Ketika Kambing Menjadi Alat Dakwah

Ketika Kambing Menjadi Alat Dakwah

Ustadz Anwar Anshary

Bukti efektif dakwah dengan cara memberi dan merangkul, dibanding menghakimi.

Pagi itu Anwar Anshary (37) bersiap-siap memberi ceramah pernikahan di kampung sebelah. Ia memakai baju koko bermotif bunga dan sarung biru. Ia pun siap meluncur. Tapi bukannya langsung menuju tempat acara, ia malah menyempatkan diri menjenguk beberapa kambing piaraannya. “Kambing inilah yang menjadi alat dakwah saya di sini,” ujar pria kelahiran Tasikmalaya, 13 Maret 1975 kepada Suara Hidayatullah.

Kok bisa kambing menjadi alat dakwah?

Tentu saja bisa. Menurut Anwar, cara ini merupakan salah satu strategi pendekatan dakwah ke masyarakat. Bermula dari program yang digulirkan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Jakarta untuk para dai di daerah-daerah. Anwar termasuk salah seorang dai yang mendapatkan kambing sebanyak 15 ekor. Kambing sebanyak itu, sebagian dipelihara dirinya dan santri di Pondok Ma’rifah (Mahad Riyadhul Falah). Sebagiannya lagi disebar ke masyarakat untuk dipelihara. “Kini jumlahnya sudah mencapai 65 ekor. Itu pun sebagian sudah dipotong saat Idul Adha tahun lalu,” akunya.

Masyarakat yang mendapatkan kambing tidak dibiarkan begitu saja. Mereka diharuskan mengikuti pengajian bulanan. Bahkan, kadang Anwar yang menyambangi mereka satu persatu di rumah. “Sambil mengecek kambing, biasanya kita juga bicara tentang Islam,” ujar lulusan Institut Agama Islam Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat ini.

Dengan cara ini, aku Anwar, keberadaan dirinya di tengah masyarakat kian diterima. Tidak saja secara pribadi, pesantren miliknya, Pondok Ma’rifah di Kecamatan Cigalontang, Tasikmalaya yang awalnya dicurigai karena dianggap membawa ajaran berbeda, kini telah diterima masyarakat dengan baik.

Mendirikan Pesantren

Debut dakwah Anwar dimulai saat masih menjadi pelajar di SMA Galunggung, Tasikmalaya tahun 1992. Demikian juga saat kuliah, Anwar makin giat mengkaji Islam. Bahkan, saat itu, ia mulai banyak bersentuhan dengan aktivis Islam, termasuk aktivis Hidayatullah di Tasikmalaya.

Usai lulus kuliah, langkah dakwah Ustadz Anwar semakin luas. Ia mengaku aktif di Gerakan Persaudaraan Muslimin Indonesia (GPMI). Anwar yang pernah menjadi ketua GPMI Tasikmalaya tahun 2000 ketika itu sering melakukan kegiatan bareng dengan seluruh gerakan dakwah di Tasikmalaya. Namun, meski sudah disibukkan dengan kegiatan dakwah di GPMI, Anwar juga aktif membina remaja masjid di kampung kelahirannya, Sukamanah. “Semangat yang kita perjuangkan ketika itu semangat tadhbigu (penerapan -red) syariah,” tegasnya.

Dalam perjalanannya, Anwar berpikir, sesungguhnya yang menolak penerapan syariat ini bukan pemerintah, justru masyarakat itu sendiri. “Kita banyak disibukkan dengan diskusi kepada masyarakat tentang penerapan itu, sehingga tekanan kita malah jadi berat sebab masyarakatnya belum siap,” katanya. Maka, perlu ada basis untuk melakukan penerapan itu, yaitu pesantren.

“Saya ini lahir dari pesantren, ayah saya pendiri pesantren. Sejak itu saya mulai merancang untuk mendirikan pesantren,” tutur Anwar yang mulai merancang pesantren tahun 1998. Selama merancang itu, ia kembali ke pesantren untuk mengaji dan mengajar di Pesantren Miftahul Falah, milik ayahnya. Selama lima tahun ia berusaha mempersiapkan konsep dan maket pesantren. Katanya, ia ingin memiliki pesantren yang bisa menjawab tantangan dan keinginan masyarakat, tapi juga bisa menghidupkan nilai Islam.

Pada tahun 2003, suami Lilis Nurmali Amadiyah ini, mewujudkan cita-citanya. Akhirnya, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Cigalontang menjadi pilihannya. “Waktu pertama kali melihat tempat ini saya merasa cocok. Tambah lagi, kegiatan dakwah di sini nyaris sepi,” ungkap Anwar. Bahkan, yang membuat hatinya miris yakni banyak praktek kemusyrikan, bid’ah, dan khurafat yang mewarnai Pesanggrahan.

“Pengaruh tempat pemujaan di Gunung Handap dan Kampung Naga yang masih memegang adat Hindu, masih terasa di kampung ini,” jelas Anwar.

Menghadapi kondisi masyarakat seperti itu, Anwar berpikir tak bisa menanganinya dengan cara frontal. Ia mencoba menggunakan pendekatan lain dengan membuat sesuatu yang mereka senangi dan tidak perlu berbenturan dengan tradisi.

Caranya, ia masuk melalui pintu tradisi yang ada di masyarakat, misalnya hajat lembur (perayaan kampung). Tradisi ini pada prakteknya mengarah kepada kemusyrikan. Padahal sebenarnya intinya adalah bersyukur dan tolak bala. “Akhirnya kita ajak mereka untuk mengaji di dalam masjid, tapi tetap saja ada yang mengikuti tradisi itu bersama tokoh ritualnya,” kata Anwar.

Tradisi lain, namanya puput bayi yang harus memotong ayam dan darahnya disimpan dekat bayi tersebut. Sementara, kalau ibu hamil banyak larangan-larangan yang harus dipatuhi agar selamat. Anwar tidak melarang tradisi itu. Ia hanya memberi contoh saja. “Kebetulan anak saya enam orang, tapi tidak melakukan itu semua, Alhamdulillah bisa selamat,” katanya. Lambat laun masyarakat paham dan meninggalkan tradisi itu dengan sendirinya.

Tradisi-tradisi sesat di masyarakat kata Anwar, terjadi karena doktrin pemahaman. Kepada masyarakat ia tidak melawan secara frontal, cukup menjelaskan saja dalam pengajian. Tapi kepada santri ia memberikan doktrinasi aqidah yang lurus, sehingga kelak santri yang akan melaksanakan budaya islami di tengah masyarakat.

Diancam

Sekalipun sudah lunak, bukan berarti tidak mengalami penentangan, termasuk dari salah seorang tokoh yang memimpin ritual-ritual kemusyrikan itu. “Dulu waktu tokoh itu masih hidup sangat membenci kita, tapi selalu kita dekati melalui saudaranya. Alhamdulillah, di akhir hidupnya, ia justru simpatik dengan pesantren dan ikut membantu menyumbang kayu,” kenang Anwar.

“Serangan” lainnya yang juga sempat membuat Anwar khawatir, ketika seorang tokoh agama mengajak masyarakat untuk membakar pesantrennya. Namun, hasutan itu tidak berlanjut. Selain karena pertolongan Allah, Anwar merasa itu berkah dari selalu dekat dengan masyarakat.

“Kalau kita dekat dengan mereka, mereka akan memahami perbedaan walaupun tidak melupakannya. Tapi kalau kita jauh, malah akan semakin frontal,” ucap Anwar.

Kini, melalui pesantrennya, Anwar serius membina santri dalam hal aqidah. “Kelak mereka akan menjadi kader-kader yang memiliki jiwa muwahid, mujtahid, mujahid, mujaddid, dan muzakki,” harap Anwar.

Selain sibuk memberikan ceramah, mengajar, dan mengurus pesantren, Anwar juga telah menulis buku-buku saku tentang ajaran Islam yang dibagikan kepada masyarakat. Menurutnya, hal ini juga bisa menjadi salah satu media dakwah.* Ahmad Damanik/Suara Hidayatullah NOPEMBER 2012

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment