik oleh kerbau penuh berisi tumpukan jasad pasukan Belanda dilarikan ke Benteng Fort de Cook Bukittinggi.

Pesona Alam

Selain memendam sejarah heroik para syuhada, daerah Kamang juga menyajikan panorama alam yang memesona. Dari makam Tuanku Nan Renceh perjalanan dapat dilanjutkan sekitar 3 km ke Pakan Sinayan Kamang. Di sini dapat dilakukan aktivitas susur goa. Warga setempat menyebutnya Ngalau (goa). Goa ini terletak di kaki bukit dengan pesona yang mengagumkan.

Ada stalagtit dan stalagmit yang terdapat di dalam gua. Batu alam ini seperti bergelantungan dengan berbagai bentuk. Di bagian depan Ngalau Tarang terdapat sebuah batu besar yang dipisahkan oleh sungai kecil berair jernih. Perjalanan dapat dilanjutkan ke danau alam di Jorong Hilalang. Danau ini cukup indah dengan padang rumput yang mengitarinya. Entah dari mana sumber airnya, tidak satu pun sungai berhulu ke sini. Danau dikelilingi oleh Bukit Barisan yang menambah pesona keindahannya.

Perjalanan berlanjut ke Jorong Kapecong Kamang. Di Panorama Langkok kita dapat menyaksikan lukisan alam berupa kokohnya Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. Satu lagi Ngalau yang menarik dikunjungi adalah Ngalau Kamang di Jorong Durian.

Beda dengan Ngalau Tarang, Ngalau Kamang berada di kaki bukit kapur yang gelap. Untuk masuk ke dalam gua ini harus menggunakan alat penerang. Di dalam Ngalau Kamang mengalir anak sungai yang bening.

Warga sekitar menceritakan, goa ini pernah dijadikan tempat pertahanan pasukan Paderi. Di dalam goa terdapat ruangan seluas 70 meter persegi yang pernah dijadikan tempat Tuanku Nan Renceh mengatur strategi perang. Sayangnya, kondisi Goa Kamang saat ini tak terurus, tampak di sekitarnya telah menjadi kawasan industri batu kapur.

Rahasia Sanjai

Nagari Kamang dan sekitarnya pernah berjaya sebagai sentra produksi buah jeruk hingga awal 1980. Jeruk Kamang namanya. Jeruk ini terkenal dengan kemanisan dan daya tahannya. Kala itu, nyaris tak ada petani yang tidak berkebun jeruk Kamang. Produknya dipasarkan hingga ke Riau. Masa manis Jeruk Kamang berakhir oleh serangan hama di penghujung tahun 1990. Kini, sebagian warga bangkit dan beralih dengan berkebun ubi. Namanya ubi Dasun. Ini adalah ubi khas Kamang yang sulit tumbuh di daerah lain. Tak heran bila setiap pekannya puluhan ton ubi dipasok ke Bukittinggi. Ubi Dasun adalah rahasia kegurihan Kerupuk Sanjai Bukttinggi yang terkenal itu, bahkan kini gencar di ekspor ke Malaysia. *Dodi Nurja/Koresponden Suara Hidayatullah AGUSTUS 2012

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment