Nikmatnya Ibadah

No comment 50 views
banner 160x600
banner 468x60

Suatu hari, pantat Sayidina Ali tertembus anak panah dalam suatu peperangan. Ketika hendak dicabut, Ali berkata, “Biarkanlah aku shalat dahulu. Dalam kondisi shalat, cabutlah anak panah ini dari pantatku!” Subhanallah. Dalam kondisi shalat itulah anak panah dicabut dan seolah Ali tak merasakan apapun, apa lagi rasa sakit. Itulah kekhusyukan Ali saat beribadah. Ia sangat menikmatinya.

Betapa membahagiakan, jika kita telah mampu merasakan nikmatnya beribadah. Segala kepenatan sirna, demikian juga perasaan berat menjalaninya. Sebaliknya, tumbuh gairah baru dan semangat menggebu-gebu menanti saatnya beribadah. Jika telah beribadah ada keinginan untuk berlama-lama.

Jika kita berhasil mencicipi nikmatnya beribadah, kegiatan mendekatkan diri tak sekadar menjadi kewajiban, apalagi sebuah beban tapi merupakan kebutuhan. Tak ubahnya dengan kebutuhan fisik terhadap asupan makanan.

Ada beberapa hal yang bisa diupayakan agar kita mampu merasakan kenikmatan dan kelezatan ibadah, antara lain:
Pertama, mencintai Allah dan berharap pertemuan dengan-Nya. “….Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu….” (Riwayat Muslim)

Rabiah al-Adawiyah pernah merasakan dan mengungkapkannya:
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya.
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya.
Tetapi, jika aku menyembah-Mu
demi Engkau semata,
janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku.

Kedua, mencintai Rasulullah SAW Sang Kekasih Allah.
Rasulullah SAW telah menunjukkan kecintaannya yang luar biasa kepada umatnya. Keagungan akhlak beliau, keteguhan hati dalam mengemban risalah Allah pantas kita teladani. Melalui ibadah sesuai tuntunannya, kita berusaha mewujudkan cinta (hub) kedekatan (taqarrub), dan kebersamaan dengan Allah (ma’iyatullah).

Ketiga, iman terhadap hari Akhir dan pengetahuan yang benar tentang dunia dan akhirat.

Dunia ini fana. Kita paham dan yakin bahwa akhirat lebih baik dan kekal. Karenanya, kita berlomba dengan waktu untuk mengejarnya. Waktu yang sempit dan kesempatan yang singkat memaksa kita untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya.

Keempat, menghindari perkara yang bisa mengeraskan hati.
Orang yang keras hatinya selain tak akan bisa merasakan makna hidup, juga hakikat pencariannya. Karena tujuan hidupnya tak jelas, mereka menyia-nyiakan waktu untuk maksiat. Semakin banyak maksiat dilakukan, semakin keras hatinya.

Kelima, berdoa kepada Allah agar dianugerahi kenikmatan ibadah.
Hati manusia ini adalah milik Allah, dan Dia pulalah yang menggetarkan dan menggerakkannya. Selain terus menerus bermujahadah dan istiqamah dalam beribadah, maka memohonlah dengan penuh harap agar Allah menggerakkan hati kita untuk bisa menikmati ibadah.

Keenam, memiliki kebersihan jiwa dan ketentraman hati.
Selalu membersihkan hati merupakan cara yang harus ditempuh agar kita bisa merasakan nikmatnya beribadah. Jangan lupa mencari teman yang saleh, memperbanyak zikir, dan menghindari perbuatan yang sia-sia.

Mudah-mudahan, melalui pertolongan dan perlindungan-Nya kita dapat merasakan lezatnya beribadah. Wallahu a’lam.* SUARA HIDAYATULLAH APRIL 2013

Email Autoresponder indonesia
author