Segar Rasanya, Segar Untungnya

Segar Rasanya, Segar Untungnya

FOTO: azimasufi

Jeruk nipis dikenal banyak mengandung khasiat. Sayang, tak bisa langsung diminum. Sepasang suami-istri menemukan caranya.

Jeruk nipis diakui banyak manfaatnya. Di antaranya mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Juga bisa untuk menambah stamina dan menghilangkan nikotin di gigi.

Sayangnya, buah ini tidak dapat diminum langsung karena rasa asamnya yang tinggi. Celah inilah yang dimanfaatkan oleh sepasang suami-istri asal Kuningan, Jawa Barat, dengan mengolah jeruk nipis menjadi minuman siap saji.

Berawal dari Petuah Menteri
Tahun 1995 Menteri BKKBN waktu itu, Hayono Suyono, berkunjung ke Kuningan. Dalam kunjungannya itu, ia mengatakan bahwa di Kuningan ada satu potensi alam yaitu jeruk nipis, yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Ucapan Hayono itu menginspirasi sepasang suami-istri yakni Kardono Sastrasuharja dan Entien Sutinah, untuk memaksimalkan jeruk nipis.

Awalnya, mereka melakukan eksperimen, bagaimana agar jeruk nipis dapat dinikmati kapan saja dan di mana saja. Lalu, munculah satu produk dari hasil eksperimennya itu. Sebuah minuman kemasan dari jeruk nipis yang mereka namakan Jeniper. ”Saya tidak tahu apa maksudnya, bapak yang bikin, tapi itu kan kependekan dari Jeruk Nipis Peras,” ujar Yus Indriadi, salah seorang anak Kardono yang kini meneruskan usaha bapaknya itu.
Sekitar tahun 1997, setelah mendapatkan izin dari Departemen Kesehatan, hasil penemuan mereka itu dijajakan di lingkungan sekitar rumah, ”Saat itu, ibu saya yang menjajakannya kepada tetangga,” Yus mengenang.

Tapi respon mereka kurang baik, ada kalanya Entien pulang dengan tangan hampa. Namun mereka tidak patah semangat, ”Karena ibu dan bapak terbiasa eksperimen, jadi biasa saja,” Yus menjelaskan.

Seiring berjalannya waktu, lambat laun produk ini mulai dikenal. Bahkan ada beberapa produk baru menyalip. Dengan modal yang lebih besar mereka membuat produk sejenis, lalu memasarkannya dengan lebih gencar. Sementara Kardono dan Entien, karena bermodal kecil, belum bisa memproduksi besar-besaran dan memasarkannya. ”Tapi kita mengambil kesimpulan, justru itu sama saja kita diiklankan gratis,” ujar Yus.
Sementara para pesaingnya berusaha memasarkan produk mereka, Kardono lebih sibuk melakukan eksperimen kualitas. ”Karena kita menyadari ada satu kelemahan, jeruk nipis itu tidak tahan lama. Jadi, pasti banyak barang yang kembali,” kata Yus lagi.

Prediksi itu kemudian terbukti, banyak barang para pesaingnya yang kembali, apalagi jika masuk di supermarket dengan sistem konsinyasi. ”Akhirnya, lambat laun masyarakat juga yang milih, apa pun mereknya. Masyarakat mulai mengenal dan menerima Jeniper,” ujar Yus. Hal ini tak lepas dari komitmen Kardono tidak menggunakan bahan pengawet dan zat pewarna.

Namun, walau Jeniper sudah mulai dikenal dan diminati masyarakat, usaha ini lambat sekali berkembang. Tahun 2005, Kardono ditawari bantuan oleh Menristek, melalui program Star Up Capitol Program (SUCP). Maka Kardono mengajukan proposal dan disetujui. Ia berhasil mendapatkan bantuan Rp 100 juta.
Mulai saat itu, kata Yus, ia ikut membantu. Sebab, itu kepercayaan dari pemerintah, jadi tidak boleh mengecewakan.

Maka babak baru Jeniper pun dimulai. Di bawah perusahaan CV. Mustika Flamboyant, Jeniper dikelola oleh empat orang: Kardono, Entien dan kedua anak mereka, Yan Indriadi dan Eva Sriwulan.

Kemudian, dilakukanlah perbaikan di sana sini. Label dan kemasan dipercantik. Pemasaran ditingkatkan dengan cara membuat banner, brosur, website dan neon box. Di Kuningan mereka juga membangun rumah Jeniper, semacam showroom untuk memamerkan produk mereka. ”Untuk menyambut para tamu yang berkunjung ke tempat kita, biasanya tamu-tamu Pemda Kuningan,” Yus menjelaskan. Setelah itu, perlahan tapi pasti Jeniper terus mengalami peningkatan.

Barang yang sudah dikeluarkan nyaris tidak ada yang kembali. Bahkan permintaan selalu datang, apalagi jika hari libur nasional, dan hari raya permintaan pasti meningkat. Dengan masa efektif sekitar 4 bulan, Jeniper ini boleh dibilang tidak ada barang reject. Menurut Yan, permintaan terbanyak adalah dari kota Bandung, kemudian Jabodetabek, selain tentu dari Kuningan sendiri.

Kini dalam sebulan Jeniper diproduksi sebanyak 30 ribu botol kemasan langsung minum dan 15 ribu kemasan sirup. Dengan produksi semacam itu, omzetnya sudah lumayan besar, “Ya lumayanlah, walau belum ratusan juta,” ujar Yan.

Produk Jenisa
Jeniper memiliki dua jenis: sirup dan kemasan langsung minum. Jeniper sirup adalah sirup dari buah jeruk nipis yang harus dicampur air terlebih dahulu sebelum diminum. Dikemas dengan botol ukuran 650 ml. Sementara Jeniper kemasan langsung minum adalah sirup dari jeruk nipis yang dapat langsung diminum, tanpa dicampur air. Isi per botolnya 150 ml.

Untuk melancarkan usahanya, CV. Mustika Flamboyant mempekerjakan 15 orang karyawan. Semuanya direkrut dari masyarakat setempat. ”Kalau masalah kesejahteraan sudah jauh di atas UMR,” ujar Yan tanpa menyebutkan jumlahnya.

Walau sudah banyak dikenal, namun pusat produksi tetap di Kuningan. Menurut Yan, memang sengaja, dengan mencirikan kedaerahan ternyata lebih bagus. Jadi kalau tetap di daerah itu lebih khas. Juga biaya tidak terlalu tinggi dan lebih mudah dikenal.

Pendistribusian Jeniper sebagian besar melalui para agen yang ada di pusat kota Kuningan, ”Para pelanggan umumnya beli ke agen-agen. Karena dari kota Kuningan ke tempat saya jaraknya sekitar 13 km,” ujar Yan.
Jeruk nipis yang digunakan sebagai bahan baku belakangan diorder dari Sumatera. ”Karena di Jawa sudah susah. Petani di Jawa kecewa dengan pasar. Ketika panen harga murah. Tapi pas musim kemarau harga tinggi,” Yan menjelaskan.

Maka sebagai salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan bahan baku sekaligus memberdayakan masyarakat Kuningan, dua tahun lalu perusahaan ini menanam 600 pohon jeruk nipis di sebidang lahan tidur. ”Sekarag mereka sudah bisa ngejual ke kita. Panen pertama hasilnya 2 kuintal,” kata Yan.

Respon masyarakat cukup bagus terhadap program tanam pohon ini. Mereka bahkan sudah meminta untuk diberikan bibit jeruk nipis lagi. Tapi produsen mau lihat dulu bagaimana hasilnya. Paling tidak ada satu penghasilan tetap untuk masyarakat di sana.

Yan juga pernah membuatkan mesin untuk memproduksi jeruk nipis hingga menjadi minuman. Ini untuk para petani jeruk nipis di Sumatera, ”Pemdanya yang minta,” ujarnya. Awalnya, keluarga Yan yang lain menolak karena khawatir menjadi saingan. Tapi karena yang akan dibantu adalah para petani, mereka akhirnya bersedia.

Pengembangan
Yan sudah memiliki rencana pengembangan ke depan, ”Untuk tahun ini kita fokus di penggantian kemasan, agar lebih menarik”, jelasnya. Sementara untuk pengembangan produk dan pemasaran masih belum, ”Terkendala biaya produksi serta transportasi yang tinggi,” ujarnya.

Sementara salah satu adiknya kini sedang mengembangkan minuman jeruk nipis jenis lain yang diberi nama Jenisa, yaitu minuman jeruk nipis plus madu. Menurut Yan, pasar minuman jeruk nipis masih terbuka lebar. Hanya saja, perlu ada edukasi kepada masyarakat tentang manfaat jeruk nipis ini. *Dwi Budiman/Suara Hidayatullah NOPEMBER 2009

2 Comments »

  1. avatar comment-top

    Perintis Jeruk Nipis di Kuningan yang benar adalah Bapak Iskandar dengan merek JNP. Enatah kenapa dalam perkembangan yang muncul malah jeniper dan jenisa.
    Bapak Iskandar benar2 memulai dari nol dan membuat Jeruk Nipis Peras Kuningan dikenal ke seluruh Indonesia. Jadi kayaknya kurang elok kalau ada yang ngaku2 berjasa mendahului Bapak Iskandar.

    comment-bottom
  2. avatar comment-top

    Majalah…

    [...] something about majalah[...]…

    comment-bottom

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment