Memuliakan Tamu

Memuliakan Tamu

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia memuliakan tamunya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah)

Salah satu amal kebajikan yang dibiasakan hingga menjadi tradisi di kalangan aktivis Hidayatullah adalah memuliakan tamu. As-sabiqunal Awwalun dari generasi Hidayatullah pasti merasakan kehangatan sambutan para aktivis, terutama pimpinan kala itu, Ustadz Abdullah Said (alm) saat menjamu tamunya.

Selain menceramahkan tentang arti pentingnya memuliakan tamu, beliau memberi contoh nyata. Setiap tamu yang berkunjung kepadanya disambut dengan sukacita, diterima secara tulus, dan dimuliakan dengan suguhan yang tak terduga. Tak jarang beliau sendiri yang mengajak tamunya berkeliling kampus, baik dengan jalan kaki maupun dengan berkendaraan. Pada tamu-tamu tertentu, beliau bahkan mempersilakan menjadi imam shalat, juga ta’aruf usai shalat.

Peran strategisnya memuliakan tamu, Selain diniatkan sebagai ibadah, diharapkan para tamu yang pernah datang ke Hidayatullah menjadi “penyambung lidah” yang menjelaskan kepada masyarakat tentang visi Hidayatullah secara benar dan menarik.

Salah satu peninggalan penting Allahuyarham Ustadz Abdullah Said adalah bangunan guest house (rumah atau kamar tamu) yang kemudian diduplikasi di setiap kampus Hidayatullah. Bangunan ini menjadi bukti betapa pentingnya penghormatan kepada para tamu di Hidayatullah.

Tradisi memuliakan tamu tersebut kemudian menurun kepada semua aktivis dan santri. Para as-Sabiqunal Awwalun merasakan betul bagaimana rasanya menjadi tamu di Hidayatullah pada tahun-tahun awal. Para guru dan warga Hidayatullah yang sudah berumah tangga berebut memberi pelayanan secara maksimal kepada para tamu yang datang. Mereka mempersilakan para tamu datang ke rumahnya sekadar menikmati hidangan singkong goreng hasil kebun di sekitar rumahnya. Hal tersebut mengingatkan kita tentang perlakuan kaum Anshar kepada kaum Muhajirin yang diabadikan dalam al-Qur’an:

“Dan mereka mengutamakan (orang-orng Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam keadaan kekurangan. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr [60]: 9)

Sengaja kenangan indah ini saya tulis untuk menggugah kembali kesadaran kita tentang arti pentingnya menghormati dan memuliakan tamu yang datang, baik tamu Hidayatullah maupun tamu pribadi. Saya ingin warisan budaya yang baik ini diteruskan, ditradisikan, dan dikembangkan.

Pastikan setiap tamu yang berkunjung ke kampus-kampus Hidayatullah seluruh Indonesia mendapat sambutan yang baik dan layanan yang memuaskan. Biasakan untuk menyapa, memberi senyuman, dan tak lupa memberi salam. Hindari segala sikap dan tampang menakutkan.

Sesibuk apa pun kita harus siap menyambut dan menerima tamu. Jika tamunya berniat untuk menginap, siapkan tempat yang layak dan jamuan yang sebaik-baiknya.

Ada sebuah Hadits yang patut menjadi renungan kita, dari Abdullah bin Umar beliau berkata, “Serombongan Sahabat Nabi datang kepada Sahabat Jabir RA, maka beliau sajikan kepada mereka roti dan cuka.’ Beliau berkata, ”Makanlah, karena saya mendengar Rasulullah bersabda: ‘Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka’. Sesungguhnya kerusakan bagi seseorang yang kedatangan rombongan dari saudara-saudaranya kemudian ia menganggap remeh apa yang ada di rumahnya untuk disuguhkan kepada mereka. Demikian juga kerusakan bagi satu kaum yang meremehkan sesuatu yang disuguhkan kepada mereka.” (Riwayat Ahmad dan Thabrani).*
SUARA HIDAYATULLAH, NOPEMBER 2012

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment