Bolehkah Muslimah Shalat di Masjid?

No comment 9 views
banner 160x600
banner 468x60

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

FOTO: andes-rizky07.blogspot


Saya seorang ibu rumah tangga, memiliki tiga orang anak yang telah beranjak remaja dan dewasa. Beberapa tahun lalu, saya aktif mengikuti shalat berjamaah di masjid yang paling dekat dengan rumah tinggal saya. Pertimbangannya sederhana, selain bersilaturahim dengan sesama Muslim di sekitar rumah, juga dapat mendengarkan ceramah agama.
Beberapa bulan yang lalu saya bertemu dengan seorang ustadz yang menegur keaktifan saya ke masjid. Menurutnya, hal itu tidak sesuai dengan sunnah, juga dapat menimbulkan fitnah.

Sebagai orang awam, saya bingung atas penjelasan ustadz tersebut. Untuk itu, saya mohon kiranya Ustadz Hamim Thohari dapat menjelaskan hal tersebut sesuai dengan pedoman al-Qur`an dan sunnah.
ZA
di Palangkaraya

Jawab:
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Mengurus anak dan melayani suami adalah tugas utama seorang ibu. Tugas tersebut tidak bisa dinomorduakan, terutama jika anak-anak mereka masih kecil dan membutuhkan perhatian penuh ibunya. Keberadaan ibu mendampingi anak-anak yang masih kecil tidak bisa digantikan oleh siapa pun, apalagi oleh pembantu rumah tangga.
Jika kini anak-anak ibu telah menginjak usia remaja, bahkan ada yang sudah dewasa bukan berarti tugas ibu selesai. Justru pada usia ini, mereka perlu pendampingan terus menerus karena anak pada usia ini justru dalam keadaan kritis. Mereka mudah terpengaruh oleh lingkungannya, serta perkembangan dirinya sendiri yang berada dalam pancaroba.

Menurut kami, kegiatan ibu ke masjid, terutama untuk mengikuti shalat berjamaah dan ta’lim merupakan kegiatan yang mulia dan terpuji, jika memenuhi dua syarat, yaitu: (1) tidak menyia-nyiakan tanggung jawab keluarga, dan (2) tidak menimbulkan fitnah.

Bagi seorang istri atau ibu, kewajiban utama dan pertama adalah memberikan pelayanan terbaik bagi semua anggota keluarganya, baik suami maupun anak-anaknya. Menjalankan kegiatan apa pun menjadi sia-sia bahkan berdosa jika sampai meninggalkan tugas utamanya. Dalam hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, ”Cukup berdosa orang-orang yang menyia-nyiakan tanggung jawab keluarga.” (Riwayat Abu Dawud).

Untuk menghindari fitnah, seorang wanita yang hendak keluar rumah, termasuk pergi ke masjid memperhatian etika dan adab-adab Islam, di antaranya tidak tabarruj. Hendaknya wanita menutup auratnya saat bepergian, dan tidak mengundang perhatian kaum lelaki bukan mahram. Termasuk salah satu yang bisa mengundang perhatian adalah wewangian. Wanita hanya boleh mengenakan wewangian yang lembut, yang bau harumnya tidak sampai ke mana-mana sehingga mengundang orang lain untuk memperhatikannya. Rasulullah SAW bersabda ”Seorang wanita yang memakai minyak wangi lalu lewat di tengah-tengah kaum dengan maksud agar mereka menghirup bau harumnya, maka wanita itu adalah pelacur.” (Riwayat An-Nasa-i).

Kesimpulannya, ibu boleh aktif mengikuti shalat jamaah di masjid dan mengikuti ceramah agama, sepanjang tidak mengabaikan tanggungjawab keluarga dan tidak menimbulkan fitnah. Kegiatan serupa juga dilakukan oleh para sahabat wanita di jaman Rasulullah SAW.

Ibnu Umar berkata, ”Adalah istri Umar bin Khaththab senantiasa mengikuti shalat Shubuh dan Isya’ secara berjamaah di masjid. Salah seorang bertanya kepadanya, ‘Mengapa kamu keluar juga padahal kamu tahu bahwa Umar (suaminya) tidak suka hal itu dan dia bisa cemburu? Istri Umar menjawab: ‘Lalu apa yang menghalangi Umar sehingga dia tidak mau melarangku?” Sahabat itu menjawab: ”Yang menghalangi Umar sehingga dia tidak berani melarangmu adalah sabda Nabi SAW yang berbunyi: ”Janganlah kalian mencegah hamba-hamba perempuan Allah untuk mendatangi masjid-masjid Allah.” (Riwayat Bukhari). SUARA HIDAYATULLAH, SEPTEMBER 2009

Email Autoresponder indonesia
author