Pemburu Maut dari Sempalan Syi’ah

Pemburu Maut dari Sempalan Syi’ah

Caranya khas. Pemerintahan Sunni menjadi sasaran utamanya, khususnya Dinasti Abbasiyah.
Pembunuhan itu menggegerkan dunia Sunni. Nizam al-Muluk, wazir (menteri) terbesar Dinasti Saljuk (Abbasiyah) mati di tangan seorang pemuda yang menyamar sebagai seorang sufi.

Nizam ketika itu sedang menuju Isfahan, Suriah, dalam perjalanan haji. Pada Jumat malam, selepas buka puasa, rombongan ini tiba di Desa Sahna, tak jauh dari Nahawand. Nizam berhenti untuk mengenang para Sahabat Nabi SAW yang terbunuh di tempat ini.

Tiba-tiba menyusup seorang pemuda berpakaian sufi. Dia minta izin mendekati Nizam untuk menyampaikan sesuatu. Tanpa curiga, pengawal memberi izin. Setelah dekat, secepat kilat pemuda itu mencabut pisau dan menghujamkannya tepat di jantung Nizam. Wazir paling cemerlang Dinasti Saljuk itu pun tersungkur, sementara pembunuhnya melarikan diri.
Nizam kemudian dibawa ke tendanya, sayang nyawanya tak bisa diselamatkan. Menurut Adz Dzahabi, sebelum ajal menjemput Nizam sempat berpesan, “Jangan kalian bunuh pembunuhku. Aku sudah memaafkannya. Laa ilaha illalah.” Tetapi begitu tertangkap, pembunuhnya tetap dihukum mati.

Peristiwa pembunuhan Nizam itu terjadi pada 10 Ramadhan 485 (14 Oktober 1092). Pembunuhnya berasal dari Dailam, Iran bagian utara. Ia anggota Assassin, kelompok sempalan Syi’ah Ismailiyah. Kelompok ini memang menempatkan pemerintahan Sunni di bawah Dinasti Abbasiyah sebagai musuh nomor satu dan Nizam adalah bagian dari Dinasti Abbasiyah.
Tak hanya Nizam yang menjadi korban. Di masa Hasan as-Shabbah, pendiri Assassin, tak kurang ada 50 tokoh Sunni dibunuh kelompok ini. Mereka terdiri dari wazir, komandan tentara hingga para mufti dan tokoh agama.

Metode pembunuhannya khas. Menyamar lalu menghabisi musuhnya secara mendadak dan tidak disangka-sangka. Mereka kadang menyamar sebagai sufi dan ahli ibadah, kadang sebagai pengemis dan peminta-minta. Tak hanya itu, acap kali mereka menyusup di tengah prajurit musuh dengan mengenakan seragam yang sama. Pembunuhannya biasanya dilakukan di tengah keramaian. Kadang selepas Shalat Jumat saat orang-orang berkumpul atau di tengah-tengah pelaksanaan ibadah di dalam masjid. Tempat-tempat itu dipilih agar kejadiannya disaksikan orang banyak dan terornya menyebar luas.
Ciri lain dari kaum Assassin adalah kesetiaan kepada pemimpin sangat kuat dan mereka rela mati dalam menjalankan sebuah misi.

Selain menerima doktrin-doktrin yang tertanam kuat dalam pikiran dan keyakinan mereka, para pemimpin Assassin juga memiliki metode yang ampuh untuk memotivasi pengikutnya berani melakukan misi-misi berbahaya. Mereka punya taman khusus yang sangat indah. Taman ini digunakan untuk mengecoh keyakinan pengikut dan memberi kesan tentang surga.
Mereka mengambil anak-anak petani untuk dididik menjalankan misi. Anak-anak ini dididik dan dilatih sejak kecil hingga dewasa. Mereka tidak mengenal orangtua dan tuan selain pemimpin Assassin dan tidak mengenal ajaran melainkan yang diajarkan oleh mereka.

Mereka juga diajarkan beberapa bahasa, sehingga memudahkan menyusup di tengah masyarakat yang menjadi sasaran misi. Beberapa guru secara khusus disiapkan guna mendidik mereka dan mengajarkan ketaatan yang mutlak kepada para pemimpin Assassin.

Menjelang diberikan perintah melakukan aksi pembunuhan, untuk meningkatkan motivasi mereka, para fida’i (orang yang menjalankan misi) diberi minuman yang membuat mereka tidak sadar. Kemudian mereka dipindahkan ke sebuah taman yang sangat indah, berisi perempuan-perempuan cantik dan alat-alat musik yang memberi kesan mendalam kepada para pemuda itu. Mereka mengiranya sebagai surga. Saat mereka menikmati semua itu, mereka kembali diberi minuman yang membuat mereka tidur, dan kemudian dikembalikan ke tempat semula. Setelah itu, mereka diberi misi untuk membunuh yang akan diganjar dengan ‘surga’ yang telah mereka lihat tadi. Para pemuda ini pun menjalankan misi yang diberikan dengan semangat yang membara.

Nama Assassin sendiri muncul di Suriah, bukan di Alamut (pusat gerakan ini) atau wilayah Iran lainnya. Nama Assassin, atau dalam bahasa Arab hasyisyiyah digunakan oleh beberapa penulis Suriah untuk membedakan gerakan ini dengan kaum Ismailiyah (Batiniyah) pada umumnya.

Istilah itu diduga diambil dari kata hasyis, sejenis narkotika yang memabukkan dan sudah dikenal pada masa itu. Sebagian orang menduga, kaum Assassin menggunakan bahan yang memabukkan ini untuk memotivasi para pengikutnya dalam menjalankan aksi mereka. Namun ada juga yang berpendapat bahwa penggunaan istilah ini tidak ada kaitannya dengan praktik mengonsumsi narkoba oleh anggota gerakan ini. Istilah ini mungkin digunakan oleh para penulis Sunni untuk menyimbulkan gerakan mereka yang bersifat hina dan menyimpang.

Pembunuh Bayaran
Walaupun awal berdirinya Assassin berlatar ideologis, pada perjalanannya kelompok ini berkembang menjadi pembunuh bayaran. Jasa mereka kerap dipakai para pejabat Sunni untuk membunuh lawan politiknya. Mereka juga dimanfaatkan orang-orang Frank (sebutan untuk orang-orang Eropa, -baik peziarah maupun tentara Salib, yang datang ke Suriah-Palestina) untuk melawan kaum Muslimin.

Pejabat pertama yang memakai jasa Assassin adalah Ridwan, penguasa Aleppo. Ridwan meminta Assassin untuk membunuh Jannah ad-Daula, penguasa Homs. Jannah dihabisi pada 1 Mei 1103 M pada saat Shalat Jumat.

Maudud menjadi contoh lain ‘perselingkuhan’ pejabat Sunni dengan Assassin. Maudud adalah Emir dari Mosul. Ia datang ke Suriah guna membantu kaum Muslimin di wilayah ini menghadapi orang-orang Frank. Namun, para emir di Suriah merasa tidak nyaman dan terancam dengan kedatangan Maudud. Maka atas permintaan Emir Damaskus, pada 1113 Maudud dihabisi oleh seorang Assassin.

Ternyata Assassin tidak pandang bulu. Kalangan Syi’ah, jika bertentangan dengan kelompok ini juga bakal dilawan. Buktinya, Khalifah Fatimiyah, al-Amir yang mestinya menjadi imamnya, tetapi karena beda keyakinan kepemimpinan, al-Amir pun dihabisi.

Terhadap orang-orang Frank, kaum Assassin menyikapi secara pragmatis. Mereka merupakan orang-orang asing yang tidak punya kaitan dengan misi utama mereka. Dalam beberapa kesempatan, kaum Assassin menjalin kerja sama dengan orang-orang Frank untuk menghadapi Dinasti Saljuk.

Pada 1149 M misalnya, sekumpulan Assassin dipimpin Ali ibn Wafa bergabung dengan pasukan Frank yang dipimpin Raymond dari Antioch menghadapi Nurudin di pertempuran Inab. Pasukan Nurudin berhasil mengalahkan mereka. Bahkan Raymond dan Ali tewas dalam pertempuran.

Pada masa Perang Salib III, beberapa pemimpin Frank juga diduga memanfaatkan jasa kaum Assassin untuk membunuh pemimpin Frank lainnya. Sejak masa itu, nama kelompok ini merasuki imajinasi orang-orang Frank.
Kalangan Islam tidak tinggal diam, menghadapi teror Assassin. Misalnya Malik Syah, Sultan Dinasti Saljuk ini pernah mengirim pasukan ke Alamut untuk menumpas gerakan Assassin. Tapi gagal. Serangan ke Quhistan untuk tujuan yang sama juga menemui kegagalan.

Shalahuddin al-Ayyubi juga pernah memburu Assassin, tapi belum berhasil. Eksistensi Assassin baru berakhir ketika pasukan Mongol masuk ke wilayah Iran, Iraq hingga Suriah. Mereka menyerang dan menguasai Alamut serta benteng-benteng Assassin lainnya. SUARA HIDAYATULLAH-AGUSTUS 2014

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment