“Kami menolak pemberontakan terhadap pemimpin yang masih Muslim”

“Kami menolak pemberontakan terhadap pemimpin yang masih Muslim”

Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid al-Halaby

Meski sedang dilanda krisis, negeri Syam (Syria) tidak pernah kering akan ilmu dan ulama. Bulan Septermber lalu, negeri ini kedatangan seorang ulama Salafi, Ahlus Sunnah asal Yordania, Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid al-Halabi. Seorang murid dari ahli Hadits, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, rahimahullah.
Syaikh Ali Hasan lahir di Zarqa’, Yordania 29 Jumadil Tsani 1380 H (1960 M) dari keluarga imigran asal Jaffa, Palestina yang hijrah ke Yordania pada 1948 H. Keluarganya juga dinisbatkan dengan kota Halab atau dikenal dengan nama Aleppo, Suriah.

Selain pada Syaikh al-Albani, ia juga menimba ilmu dari ulama lain semisal, Syaikh Abdulwadud az-Zarari (pakar bahasa Arab), Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Muhammad As-Salik As-Syinqithi, dan ulama lainnya.
Syaikh Ali Hasan juga dikenal sebagai penulis dan peneliti yang produktif. Karya beliau antara lain, Ilmu Ushul al-Bida’, Dirasat Ilmiyyah fî Shahih Muslim, Ru’yah Waqi’iyyah fî al-Manhaj ad-Da’awiyyah, An-Nukat ‘ala Nuz-hah an-Nazhor, dan Ahkam asy-Syita` fî as-Sunnah al-Muthahharoh. Selain itu, juga Ad-Da’wah ila Allah baina at-Tajammu’ al-Hizbi wa at-Ta’awun asy-Syar’i, dan lainnya.

Di sela waktunya yang padat, beliau menyempatkan diri diwawancarai wartawan Suara Hidayatullah, Surya Fachrizal Ginting. Usai sarapan pagi sebelum mengisi tabligh akbar di Masjid Istiqlal, Jakarta, 16 September lalu, beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan lugas dan ramah. Berikut petikannya.

Bagaimana pandangan Anda terhadap revolusi yang terjadi di negara-negara Arab belakangan ini?
Sebenarnya saya telah menulis hal itu dalam kitab saya Da’wah Salafiyah al-Hadiyah, Wa Mauqifuha Bainal Fitan al-‘Ashriyah al-Jariyah. Kitab itu membahas dengan lengkap masalah ini (revolusi, pemberontakan, dan huru-hara, red).

Saya akan memberikan jawaban singkat hal ini. Saya katakan, kami menolak revolusi dan menolak keluar dari ketaatan terhadap pemimpin yang masih Muslim. Bersamaan dengan itu saya juga tidak setuju dengan negara-negara (yang mayoritas berpenduduk Islam) yang tidak menerapkan hukum Allah dan (penguasanya) melakukan perusakan.

Karena itu, kami tidak menginginkan berbagai kekerasan terjadi di negeri-negeri lain yang (saat ini) selamat dari hal itu.

Bagaimana dengan yang terjadi di Suriah?
Saya tidak mengatakan hal itu berlaku untuk Suriah. Apa yang terjadi di Suriah berbeda dengan yang terjadi di tempat lain. Pertama, pemerintah Suriah itu kafir. Kedua, yang terjadi di Suriah adalah pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap orang-orang Islam.

Pasca revolusi yang menjatuhkan rezim Muammar Qaddafy di Libya, Salafi setempat diberitakan telah melakukan penghancuran kuburan yang dianggap keramat di sana, apakah hal itu dibenarkan oleh syariat?
Saya mendengar kabar itu, saya membacanya di suratkabar, tapi saya tidak menyaksikan sendiri. Seperti yang terjadi di Libya saat ini, misalnya, hal itu sangat mungkin terjadi. Mungkin juga dilakukan oleh orang lain atas nama Salafi. Karena saat sekarang fitnah sangat besar.

Sebenarnya sikap kami sama dengan orang-orang yang dikabarkan menghancurkan kuburan-kuburan keramat itu. Kami telah menjelaskan bagaimana sikap yang sesuai syariat untuk membantah mereka yang mengkultuskan dan mengkramatkan kuburan, yang di sana banyak dilakukan berbagai macam kesyirikan. Dan, semua itu menyelisihi tauhid.

