Menjinakkan Istri Pemarah

No comment 338 views
banner 160x600
banner 468x60

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

FOTO: alashree.wordpress


Saya dulu memilih istri karena ia seorang guru. Dalam pandangan saya, semua guru itu penyabar, penyayang, dan pemaaf. Ternyata, istri saya tidak sesuai dengan pandangan saya. Ia wanita yang mudah marah.

Sebagai suami, saya kadang dibuatnya malu, sebab ia bisa memarahi saya tanpa mengenal waktu dan tempat. Hal yang sama juga dilakukan kepada orang lain, termasuk kepada anak-anaknya sendiri. Jika sudah marah, kata-katanya tidak terkontrol. Dari mulutnya keluar kata makian, umpatan, sumpah serapah, bahkan doa-doa kejelekan. Yang membuat saya kasihan, setelah marah besar seperti itu, ia segera minta maaf dan menyesali semua perbuatannya.

Beberapa nasihat sudah saya lakukan, akan tapi kejadian serupa masih sering terulang. Saya mohon solusi dari Ustadz.

Dz
Di Palembang

Jawab:
Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.

Saudara Dz yang kami cintai, ketahuilah bahwa tidak ada seorang manusia pun di muka bumi ini, baik laki-laki maupun perempuan yang sempurna, termasuk istri Anda. Untuk itu, terimalah ia “apa adanya”, sebab saat ini ia telah menjadi pasangan hidup Anda. Sekarang, bukan waktunya lagi untuk memilih, tapi menerima. Jika Anda merasa salah saat memilih ia sebagai istri, sungguh kesalahan itu ada pada pihak Anda.

Agar Anda tidak terus menerus menyesali kesalahan saat memilih, sebaiknya Anda mulai saat ini mengganti perasaan tersebut dengan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). Anda masih beruntung mendapatkan istri. Betapa banyak lelaki sebaya Anda yang saat ini masih membujang, baik karena alasan belum mendapatkan jodoh yang diidamkan maupun yang melakukannya secara sengaja. Lalu bandingkan perangai buruk istri Anda dengan perangai buruknya istri Nabi Luth dan Nabi Nuh?

Bersyukurlah kepada Allah SWT, dan jadikanlah perangai buruk istri Anda sebagai ujian. Allah SWT telah menguji setiap hamba-Nya dalam berbagai bentuk, dan kepada Anda Allah SWT menguji melalui istri Anda. Kualitas seseorang sangat ditentukan oleh kemampuannya menghadapi ujian. Jika Anda lulus menghadapi ujian tersebut, insya Allah keluarga Anda menjadi lebih baik dan berkualitas.

Berkaitan dengan istri Anda, sebelum Anda mengubah perilaku buruknya, terlebih dahulu ubahlah diri Anda. Jika selama ini Anda hanya menjadi penuntut, ubahlah diri Anda menjadi subyek yang peduli terhadap mutu perilaku sang istri. Bila selama ini Anda selalu bertanya, ‘mengapa istri saya mudah marah?’ maka ubahlah pertanyaan tersebut menjadi: “Bagaimana caranya agar saya bisa membantu istri saya mengubah perilaku buruknya yang mudah marah tersebut?” Dengan mengubah pertanyaan tersebut, maka Andalah yang menentukan perubahannya.

Saran kami, periksakan istri Anda ke psikiater untuk memastikan, apakah istri mengalami gangguan syaraf atau hormonal tertentu. Melalui diagnosa yang benar dan pengobatan yang tepat, insya Allah perangai mudah marahnya bisa diatasi.

Jika bukan karena gangguan syaraf atau hormonal, maka Anda bisa berkonsultasi kepada psikolog. Bisa jadi perilaku buruknya istri telah berlangsung sekian lama dan telah mengendap dalam alam bawah sadarnya. Melalui konsultasi yang intensif mudah-mudahan masalah perilaku burukya dapat diatasi.

Biasakan istri Anda berpuasa, sebab puasa adalah ikhtiar yang paling efektif untuk mengendalikan emosi. Dampingi istri saat berpuasa, jika perlu Anda juga melakukannya.

Dalam keseharian, bila istri marah, ajaklah masuk ke dalam rumah. Jangan biarkan istri Anda marah di luar rumah. Jika di rumah, ajaklah ia masuk ke dalam kamar. Jika ia marah dalam keadaan berdiri, ajaklah ia duduk. Jika ia dalam keadaan duduk tapi tetap marah, ajaklah ia untuk tidur. Jika masih belum terkendali, ajaklah mengambil air wudhu. Jika masih marah juga, ajaklah ia untuk melaksanakan shalat. Insya Allah, jika latihan itu dilakukan secara intensif, pelan-pelan akan terjadi perubahan yang Anda sendiri akan kagum melihat perubahan tersebut. SUARA HIDAYATULLAH, JULI 2009

Email Autoresponder indonesia
author