Zakat Fitrah dengan Uang

No comment 28 views
banner 160x600

FOTO: mahakammedia.wordpress

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selama ini saya membayar zakat fitrah dengan uang senilai harga 2,5 kilogram beras. Praktik itu sudah saya laksanakan bertahun-tahun.

Hanya saja, akhir-akhir ini ketenangan saya membayar zakat fitrah dengan cara seperti itu terusik ketika mendengar pengajian di tempat saya bekerja. Seorang ustadz menyampaikan, membayar zakat fitrah dengan uang hukumnya tidak boleh, karena menyalahi sunnah. Siapa yang melakukannya, zakatnya tidak diterima alias sia-sia. Juga sang ustadz itu mengecam beberapa ulama yang selama ini membolehkan praktik-praktik seperti itu.

Jika benar apa yang saya lakukan selama ini menyalahi sunnah dan zakat fitrah saya tidak diterima, lalu apa yang harus saya kerjakan? Atas perhatian dan jawaban Ustadz, saya sampaikan ucapkan terima kasih.
AS
Jakarta

Jawab:
Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.
Pertama, kami ingin mengoreksi ustadz yang mengecam pendapat ulama yang membolehkan membayar zakat fitrah dengan uang. Cara-cara yang dilakukan oleh ustadz tersebut merupakan perbuatan yang tidak terpuji. Dalam masalah-malasah ijtihadiyah yang diperselisihkan para fuqaha, seseorang tidak boleh mengecam atau menyerang orang lain yang menerima dan melaksanakan salah satu di antara pendapat-pendapat tersebut.

Seorang muballigh yang baik dituntut bersikap arif dan santun. Bila ia mempunyai pendapat yang berbeda dengan ulama yang lain, maka ia harus bersikap tawadhu, rendah hati. Ulama sekaliber Imam Syafi’i, mujtahid yang sangat andal saja berkomentar tentang pendapatnya dengan mengatakan, ”Bisa jadi pendapatku benar, tapi bukan tak mungkin di dalamnya mengandung kekeliruan. Bisa jadi pendapat orang lain salah, tapi bukan tak mungkin di dalamnya juga mengandung kebenaran.”

Setiap masalah yang tidak ada nash-nya yang qath’i (pasti), dengan sendirinya masuk dalam wilayah ijtihadiyah. Pertanyaan yang Anda sampaikan masuk ke wilayah ijtihad yang boleh jadi satu mujtahid dengan mujtahid yang lain berbeda pendapat (ikhtilaf).

Dalam masalah ini, sebagai orang awam (kebanyakan), kita boleh bertaqlid (mengikuti salah satu mazhab yang menjadi panutan dan diterima oleh umat). Allah tidak membebani kita di luar batas kemampuan yang kita miliki.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya....” (Al-Baqarah [2]: 286).
Sesungguhnya masalah membayar zakat fitrah dengan uang sudah menjadi perbincangan para ulama salaf, bukan hanya terjadi akhir-akhir ini saja. Imam Abu Hanifah, Hasan Al-Bisri, Sufyan Ats-Tsauri, bahkan Umar bin Abdul Aziz sudah membincangkannya, mereka termasuk orang-orang yang menyetujuinya. Ulama Hadits seperti Bukhari ikut pula menyetujuinya, dengan dalil dan argumentasi yang logis serta dapat diterima.

Sesungguhnya pula, pendapat ini sudah dilaksanakan pada generasi terbaik setelah generasi sahabat (salafus-shalih), yaitu generasi tabi’in yang mengikuti jejak para sahabat dengan baik. Praktik semacam ini sudah dilaksanakan pada pemerintahan Khulafaur-Rasyidin kelima, yaitu Umar bin Abdul Aziz.

Menuurt kami, membayar zakat fitrah dengan uang itu boleh, bahkan dalam keadaan tertentu lebih utama. Bisa jadi pada saat Idul Fitri jumlah makanan (beras) yang dimiliki para fakir miskin jumlahnya berlebihan. Karena itu, mereka menjualnya untuk kepentingan yang lain. Dengan membayarkan menggunakan uang, mereka tidak perlu repot-repot menjualnya kembali yang justru nilainya menjadi lebih rendah. Dan dengan uang itu pula, mereka dapat membelanjakannya sebagian untuk makanan, selebihnya untuk pakaian dan keperluan lainnya. *Wallahu a’lam bish-shawab. SUARA HIDAYATULLAH OKTOBER 2008

Email Autoresponder indonesia
author