Tapi, sikap yang syar’i dalam menghancurkan kuburan keramat itu tidak boleh dilakukan secara pribadi tanpa izin Ulil Amri, (pemerintah). Karena hal itu akan menimbulkan fitnah dan kerusakan.

Salafi di Mesir telah membuat partai politik dan ikut dalam pemilu, sedangkan Salafi di tempat lain menentangnya. Bagaimana pendapat Anda?
Kami telah menulis (buku) tentang masalah ini. Kita tidak membolehkan membuat partai politik, baik itu di Mesir ataupun di luar Mesir. Karena partai politik hanya akan memecah-belah umat saja.

Apa yang dilakukan oleh sebagian Salafiyin di Mesir (dengan membentuk partai politik), kami menyatakan perbuatan mereka adalah salah. Kami tidak menyetujui tindakan mereka.

Saya yakin mereka akan kembali kepada perkara yang seharusnya. Karena apa yang mereka lakukan itu lebih banyak kerusakannya dari pada manfaatnya. Mereka telah menyelisihi syariat yang seharusnya.

Syaikh, Syi’ah di negeri ini telah berani tampil menunjukkan eksistensinya. Apa nasihat Anda?
Apakah Syi’ah ingin melakukan revolusi di negeri ini? Jika kita tidak membenarkan hal itu dilakukan oleh Ahlus Sunnah, bagaimana juga kita akan membenarkan hal itu dilakukan oleh Syi’ah. Maka wajib menghentikan hubungan dengan mereka dan membantah mereka.

Dalam acara tabligh akbar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Syaikh Ali bicara cukup tegas tentang Syi’ah, yang tidak ia utarakan saat wawancara. Berikut kutipannya: “Fitnah Syi’ah sangat berbahaya terhadap negeri, juga terhadap negeri (Indonesia) ini. Saat ini, mereka menganggap zaman ini sebagai zaman mereka. Tadinya mereka bersembunyi, kini mereka menunjukkan taring-taringnya.

Bahaya yang ditimbulkan oleh Syi’ah terhadap Islam sangat besar. Mereka berusaha melakukan pemberontakan dan huru-hara di mana-mana. Tapi kita tidak ingin membalas kerusakan dengan kerusakan. Bagi kita, kesesatan mereka telah jelas.

Cukuplah perkataan pembesar Syi’ah, Ni’matullah al-Jazairi dalam kitabnya al-Anwarul an-Nu’maniyah: “…adapun khalifah Abu Bakar, dan Nabi (Muhammad, red) yang khalifahnya (penggantinya) Abu Bakar, maka ia bukan khalifah kami (Syi’ah), bukan pula nabinya, nabi kami, dan bukan pula Tuhannya, tuhan kami.”

Anda sudah beberapa kali ke Indonesia, bagaimana kesan Anda akan kaum Muslimin Indonesia?
Kaum Muslimin Indonesia akhlak mereka baik sekali, agama mereka baik, mereka juga siap menerima kebenaran. Tetapi kebodohan (dalam masalah agama) masih banyak. Karenanya dibutuhkan kesabaran, perlu mujahadah dan kesungguhan para dai untuk mengajak mereka, dan mengangkat kebodohan yang ada para mereka, (yang) itu menjadi kebaikan untuk mereka dan negeri ini.

Sebagai murid Syaikh al-Albani, apa nasihat beliau yang selalu Anda ingat?
Syaikh al-Albani membangun dakwah ini atas dua perkara. Pertama, akidah dan tauhid. Dan yang kedua, ilmu syar’i. Dengan akidah dan tauhid akan menyelamatkan manusia di sisi Allah dan akan membuatnya bahagia di dunia.

Dengan ilmu, maka Allah akan memberi taufik hambanya kepada sunnah, dan kepada pemahaman (agama) yang benar, kepada kehidupan yang nyaman dalam naungan al-Qur`an dan as-Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ini adalah kehidupan Syaikh al-Albani seluruhnya. Yang disimpulkan olehnya dalam konsep tashfiyah (pemurnian akidah dan pemahaman agama) dan tarbiyah (pendidikan).* SUARA HIDAYATULLAH, NOPEMBER 2012

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment