Taubat yang Benar

No comment 98 views
banner 160x600
banner 468x60

Assalamu’alaikum wr.wb.

Sebulan yang lalu saya telah melakukan perbuatan dosa, saya malu menceritakannya. Saya sangat menyesal atas perbuatan tersebut. Saya ingin bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas dosa yang saya jalani. Saya ingin kembali ke jalan yang lurus, sebagaimana yang telah saya jalani selama ini.
Tolong tunjukkan saya jalan taubat yang benar, yang akan diterima Allah sehingga hati saya tenang dan dapat menjalani kehidupan tanpa ragu-ragu, khawatir, dan cemas. Insya-Allah saya akan menjalankan nasehat Ustadz sebaik mungkin.
Atas petunjuknya saya ucapkan terima kasih.

Ys
Di Papua Barat

Wa’alaikumsalam wr.wb.

Ada dua jenis maksiat, yaitu as-sayyiat (maksiat kecil) dan al-mubiqat (maksiat besar).Untuk menghapuslan dosa kecil (as-sayyiat) bisa ditempuh dua cara, yaitu menjauhi dosa-dosa besar dan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Allah berfirman: “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).”(An-Nisaa {4}: 31)

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”(Hud {11}: 114)

Sejurus dengan ayat di atas, Rasulullah Shallallahu’alahi wassalam bersabda, “Dan iringilah kejelekan (dosa kecil) dengan melakukan perbuatan baik (hasanah), niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya.” (Riwayat Tirmidzi)

Dalam Hadits-hadits yang lain, Rasulullah menegaskan tentang amalan-amalan baik yang bisa menghapus dosa-dosa kecil itu antara lain: menyempurnakan wudhu, pergi ke masjid, shalat lima waktu, melaksanakan shalat jumat hingga jumat berikutmya, menjalankan puasa Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya, shalat malam, dan lain sebagainya.

Adapun untuk menghapus dosa besar (al-kabair) atau al-mubiqat, ajaran Islam menegaskan satu cara, yaitu taubatan-nasuha (taubat yang setulus-tulusnya). Allah berfirman yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: ‘Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."(At-Tahrim {66}: 8)

Ada empat syarat taubat nasuha. Pertama, melepaskan diri dari dosa tersebut. Kedua, menyesali perbuatannya. Ketiga, beristighfar, meminta ampun kepada Allah. Keempat, bertekad tidak mengulanginya.

Jika dosa itu berkaitan dengan pelanggaran terhadap orang lain, maka wajib atasnya untuk meminta agar dihalalkan (dimaafkan)jika memungkinkan. Sebab setiap kezaliman akan dituntut di hari kiamat. Rasulullah bersabda, ”Baragsiapa yang pernah berbuat zalim terhadap saudaranya, maka hendaklah ia segera meminta halal (maaf)-nya sekarang juga sebelum (datangnya hari yang) tiada lagi berguna dinar dan dirham; jika ia mempunyai kebaikan-kebaikan maka diambillah kebaikan-kebaikan itu (dan diberikan kepada saudaranya yang pernah dizaliminya), dan jika belum cukup maka dosa-dosa saudaranya itu akan diambil dan dibebankan kepadanya.” (Riwayat Bukhari)

Semoga jawaban di atas dapat menetramkan hati dan mengembalikan Anda ke jalan Allah yang lurus. SUARA HIDAYATULLAH JANUARI 2012

Email Autoresponder indonesia
author